FAZER LOGINThalia menatap ke arah tangga dimana kedua sahabatnya sudah pergi selama kurang lebih dua puluh menit, dia yang sudah selesai makan dan sedang memakan snack yang dibawa William tadi merasa penasaran dengan papa yang sedang mereka lakukan hingga selama itu.
"Mereka nggak lanjut berantem di kamar kan?"
Thalia meletakkan bungkus snack itu ke atas meja, dia membereskan sampahnya kemudian berdiri dari duduknya.
"Gue harus susulin mereka."
Thalia segera berlari dan menai
William mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia mencegkeram setir mobilnya dengan erat, tatapannya tajam meatap jalanan didepannya. Sejak pagi pikirannya mulai kacau saat mendengar Nozela hendak pergi ke pesta ulang tahun Drake yang diadakan di sebuah Club malam.Dia sangat khawatir dengan sahabatnya pasalnya Nozela belum terlalu dekat dengan Drake apa lagi Drake merupakan sepupu dari Leon. Melihat sikap Leon selama ini yang masih mengejar-ngejar Nozela membuatnya takut jika Leon bekerja sama dengan Drake untuk mencelakai Nozela."Sial, kalau ini nggak sama pentingnya gue lebih milih mantau Ojel dari pada harus ke Bandung."William memukul setir mobilnya dengan kencang, dia sangat kesal dan marah saat ini. Jika bukan permintaan papanya untuk menemui pamannya di Bandung dan mengambil berkas pekerjaan, dia tak akan mau melakukan ini.Sepulang dari kuliah William bergegas pergi menuju Bandung, dia tak ingin sampai Jakarta larut malam karena m
Drrtt...ddrrrtt.Nozela menatap ponsel disebelahnya yang bergetar, dia mendapati nama sahabatnya yang menghubunginya. Nozela segera menyelesaikan ikatan tali pada sepatunya lalu mengangkat panggilan itu."Halo Liam.""Lo udah berangkat?""Belum, masih di rumah. Ada apa?""Nanti lo sibuk nggak, temenin gue ke Bandung."Nozlea teringat jika hari ini dia harus menghadiri birthday party Drake, jika dia menemani William ke Bandung maka di akan telat menghadiri acara Drake atau bahkan mungkin tak bisa datang."Jel, kok lo diem sih?""E-Em, emang Clarissa kemana?""Nanti malem dia acara sama keluarganya jadi nggak bisa nemenin."Nozela menggaruk kepalanya yang tak gatal, entah kebetulan dari mana Clarissa dan dirinya memiliki acara yang sama. Dia tak bisa menemani William pergi ke Bandung, semua sudah terencana untuk pergi ke ulang tahun Drake."Liam, sorry banget gue j
"Dor."Nozela terkejut saat dikejutkan suara dari belakang tubuhnya, dia menoleh dan mendapati Thalia sedang tertawa sambil menatapnya."Ngangetin aja sih Tha."Thalia segera duduk disebelah Nozela, dia meletakkan jusnya dimeja kemudian menatap sahabtanya yang terlihat sedang bengong."Ada masalah apa lagi?" tanya Thalia.Nozela menghela nafas pelan, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya kemudian memberikannya pada Thalia."Apa nih?" tanya Thalia menerima sebuah undangan kecil berwarna hitam."Birthday party Drake." ucap Thalia membaca tulisan yang ada dikartu undangan.Thalia menatap Nozela. "Undangan ulang tahunnya Drake?"Nozela menanggukkan kepalanya. "Iya, besok di Club.""Apa? Club malam?" ucap Thalia terkejut.Nozela kembali mengangguk. "Iya Tha, besok jam delapan malam.""Lo mau dateng Jel?"Nozela hanya mengedikkan bahunya, dia sebenarnya ragu untuk datang ke acara itu. Apa
