MasukVivian merasakan sakit menusuk di dadanya, lebih tajam daripada rasa sakit fisik apa pun. Ancaman Arman bukanlah gertakan kosong; itu adalah jaring baja yang mengunci pergerakannya. Ia mengenal suaminya: Menghancurkan Vivian adalah hal yang kecil dibandingkan dengan kehilangan kontrol.
Ia tidak menjawab. Hanya tatapannya yang kosong yang menjadi jawabannya. Arman, puas dengan kebisuan Vivian, berbalik menuju pintu. "Sarapan akan disajikan dalam sepuluh menit. Pastikan kau turun, Vivian. Kita adalah keluarga. Dan kita akan menunjukkan pada Indira seberapa baik kita menyambut anggota keluarga baru." Kata-kata 'keluarga baru' melilit perut Vivian seperti kawat berduri. Setelah pintu ditutup lagi, Vivian menghela napas panjang. "Jangan menangis, Vivian," desisnya. Ia harus bertahan, setidaknya untuk saat ini. Hingga bom waktu itu akan meledak dengan sendirinya. Ruang makan terasa dingin, meskipun sinar matahari pagi menyaring melalui jendela besar. Meja makan yang biasanya hanya dihuni Arman dan sesekali Juno, kini terasa sesak dan tegang. Vivian turun, mengenakan blus sutra berwarna biru tua dan celana panjang yang elegan. Ia memilih pakaian yang formal dan tertutup, kontras dengan gaun mini Indria yang mencolok. Ia mengambil tempat duduknya di ujung meja, posisinya sebagai nyonya rumah yang sah. Arman duduk di kepala meja, ekspresinya ceria yang dipaksakan. Di sebelahnya, Indira duduk dengan santai, mengayunkan kaki dan mengeluh tentang dinginnya teh. Dan Juno, ia duduk di seberang Vivian, menyilangkan tangan di depan dada, tatapan sinisnya terpaku pada kehamilan Indira, bukan pada Vivian. "Nah, ini dia. Keluarga kita berkumpul," kata Arman dengan nada yang terlalu riang. "Bukan. Ini adalah sirkus," gumam Juno, cukup keras untuk didengar semua orang. "Juno!" tegur Arman. "Oh, biarkan saja, Sayang," kata Indira, memegang lengan Arman dan memaksakan tawa yang melengking. "Dia pasti iri karena Mommy-nya tidak bisa membuatkan dia adik." Vivian merasakan amarah yang panas membakar tenggorokannya, tetapi ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. "Dia bisa punya adik, Indira," jawab Vivian dengan suara tenang, mengambil sendok supnya. "Tapi bukan dari Arman." Indira tersedak air liurnya. Arman menatap tajam ke arah Vivian. Sementara itu, Juno, untuk pertama kalinya pagi itu, tampak tertarik. Senyum tipis dan kejam muncul di bibirnya. Indira dengan cepat mendapatkan kembali kekuatannya, menyandarkan kepalanya ke bahu Arman. "Aku yakin itu. Tapi kita tidak membicarakan orang lain, 'kan, Tante Vivian? Kita bicara tentang Arman. Sayang, apa kau ingat? Aku harus minum jus jeruk segar yang diperas sendiri, bukan yang dari kotak itu. Itu buruk untuk bayi kita." Arman segera memanggil pelayan. "Iya, tentu saja. Janin Arman harus mendapatkan yang terbaik," balas Vivian, menatap lurus ke arah Indira. "Kasihan sekali. Jika aku tahu Arman sangat peduli dengan kesehatan janin, aku pasti sudah lebih dulu hamil, bukan? Tetapi, tentu saja, aku tidak ingin anakku tumbuh dengan ayah yang mudah berpindah hati seperti selembar tisu bekas." Indira melepaskan Arman. "Kau—" "Aku adalah istri yang sah, Indira," potong Vivian, suaranya tetap anggun dan terkontrol, meskipun nadanya sedingin es. "Dan aku punya hak untuk duduk di sini. Mengingat kau sangat sensitif karena kehamilanmu, aku akan menyarankanmu untuk tidak membuang energimu untuk hal-hal yang tidak penting, seperti mencoba membuatku pindah. Lagipula, kau tahu bagaimana reputasi Arman. Dia mungkin akan memiliki selingkuhan baru sebelum bayi ini lahir. Itu akan sangat memalukan, bukan?" Indira bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam. "Kau tidak punya tempat di sini! Kau mandul! Kau tidak bisa memberinya apa-apa! Kau hanya perabot kuno yang menunggu untuk dibuang!" Tiba-tiba, Arman berdiri, membanting tangannya ke meja. "CUKUP!" Kini semua mata tertuju padanya. Vivian memandang Indira dengan pandangan kasihan. "Aku tidak mandul, Sayang. Aku hanya lebih selektif tentang siapa ayah dari anak-anakku." Ia lalu memindahkan pandangannya ke Arman, memastikan matanya melihatnya dengan jelas. "Dan mengenai perabot kuno. Perabot antik adalah aset berharga. Perabot murahan, di sisi lain, mudah rusak dan bisa dibuang kapan