Se connecter"Mau nonton film?" James bertanya sambil menyalakan tv, dia menghubungkannya ke ponsel.
Saat ini, kami sudah berada di dalam apartemen James yang super mewah."Aku gerah," kataku sambil menciumi bajuku yang terasa lengket. Banyak pekerjaan yang aku lakukan sejak pagi dan belum mandi.James memandangku dengan binar cerah dimatanya, aku melihat dia berharap." Ayo, di kamarku ada bathtub besar yang bisa kita pakai berdua," kata James santai sambil naik kelantai atas, aku tidak bisa protes karena dia mendadak jadi tuli."Aku mau mandi sendirian, James!" keluhku sambil mengikutinya, langkahnya lebar sekali.Hah! Dia benar-benar jadi tuli sungguhan. Aku menghentakkan kaki dengan jengkel."Apa kau bawa baju ganti sayang?" James bertanya, aku mengabaikannya."Tidak, mungkin bisa pakai pengering handuk?" tanyaku sambil berjalan melewatinya. Satu persatu pakaian yang aku kenakan kulepaskan."Ada mesin cuci dry clean," jawabnya sambil memunguti pakaianku yang berserakan dilantai.Aku hanya mengenakan handuk. Sementara James turun kebawah untuk mengurus pakaianku.Sama seperti dirumahnya, kamar mandi ini juga mewah, bathtub nya berbetuk lingkaran dikelilingi aneka macam sabun. Aku melepaskan handuk dan masuk kesana setelah mengisinya dengan air dan menuangkan sabun cair. nyaman sekali rasanya bisa berendam setelah seharian berlelah-lelah."Alice?" James mengetuk pintu. Aku mendengus melihat betapa sopannya paman seksi itu."Masuk saja James, aku didalam!" seruku dari dalam kamar mandi."Sesuai izinmu sayang!" Seru James masuk sambil nyengir kuda, dia hanya mengenakan celana boxer.Aku geli melihatnya. Padahal didalam sini aku tidak memakai apapun. Aku ingin menguji kesungguhan kata-kata James." Masuklah kesini," aku merentangkan tangan menyambutnya. Dia melirik handuk yang tergantung dan wajahnya memerah."Kau mau memancing ku?hmmm?" mata James berbinar jahil."Sedikit, kita akan lihat apakah aku memang memiliki hak veto,""Bagus sekali!"James masuk ke bathtub. Dia meraba kakiku dengan senyuman jahil, tapi menghentikannya ketika sampai dilutut. Dia sedang mempermainkan gairahku."Berhentilah memancingku paman nakal!" aku menggerutu geli."Kau panggil aku paman? lancang sekali kau gadis muda!"James memelukku dari belakang. Dia mencoba membuatku berdiri tapi aku menekan tubuhku agar tetap dibawah permukaan air. Kami tertawa bersama. Tak lama kemudian James mengalah. Dia menyandarkan tubuhku di dadanya. Dengan gerakan perlahan dia mulai menciumi rambutku, turun ke telingaku, ke tengkukku.Tangannya meraba perutku hingga naik ke dada. Aku menutupinya dengan kedua tangan, agar James tidak bisa memegang area sensitifku."Kau belum mau memintanya sayang?" James berbisik tepat ditelingaku, aku hanya menggeleng."Jangan siksa aku sayang," James memohon lagi. Dengan nakal dia menyerang pangkal paha ku, refleks aku bangun. Dan dia membelalakkan matanya ketika tubuhku yang polos terekspos.Baru sadar, aku duduk lagi menghadap James. Memukuli dadanya yang bidang. Ada bulu halus uang menggelitik tanganku. Dia benar-benar seksi, tatapan matanya memohon padaku. Tapi aku masih kuat.James mendudukkanku diatas pahanya, aku terkesiap saat merasakan senjatanya yang mengeras dibawahku. James mengerling nakal, " Jangan takut sayang, dia jinak kok," ucapnya menggodaku.Aku memutar bola mataku jengah.Dia belum menyerah. Tangannya mengelus punggungku, lalu