Share

Markas

Author: de Banyantree
last update Last Updated: 2026-01-06 21:09:22

Di tempat lain, di sebuah unit penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Jakarta, Clarissa sedang menyesap wine merahnya dengan anggun. Ia menyilangkan kaki jenjangnya di atas sofa kulit mahal, sementara matanya menatap tajam ke arah layar tablet yang menampilkan laporan dari orang suruhannya.

​"Tuan muda Anda sudah meninggalkan kontrakannya, Nona," suara pria di ujung telepon terdengar patuh. "Dia pergi membawa beberapa koper menggunakan taksi menuju arah pusat kota."

​Clarissa meledakkan tawa lepas yang terdengar dingin di ruangan yang luas itu. Suara tawanya bergema, memantul di dinding kaca yang tebal. Ia membayangkan wajah Juno yang panik, keringat dingin yang mengucur, dan kebingungan istrinya saat harus terusir dari rumah petak yang kumuh itu.

​"Bagus. Biarkan dia berputar-putar mencari tempat berteduh malam ini," ucap Clarissa sambil memutar gelas wine-nya. "Dia pikir dunia ini tempat yang ramah bagi pecundang yang tidak punya apa-apa? Dia akan segera sadar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Keseleo

    "Jangan menunggu besok, ayo kita berkeliling desa sekarang saja," ujar Juno tiba-tiba sambil meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong. Antusiasme terpancar jelas dari wajahnya. "Mumpung matahari belum terlalu rendah, Vian. Cahayanya sedang bagus-bagusnya untuk melihat pemandangan."​Vivian sempat terdiam sejenak, menimbang-nimbang kondisi fisiknya. Namun, melihat binar mata Juno yang begitu bersemangat, ia tidak tega untuk menolak. "Baiklah, ayo. Lagipula, duduk diam terlalu lama juga membuat ototku kaku," sahutnya dengan senyum tipis.​Keduanya mulai melangkah meninggalkan area pendopo, melewati gerbang kayu belakang rumah yang langsung terhubung dengan jalan setapak menuju pemukiman warga. Udara sore itu terasa semakin sejuk, menusuk pori-pori kulit namun memberikan sensasi segar yang luar biasa.​Sepanjang jalan, mata mereka dimanjakan oleh hamparan sawah yang mulai menguning dan pepohonan rimbun yang memagari jalanan tanah tersebut. Suara serangga sore mulai bersahut-sahutan, m

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Kekaguman Juno

    Udara pegunungan yang sejuk menyapa kulit, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang tertiup angin. Di halaman belakang rumah klasik itu, Juno dan Vivian tampak menikmati momen sederhana yang selama ini terasa mewah bagi mereka.​Juno meletakkan selang air setelah memastikan seluruh tanaman hias di sudut taman telah basah. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah Vivian yang sedang duduk tenang di sebuah pendopo kayu jati yang terletak tepat di atas kolam ikan.​"Segar sekali udaranya, Vian. Jauh lebih baik daripada polusi di Jakarta," ujar Juno sambil melangkah mendekat.​Vivian hanya membalas dengan senyuman lembut. Ia sedang asyik menaburkan butiran pakan ke dalam kolam. Seketika, puluhan ikan koi berukuran besar berebut makanan, menciptakan riak air yang menenangkan hati. Juno duduk di samping istrinya, menerima secangkir teh chamomile hangat yang telah disiapkan Bi Inah di atas meja kecil.​​Juno menyesap tehnya perlahan. Matanya tida

