LOGINPagi ini, Nozela berangkat ke kampus bersama dengan Aluna. Dia sengaja berangkat bersama dengan Aluna karena William menjemput Clarissa.
"Thanks ya Lun."
"Sama-sama kak, kalo gitu Luna berangkat dulu. Bay kak Ojel."
Nozela melambaikan tangannya, dia pun segera masuk kedalam fakultasnya.
"Thalia udah berangkat belum ya?"
Nozela melipir pergi ke taman kampus lalu duduk di sebuah kursi, dia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan ke Thalia.
"Zel."
Nozela mendongak lalu tersenyum saat melihat Leon berdiri dihadapannya.
"Leon." lirih Nozela.
"Boleh duduk?"
Nozela mengangguk, dia lekas menggeser duduknya. Leon pun segera duduk disebelah Nozela.
"Sendirian aja, Thalia kemana?"
"Nggak tahu, kayanya belum berangkat. Tumben kamu berangkat pagi?"
Leon mengangguk. "Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu Zel."
"Soal?"
Leon mengedarkan pandangannya, di taman itu cukup sepi dan hanya ada beberapa orang saja disana. Tatapannya kembali menoleh ke arah Nozela, gadis cantik yang selama beberapa bulan terakhie ini dia kagumi. Tangannya teragkat kemudian meraih jemari Nozela.
"Le." Nozela terkejut saat tangannya digenggam oleh Leon.
"Zel, ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu. Ini tentang kita."
Deg...deg..
Jantung Nozela berdetak kencang, dia gugup dan sedikit salah tingkah saat tangannya digenggam oleh Leon.
"Aku....sebenernya udah lama suka sama kamu Jel."
"What? Jangan bilang Leon mau nembak gue lagi?" batin Nozela kesenengan.
Wajah Nozela sudah bersemu merah, sekuat tenaga dia berusaha menahan rasa salah tingkahnya. Sesekali dia menundukkan wajahnya mencoba mneghindari tatapan Leon.
"Zel."
"Iya?" jawab Nozela sambil mendongak.
"Kamu mau kan jadi pacar aku?"
"Aaaaa akhirnya Leon nembak gue juga. Astaga mimpi apa gue semalam bisa ditembak Leon sepagi ini?" batin Nozela senang.
"Zel? Gimana, kamu mau kan jadi cewek aku?" tanya Leon sekali lagi.
Nozela menganggukan kepalanya sambil tersenyum, dna hal itu membuat Leon senang.
"Makasih Zel."
Tanpa sadar Leon memeluk tubuh Nozela dengan erat, meski di taman itu tak banyak orang namun tetap saja ada yang melihat mereka dan diam-diam memfoto mereka.
Tak jauh dari posisi dua orang yang sedang dimabuk asmara, seorang gadis berdiri dibelakang mereka sambil memegang tali tasnya dengan erat. Dia tak salah mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan, Nozela baru saja menerima Leon sebagai kekasihnya.
Siang harinya saat jam kuliah selesai, Nozela Leon dan Thalia berjalan bersama menuju parkiran. Saat sampai di parkiran saat itu juga sebuah mobil hitam berhenti didepan mereka. William keluar dari mobil lalu menghampiri mereka. Dia menatap Nozela dan Leon yang nampak sanagt dekat.
"Mau jemput Clarissa?" tanya Nozela.
William mengangguk. "Iya."
"Maaf ya Zel aku nggak bisa anterin kamu pulang, habis ini aku masih ada kerjaan."
"Nggak papa kok."
"Liam."
Mereka seua menoleh saat mendengar suara nyaring Clarissa yang memanggil William.
Drrtt...drrttt...
Ponsel Nozela bergetar disaku celananya, dia mengambil ponselnya dan melihat nomor mmanya yang menghubungi dirinya.
"Halo mah."
"APA? SMOOKY SAKIT?'
"Oke Ojel pulang sekarang."
"Kenapa Jel?" tanya William.
"Smooky sakit, gue harus cepet pulang."
"Tapi aku nggak bisa anterin kamu Zel."
"Masuk mobil, gue anterin." ucap William.
"Liam." tegur Clarissa tak setuju.
Nozela segera berlari masuk ke dalam mobil William dia sangat khawatir dengan keadaan anjingnya. Dia bahkan melupakan pacar barunya dna juga sahabatnya.
"Ayo Cla."
William menarik tangan Clarissa lalu masuk ke dalam mobil, dia mengemudikan mobilnya meninggalkan kampus menuju rumah Nozela.
"Sial, cowok itu lagi." batin Leon kesal.
Sampai di rumah Nozela, Nozela segera berlari menuju kandang anjingnya lalu mengambil smooky yang terlihat lemas. Dan disini lah mereka berada sekarang, didalam mobil William yang suasananya begitu sunyi. Clarissa melirik sekilas ke arah Nozela yang duduk di kursi belakang bersama anjingnya.