menarikku kedadanya. Area sensitif di dadaku tergelitik saat james bergerak kekanan dan kekiri. Dengan ganas dia menciumi leherku, turun hingga ke dada atasku. Tanpa sadar aku menikmatinya, sambil sedikit mendesah. James jadi kalap dan aku tidak bisa menahan diriku lagi.Dengan pelan aku mendekatkan wajahku ke wajah James yang menengadah, dia menantikan aku beraksi. Meskipun dia sudah sangat bergairah tapi dia tetap menepati janjinya."Terima kasih," gumamku tepat di depan bibirnya. Dia menungguku.Dengan banyak keraguan aku memperhatikan wajah James. Hidungnya bagaikan dipahat, rahangnya dipenuhi janggut tipis, bentuk bibirnya indah sekali. Aku sangat ingin melumat bibir itu.Setelah memastikan aku tidak akan menyesal memberikan ciuman pertamaku dengannya, bibirku menyentuh bibirnya. James menyambutku dengan gairah yang berapi-api. Bibirku habis dilumatnya bahkan rahang ku juga tak luput diciumi. Aku dengan berani memegang kepalanya agar tak menjauh dariku. Dengan segenap hati aku menikmati setiap sentuhannya."Oh James!" aku memohon padanya.sementara James meremas setiap bagian tubuhku yang menonjol. Senjata James semakin tegak dibawah. Dia menggeseknya hingga aku jadi gila.Tapi aku masih ingat. Meski dikuasai nafsu, aku tidak akan bertindak bodoh. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri hanya akan memberikan keperawananku pada suamiku kelak. Jika kami berjodoh, maka aku akan jadi milik James sepenuhnya.Ditengah gempuran gairah kami berdua, aku berpikir apakah James benar-benar mencintaiku dengan tulus?, hanya dia dan tuhan yang tau. Aku memang sudah gila, tapi James harus membuktikan dulu cintanya padaku."Sayang," James mendesah di telingaku. Aku masih memeluknya erat."Hmmm?" Hanya itu yang keluar dari mulutku, aku tidak tahan dengan rangsangan dibawah sana."Apa ini ciuman pertama mu?""Ya, kau benar" Bisikku . James menghentikan aksi nya. Menatap lekat mataku. Dia mencium bibirku lama dan manis."Terima kasih sudah mempercayaiku, memberikan ciuman pertamamu untukku" ucap James penuh penekanan yang romantis."Kurasa aku sudah gila James, tapi aku tidak menyesal." keluhku bersamaan dengan pengakuan gilaku.James menciumi leherku, dan memelukku sangat erat. Kami menikmati momen itu sedikit lebih lama."Bagaimana? Sudah selesai mandinya?" tanyanya saat airnya sudah mulai dingin."Oke, ayo keluar!" aku berdiri, tidak punya malu lagi didepan James."Tubuhmu benar-benar sempurna sayang," Kata James memuji.Dia membawaku keluar dari bathtub. Dengan manisnya James melilitkan handuk padaku, aku hanya tersenyum berterima kasih.Memakai kaos singlet dan celana boxer milik James, biasanya aku begini ketika sedang sendirian dirumah. Tapi berada di dekat James membuatku nyaman. Kami melanjutkan acara menonton yang tertunda,setelah dua jam dikamar mandi.James memutar film barat yang berjudul "Revolutionary Road" yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet. Aku tau film ini. Beberapa orang bilang, film ini seperti fanfic jika Jake masih hidup di film Titanic. Entah kenapa James memutar film ini. Jelas film ini berkisah tentang rumah tangga.Kami duduk santai di sofa bed, sambil berpelukan dan makan berondong jagung. Rasanya lebih menyenangkan daripada nonton di bioskop.James tidak menertawaiku saat aku menangis di beberapa adegan yang menyedihkan. Sesulit itu membangun rumah tangga."Bagaimana pendapatmu tentang