FAZER LOGIN"Liam....kamu dengerin aku nggak sih?"
William menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke belakang kemudian menatap kekasihnya dengan tatapan jengah. Clarissa ikut berhenti saat William berhenti tepat dihadapannya, dia mendengus kasar kemudian bersedekap dada, bibirnya mengerucut karena kesal sudah diabaikan oleh kekasihnya.
"Ada apa lagi sih Cla?" tanya William mencoba lembut.
"Kamu tau nggak sih kalo hari ini sahabat kamu itu nyebelin banget? Tadi pagi dia ganggu aku
"Ayo cepat pah, aku khawatir banget sama Clarissa."Marissa berlari menyusuri koridor rumah sakit, dia sangat terkejut ketika mendapat kabar dari mantan suaminya jika putri mereka masuk rumah sakit. Dia bersama suaminya lekas pergi ke rumah sakit seketika itu juga, dia bagitu khawatir dengan keadaan Clarissa."Persimi sus, pasien atas nama Clarissa dimana ya?" tanya Marissa."Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat bangsal 12."Setelah mendapatkan nomor kamar Clarissa, Marissa pergi begitu saja."Terima kasih sus." ucap Fahmi.Sampai dibangsal 12, Marissa terkejut karena ada beberapa orang disana yang juga mengalami luka-luka, dia berdiri diambang pintu masuk ketika melihat beberapa polisi berjaga disana."Ada apa Risa?" tanya Fahmi.Marissa menoleh ke arah suaminya. "Ada polisi pah.""Apa polisi? Apa Clarissa kecelakaan?"Marissa mengglengkan kepalanya. "Aku juga nggak tahu.""Marissa Fahmi, mengapa kalian
"Mah, bangun mah. Kita harus ke rumah sakit sekarang."Mona yang sedang enak tertidur tiba-tiba dikejutkan oleh suaminya yang terus memanggilnya, dia bangkit dari tidurnya lalu menatap suaminya yang terlihat khawatir."Ada apa pah? Kenapa papa kaya khawatir gitu?""Kita harus ke rumah sakit sekarang mah, Ojel dirawat.""Apa? Kenapa sama Ojel pah?" tanya Mona terkejut."Nanti papa ceritain dijalan mah, sekarang kita harus beres-beres dulu."Mona mengangguk, dia lekas bangkit dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi. Sepasang suami istri itu sibuk bersiap dan setelah selesai mereka gegas keluar dari kamar."Tuan nyonya, kenapa terburu-buru? Ada terjadi sesuatu?" tanya asisten rumah tangga yang terbangun."Kebetulan ketemu bibik disini, kami mau ke rumah sakit. Titip Aluna ya.""Biak nyonya."Setelah kepergian majiakannya, asisten rumah tangga itu ikut khawatir."Apa den Liam masuk rumah sakit?"Jimmy
"TOLONG...SUSTER...TOLONG."William berlari sambil menggendong tubuh Nozela yang terkulai lemas dipelukannya namun masih bergerak gelisah, dia dan Thalia berlari menuju IGD dan tak lama beberapa perawat datang sambil membawa brankar. William lekas meletakan tubuh Nozela ke atas brankar kemudian ikut mendorong masuk ke dalam."Maaf, anda tidak boleh masuk."Klek.William berdiri didepan pintu IGD yang tertutup rapat, dia berdecak pinggang sambil meraup wajahnya dengan kasar. Dia tak tahu harus bagaimana mengabari kedua orang tua Nozela tentang kejadian ini, dia takut membuat kedua orang tua Nozela kecewa karena tidak bisa menjaga Nozela dengan baik.Tubuh Thalia merosot ke lantai saat melihat sahabatnya dibawa masuk ke ruang pemeriksaan, air matanya tak pernah berhenti mengalir sejak dia menemukan Nozela dalam keadaan tak baik-baik saja. Dadanya terasa sesak bahkan dia sampai memukul-mukulnya namun rasa sesaknya belum hilang."Jel, harusnya g