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Kosong

    Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kayu besar di kamar Juno dan Vivian. Namun, ratusan kilometer dari ketenangan perkebunan itu, suasana kontras yang mencekam sedang terjadi di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta.​Tiga buah mobil SUV berwarna hitam legam berhenti tepat di depan rumah kontrakan kecil yang pernah dihuni oleh Juno dan Vivian. Suara deru mesinnya yang berat memecah keheningan pagi, membuat beberapa tetangga keluar dengan wajah penuh tanya sekaligus ketakutan.​Pintu mobil terbuka serentak. Enam orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal turun. Wajah mereka dingin, kaku, dan tanpa ekspresi—tipikal orang-orang yang terbiasa menyelesaikan "masalah" dengan otot.​​"Hancurkan pintunya. Aku tidak mau membuang waktu satu detik pun," suara dingin dan tajam itu muncul dari balik kaca mobil yang perlahan turun. Clarissa duduk di kursi belakang dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, menyesap kopi ma

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Sentuhan

    Malam semakin larut, menyisakan suara jangkrik dan gesekan dahan pohon yang tertiup angin di luar sana. Setelah menyantap masakan rumahan Bi Inah yang luar biasa lezat—ayam ungkep bumbu kuning dan sambal terasi yang membangkitkan selera—Juno dan Vivian memutuskan untuk segera beristirahat. Tubuh mereka butuh jeda, namun pikiran mereka masih berpijar oleh rencana-rencana besar.​Mereka menaiki tangga kayu yang kokoh menuju lantai atas. Kamar utama di rumah ini jauh lebih luas dari seluruh luas rumah kontrakan mereka sebelumnya. Sebuah ranjang besar dengan tiang-tiang kayu jati berdiri megah di tengah ruangan, dilapisi sprei sutra berwarna putih bersih yang tampak sangat lembut.​"Bi Inah benar-benar menyiapkan segalanya dengan sempurna," gumam Juno sambil meletakkan tas punggungnya di atas kursi santai.​Vivian tersenyum lemas. "Aku butuh air hangat, Juno. Rasanya seluruh tulangku seperti mau copot."​Tanpa banyak bicara, Vivian langsung melangkah menuju kamar mandi yang terletak di da

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Markas

    Di tempat lain, di sebuah unit penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Jakarta, Clarissa sedang menyesap wine merahnya dengan anggun. Ia menyilangkan kaki jenjangnya di atas sofa kulit mahal, sementara matanya menatap tajam ke arah layar tablet yang menampilkan laporan dari orang suruhannya.​"Tuan muda Anda sudah meninggalkan kontrakannya, Nona," suara pria di ujung telepon terdengar patuh. "Dia pergi membawa beberapa koper menggunakan taksi menuju arah pusat kota."​Clarissa meledakkan tawa lepas yang terdengar dingin di ruangan yang luas itu. Suara tawanya bergema, memantul di dinding kaca yang tebal. Ia membayangkan wajah Juno yang panik, keringat dingin yang mengucur, dan kebingungan istrinya saat harus terusir dari rumah petak yang kumuh itu.​"Bagus. Biarkan dia berputar-putar mencari tempat berteduh malam ini," ucap Clarissa sambil memutar gelas wine-nya. "Dia pikir dunia ini tempat yang ramah bagi pecundang yang tidak punya apa-apa? Dia akan segera sadar

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Mobil tua

    Juno mengernyitkan dahinya, benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Vivian. Di saat mereka baru saja kehilangan segalanya dalam hitungan jam, istrinya justru tampak memiliki energi yang meledak-ledak. Tak ada isak tangis, tak ada keluhan soal betapa tidak adilnya dunia.​"Vian, kamu serius? Kita mau ke mana? Ini sudah sore, dan mencari kontrakan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Juno dengan nada khawatir yang kental.​Vivian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tangan Juno masuk ke dalam kamar. "Jangan pikirkan soal kontrakan baru dulu. Sekarang, bantu aku masukkan semua baju kita ke koper. Cepat, Juno. Sebelum orang-orang Clarissa kembali untuk memata-matai kita."​Juno hanya bisa terpaku melihat Vivian bergerak cekatan. Semua perabotan di rumah ini—meja makan, tempat tidur, hingga lemari kayu tua itu—adalah milik Bu Asih. Mereka hanya datang membawa pakaian dan beberapa barang pribadi. Dalam waktu kurang dari satu jam, dua koper besar dan dua t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status