LOGINCkit.
Nozela menghentikan mobilnya tepat didepan rumahnya, dia menoleh ke arah carport dimana belum ada mobil papanya. Dia bernafas lega saat papanya belum pulang dari kantor, bisa gawat jika kedua orang tuanya tahu kondisinya yang sekarang seperti ini.
Nozela menatap wajahnya lewat spion depan, dia menghela nafas panjang saat wajahnya masih bengkak dan sedikit memerah.
"Kompres pakai es aja deh."
Dia kembali menutupi pipinya yang bengkak dengan maskernya,
"Oke, anak mommy udah cantik.""Lo yakin Jel?"Nozela menoleh ke arah Thalia sambil tersenyum kemudian mengangguk."Nggak papa kali ya, cuma festival doang kok. Lagian kan disana pasti banyak orang juga, nggak cuma pergi berdua aja.""Iya juga sih."Thalia menatap sahabatnya dengan senyum menggoda, dia mendorong bahu Nozela mengunakan bahunya membuat Nozela kembali menoleh."Apaan sih masang wajah begitu?" tanya Nozela kemudian mengerlingkan kedua bola matanya."Cie cie, mau anjing date."Plak!"Jangan sembarangan ngomong ya."Thalia mengusap lengannya yang terasa panas karena pukulan Nozela, dia sempat mengerucutkan bibirnya sejenak namun kembali tersenyum."Kali aja dia lebih baik dari Leon, yakan?""Tha, please. Kita cuma mau dateng ke acara festival anjing bukan mau pendekatan. Pemikiran lo itu...ih gemes gue." ucap Nozela sambil mengepalkan kedua tanganya didepan wajah Thalia.Thalia tert
Clarissa masuk ke dalam kamar setelah selesai mengangkat panggilannya, dia menatap William yang sedang duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Clarissa tersenyum kemudian berjalan mdenekat ke arah kekasihnya.Mendengar suaar langkah kaki mendekat, William sedikit mendongakkan kepalanya. Dia lekas mematikan ponslenya dan menyimpannya ke saku jaket kemudian berdiri dari duduknya."Aku pulang dulu ya, lebih kamu segera istirahat.""Hah?" ucap Clarissa terkejut.Clarissa terkejut saat tiba-tiba William pamit ingin pulang. Padahal tadi sebelum dia menerima telepon, mereka masih baik-baik saja namun saat dia kembali ke kamar dia seperti melihat perbedaan dari raut wajah kekasihnya.William tersenyum tipis, dia melambaikan tagannya ke arah Clarissa kemudian keluar dari kamar kekasihnya."Liam tunggu." ucap Clarissa.Clarissa menyusul William yang sudah keluar dari kamarnya, dia mempercepat jalannya menuruni anak tangga untuk menyamakan lang
"William udah pulang?"Tiara mengangguk. "Iya, besok aja biar dianterin Ojel."Tiara meletakkan paper bagnya ke atas meja lalu duduk di sebelah suaminya yang sedang memeriksa pekerjaannya."Pah.""Hem..ada apa mah?" tanya Andito sambil fokus pada layar laptop didepannya."Menurut papa, William itu gimana?"Gerakan tangan Andito terhenti, dia mengalihkan tatapannya ke arah sang istri kemudian menegakkan tubuhnya."Kenapa mama tanya seperti itu?""Ya mama cuma tanya aja pah gimana pendapat papa tentang Liam."Andito menganggukkan kepalanya. "Liam anak yang baik dan bertanggung jawab, kelihatanya dia bukan orang yang suka neko-neko.""Dan lagi, dia anak dari sahabat papa. Jadi papa tahu seperti apa keluarga mereka."Tiara menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan suaminya, dia pun berpikiran hal yang sama seperti apa yang diucapkan suaminya. Melihat cara William memperlakukan Nozela sejak dulu mereka kec
Clarissa mengenggam ponselnya dengan erat ketika panggilannya tidak diangkat oleh William, dia menatap layar ponselnya yang menunjukkan room chatnya dengan William, rahangnya mengetat dengan tatapan matanya menajam. Clarissa mendengus kasar kemudian berjalan menuju pembatas balkon, dia mencengkeram erat pagar pembatas untuk melampiaskan emosinya.Sudah satu jam sejak William bilang jika dirinya sedang berada diluar, namun sampai sekarang Willam tak kunjung datang padahal dia bilang hanya sebentar. Clarissa menyibak rambutnya ke belakang saat hembusan angin malam menerbangkan rambutnya hingga sedikit brantakan."Kemana sebenarnya Liam pergi?" gumam Clarissa.Seketika Clarissa teringat Nozela."Jangan-jangan Liam ke rumah Clarissa?"Cekalan tangan Clarissa pada pagar mulai mengerat, dia semakin emosi jika mengingat Nozela. Rasanya dia seperti ingin melenyapkan Nozela dari muka bumi ini agar tidak ada lagi yang menganggu hubunganya dengan William.
