Share

Rencana apa

Author: de Banyantree
last update Last Updated: 2026-01-14 23:33:39

Pak Bambang melihat jam tangannya yang melingkar mewah, lalu memberikan anggukan hormat kepada kedua wanita di hadapannya. "Sepertinya tugas saya malam ini sudah selesai, Nyonya Renata. Saya akan terus memantau perkembangan di kepolisian agar status tahanan luar Nona Clarisa tetap aman."

​Renata tersenyum anggun, tipe senyum yang menyimpan ribuan rahasia. "Terima kasih, Bambang. Kerja kerasmu selalu memuaskan. Upah untuk jasamu dan biaya jaminan tadi sudah ditransfer ke rekening pribadimu beberapa menit yang lalu. Silakan diperiksa."

​"Anda selalu tepat waktu, Nyonya. Saya pamit dulu. Nona Clarisa, istirahatlah," ujar Pak Bambang sebelum akhirnya melangkah pergi menuju mobilnya yang sudah menunggu.

​Setelah kepergian sang pengacara, suasana menjadi lebih intim namun mencekam. Renata menuntun Clarisa masuk ke dalam ruang tamu yang luasnya hampir menyamai lobi hotel bintang lima. Clarisa duduk di sofa beludru, matanya masih menatap sang ibu dengan penuh ketidakpercayaan.

​"Mom, aku masi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Besok

    Pertemuan di ruang rapat utama itu terasa seperti medan perang yang dibalut dengan kemewahan. Suasana begitu dingin, bahkan pendingin ruangan yang dipasang pada suhu standar terasa jauh lebih menusuk tulang. Di satu sisi meja oval yang panjang, Pak Bambang duduk dengan tenang, menaruh sebuah tas kulit mahal di atas meja. Di sampingnya, Clarisa duduk dengan dagu terangkat, mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi sembab di matanya, namun bibirnya melengkung membentuk senyum kemenangan yang prematur.​Pintu terbuka lebar. Juno melangkah masuk dengan aura yang begitu dominan, diikuti oleh Vivian yang berjalan dengan anggun meski langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.​"Selamat pagi, Tuan Juno, Nyonya Vivian," sapa Pak Bambang dengan suara baritonnya yang sopan namun formal. "Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda."​Juno tidak membalas sapaan itu. Ia menarik kursi untuk Vivian sebelum akhirnya duduk di kursi kepemimpinan. "Langsung saja, Bambang. Aku t

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Langkah pertama

    Malam itu berlalu dengan ketegangan yang terpendam di balik selimut kabut perkebunan. Meski Juno berusaha memejamkan mata, nama "Renata" terus berdengung di kepalanya seperti alarm bahaya. Ia tahu, kembalinya wanita itu bukan sekadar untuk menjemput Clarisa, melainkan untuk menggali kembali luka lama dan merebut takhta yang selama ini ia incar.​Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar di rumah klasik tersebut. Juno sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Ia berdiri di depan cermin, merapikan dasinya dengan gerakan yang kaku. Pikirannya sudah melayang jauh ke gedung pusat Vanderbilt Group, menyusun strategi untuk membentengi perusahaan dari serangan Renata.​Namun, langkahnya terhenti saat ia keluar dari kamar mandi dan melihat pemandangan yang tak terduga. Di depan meja rias, Vivian sudah duduk rapi dengan setelan blazer kerja berwarna krem yang elegan. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan sedikit ruang untuk memperlihatkan plester medis yang masih menempel

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Penyelidikan

    Malam itu, di dalam mobil setelah pengejaran yang sia-sia. Emosi yang memuncak tidak mampu mendinginkan kepala Juno yang sedang mendidih. Di dalam mobil, Juno mengeratkan tangannya. Kabar yang baru saja ia terima dari pihak kepolisian benar-benar di luar nalar. Clarisa, wanita yang jelas-jelas tertangkap tangan melakukan percobaan kejahatan, bisa melenggang bebas hanya dalam hitungan jam dengan status tahanan luar.​"Sialan! Bagaimana bisa sistem hukum semudah itu dibeli?" geram Juno. Urat-urat di lehernya menegang, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan hamparan pepohonan gelap.​Tanpa membuang waktu, ia kembali menyambar ponselnya dan menekan satu nama di kontak singkatnya: Bayu.​"Cari tahu siapa yang menjamin pembebasan Clarisa," perintah Juno tanpa basa-basi begitu sambungan tersambung. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang mengancam. "Gunakan semua informanmu. Clarisa tidak punya uang sebanyak itu setelah semua asetnya kubekukan. Pasti ada paus besar di bel