saja." Juno tertawa kecil, suara tawa yang kering dan meremehkan. "Skor 1-0 untuk Vivian." Arman menarik napas panjang, mencoba mengendalikan situasi yang lepas kendali. "Indira, duduk. Vivian, itu sudah cukup." Indira merengek, wajahnya penuh air mata. "Arman, dia menghinaku! Aku tidak mau! Aku tidak bisa tinggal seatap dengan wanita ini!" "Kau harus," kata Arman, nadanya kembali mengancam, diarahkan pada Indira. "Kau sudah tahu aturannya. Kalian berdua akan tinggal di sini. Dan tidak ada lagi adegan di meja makan. Jika kau berdua tidak bisa berdamai, aku akan menghukum kalian berdua." Menghukum? Vivian memikirkan kembali ancaman Arman tentang ayahnya. Dia tidak bercanda. Tiba-tiba, Juno meletakkan garpunya dengan keras. Juno bangkit dan berjalan menuju pintu. Sebelum ia keluar, ia berhenti di belakang kursi Vivian, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar olehnya. "Aku akan mengawasimu, Vivian. Ayah adalah masalah. Tapi aku adalah bahaya." Vivian bergidik. Di antara pengkhianatan Arman dan kegilaan Juno, ia harus menemukan celah. Vivian mengambil ponselnya di bawah meja, jarinya dengan cepat mengetik pesan ke pengacara kepercayaannya, Tuan Haryo. Pesan untuk Tuan Haryo: Saya butuh pertemuan darurat hari ini. Kami akan membahas 'dividen'. Dan saya butuh salinan sertifikat medis ayah saya, yang paling baru. Diam-diam. Ia menekan kirim, sambil tersenyum tipis pada Arman. Pertempuran telah dimulai. Dan ia tidak berniat untuk kalah. Malam itu, saat Vivian masuk ke kamar tidurnya yang dingin, ia menemukan sebuah kotak kecil beludru hitam di atas bantalnya. Bukan miliknya. Dengan hati-hati ia membukanya. Di dalamnya, tersemat sebuah kalung perak dengan liontin hati. Cantik, tapi bukan itu yang membuatnya terkejut. Liontin itu terbuka. Di dalamnya, ada dua foto: Foto Arman dan Indira sedang berciuman mesra, dan yang lebih mengerikan— foto Ayahnya, tertawa bahagia, sedang berjalan-jalan di taman, tetapi dengan lingkaran merah cerah mengelilingi dada kirinya. Vivian tahu itu. Juno telah mengintai ayahnya, sudah lama. Ia bukan lagi hanya ancaman di rumah, ia adalah bayangan yang mengancam nyawa ayahnya. Tapi kenapa Juno mengirim ini? Apakah ini peringatan? Atau ajakan untuk bersekutu? Vivian memegang kalung itu, kedinginan. Ia harus mencari tahu apa yang ingin dilakukan Juno, dan segera. Ia harus bergerak sebelum dua bahaya ini—suaminya yang manipulator dan putra tirinya yang psikopat—menghancurkannya sepenuhnya.Malam pertama di rumah terasa begitu berbeda. Meskipun kamar bayi itu kini lebih mirip laboratorium medis mini, atmosfernya jauh lebih hangat daripada bangsal rumah sakit yang kaku. Cahaya lampu redup berwarna kekuningan memberikan kesan tenang, kontras dengan kerlip lampu indikator pada mesin inkubator yang menjaga suhu tubuh Arka dan Kiara.Juno masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat dan sepiring kecil camilan sehat untuk Vivian. Ia mendapati istrinya masih terjaga, duduk di kursi menyusui tepat di antara dua inkubator tersebut."Belum mengantuk, Vi? Ini sudah hampir tengah malam," bisik Juno lembut agar tidak mengganggu dua perawat profesional, Suster rini dan Suster Maya, yang sedang sibuk mencatat grafik perkembangan bayi di meja sudut ruangan.Vivian menoleh, senyumnya tidak lepas dari wajahnya yang masih sedikit pucat. "Bagaimana bisa aku tidur, Jun? Melihat mereka bernapas dengan tenang di sini saja sudah membuatku merasa seperti sedang bermimpi. Terima kasih ya,
Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Luka bekas operasi sesar Vivian mulai mengering, dan rasa mulas akibat prosedur laparoskopi tempo hari pun sudah jauh berkurang. Vivian sudah mulai bisa berjalan tegak, meski langkahnya masih pelan dan hati-hati. Pagi itu, Dokter Handoko datang melakukan visit rutin dengan senyum khasnya yang kebapakan."Kondisi fisik Ibu Vivian sangat luar biasa. Pemulihannya cepat sekali," puji Dokter Handoko sambil memeriksa grafik medis. "Hari ini Ibu sudah diperbolehkan pulang. Jangan lupa obatnya diminum rutin dan jangan mengangkat beban berat dulu, ya."Vivian tersenyum lega, namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Juno yang berdiri di samping tempat tidur. Ada kegelisahan yang menggantung di udara."Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dok?" tanya Juno cepat. Suaranya terdengar cemas. "Apa Arka dan Kiara sudah bisa ikut pulang bersama mamanya?"Dokter Handoko menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada. "Untuk sementara, bia
