LOGINDrrrttt...drrrttt.
Thalia merasakan getaran pada ponslenya yang dia kantongi, dia memindahkan paper bag yang dia bawa ditangan kirinya ke tangan kanan. Dia mengambil ponsel disaku celananya lalu melihat siapa yang menghubunginya. Thalia menerutkan keningnya saat melihat nama Leon, dia pun segera mengangkat panggilan itu karena jarang-jarang sekali Leon menghubunginya.
"Halo Le."
"Halo Tha, lo dimana? Gue didepan kost lo."
Thalia membelakan matanya saat Leo
"Clarissa nggak mau dipenjara pah, tolong keluarin Clairssa dari sini.""Daddy, daddy sayang kan sama Cla. Tolong Cla, daddy."Cleo dan Fahmi saling tatap saat putri mereka memohon dengan mata yang sembab karena menangis. Cleo menghela nafas kasar, dia dan pengacaranya sudah berusaha agar penahanan Clarissa ditangguhkan namun sampai sekarang masih belum ada kabar.Dua hari Clarissa berada di sel sedangkan Drake sudah keluar sejak kemarin saat pengacaranya berhasil mengeluarkan Drake dengan jaminan."Daddy, jangan cuma diam aja dong. Cla nggak suka disini dad, Cla mau keluar dari sini.""Kamu tenang dulu Clairssa, semoga hari ini ada hasilnya." ucap Fahmi."Tapi Cla udah nggak betah pah, Cla pengen pulang." rengek Clarissa sambil menangis."Selamat pagi tuan Cleo tuan Fahmi."Mereka yang sedang duduk menoleh saat pengacara Cleo datang menghampiri mereka."Bagaimana?" tanya Cleo.Pengacara Cleo mengagguk sambil ters
William memejamkan matanya saat sampai di dalam mobil, dia menyandarkan tubuhnya ke jok mobil sambil memijit pangkal hidungnya. Kepalanya terasa pusing dan sakit karena efek alkohol yang dia konsumsi, William membuka matanya kemudian mengambil ponselnya lalu menyalakannya."Jam sebelas."Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan basement apartemen Lego. Dia melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit.Meski tadi siang sudah ke rumah sakit untuk mengunjungi Nozela namun dia sudah merindukan sahabatanya. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk William sampai di rumah sakit. Dia lekas turun dari mobil kemudia pergi ke gedung khusus yang ada di rumah sakit itu.William masuk ke lobi yang suh sepi, dia berjalan sendirian dikoridor dengan aroma yang khas rumah sakit yang menusuk hidung. Dia masuk ke dalam lift kemudian menuju kantai atas dimana ruangan Nozela.
"Tante titip Nozela sama kalian ya, kalau ada apa-apa segera hubungi kami.""Iya tante, tante bisa percayakan Ojel sama kita, pokoknya om dan tante harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran dulu, Ojel aman disini sama kita. Kita bakal jagain Ojel.""Benar om tante, besok siang atau sore kalian bisa kesini lagi. Yang jelas kalian harus istirahat dulu."Tiara menatap kedua teman putrinya penuh haru, sejak dia mengenal Thalia, Thalia memang anak yang baik. Bahkan dia sudah menganggap Thalia seperti putri keduanya."Terima kasih ya kalia sudah mau membantu kami menjaga Nozela." ucap Andito.Thalia mengngguk. "Sama-sama om."Tiara menatap putrinya yang masih terdiam, dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah putrinya. Tiara sangat ingin memeluk Nozela sebelum dia pulang, namun dia sangat takut sentuhan tangannya bisa menyakiti putrinya lagi."Jel, mama pulang dulu ya. Malam ini kamu ditemani Thalia sama Fela dulu, besok mama p
