LOGIN"Hallo manisku, williamku" Wajah seorang wanita cantik sedang tersenyum sambil menyuapi James. Sesendok bubur hendak mendarat di mulutnya, membuat James tertawa. Tak sempat bubur itu menyentuh bibirnya, sendok sudah melayang jatuh ke lantai. Wanita itu memasang wajah marah, tapi itu malah membuat james merasa senang. Lalu seorang pria paruh baya yang berwajah kejam dan dingin datang. Menarik tangan wanita itu dengan kasar "Ayo, biarkan William bersama Gea", titahnya dingin, tak ingin ditolak. "Tidak, aku masih ingin bersama William", ucap wanita itu dengan nada yang tak kalah kasar. Dia menolak, dan melanjutkan menyuapi William. Pria itu menggeran kesal, "Gea! Cepat ambil alih Williammu ini" "Apa? Dia Williamku! Dasar pria tak berperasaan!" "Sudahlah, itu hanya ungkapan" "Tidak, aku tidak rela" "Renee, ayolah kota sudah terlambat" "Aku ingin bersama putraku saja, kau pergilah dengan wanita-wanita itu" Renee membuang muka.Dia berdecak sebal, tapi tetap duduk di depan Willia
Hari hampir terang, saat kekacauan di luar rumah keluarga Adams di bereskan. Tersisa tiga penyerang dari pihak musuh yang sengaja hanya ditembak bagian kaki-nya oleh seorang sniper di atap. Hal yang mengejutkan, salah satu penyerang merupakan seorang perempuan. Dia bertubuh kecil, dengan wajah licik. Senyumannya merupakan maut bagi pria hidung belang. " Aku sudah mengambil racun di gigimu, jadi tidak ada pilihan lain selain mengaku" Argus berkata tanpa basa-basi. Entah darimana Argus dapat mengetahui racun-racun itu. Tapi itu membuat penyerang -penyerang itu tidak punya pilihan lain. 'ciiihhh' wanita itu meludahi kaki Argus. Dia masih punya sopan santun karena tidak meludahi wajah. Jika tidak, James sudah akan menamparnya. "Aku tau kalian juga terpaksa melakukan penyerangan ini" Argus mulai melakukan pendekatan. "Jangan sok tau, dasar pria tua bangka!" Damprat wanita itu . Argus hanya tertawa geli, membuat wanita yang tidak ingin menyebutkan namanya itu semakin berang. " Sa
James bergegas pergi ke Alaska, setelah mendapat kabar kurang mengenakkan dari sepupunya, Corner. Hal yang selama ini di takutkan oleh bibinya telah terjadi. Untung saja dia menyimpan semua berkas-berkas kepemilikan lahan juga rumah mereka di tempat yang sangat aman. James, sedikit mengurangi kepercayaannya pada Scott, adiknya. Meski selama beberapa tahun ini bersama, tapi James sudah menemukan bukti-bukti yang memperkuat dugaannya selama ini. Sekretaris James , Argus bekerja dengan sangat baik. Bahkan terlalu cepat menurut nya. Argus memiliki jaringan di berbagai sektor. Untuk mendapatkan tiket pesawat saja, dia hanya membutuhkan satu panggilan. Dan dia langsung mendapatkannya. "Bagaimana menurut pendapatmu, Argus?" tanya James gusar pada pria paruh baya yang sedang membaca di layar notebooknya. Argus tersenyum tipis, " Lawan kita hanya pemalak kampungan tuan, tapi ...""Tapi apa?""Orang-orang di balik merekalah yang harus kita waspadai" "Hmmmmm... Apa ada kemungkinan ini aka
Luna tidak tenang. Dia tidak dapat tidur memikirkan kengerian jika sampai Aldrick Beufort juga menyukai Alice. "Sejarah akan terulang", pikiran Luna dan Nut sama. Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, Luna berusaha mengalihkan panggilan Aldrick dari ponsel Alice. Ya, dia menyadapnya. "Maafkan aku Alice, tapi aku tidak ingin kau terlibat dalam perang dingin para mafia itu" Luna bersikap biasa saja. Tidak menghalangi Alice bertemu Aldrick. Tapi tetap mengawasi gerak gerik mereka. Meskipun Luna tau itu bagian dari rencana Alice. Mungkin bisa saja mereka mendapatkan petunjuk melalui Aldrick. Jadi Luna tidak bisa berbuat banyak kecuali membatasi komunikasi mereka. ***"Kau kenapa?" tanya Luna pada Alice yang terlihat gelisah. "James belum kembali dan aku tidak dapat menghubungi nya selama dua hari ini" wajah Alice sangat cemas. Luna menepuk bahu sahabatnya itu dan bersimpati. Bayangan dia dan James pernah menjalani hubungan palsu yang menjijikkan terlintas dibenaknya. Tidak d