"Siapa nama lo?""Saya Fela kak."Drake menatap Fela dengan senyum menggoda. "Udah lama kerja disini?"Fela mengangguk. "Sekitar hampir satu tahun.""Nggak perlu terlalu formal, santai aja."Drake kembali meminum minumannya, dia sengaja membooking Fela untuk menjadi pelayan khusus untuknya malam ini. Dia menyukai cara pelayanan Fela yang ramah dan tetap tenang. Sesekali Drake menatap jam dipergelangan tangannya, sudah hampir setengah jam dia disini namun orang yang dia tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Fela menatap Drake yang terus menatap jam tangannya, dia juga sesekali ikut menatap ke arah pintu masuk. Fela bisa menebak jika Drake sedang menunggu seseorang, dan lebih tepatnya pasti dia menuggu Clarissa. Fela sangat berharap jika Clarissa akan datang agar dia bisa mendapat informasi lebih."Lo nggak minum?"Pertanyaan Drake membuat Fela terkejut, dia segera mengalihkan perhatiannya pada Drake. Fela tersen
Ceklek.Clarissa tekejut saat tiba-tiba William berada di depan pintu apartemennya, dia membelakkan matanya sambil berusaha membenarkan dress yang digunakannya."Liam."William memperhatikan penampilan Clarissa yang terlalu terbuka, dress hitam dengan panjang diatas lututnya memperlihatkan paha mulus nan putih itu. Tatapannya kembali menatap wajah Clarissa yang sedikit gugup."Kamu mau kemana?" tanya William datar."A-Aku mau pergi sama temanku." jawab Clarssa sedikit gugup."Dengan pakaian seperti ini?" tanya William lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.Clarissa celingukan sebentar, dia tak berani menatap mata William. Hal ini diluar perkiraannya, dia tak menyangka William akan datang ke apartemennya tanpa meberitahunya terlebih dahulu. Dia seperti maling yang tertangkap basah, apa lagi dengan pakaian seperti dia takut William akan marah padanya.Perasaan Clarissa mulai tak enak, jika William tetap disini maka rencananya unt
"Apa? Clarissa kakak adik sama Clarie? Kok bisa?"Thalia berdecak pinggang sambil membelakan matanya, hari ini masih pagi namun dia sudah mendengar berita yang sangat menejutkan. Thalia menatap Nozela yang sudah lemas dan terlihat seperti tak memiliki tenaga lagi.Dia lekas duduk di sebelah Nozela, Thalia memegangi pudak Nozela yang tampak lemas."Tapi itu bener bokapnya Clarissa kan?" tanya Thalia.Kepala Nozela mengangguk pelan, rencana yang sudah dia susun dengan matang justru tak membuahkan hasil apapun. Dia dan Thalia sudah salah paham terhadap Clarissa dna menganggap bahwa papa Clarissa adalah selingkuannya.Thalia mengelus pundak Nozela pelan, dia juga sama terkejutnya saat mendengar kabar bahwa pria yang mereka pikir selingkuhan Clarissa itu merupakan papa Clarissa."Udah Jel, ternyata kita cuma salah paham aja kok."Nozela menghembuskan nafas panjang lalu mengangguk, namun dia masih memikirkan perkataan William tentang kissma
Drrtt...drrtt"KAKAK, ADA YANG TELPON."Aluna sedang bermain bersama max terpaksa berteriak memanggil kakaknya karena ponsel kakanya yagn berada diatas meja bergetar, dia sedikit mnegintip sang penelpon yang ternyata tertera nama On Andito."Papanya kak Ojel, tumben telepon k
"Na na na..."Nozela bersenandung kecil sambil mengupas kulit kelengkeng, dia memasukkan beberapa kelengkeng yang sudah dia kupas ke dalam wadah sebelum dia jadikan jus. Gadis cantik itu tampak berseri-seri dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya."Non, mau makan siang pak
Aluna terbangun dari tidurnya, dia terlihat kebingungan sambil menatap sekekliling kamarnya. Dia mengucek matanya pelan saat melihat melihat jam dinding dikamarnya yang sudah menunjukkan pukul dua siang, itu artinya dia tertidur cukup lama.Seketika dia teringat jika dia belum memberitahu
Brug.Leon membanting ponselnya ke sofa, tak lama dia duduk lalu mengacak rambutnya dengan kasar. Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut pria tampan dua puluh satu tahun itu, sudah satu minggu setelah pertengkarannya dengan Nozela dia sama sekali belum menghubungi kekasihnya.Ent