Gluk.Gluk.Gluk.Archen menatap sahabatnya yang meminum alkohol dari botolnya dengan rakus, dia menghela nafas panjang kemudian menyesap minumannya.Tak.William meletakkan botol minuman bralhokol itu dengan kasar diatas meja, mata serta wajahnya sudah memerah, dia mengelap bibirnya dengan tangannya lalu menundukkan kepalanya."Lo mau habisin berapa botol lagi, Liam?" tanya Lego.Meja dihadapan mereka ada tiga botol kosong dan dua botol yang masih utuh, dan William lah yang sudah menghabiskan tiga botol itu dalam waktu kurang dari 2 jam. Mereka saat ini berada di apartemen Lego karena ajakan William. Baik Archen maupun Lego memilih mengiyakan ajakan William karena mereka tahu saat ini William sangat membutuhkan dukungan atas kesedihan yang dia alami.Lego menuangkan minuman ke gelasnya dan milik Archen, tatapannya menatap ke arah William yang masih menundukkan kepalanya. Dia merasa kasihan pada sahabatnya, saat ini pasti
Thalia menatap paper bag ditangannya yang berisi buah kelengkeng dan chees cake kesukaan sahabatnya, beberapa hari setelah kejadian yang menimpa sahabatnya dia sangat disibukkan dengan kegiatan kampus dan mengajar les. Dan hari ini dia berencana menginap di rumah sakit untuk menemani Nozela karena kebetuan besok weekend, Thalia sudah menyiapkan semuanya dan juga ingin mengganti Tiara untuk menjaga Nozela. Setelah siap, dia segera keluar dari kamar kostnya. "Udah siap Tha?" tanya Fela. Thalia mengangguk. "Udah, ayo kak." Mereka segera pergi menaiki motor Fela kemudian berangkat ke rumah sakit bersama. Thalia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nozela, dia yakin pasti Nozela akan suka dengan makanan yang dibawanya. Sampai di rumah sakit, mereka segera masuk ke lobi menuju kamar Nozela dirawat. "Tha, apa Nozela baik-baik aja?" Thalia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. "Kejadian itu buat Ojel trauma kak. Keadaan
Tok...tok.Ceklek.Pintu ruang rawat Clarissa terbuka, dua orang polwan dan satu orang polisi masuk ketika semua orang yang berada disana sedang mebereskan pakaian Clarissa. Clarissa terkejut saat melihat polisi masuk ke dalam ruangannya, dia lekas mendekati daddynya yang sedang berbicara dengan papanya."Selamat pagi."Cleo dan Fahmi bangkit dari duduknya, mereka sama terkejutnya seperti Clarissa saat melihat polisi itu masuk ke ruang rawat Clarissa. Cleo lekas menarik lengan Clarissa kemudian menyembunyikan Clarissa dibelakang tubuhnya."Selamat pagi pak." jawab Fahmi."Saya ke sini untuk membawa nona Clarissa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas kasus pelecehan seksual berencana.""Ini surat penangkapannya."Cleo menerima sebuah amplop dan mengeluarkan isinya yang dimana dalam surat itu adalah utusan penangkapan terhadap Clarissa."Tapi pak, putri saya baru saja sembuh." ucap Fahmi."Anda bisa
Ceklek."Hoam..."Nozela menguap sambil mneutup mulutnya dengan tangan kiri, di berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Matanya masih terasa lengket meskipun sudah cuci muka di rumah William tadi, hari sudah petang, jika dia tak memiliki janji u
Drrtt..drrtt... William merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar, dia menghentikan langkahnya kemudian mengambil ponselnya. Tertera nama Aluna dilayar ponselnya, dia pun segera mengangkat panggilan dari adiknya itu. "Halo Lun." "Halo kak, kakak dim
"Sudah siap semuanya?"Mona dan Aluna mengangguk."Tapi Liam kemana mah? Nggak ikut?" tanya Jimmy."Kakak udah di rumah kak Ojel pah, udah dari sore sih katanya." jawab Aluna.Mona menoleh ke arah putrinya. "Dia udah di rumah Ojel, kenapa nggak bilang sama mama?"
William mengeluarkan tangan Clarissa dan melepaskan celananya, kini William berdiri tanpa mengenakan pakaian sedikit pun. Clarissa menggigit bibirnya, perlahan mulai melepaskan sisa pakaiannya sendiri. William terus memperhatikan gerakan lembut dan penuh makna dari Clarissa di depannya.