"Emang anjing lo sakit apa, Zel?" tanya Clarissa, berusaha memasang nada basa-basi.
"Mana gue tau. Orang baru mau dibawa ke dokter," jawab Nozela tanpa sedikit pun melirik ke arah Clarissa.
Clarissa menggeram kesal mendengar jawaban Nozela.
"Dasar cewek gatel. Awas aja lo kalau sampai macam-macam sama William," batin Clarissa geram, sementara jemarinya terkepal erat untuk menahan rasa tidak suka yang mulai memuncak.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di klinik dokter hewan, Nozela lekas membawa anjingnya menuju ke ruanagn dokter.
"Lama banget sih, Liam. Aku capek nih," keluh Clarissa.
"Sebentar Cla, Ojel juga belum keluar." jawab William.
Clarissa memasang wajah kesal, dia menyandarkan tubuhnya sambil bersedekap dada.
"Jangan cemberut dong, Cla," ujar William sambil mencolek pipi Clarissa.
"Tck, jangan pegang-pegang."
Clarissa menepis tangan William dengan raut wajah cemberut. Meski begitu, sudut matanya menangkap tawa kecil William yang menyebalkan. Wajahnya tampak ceria, seolah-olah tak merasa bersalah sama sekali.
"Sayang, jangan ngambek dong," ucapnya sambil tersenyum.
"Mau apa? Nanti aku turutin," tanyanya dengan nada serius bercampur santai.
Clarissa melirik William dari sudut matanya, perlahan mulai merasa tergoda oleh tawaran kekasihnya.
"Beneran mau diturutin?" tanya Clarissa.
"Iya beneran, janji deh."
"Yakin?"
William merangkul pudak kekasihnya sambil membisikkan sesuatu. "Yakin sayang."
"Ehem"
Clarissa dan William sepontan menoleh saat mendengar suara deheman keras, Nozela berdiri di samping mereka entah sejak kapan.
"Nanti lagi pacarannya, anterin gue pulang. Smooky butuh istirahat." Ucapnya lalu pergi.
William meraih jemari Clarissa lalu mengenggamnya. "Kita anterin Ojel pulang dulu."
Clarissa mengangguk. Mereka keluar dari klinik kemudian mengantarkan Nozela pulang.
"Gimana si beagle?" Tanya William.
"Cuma flu biasa." Jawab Nozela.
"Thanks udan anterin." Ucap Nozela saat mobil William berhenti di halaman rumahnya.
"Kaya sama siapa aja lo. Kalo gitu gue duluan, mau anter Clarissa."
Nozela mengangguk lalu melambaikan tangannya. "Babay Clarissa, makasih lo ya udah ngaterin gue sama smooky."
Clarissa tersenyum dengan wajah tertekan dan terpaksa.
"Sama-sama Nozela. Gue pulang dulu ya, semoga smooky cepet sembuh." ucap Clarissa penuh penekanan.
"Oke, hati-hati ya kalian."
"Sialan, wajahnya ngeledek banget sih. Ihhhhh, nyebelin." Batin Clarissa kesal.
"Tante titip Nozela sama kalian ya, kalau ada apa-apa segera hubungi kami.""Iya tante, tante bisa percayakan Ojel sama kita, pokoknya om dan tante harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran dulu, Ojel aman disini sama kita. Kita bakal jagain Ojel.""Benar om tante, besok siang atau sore kalian bisa kesini lagi. Yang jelas kalian harus istirahat dulu."Tiara menatap kedua teman putrinya penuh haru, sejak dia mengenal Thalia, Thalia memang anak yang baik. Bahkan dia sudah menganggap Thalia seperti putri keduanya."Terima kasih ya kalia sudah mau membantu kami menjaga Nozela." ucap Andito.Thalia mengngguk. "Sama-sama om."Tiara menatap putrinya yang masih terdiam, dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah putrinya. Tiara sangat ingin memeluk Nozela sebelum dia pulang, namun dia sangat takut sentuhan tangannya bisa menyakiti putrinya lagi."Jel, mama pulang dulu ya. Malam ini kamu ditemani Thalia sama Fela dulu, besok mama p
Gluk.Gluk.Gluk.Archen menatap sahabatnya yang meminum alkohol dari botolnya dengan rakus, dia menghela nafas panjang kemudian menyesap minumannya.Tak.William meletakkan botol minuman bralhokol itu dengan kasar diatas meja, mata serta wajahnya sudah memerah, dia mengelap bibirnya dengan tangannya lalu menundukkan kepalanya."Lo mau habisin berapa botol lagi, Liam?" tanya Lego.Meja dihadapan mereka ada tiga botol kosong dan dua botol yang masih utuh, dan William lah yang sudah menghabiskan tiga botol itu dalam waktu kurang dari 2 jam. Mereka saat ini berada di apartemen Lego karena ajakan William. Baik Archen maupun Lego memilih mengiyakan ajakan William karena mereka tahu saat ini William sangat membutuhkan dukungan atas kesedihan yang dia alami.Lego menuangkan minuman ke gelasnya dan milik Archen, tatapannya menatap ke arah William yang masih menundukkan kepalanya. Dia merasa kasihan pada sahabatnya, saat ini pasti
