LOGINKeesokan harinya, alarm berbunyi tepat pukul lima pagi. Tidak ada lagi asisten rumah tangga yang mengetuk pintu kamar untuk mengantarkan kopi panas, namun Juno bangun dengan semangat yang jauh lebih besar daripada saat ia masih memimpin Venderbilt Group. Ia segera bersiap, mengenakan kemeja biru muda yang sudah licin disetrika Vivian semalam."Semangat untuk hari pertamamu, Sayang," ucap Vivian sambil merapikan dasi Juno di depan pintu.Juno mengecup dahi istrinya lama. "Terima kasih, Vian. Aku pergi dulu. Jangan terlalu lelah, ingat janjimu untuk istirahat."Dengan motor matic-nya, Juno membelah jalanan pagi yang masih segar. Setibanya di kantor Pak Hendra, ia langsung disambut oleh tumpukan manifes pengiriman dan beberapa sopir truk yang sedang mengopi. Juno tidak merasa risih; ia justru merasa hidup kembali. Ia mulai memetakan rute distribusi, memeriksa stok di gudang yang pengap, hingga berdiskusi panas dengan kepala logistik. Tidak ada ruang AC yang dingin, namun setiap tetes
Setelah berpamitan dengan kecupan hangat di kening Vivian, Juno memacu motor matic seken yang baru dibelinya kemarin menuju kawasan industri di pinggiran kota. Di saku kemejanya, tersimpan sebuah alamat yang dikirimkan oleh Bayu, satu-satunya mantan asistennya yang masih setia menjalin komunikasi secara sembunyi-sembunyi dari pengawasan keluarga Venderbilt."Pak Juno, perusahaan ini milik paman saya. Mereka butuh orang yang paham sistem distribusi. Saya sudah sampaikan sedikit tentang Bapak, tapi mereka tetap ingin wawancara formal. Semoga beruntung, Pak," begitu isi pesan singkat Bayu malam tadi.Juno tiba di depan sebuah bangunan kantor dua lantai yang tampak sibuk. Tidak ada lobi marmer dengan resepsionis berseragam mahal. Yang ada hanyalah tumpukan palet kayu di halaman dan suara truk yang berlalu lalang. Juno menarik napas panjang, merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah masuk dengan sisa-sisa wibawa kepemimpinannya yang masih melekat kuat.Proses wawancara berjalan lebih ca
Semburat cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari lantai granit yang kemarin sore mereka bersihkan bersama. Suasana perumahan pinggiran kota ini memang jauh lebih tenang; tidak ada deru mesin kendaraan yang memekakkan telinga, hanya kicauan burung gereja yang saling bersahutan di dahan pohon mangga samping rumah.Di dapur yang ukurannya hanya seperempat dari dapur lama mereka, Vivian sudah sibuk sejak pukul enam pagi. Ia mengenakan celemek kain sederhana bermotif kotak-kotak. Rambutnya dicepol asal, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya yang putih. Tangannya dengan lincah mengiris bawang merah dan bawang putih di atas talenan kayu.Asap tipis mulai membumbung dari sebuah panci kecil di atas kompor gas dua tungku. Bau rempah yang tajam namun menggugah selera perlahan memenuhi seisi ruangan, merayap masuk ke dalam kamar utama yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka.Juno menggeliat, hidungnya kembang kempis menangkap aroma yang sangat familiar
Taksi berwarna biru itu perlahan memasuki sebuah gerbang perumahan yang terletak cukup jauh dari kebisingan pusat kota. Tidak ada lagi gedung pencakar langit yang mendominasi pemandangan, berganti dengan deretan pepohonan rindang di sisi jalan. Vivian memperhatikan dari balik jendela taksi dengan rasa penasaran yang membuncah. Ia membayangkan sebuah kontrakan sempit di gang padat penduduk, namun ternyata taksi itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang tampak sangat terawat.Pagar hitamnya yang rendah memberikan kesan terbuka. Begitu turun dari taksi dengan bantuan Juno, Vivian disambut oleh aroma tanah basah dan wangi melati dari pekarangan kecil di depan rumah. Rumput jepang yang terpangkas rapi menghijau, mengelilingi sebuah kolam ikan koi kecil yang airnya bergemericik lembut."Rumahnya... cantik sekali, Juno," gumam Vivian takjub.Juno tersenyum, merasa lega melihat binar di mata istrinya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci sederhana yang tidak lagi memiliki
Siang itu, sinar matahari tidak lagi terasa menyengat bagi Juno. Ia duduk di kursi kayu di samping ranjang Vivian yang kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Selama tiga hari terakhir, Juno praktis tidak meninggalkan rumah sakit. Di sela-sela waktu saat Vivian tertidur, Juno sibuk dengan ponselnya—bukan untuk mengecek pergerakan saham, melainkan mencari rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota.Ia sempat termenung menatap saldo di tabungan daruratnya yang tidak ikut tersita karena menggunakan nama kerabat jauh. Jumlahnya tidak seberapa, mungkin hanya cukup untuk menyewa sebuah rumah mungil dan biaya hidup beberapa bulan ke depan. Juno, yang biasanya terbiasa menandatangani cek miliaran rupiah, kini harus menimbang-nimbang antara memilih rumah dengan dua kamar atau satu kamar agar sisa uangnya bisa digunakan untuk biaya terapi Vivian."Satu per satu, Juno. Fokus pada apa yang ada di depan mata," bisiknya pada diri sendiri sambil menutup situs pencarian properti.Setiap
Seorang dokter dan dua orang perawat masuk dengan tergesa-gesa begitu lampu darurat di atas pintu kamar menyala. Juno terpaksa mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi tim medis untuk bekerja. Jantungnya berdegup kencang—kali ini bukan karena rasa takut akan kehilangan, melainkan karena harapan yang membumbung tinggi.Ia berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Dokter memeriksa refleks pupil Vivian, mengecek tekanan darah, dan melakukan serangkaian tes saraf sederhana. Suara gesekan stetoskop pada kulit dan bunyi alat medis yang biasanya terdengar mengerikan bagi Juno, kini terasa seperti simfoni yang menenangkan."Ibu Vivian, bisa dengar suara saya? Coba gerakkan jari telunjuk tangan kanan Anda," instruksi Dokter Aris dengan tenang.Juno menahan napas. Dari posisinya, ia melihat jemari Vivian bergerak pelan, lalu perlahan menekuk. Vivian memberikan respons yang jauh lebih kuat dari sebelumnya."Bagus sekali. Sekarang, coba tarik napas dalam-dalam," lanjut dokter.







