LOGINTim bayangan bergerak cepat sesuai perintah. Clarisa, yang masih mengerang kesakitan dengan pergelangan tangan yang hancur, diseret kasar menuju salah satu mobil van hitam. Suara teriakannya perlahan menjauh, namun gema penderitaannya masih tertinggal di udara pagi yang dingin.Juno tidak peduli lagi pada wanita itu. Fokus dunianya kini hanya tertumpu pada Vivian yang terbaring lemah di pangkuannya di kursi belakang SUV."Jalan! Sekarang! Ke Rumah Sakit Medika Utama!" teriak Juno pada sopirnya. Suaranya pecah, ada nada panik yang jarang sekali ditunjukkan oleh pria sedingin dia."Baik, Tuan!" Sopir itu menginjak gas, membuat mobil melesat membelah jalanan desa yang berbatu.Di dalam mobil, Juno dengan gemetar membuka kain penutup mata dan mulut Vivian. Ia meringis melihat bekas kemerahan di wajah istrinya. Namun, yang paling membuatnya ketakutan adalah luka gores di leher Vivian. Meski bukan luka robek yang fatal, darah terus merembes keluar, membasahi jemari Juno yang berusaha me
Pintu SUV yang ringsek itu terbuka dengan paksa. Clarisa keluar dengan napas tersengal, menyeret tubuh Vivian yang lemas di depannya. Tangan kanan Clarisa menggenggam sebilah pisau lipat tajam yang kini menempel erat di kulit leher Vivian."Mundur! Semuanya mundur atau wanita tua ini mati!" teriak Clarisa histeris. Rambutnya yang semula tertata rapi kini acak-acakan, wajahnya berlumuran darah tipis akibat benturan tadi.Juno berdiri hanya terpaut lima meter di depan mereka. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat mata Vivian yang tertutup kain, tubuhnya yang gemetar, dan kilatan logam dingin di leher istrinya."Clarisa, tenang. Letakkan pisaunya," suara Juno terdengar berat, mencoba menekan emosi yang meledak-ledak di dadanya. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, memberi tanda agar tim bayangannya tidak bergerak gegabah."Tenang? Kau bilang tenang setelah kau menghancurkan semua jalanku?!" Clarisa tertawa sumbang, tawanya terdengar gila di tengah keheningan hutan. "Kau
Lantai kayu vila tua itu berderit nyaring di bawah langkah kaki Clarisa yang terburu-buru. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi kekacauan. Para anak buah Clarisa bergerak sigap, menyambar senjata dan tas perlengkapan mereka, sementara Clarisa sendiri terus mengumpat karena rencananya yang sempurna kini berantakan."Seret wanita tua itu keluar! Cepat!" perintah Clarisa dengan suara melengking.Dua pria bertubuh kekar segera mendobrak pintu sebuah kamar pengap di sudut belakang vila. Di sana, di atas lantai semen yang dingin dan berdebu, Vivian meringkuk. Kondisinya sangat memprihatinkan. Pakaian sutra yang ia kenakan saat diculik kini tampak kusam, penuh noda tanah dan debu. Kedua tangannya terikat erat di belakang punggung dengan tali tambang plastik yang kasar, meninggalkan bekas merah yang menyakitkan di pergelangan tangannya.Mata dan mulut Vivian ditutup rapat dengan potongan kain abu-abu yang kotor dan berbau apek. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa bicara, hany
Tim bayangan bergerak layaknya hantu di tengah kegelapan pelabuhan. Mereka bukan polisi yang terikat protokol, melainkan ahli pelacak digital dan mantan intelijen yang bekerja di bawah radar. Dalam hitungan menit, mereka mulai menyusup ke sistem enkripsi menara pemancar di sekitar dermaga, menarik data sinyal seluler yang sempat aktif dalam radius satu kilometer.Juno berdiri mematung di pinggir dermaga, kedua tangannya terkepal di saku jaket. Matanya yang memerah karena kurang tidur terus menatap layar tablet yang dipegang salah satu anggota tim bayangan. Garis-garis digital dan titik koordinat berkedip cepat, namun belum ada satu pun yang menunjukkan keberadaan Clarisa.Waktu merambat dengan kejam. Satu jam berlalu, lalu dua jam. Keheningan malam mulai pecah oleh suara sayup ayam jantan yang berkokok dari pemukiman nelayan di seberang pelabuhan. Langit yang tadinya hitam pekat perlahan berubah menjadi abu-abu kebiruan."Tuan Juno," Bayu mendekat dengan langkah ragu. Ia menyodorka
Langkah kaki Juno menghantam aspal pelabuhan dengan ritme yang memburu. Paru-parunya terasa terbakar, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan debaran jantungnya yang dipenuhi ketakutan. Di belakangnya, Bayu dan beberapa petugas polisi berusaha mengejar, namun amarah telah memberikan Juno kecepatan yang luar biasa.Gudang nomor 14 berdiri kokoh di ujung dermaga, tampak seperti raksasa tidur yang mengancam. Pintunya yang terbuat dari seng tebal terlihat tertutup rapat. Tanpa memedulikan prosedur keselamatan, Juno menerjang pintu kecil di samping gerbang utama.BRAKK!Pintu itu terbuka dengan sekali dobrak. Juno merangsek masuk ke dalam kegelapan. "Vivian! Vivian, aku di sini!" teriaknya, suaranya menggema hebat menabrak langit-langit gudang yang tinggi.Ia meraba dinding, mencari saklar lampu dengan tangan gemetar. Saat cahaya lampu neon yang berkedip-kedip mulai menyala, jantung Juno seolah berhenti berdetak.Gudang itu kosong. Tidak ada van putih, tidak ada tumpukan barang,
Ban mobil Juno menjerit saat ia membanting setir keluar dari area gedung. Di sampingnya, Bayu mencengkeram pegangan pintu dengan wajah pucat, berusaha menyeimbangkan tubuhnya di tengah laju mobil yang ugal-ugalan. Jalanan Jakarta malam itu adalah musuh terbesar mereka; lautan lampu merah dan deretan kendaraan yang mengular seolah sengaja menghalangi jalan Juno."Sial! Minggir!" Juno memukul klakson berkali-kali, suaranya parau karena amarah. Ia tidak peduli lagi pada rambu-rambu. Trotoar dan celah sempit di antara bus ia libas tanpa ragu. Pikirannya hanya terisi oleh wajah ketakutan Vivian."Tuan, tenanglah sedikit. Kita tidak akan sampai kalau kita kecelakaan di sini," ujar Bayu mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar."Bagaimana aku bisa tenang, Bayu?! Istriku ada di tangan bajingan-bajingan itu!" Juno melirik tajam, matanya menyiratkan kilatan emosi yang belum pernah Bayu lihat sebelumnya. "Telepon pihak kepolisian sekarang! Hubungi siapa pun yang bisa membantu kita