Setelah perawat selesai menyuntikkan obat penenang ringan dan penstabil tensi, kantuk mulai menggelayuti kelopak mata Vivian. Dokter Handoko memberikan instruksi terakhir kepada timnya sebelum kembali menoleh pada Juno."Kita akan membawanya ke ruang tindakan sekarang, Pak Juno. Prosedurnya tidak akan selama operasi sesar tadi siang karena ini tindakan laparoskopi minimal. Kami hanya akan menutup akses saluran tuba agar tidak terjadi kehamilan di masa depan," jelas Dokter Handoko dengan nada yang sangat menenangkan.Juno mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati namun penuh keyakinan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya titip istri saya."Roda brankar berderit halus saat perawat mendorong Vivian keluar dari kamar 402. Juno hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung para medis itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang sterilisasi. Lorong rumah sakit kini terasa lebih sunyi, namun anehnya, perasaan Juno jauh lebih damai. Ia tahu, keputusan ini adalah
Juno melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai temaram. Pikirannya masih tertuju pada penjelasan Dokter Handoko. Sterilisasi. Sebuah kata yang terdengar berat, namun terasa seperti satu-satunya jalan logis untuk menjaga agar napas Vivian tetap berembus di sisinya.Begitu membuka pintu kamar 402, ia mendapati Vivian sudah bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang kecil di hidung , membuat wajah cantiknya terlihat lebih jelas."Dari mana, Jun?" suara Vivian masih agak serak, tapi sorot matanya sudah jauh lebih fokus."Habis dipanggil Dokter Handoko sebentar, Sayang," jawab Juno sambil tersenyum menenangkan. Ia mendekat, mengusap pipi Vivian yang mulai terasa hangat. "Gimana? Masih pusing banget?"Vivian menggeleng lemah. "Lapar sedikit. Tapi rasanya kayak habis lari maraton, badan remuk semua."Kebetulan sekali, seorang pramusaji rumah sakit masuk membawakan nampan berisi bubur halus, sup bening, dan segelas air putih ha
Juno mengusap lembut kepala Vivian, membiarkan jemarinya menyisir rambut istrinya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan napas Vivian yang mulai dalam dan teratur, pertanda wanita itu kembali terlelap dalam tidur yang lebih berkualitas setelah perjuangan hidup dan mati di meja operasi."Istirahat ya, Vian. Kamu butuh ini," bisik Juno pelan.Baru saja Juno hendak menyandarkan punggungnya di kursi, pintu kamar diketuk pelan. Bayu melongokkan kepalanya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Pak, maaf mengganggu. Dokter Handoko baru saja berpesan, kalau Bapak sudah tenang, beliau minta Bapak ke ruangannya sebentar."Juno mengangguk. Meski hatinya enggan beranjak satu senti pun dari sisi Vivian, ia tahu ada hal medis yang harus ia dengar langsung. Ia memberikan instruksi singkat pada Bayu untuk menjaga di depan pintu dan segera melaporkan jika ada pergerakan sekecil apa pun dari Vivian.Juno melangkah masuk ke ruangan yang didominasi aroma antiseptik dan jajaran buku medis itu. Dok
"Dok, saya boleh lihat Vivian sekarang?" tanya Juno dengan nada mendesak, matanya masih memerah namun memancarkan harapan yang begitu besar.Dokter Handoko tersenyum maklum, ia sudah sangat terbiasa melihat ekspresi seorang suami yang sedang dilanda euforia sekaligus kecemasan pascaoperasi. "Sabar, Juno. Vivian sedang dipindahkan dari ruang pemulihan ke ruang perawatan VVIP. Obat biusnya belum hilang sepenuhnya, jadi dia mungkin belum sadar total. Tapi silakan, kamu bisa menemaninya di sana."Mendengar izin itu, Juno tidak menunggu dua kali. Ia bergegas mengikuti arahan perawat, mengabaikan rasa pegal di kakinya setelah berjam-jam duduk di kursi keras koridor. Bayu, yang masih setia mengikuti, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya yang biasanya berjalan dengan langkah penuh wibawa, kini hampir berlari kecil seperti remaja yang sedang jatuh cinta."Pak, pelan-pelan! Istri Bapak tidak akan lari ke mana-mana," goda Bayu pelan, mencoba mencairkan suasana.Juno hanya menoleh s