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Rencana apa

    Pak Bambang melihat jam tangannya yang melingkar mewah, lalu memberikan anggukan hormat kepada kedua wanita di hadapannya. "Sepertinya tugas saya malam ini sudah selesai, Nyonya Renata. Saya akan terus memantau perkembangan di kepolisian agar status tahanan luar Nona Clarisa tetap aman."​Renata tersenyum anggun, tipe senyum yang menyimpan ribuan rahasia. "Terima kasih, Bambang. Kerja kerasmu selalu memuaskan. Upah untuk jasamu dan biaya jaminan tadi sudah ditransfer ke rekening pribadimu beberapa menit yang lalu. Silakan diperiksa."​"Anda selalu tepat waktu, Nyonya. Saya pamit dulu. Nona Clarisa, istirahatlah," ujar Pak Bambang sebelum akhirnya melangkah pergi menuju mobilnya yang sudah menunggu.​Setelah kepergian sang pengacara, suasana menjadi lebih intim namun mencekam. Renata menuntun Clarisa masuk ke dalam ruang tamu yang luasnya hampir menyamai lobi hotel bintang lima. Clarisa duduk di sofa beludru, matanya masih menatap sang ibu dengan penuh ketidakpercayaan.​"Mom, aku masi

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Siapa penolongnya

    Udara malam yang dingin menusuk tulang sama sekali tidak sebanding dengan amarah yang masih berkecamuk di dada Clarisa. Namun, saat ia melangkah keluar dari lobi kantor polisi, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu di depan lobi.​Fredy, anak buah setia Clarisa yang sempat menghilang saat penyergapan, bergerak cepat membukakan pintu belakang. Wajahnya datar, seolah-olah tidak terjadi drama kejar-kejaran yang menegangkan beberapa jam lalu.​"Silakan, Nona," ucap Fredy singkat.​Clarisa masuk ke dalam mobil, diikuti oleh seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan tas kulit mahal. Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Fredy mengemudikan mobil dengan sangat santai, sesekali melirik spion untuk memastikan tidak ada anak buah Juno yang membuntuti mereka.​​Clarisa menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk. Ia menoleh ke samping, menatap pria yang baru saja membebaskannya dari jeratan hukum sementara.​"Jadi, siapa yang membantuku kali ini?" tany

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Amarah Juno

    Langkah kaki mereka yang tenang memasuki rumah seketika disambut oleh dering ponsel Juno yang memecah keheningan malam. Juno merogoh sakunya, melihat nama Raka, kepala tim keamanannya, berkedip di layar. Firasatnya berubah tajam.​"Aku angkat sebentar ya, Sayang," ujar Juno, mengecup kening Vivian sebelum melangkah sedikit menjauh ke ruang kerja.​"Ya, Raka? Katakan padaku kau membawa kabar baik," suara Juno berubah dingin, kembali ke mode pria yang tegas dan tak kenal ampun.​"Kami menemukannya, Tuan. Clarisa bersembunyi di sebuah gudang tua di pinggiran kota, dekat pelabuhan tikus. Dia mencoba melarikan diri menggunakan kapal nelayan, tapi anak buah kita berhasil mengepungnya sebelum dia sempat naik ke dermaga," lapor Raka di seberang telepon.​Juno menarik napas panjang, ada rasa lega yang dingin mengalir di nadinya. "Bagus. Jangan biarkan dia lepas. Serahkan dia langsung ke markas kepolisian pusat. Aku ingin dia diproses malam ini juga dengan semua bukti yang kita punya."​"Siap,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status