"dik," Bella duduk disebelah Thomas yang membisu. Menatapnya dengan sorot penuh tanya , menepis segala hinaan yang ingin ia lontarkan. Takut menyakiti hati kakaknya tercinta. "Maafkan aku, tidak menjelaskan apapun padamu. Saat aku terlena di atas sana, aku melupakanmu" Thomas masih diam. Dia sedang menggigit lidahnya kuat-kuat. Antara ingin marah dan menahan tangis. "Aldrick tidak melakukan kesalahan. Akulah yang bersalah padanya. Maafkan aku membuatmu berprasangka yang tidak-tidak padanya. Kau bahkan belum pernah mengenalnya" "Ya, karena kau tidak mengenalkannya padaku" jawab Thomas muram. "Maafkan aku, sungguh""Aku sudah memaafkanmu kak, jika tidak. Sudah kutinggalkan kau sejak tadi kau meminta maaf padanya" sorot mata Thomas beralih ke Aldrick. Aldrick hanya tertawa, tidak tahan melihat Thomas yang merasa malu. Dia terlalu ambisius, tidak dapat menyimpulkan keadaan dengan tepat. Terlalu cepat mengambil keputusan tanpa mencari informasi terlebih dulu. "Lihat, dia menertawai
Mobil sudah berhenti di tempat parkir rumah sakit. Tapi Alice mauoun Aldrick sama sekali belum bergerak. Nut berdehem keras dambil melirik mereka berdua. Akhirnya Aldrick menyerah. Dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Alice. Terpaksa ia juga turum dengan wajah murung. Aldrick berjalan lebih dulu, sampai Alice menggenggam tangan Aldrick ketika berhasil menyamai langkah. Nut mendesah melihat adegan mengenaskan itu. Pukulan untuk Aldrick tepat dihatinya. "Kumohon maafkan aku," ucap Alice dengan mata berkaca-kaca. "Untuk apa?" Aldrick berusaha mengalihkan pandangan karena ia takut tidak dapat menahan diri. "Karena berpikiran buruk tentangmu. Aku ingin tau semuanya dari mulutmu Al, jika kau tidak keberatan" Aldrick membawa Alice ke kursi dekat taman rumah sakit. Mencari tempat nyaman untuk berkisah sebelum mereka mendatangi masalah. Ya, bukan tidak mungkin itu akan menjadi masalah besar bagi Aldrick. Bella sangat sulit ditangani, hingga berakhir gila. "Aku akan mencerit
Suara-suara keras teeus datang dari segala arah. Suara pintu dan jendela yang berkeriut, bantingan pintu depan, loteng yang menggema. James gelagapan mencari senjata, namun dia tidak menemukan apapun, bahkan pisau di dapur pun sudah lenyap. Tapi dia tidak pasrah pada keadaan. Bertarung secara lan
"James? Kau kenapa?" Alice yang sedang meneguk air dari botol minum tampak panik, dan menghampiri kekasihnya. "Tidak apa, " James hanya menyambut dan memeluk Alice. "Wajahmu pucat, apa kau melihat hantu?" James mendengus, sejak kapan hantu dapat menakutinya. Yang dia takutkan ada didepan matanya
"ehemmmm" Aldrick langsung mengalihkan pandangan pada gadis mungil dibelakangnya. Matanya sinis juga mencela. Tapi bibirnya terkatup rapat. Alice bersikap santai, dia tersenyum lebar lalu duduk disebuah kursi dekat jendela. Angin menyibakkan rambutnya yang tergerai panjang. In
"Dia pergi kekawasan Notting Hill kak," Scott melaporkan situasi terkini Aldrick Beufort pada James yang sedang berjaga-jaga di dekat sebuah gedung. James terus merasa gelisah sejak kepergian Alice bersama Thomas. Dia melihat bagaimana pandainya Thomas mengatur emosi, mimik wajah juga u