"Kemana kita harus cari Nozela lagi Liam, kita udah kelilingin Club inii tapi nggak ketemu." ucap Archen pada William.William menghela nafas kasar, dia meraup wajahnya yang terlihat sangat tertekan. Sudah lama sejak mereka sampai namun mereka masih belum menemukan Nozela. William sangat takut tak bisa menemukan Nozela atau terlambat menemukan sahabatnya. Jika terjadi sesuatu pada Nozela dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri."Ini Lego juga kemana sih? Apa dia udah berhasil nemuin Thalia?"Archen terkejut saat William tiba-tiba pergi dari sana. "Liam, lo mau kemana. Liam.""Aish sial, kenapa jadi kaya gini sih."Archen kembali menyimpan ponselnya yang akan dia gunakan untuk menghubungi Lego, dia segera menyusul William yang entah pergi kemana.William kembali berjalan menuju sebuah koridor, meski dia sudah melewatinya beberpa kali namun dia akan memastikannya sekali lagi. Dia yakin bahwa Nozela masih ada di dalam, dna dia harus segera
Tiara terbangun dari tidurnya, dia menatap ranjang sebelahnya yang kosong tak ada suaminya disana. Tiara lekas bangkit dari tidurnya, dia menyibak selimutnya kemudian turun dari ranjang."Papa kemana?" gumamnya.Tiara keluar dari kamar dan tak lama dia melihat suaminya sedang berdiri diujung lorong rumahnya sambil menatap ke luar. Tiara tersenyum kemudian mendekati suaminya, dia menyentuh lengan Andito membuat Andito menoleh ke belakang."Mah, kenapa bangun?" tanya Andito."Papa kenapa msaih disini dan belum tidur?"Andito menghela nafas panjang, tatapannya kembali menatap keluar jendela."Papa nunggun Ojel mah, sampai sekarang dia belum pulang. Papa khawatir."Tiara tersenyum, dia memeluk tubuh suaminya dari samping."Nozela buka sekali dua kali pah pulang malam, nanti dia juga pulang kok.""Tapi papa khawatir mah."Tiara tersenyum kemudian mengangguk. "Iya pah, gimana kalo mama suruh Liam buat susulin Ojel
Bugh!"Akh!!"Nafas William terengah-engah setelah berhasil menumbangkan dua bodyguard sekaligus, tubuhnya basah karena keringat mengalir deras. Dia menatap kedua sahabatnya yang terluka namun berhasil mengalahkan kedua bodyguard yang lain.Dugh!William menendang perut bodyguard yang sudah tak sadarkan diri, dia mendekati kedua sahabatnya namun tak melihat keberadaan Thalia."Thalia mana?" tanya William.Lego dan Archen saling tatap, mereka juga tak tahu dimana keberadaan Thalia karena mereka sibuk melawan kedua bodyguard itu."Kita nggak tahu." jawab Lego.William menatap pintu ruangan yang tak tertutup rapat, dia segera berlari ke arah pintu dan masuk ke dalam acara pesta ulang tahun Drake."Ikutin Liam." Ajka Archen.Lego mengangguk, mereka segera masuk ke dalam lalu ikut mencari keberadaan Thalia. Archen menghampiri William yang celingukan mencari seseorang."Sekarang kita nggak tahu kemana Thalia perg
Nozela mengendarai mobilnya menuju kost Thalia, mulutnya terus mengunyah permen karet yang sudah tak terasa manis itu. Nozela mehentikan mobil Nozela tepat di depan gerbang kost khusus putri. "Masuk Tha." Ucap Nozela. Thalia segera masuk ke mobil Nozela, setelah mema
William mengeluarkan tangan Clarissa dan melepaskan celananya, kini William berdiri tanpa mengenakan pakaian sedikit pun. Clarissa menggigit bibirnya, perlahan mulai melepaskan sisa pakaiannya sendiri. William terus memperhatikan gerakan lembut dan penuh makna dari Clarissa di depannya.
"Makan siang datang." Leon membawa sepiring nasi dan capcai kehadapan Nozela. Dia memesankan makanan yang tak pedas untuk kekasihnya yang baru saja sembuh dari sakitnya. Leon dengan telaten mengambilkan lauk itu ke piring Nozela. "Kamu makan apa?" Tanya Nozela.
"Liam capek, gue pengen rebahan." Ucap Nozela sambil mendongak menatap wajah William. William menghentikan elusannya pada perut Nozela, dia kemudian membantu Nozela untuk merebahkan tubuhnya ke ranjang. "Elusin lagi." William mengangguk, dia sedikit me