film ini?" tanya James saat filmnya berakhir.Aku menatapnya curiga, " Apa maksudmu menyuguhkan ku film sedih itu?""Entahlah, rasanya menyenangkan saja ada yang menemani aku belajar dari sebuah film," jawabnya santai."Kau mau menikah?" pertanyaan itu langsung menyembur dari mulutku."Belum sayang, aku merasa tidak pernah siap. Menikah bukan hal mudah, dan sangat disayangkan jika menghabiskan seumur hidup dengan orang yang salah.""Hahaha, harusnya wanita yang berkata seperti itu," aku geli mendengar penuturan James." Mungkin benar, tapi aku mencoba memahami sudut pandang wanita""Kau sangat peduli," pujiku sambil mencium dagu James, "apa kau memang belum pernah menikah?""Kau meragukanku?" tanya James tersinggung."Tidak juga, karena ibumu mengatakannya dengan sangat jelas!"Hari hampir terang, saat kekacauan di luar rumah keluarga Adams di bereskan. Tersisa tiga penyerang dari pihak musuh yang sengaja hanya ditembak bagian kaki-nya oleh seorang sniper di atap. Hal yang mengejutkan, salah satu penyerang merupakan seorang perempuan. Dia bertubuh kecil, dengan wajah licik. Senyumannya merupakan maut bagi pria hidung belang. " Aku sudah mengambil racun di gigimu, jadi tidak ada pilihan lain selain mengaku" Argus berkata tanpa basa-basi. Entah darimana Argus dapat mengetahui racun-racun itu. Tapi itu membuat penyerang -penyerang itu tidak punya pilihan lain. 'ciiihhh' wanita itu meludahi kaki Argus. Dia masih punya sopan santun karena tidak meludahi wajah. Jika tidak, James sudah akan menamparnya. "Aku tau kalian juga terpaksa melakukan penyerangan ini" Argus mulai melakukan pendekatan. "Jangan sok tau, dasar pria tua bangka!" Damprat wanita itu . Argus hanya tertawa geli, membuat wanita yang tidak ingin menyebutkan namanya itu semakin berang. " Sa
James bergegas pergi ke Alaska, setelah mendapat kabar kurang mengenakkan dari sepupunya, Corner. Hal yang selama ini di takutkan oleh bibinya telah terjadi. Untung saja dia menyimpan semua berkas-berkas kepemilikan lahan juga rumah mereka di tempat yang sangat aman. James, sedikit mengurangi kepercayaannya pada Scott, adiknya. Meski selama beberapa tahun ini bersama, tapi James sudah menemukan bukti-bukti yang memperkuat dugaannya selama ini. Sekretaris James , Argus bekerja dengan sangat baik. Bahkan terlalu cepat menurut nya. Argus memiliki jaringan di berbagai sektor. Untuk mendapatkan tiket pesawat saja, dia hanya membutuhkan satu panggilan. Dan dia langsung mendapatkannya. "Bagaimana menurut pendapatmu, Argus?" tanya James gusar pada pria paruh baya yang sedang membaca di layar notebooknya. Argus tersenyum tipis, " Lawan kita hanya pemalak kampungan tuan, tapi ...""Tapi apa?""Orang-orang di balik merekalah yang harus kita waspadai" "Hmmmmm... Apa ada kemungkinan ini aka
Luna tidak tenang. Dia tidak dapat tidur memikirkan kengerian jika sampai Aldrick Beufort juga menyukai Alice. "Sejarah akan terulang", pikiran Luna dan Nut sama. Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, Luna berusaha mengalihkan panggilan Aldrick dari ponsel Alice. Ya, dia menyadapnya. "Maafkan aku Alice, tapi aku tidak ingin kau terlibat dalam perang dingin para mafia itu" Luna bersikap biasa saja. Tidak menghalangi Alice bertemu Aldrick. Tapi tetap mengawasi gerak gerik mereka. Meskipun Luna tau itu bagian dari rencana Alice. Mungkin bisa saja mereka mendapatkan petunjuk melalui Aldrick. Jadi Luna tidak bisa berbuat banyak kecuali membatasi komunikasi mereka. ***"Kau kenapa?" tanya Luna pada Alice yang terlihat gelisah. "James belum kembali dan aku tidak dapat menghubungi nya selama dua hari ini" wajah Alice sangat cemas. Luna menepuk bahu sahabatnya itu dan bersimpati. Bayangan dia dan James pernah menjalani hubungan palsu yang menjijikkan terlintas dibenaknya. Tidak d
