ANMELDENMalam semakin larut, menyisakan suara jangkrik dan gesekan dahan pohon yang tertiup angin di luar sana. Setelah menyantap masakan rumahan Bi Inah yang luar biasa lezat—ayam ungkep bumbu kuning dan sambal terasi yang membangkitkan selera—Juno dan Vivian memutuskan untuk segera beristirahat. Tubuh mereka butuh jeda, namun pikiran mereka masih berpijar oleh rencana-rencana besar.Mereka menaiki tangga kayu yang kokoh menuju lantai atas. Kamar utama di rumah ini jauh lebih luas dari seluruh luas rumah kontrakan mereka sebelumnya. Sebuah ranjang besar dengan tiang-tiang kayu jati berdiri megah di tengah ruangan, dilapisi sprei sutra berwarna putih bersih yang tampak sangat lembut."Bi Inah benar-benar menyiapkan segalanya dengan sempurna," gumam Juno sambil meletakkan tas punggungnya di atas kursi santai.Vivian tersenyum lemas. "Aku butuh air hangat, Juno. Rasanya seluruh tulangku seperti mau copot."Tanpa banyak bicara, Vivian langsung melangkah menuju kamar mandi yang terletak di da
Di tempat lain, di sebuah unit penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Jakarta, Clarissa sedang menyesap wine merahnya dengan anggun. Ia menyilangkan kaki jenjangnya di atas sofa kulit mahal, sementara matanya menatap tajam ke arah layar tablet yang menampilkan laporan dari orang suruhannya."Tuan muda Anda sudah meninggalkan kontrakannya, Nona," suara pria di ujung telepon terdengar patuh. "Dia pergi membawa beberapa koper menggunakan taksi menuju arah pusat kota."Clarissa meledakkan tawa lepas yang terdengar dingin di ruangan yang luas itu. Suara tawanya bergema, memantul di dinding kaca yang tebal. Ia membayangkan wajah Juno yang panik, keringat dingin yang mengucur, dan kebingungan istrinya saat harus terusir dari rumah petak yang kumuh itu."Bagus. Biarkan dia berputar-putar mencari tempat berteduh malam ini," ucap Clarissa sambil memutar gelas wine-nya. "Dia pikir dunia ini tempat yang ramah bagi pecundang yang tidak punya apa-apa? Dia akan segera sadar
Juno mengernyitkan dahinya, benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Vivian. Di saat mereka baru saja kehilangan segalanya dalam hitungan jam, istrinya justru tampak memiliki energi yang meledak-ledak. Tak ada isak tangis, tak ada keluhan soal betapa tidak adilnya dunia."Vian, kamu serius? Kita mau ke mana? Ini sudah sore, dan mencari kontrakan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Juno dengan nada khawatir yang kental.Vivian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tangan Juno masuk ke dalam kamar. "Jangan pikirkan soal kontrakan baru dulu. Sekarang, bantu aku masukkan semua baju kita ke koper. Cepat, Juno. Sebelum orang-orang Clarissa kembali untuk memata-matai kita."Juno hanya bisa terpaku melihat Vivian bergerak cekatan. Semua perabotan di rumah ini—meja makan, tempat tidur, hingga lemari kayu tua itu—adalah milik Bu Asih. Mereka hanya datang membawa pakaian dan beberapa barang pribadi. Dalam waktu kurang dari satu jam, dua koper besar dan dua t
Pagi itu, suasana di kantor Hendra Cargo terasa berbeda bagi Juno. Biasanya, Pak Hendra akan menyapanya dengan tepukan hangat di bahu atau sekadar menawarkan kopi sebelum mereka mulai mengecek manifes. Namun hari ini, pria tua itu tampak menghindari kontak mata. Ia terus-menerus mengusap dahinya yang berkeringat meski kipas angin di ruangan itu berputar kencang."Pak Hendra? Ada yang salah dengan laporan distribusi barang ke Jawa Tengah?" tanya Juno sambil meletakkan beberapa berkas di meja kayu yang sudah mulai mengelupas itu.Pak Hendra mendongak, wajahnya tampak kuyu dan penuh beban. "Juno... bisa kita bicara sebentar? Di ruang dalam saja."Juno mengangguk, firasatnya mulai tidak enak. Begitu mereka duduk di ruang kerja kecil yang pengap itu, Pak Hendra menghela napas panjang."Juno, kamu tahu betapa besarnya rasa hormatku pada almarhum ayahmu. Tanpa beliau, perusahaan kecil ini tidak akan pernah ada," buka Pak Hendra dengan nada gemetar. "Tapi pagi ini, aku menerima telepon da
Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam bagi seorang detektif swasta profesional untuk menguliti kehidupan baru Juno dan Vivian. Bagi orang seperti "D", melacak jejak mantan miliarder yang kini hidup di lingkungan menengah ke bawah bukanlah perkara sulit.Siang itu, cuaca Jakarta terasa sangat terik, namun suhu di dalam kantor pribadi Clarissa terasa sedingin es. Pintu ruangan terbuka, dan sang detektif melangkah masuk dengan setelan jaket kulit hitam yang tampak gerah. Ia meletakkan sebuah map biru di atas meja marmer Clarissa yang mengkilap."Semua informasi yang Anda minta ada di dalam sana, Nona," ujar sang detektif dengan suara serak.Clarissa tidak langsung membukanya. Ia hanya melirik map itu dengan ujung matanya sambil terus mengikir kuku. "Jelaskan secara garis besar. Aku sedang tidak ingin membaca narasi panjang lebar."Detektif itu berdehem. "Juno bekerja di sebuah perusahaan logistik kecil bernama 'Hendra Cargo'. Pemiliknya adalah Hendra Wijaya, seorang pengu
Di tempat lain, di sebuah penthouse mewah yang dulunya adalah milik Juno, kini telah berubah menjadi miliknya. Clarissa sedang menyesap wine merah dengan kaki tersilang angkuh. Ruangan itu dipenuhi oleh barang-barang bermerek yang kini sepenuhnya adalah haknya. Kemenangan ini terasa begitu manis di lidahnya, lebih manis daripada anggur termahal yang pernah ia beli."Venderbilt Group sudah di tanganku. Semua aset, saham, bahkan nama besar itu kini tunduk padaku," gumam Clarissa sambil menatap pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca.Namun, rasa puas itu ternyata memiliki celah. Ada rasa penasaran yang menggerogoti hatinya. Ia ingin tahu seberapa hancur pria yang dulu menolaknya demi wanita "tua" itu. Clarissa tidak puas hanya dengan mengambil hartanya; ia ingin menyaksikan Juno merangkak di kubangan kemiskinan.Dalam hatinya bertekad, dengan hancurnya Juno suatu saat pasti dia akan datang mengemis cinta Clarisa.Ia meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang tersimp





![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

