MasukFajar menyingsing di ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan yang menembus celah gorden kamar Juno dan Vivian. Suasana begitu hening, hanya suara kicauan burung dari taman belakang yang sesekali memecah kesunyian. Vivian menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang menjalar dari dekapan tangan Juno yang masih melingkar protektif di pinggangnya.Bagi Vivian, ini adalah pagi pertama dalam beberapa bulan terakhir di mana ia tidak bangun dengan rasa sesak di dada. Ia menoleh sedikit, menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Wajah yang biasanya tampak kaku dan penuh otoritas itu kini terlihat begitu rileks. Vivian tersenyum tipis, jemarinya bergerak ragu untuk mengusap kening Juno, seolah takut akan membangunkan mimpi indah pria itu."Selamat pagi, Dunia Baru," bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar.Namun, kedamaian di rumah klasik itu hanyalah sebuah gelembung yang rapuh, sementara di tempat lain, jarum jam seolah berdetak lebih cepat bagi Renata.Di kantor firma hukumnya, Pak
Malam semakin larut, namun cahaya lampu di ruang kerja pribadi Renata masih menyala terang. Di ruangan yang didominasi kayu jati gelap itu, aroma cerutu tipis bercampur dengan bau kopi hitam yang pekat. Renata duduk menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, namun pikirannya jauh melampaui pemandangan itu.Ia membuka sebuah brankas kecil di balik lukisan dinding, mengeluarkan sebuah map usang yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Di dalamnya terdapat beberapa foto lama dan catatan medis yang sudah menguning."Kau pikir kau sudah menang, Juno?" gumam Renata dengan suara serak yang mengerikan. "Kau terlalu fokus melindungi Vivian dari Clarisa, sampai kau lupa siapa sebenarnya yang kau bawa masuk ke dalam keluarga Vanderbilt."Pak Bambang, yang rupanya masih setia mendampingi meski hari sudah hampir berganti, mengetuk pintu perlahan. "Nyonya, tim IT kita sudah mulai melacak aliran dana yang disebutkan Vivian tadi pagi. Sepertinya mereka memang memegang bukti yang s
Mobil hitam mewah itu meluncur membelah jalanan kota yang mulai padat. Di dalam kabin yang kedap suara, Juno menggenggam tangan Vivian dengan erat, seolah tak ingin membiarkan seujung kuku pun bahaya menyentuh istrinya lagi. Vivian tampak memejamkan mata, wajahnya yang tadi begitu tegas di ruang rapat kini terlihat letih."Tahan sebentar lagi, Sayang. Kita hampir sampai," bisik Juno lembut.Vivian hanya bergumam pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Juno. Kehangatan tubuh suaminya menjadi obat penenang yang jauh lebih efektif daripada dosis parasetamol mana pun. Baginya, rumah klasik mereka bukan sekadar bangunan, melainkan benteng terakhir dari segala drama perebutan takhta Vanderbilt yang melelahkan.Kontras dengan ketenangan di mobil Juno, suasana di kediaman pribadi Renata pecah oleh suara pecahan kaca yang memekakkan telinga. Clarisa mengamuk. Vas bunga kristal, bingkai foto, hingga parfum mahal berhamburan di lantai marmer kamar mewahnya."Sialan! Vivian sialan!" teriak C
Pertemuan di ruang rapat utama itu terasa seperti medan perang yang dibalut dengan kemewahan. Suasana begitu dingin, bahkan pendingin ruangan yang dipasang pada suhu standar terasa jauh lebih menusuk tulang. Di satu sisi meja oval yang panjang, Pak Bambang duduk dengan tenang, menaruh sebuah tas kulit mahal di atas meja. Di sampingnya, Clarisa duduk dengan dagu terangkat, mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi sembab di matanya, namun bibirnya melengkung membentuk senyum kemenangan yang prematur.Pintu terbuka lebar. Juno melangkah masuk dengan aura yang begitu dominan, diikuti oleh Vivian yang berjalan dengan anggun meski langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya."Selamat pagi, Tuan Juno, Nyonya Vivian," sapa Pak Bambang dengan suara baritonnya yang sopan namun formal. "Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda."Juno tidak membalas sapaan itu. Ia menarik kursi untuk Vivian sebelum akhirnya duduk di kursi kepemimpinan. "Langsung saja, Bambang. Aku t
Malam itu berlalu dengan ketegangan yang terpendam di balik selimut kabut perkebunan. Meski Juno berusaha memejamkan mata, nama "Renata" terus berdengung di kepalanya seperti alarm bahaya. Ia tahu, kembalinya wanita itu bukan sekadar untuk menjemput Clarisa, melainkan untuk menggali kembali luka lama dan merebut takhta yang selama ini ia incar.Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar di rumah klasik tersebut. Juno sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Ia berdiri di depan cermin, merapikan dasinya dengan gerakan yang kaku. Pikirannya sudah melayang jauh ke gedung pusat Vanderbilt Group, menyusun strategi untuk membentengi perusahaan dari serangan Renata.Namun, langkahnya terhenti saat ia keluar dari kamar mandi dan melihat pemandangan yang tak terduga. Di depan meja rias, Vivian sudah duduk rapi dengan setelan blazer kerja berwarna krem yang elegan. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan sedikit ruang untuk memperlihatkan plester medis yang masih menempel
Malam itu, di dalam mobil setelah pengejaran yang sia-sia. Emosi yang memuncak tidak mampu mendinginkan kepala Juno yang sedang mendidih. Di dalam mobil, Juno mengeratkan tangannya. Kabar yang baru saja ia terima dari pihak kepolisian benar-benar di luar nalar. Clarisa, wanita yang jelas-jelas tertangkap tangan melakukan percobaan kejahatan, bisa melenggang bebas hanya dalam hitungan jam dengan status tahanan luar."Sialan! Bagaimana bisa sistem hukum semudah itu dibeli?" geram Juno. Urat-urat di lehernya menegang, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan hamparan pepohonan gelap.Tanpa membuang waktu, ia kembali menyambar ponselnya dan menekan satu nama di kontak singkatnya: Bayu."Cari tahu siapa yang menjamin pembebasan Clarisa," perintah Juno tanpa basa-basi begitu sambungan tersambung. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang mengancam. "Gunakan semua informanmu. Clarisa tidak punya uang sebanyak itu setelah semua asetnya kubekukan. Pasti ada paus besar di bel