"dik," Bella duduk disebelah Thomas yang membisu. Menatapnya dengan sorot penuh tanya , menepis segala hinaan yang ingin ia lontarkan. Takut menyakiti hati kakaknya tercinta. "Maafkan aku, tidak menjelaskan apapun padamu. Saat aku terlena di atas sana, aku melupakanmu" Thomas masih diam. Dia sedang menggigit lidahnya kuat-kuat. Antara ingin marah dan menahan tangis. "Aldrick tidak melakukan kesalahan. Akulah yang bersalah padanya. Maafkan aku membuatmu berprasangka yang tidak-tidak padanya. Kau bahkan belum pernah mengenalnya" "Ya, karena kau tidak mengenalkannya padaku" jawab Thomas muram. "Maafkan aku, sungguh""Aku sudah memaafkanmu kak, jika tidak. Sudah kutinggalkan kau sejak tadi kau meminta maaf padanya" sorot mata Thomas beralih ke Aldrick. Aldrick hanya tertawa, tidak tahan melihat Thomas yang merasa malu. Dia terlalu ambisius, tidak dapat menyimpulkan keadaan dengan tepat. Terlalu cepat mengambil keputusan tanpa mencari informasi terlebih dulu. "Lihat, dia menertawai
Mobil sudah berhenti di tempat parkir rumah sakit. Tapi Alice mauoun Aldrick sama sekali belum bergerak. Nut berdehem keras dambil melirik mereka berdua. Akhirnya Aldrick menyerah. Dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Alice. Terpaksa ia juga turum dengan wajah murung. Aldrick berjalan lebih dulu, sampai Alice menggenggam tangan Aldrick ketika berhasil menyamai langkah. Nut mendesah melihat adegan mengenaskan itu. Pukulan untuk Aldrick tepat dihatinya. "Kumohon maafkan aku," ucap Alice dengan mata berkaca-kaca. "Untuk apa?" Aldrick berusaha mengalihkan pandangan karena ia takut tidak dapat menahan diri. "Karena berpikiran buruk tentangmu. Aku ingin tau semuanya dari mulutmu Al, jika kau tidak keberatan" Aldrick membawa Alice ke kursi dekat taman rumah sakit. Mencari tempat nyaman untuk berkisah sebelum mereka mendatangi masalah. Ya, bukan tidak mungkin itu akan menjadi masalah besar bagi Aldrick. Bella sangat sulit ditangani, hingga berakhir gila. "Aku akan mencerit
Aldrick yang sedang bersantai di hotelnya mendadak seperti kena serangan jantung. Berdegup kencang dengan irat kepala yang hampir putus samgking senangnya. Alice mengirimi pesan akan menemaninya menjenguk Bella yang masih di rawat dirumah sakit. Nut terheran-heran melihat tingkah anak asuhnya itu. Tidak biasanya dia bersikap kekanak-kanakan. Tapi jika menyangkut Alice, semuanya mungkin. Sesekali Nut melaporkan keadaan Aldrick pada ayahnya. Dia memang terlihat cuek, tapi sangat mengkhawatirkan keadaan putranya. Sejak kecil Aldrick ditinggal oleh ibunya yang memilih meninggalkan mereka. Cukup membuat Tuan Beufort frustasi. Karena dia sangat mencintai istrinya itu. Tapi disisi lain, dia tidak dapat menahan keinginan istrinya untuk berpulang di Alaska. Dia sudah menyiapkan kepergiannya dengan sebaik mungkin. Membuat beberapa kenangan yang akan diberikan kepada putra mereka saat dia sudah dewasa. Sayangnya, Beufort tidak dapat menemani istrinya itu karena dia menolak. "Akan terjadi