"Mama..."Nozela berlari ke arah Tiara yang sedang berjalan keluar dari Bandara sambil menyeret kopernya. Gadis cantik itu lekas memeluk Tiara dengan erat, dia menumpahkan segala kerinduannya pada sang mama yang sudah hampir satu minggu tidak bertemu."Ojel kangen sama mama."Tiara melepaskan kopernya kemudian membalas pelukan Nozela tak kalah erat, dia mengecupi kepala Nozela berkali-kali."Mama juga kangen sama Ojel."William tersenyum sambil mendekat ke arah Nozela dan kedua orang tuanya."Malam om."Andito tersenyum sambil menepuk pudak William. "Malam Liam.""Bagaimana Ojel selama kami tinggal, dia tidak berulah kan?"William menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan kedua jempolnya."Aman om, Ojel nggak aneh-aneh kok.""Syukurlah, om senang dengernya."Nozela melepaskan pelukannya kemudian menatap papanya, sepontan Andito merentangkan kedua tangannya membuat Nozela tersenyum dan masuk ke pelu
Brak!Nozela menutup pintu kamarnya dengan kencang, dia menggigit ujung kukunya sambil memikirkan cara untuk memberitahu sahabatnya tentang perselingkuhan Clarissa. Dia masih ragu untuk mengatakan semuanya pada William, selain takut dia juga belum yakin dengan apa yang dia lihat tadi."Masa Clarissa beneran jadi simpanan om om sih?" gumam Nozela.Nozela duduk ditepi ranjang, dia mengambil ponsel yang ada didalam tas lalu membuka pesan dari Thalia yang berisi foto Clarissa tadi. Dia mulai menzoom foto itu namun dari wajah Clarissa memang tampak kurang jelas, dan bagian wajah dari pria itu juga sedikit buram."Eh tunggu tunggu, ini kok om omnya kaya nggak asing sih?"Nozela berkali-kali mencoba menzoom dan mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan pria yang ada difoto."Gue kaya pernah lihat om ini, tapi dimana ya?"Nozela memejamkan mata mencoba mengingat-ingat kembali siapa dan dimana dia pernah bertemu dengan pria yang bersama
"Makasih pak."Nozela membuka pintu mobil yang dia naiki, setelah membayar taksi dia lekas keluar dari sana."Astaga non Ojel, non baik-baik saja kan?"Pak Rahmat yang sedang ngopi bersama tukang kebun rumah Nozela terkejut melihat Nozela keluar dari taksi, dia lekas membuka pintu gerbang kemudian m
Drrtt...drrtt"KAKAK, ADA YANG TELPON."Aluna sedang bermain bersama max terpaksa berteriak memanggil kakaknya karena ponsel kakanya yagn berada diatas meja bergetar, dia sedikit mnegintip sang penelpon yang ternyata tertera nama On Andito."Papanya kak Ojel, tumben telepon k
"Makasih ya Tha karena udah nemenin Ojel.""Sama-sama tante, kebetulan aku juga kangen Ojel sekalian main." jawab Thalia sambil tersenyum.Andito memperhatikan putrinya yang sejak tadi hanya diam saja, dia juga heran saat mereka pulang tadi Nozela memeluknya dengan erat namu tak men
Brug.Leon membanting ponselnya ke sofa, tak lama dia duduk lalu mengacak rambutnya dengan kasar. Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut pria tampan dua puluh satu tahun itu, sudah satu minggu setelah pertengkarannya dengan Nozela dia sama sekali belum menghubungi kekasihnya.Ent







