تسجيل الدخولHari-hari berlalu, Renee hampir melupakan wajah August yang terus membayanginya. Setiap hari saat ke kantor, Antonio akan menanyakan perkembangan hubungan bisnisnya bersama August. Berharap mendapatkan respon secepat kilat dari August jika memanfaatkan Renee sebagai perantara. "Aku hampir bosan menjawab pertanyaan mu, " gerutu Renee saat tiba dirumah, dia sudah tidak tahan lagi. "Sayang, August menguasai sektor bisnis di inggris selatan. Jika kau bisa mempererat hubungan dengan perusahannya, kita punya posisi yang cukup kuat""Kau ini sudah tidak waras, Antonio!" geram Renee marah, "hubungan bisnis tidak dapat dibangun hanya oleh dua orang yang saling kenal saja!" "Tapi kau bisa menjadi lebih dari sekadar kenalan bukan?" Wajah Renee merah padam. Kemarahannya sudah tertahan sejak beberapa hari yang lalu dan sekarang Antonio memaksanya untuk meledak. "Kau mau aku jadi apa? Jadi rekan bisnis seperti wanita-wanita yang kau jadikan pacar dan mendapatkan beberapa persen saham mereka?"
Saat masuk kedalam acara pesta, Antonio tak henti-hentinya memperkenalkan istrinya yang menawan kepada semua orang. Tapi Renee sudah terbiasa. Dia hanya perlu bersikap profesional. Di perusahaan milik Antonio, Brown enterprises inc, Renee memiliki jabatan penting. Itulah sebabnya dia harus selalu tampil percaya diri disetiap kesempatan. Lalu disana, di podium kehormatan. Berdirilah seorang pria bermata elang sedang tersenyum menyapa para hadirin. Augustin Beufort, seorang enterpreneur terkenal yang dipuja banyak wanita. Dari cara bicaranya, August sangat berwibawa, kharisma yang dipancarkannya membuat semua orang selalu tertarik mendengarkan apapun yang dia katakan. Renee melihatnya sebagai pria mapan berpengalaman dengan jam terbang bisnis yang tinggi. Antonio melihat ketertikan Renee. "Bagaimana? Kau sudah bertemu dengan tujuanmu?" Antonio berbisik ditelinga istrinya. Renee sedikit gugup, tapi dia mampu menjaga nada suaranya, "apa maksudmu?" Alih-alih terkejut, Renee memberik
"Hallo manisku, williamku" Wajah seorang wanita cantik sedang tersenyum sambil menyuapi James. Sesendok bubur hendak mendarat di mulutnya, membuat James tertawa. Tak sempat bubur itu menyentuh bibirnya, sendok sudah melayang jatuh ke lantai. Wanita itu memasang wajah marah, tapi itu malah membuat james merasa senang. Lalu seorang pria paruh baya yang berwajah kejam dan dingin datang. Menarik tangan wanita itu dengan kasar "Ayo, biarkan William bersama Gea", titahnya dingin, tak ingin ditolak. "Tidak, aku masih ingin bersama William", ucap wanita itu dengan nada yang tak kalah kasar. Dia menolak, dan melanjutkan menyuapi William. Pria itu menggeran kesal, "Gea! Cepat ambil alih Williammu ini" "Apa? Dia Williamku! Dasar pria tak berperasaan!" "Sudahlah, itu hanya ungkapan" "Tidak, aku tidak rela" "Renee, ayolah kota sudah terlambat" "Aku ingin bersama putraku saja, kau pergilah dengan wanita-wanita itu" Renee membuang muka.Dia berdecak sebal, tapi tetap duduk di depan Willia
Hari hampir terang, saat kekacauan di luar rumah keluarga Adams di bereskan. Tersisa tiga penyerang dari pihak musuh yang sengaja hanya ditembak bagian kaki-nya oleh seorang sniper di atap. Hal yang mengejutkan, salah satu penyerang merupakan seorang perempuan. Dia bertubuh kecil, dengan wajah licik. Senyumannya merupakan maut bagi pria hidung belang. " Aku sudah mengambil racun di gigimu, jadi tidak ada pilihan lain selain mengaku" Argus berkata tanpa basa-basi. Entah darimana Argus dapat mengetahui racun-racun itu. Tapi itu membuat penyerang -penyerang itu tidak punya pilihan lain. 'ciiihhh' wanita itu meludahi kaki Argus. Dia masih punya sopan santun karena tidak meludahi wajah. Jika tidak, James sudah akan menamparnya. "Aku tau kalian juga terpaksa melakukan penyerangan ini" Argus mulai melakukan pendekatan. "Jangan sok tau, dasar pria tua bangka!" Damprat wanita itu . Argus hanya tertawa geli, membuat wanita yang tidak ingin menyebutkan namanya itu semakin berang. " Sa
James bergegas pergi ke Alaska, setelah mendapat kabar kurang mengenakkan dari sepupunya, Corner. Hal yang selama ini di takutkan oleh bibinya telah terjadi. Untung saja dia menyimpan semua berkas-berkas kepemilikan lahan juga rumah mereka di tempat yang sangat aman. James, sedikit mengurangi kepercayaannya pada Scott, adiknya. Meski selama beberapa tahun ini bersama, tapi James sudah menemukan bukti-bukti yang memperkuat dugaannya selama ini. Sekretaris James , Argus bekerja dengan sangat baik. Bahkan terlalu cepat menurut nya. Argus memiliki jaringan di berbagai sektor. Untuk mendapatkan tiket pesawat saja, dia hanya membutuhkan satu panggilan. Dan dia langsung mendapatkannya. "Bagaimana menurut pendapatmu, Argus?" tanya James gusar pada pria paruh baya yang sedang membaca di layar notebooknya. Argus tersenyum tipis, " Lawan kita hanya pemalak kampungan tuan, tapi ...""Tapi apa?""Orang-orang di balik merekalah yang harus kita waspadai" "Hmmmmm... Apa ada kemungkinan ini aka
Luna tidak tenang. Dia tidak dapat tidur memikirkan kengerian jika sampai Aldrick Beufort juga menyukai Alice. "Sejarah akan terulang", pikiran Luna dan Nut sama. Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, Luna berusaha mengalihkan panggilan Aldrick dari ponsel Alice. Ya, dia menyadapnya. "Maafkan aku Alice, tapi aku tidak ingin kau terlibat dalam perang dingin para mafia itu" Luna bersikap biasa saja. Tidak menghalangi Alice bertemu Aldrick. Tapi tetap mengawasi gerak gerik mereka. Meskipun Luna tau itu bagian dari rencana Alice. Mungkin bisa saja mereka mendapatkan petunjuk melalui Aldrick. Jadi Luna tidak bisa berbuat banyak kecuali membatasi komunikasi mereka. ***"Kau kenapa?" tanya Luna pada Alice yang terlihat gelisah. "James belum kembali dan aku tidak dapat menghubungi nya selama dua hari ini" wajah Alice sangat cemas. Luna menepuk bahu sahabatnya itu dan bersimpati. Bayangan dia dan James pernah menjalani hubungan palsu yang menjijikkan terlintas dibenaknya. Tidak d
Semua hal di dalam dunia menjadi indah jika kita mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Namun Aldrick hanya memiliki sebagian sebagian besar yang diinginkan kebanyakan orang. Uang bukan sesuatu yang benar-benar menggiurkan jika kau memiliki seisi Bank. Tapi Aldrick bersyukur dia memiliki N
Aku menyapa kakak Thomas dengan senyuman malu. Matanya menyiratkan keterkejutan, tapi Thomas menggeleng pelan."Oh ku pikir," katanya tertawa kecil. "Hai, aku Alice," kataku mengulurkan tangan. Dia menjabat tanganku lemah. "Bella. Kalian serasi sekali kau tau," Aku tertawa hambar, melirik Thomas yang
"kau sudah sadar?" Sebuah suara memaksa otakku kembali pulih dari pukulan di tengkukku. Dengan perlahan mataku terbuka, meski pandanganku masih berkabut.Aku baru saja ingin menggaruk bokongku yang gatal karena ada yang menusuknya dibawah sana, tetapi...ah ternyata tanganku terikat kuat dikursi."Hei
" Luna, katakan saja," pintaku lembut. Aku ingin ini segera selesai dan akan mencoba membujuk James mengobati Luna."Dia seorang mucikari?" tanya James tak sabar. Mata Luna melebar karena terkejut, lalu dia pun menunduk malu. "Lalu kenapa Daisy dibunuh?" "Itu tidak sengaja," Luna mengakui, kelihatann