Thalia menatap paper bag ditangannya yang berisi buah kelengkeng dan chees cake kesukaan sahabatnya, beberapa hari setelah kejadian yang menimpa sahabatnya dia sangat disibukkan dengan kegiatan kampus dan mengajar les. Dan hari ini dia berencana menginap di rumah sakit untuk menemani Nozela karena kebetuan besok weekend, Thalia sudah menyiapkan semuanya dan juga ingin mengganti Tiara untuk menjaga Nozela. Setelah siap, dia segera keluar dari kamar kostnya. "Udah siap Tha?" tanya Fela. Thalia mengangguk. "Udah, ayo kak." Mereka segera pergi menaiki motor Fela kemudian berangkat ke rumah sakit bersama. Thalia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nozela, dia yakin pasti Nozela akan suka dengan makanan yang dibawanya. Sampai di rumah sakit, mereka segera masuk ke lobi menuju kamar Nozela dirawat. "Tha, apa Nozela baik-baik aja?" Thalia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. "Kejadian itu buat Ojel trauma kak. Keadaan
Tok...tok.Ceklek.Pintu ruang rawat Clarissa terbuka, dua orang polwan dan satu orang polisi masuk ketika semua orang yang berada disana sedang mebereskan pakaian Clarissa. Clarissa terkejut saat melihat polisi masuk ke dalam ruangannya, dia lekas mendekati daddynya yang sedang berbicara dengan papanya."Selamat pagi."Cleo dan Fahmi bangkit dari duduknya, mereka sama terkejutnya seperti Clarissa saat melihat polisi itu masuk ke ruang rawat Clarissa. Cleo lekas menarik lengan Clarissa kemudian menyembunyikan Clarissa dibelakang tubuhnya."Selamat pagi pak." jawab Fahmi."Saya ke sini untuk membawa nona Clarissa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas kasus pelecehan seksual berencana.""Ini surat penangkapannya."Cleo menerima sebuah amplop dan mengeluarkan isinya yang dimana dalam surat itu adalah utusan penangkapan terhadap Clarissa."Tapi pak, putri saya baru saja sembuh." ucap Fahmi."Anda bisa
"Setelah pemeriksaan menyeluruh yang saya lakukan, Nozela terdeteksi mengalami trauma psikologis atas kejadian yang dia alami. Meski kejadian itu tak sampai merenggut kesuciannya dan dalam keadaan setengah sadar karena efek obat yang dia konsumsi, namun otaknya merekam jelas kejadian demi kejadian yang dialami. Hal itu menyebabkan Nozela terus mengingatnya dan memunculkan rasa trauma."Tiara tak bisa lagi menopang tubuhnya setelah mendengar penjelasan dari dokter, dia terduduk di sofa sambil menutup mulutnya sendiri. Air matanya menetes tanpa bisa dia bendung lagi, dia tak menyangka Nozela akan mengalami hal seperti ini."Apa bisa sembuh dok?" tanya Andito.Dokter mengangguk. "Tentu saja bisa tuan, dengan menjalani terapi dan dengan dukungan keluarga pasti Nozela akan cepat pulih. Namun semua pengobatannya membutuhkan proses yang sedikit panjang, jika Nozela bisa menerima dengan baik maka tak sampai menunggu lama dia akan segera pulih.""Tolong bantu putr
"Leon, kamu disini? Aku baru aja mau jenguk Drake sama kak Clarissa.""Ikut aku."Leon segera menarik tangan Clarie kemudian membwanya pergi ke koridor rumah sakit yang sepi, dia melepaskan tangan Clarie dengan kasar membuat Clarie kebingungan. Dia menoleh ke belakang dimana mamanya masih menunggunya."Ada apa Leon?"Leon menatap Clarie dengan tajam, dia mencengkeram lengan Calrie untuk menyalurkan rasa kesalnya. Clarie yang diperlakukan begitu kasar hanya bisa meringis kecil."Leon sakit.""Kamu tahu kan rencana Clarissa buat jebak Nozela sama Drake makanya kamu aku ajak pulang duluan?"Clarie mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa? Aku nggak paham sama sekali."Leon mendegus kasar. "Nggak usah belaga bodoh Clarie, aku tahu kamu sengaja bantuin kakak kamu karena kamu juga nggak suka sama Nozela kan?"Clarie merasa marah karena dituduh oleh Leon, dia akui dia memang membantu Clarissa namun dia tak tahu rencana kakaknya.
"Kalo gue punya sodara enak kali ya, rame nih rumah." Gumam Nozela sambil menuruni anak tangga. Rumahnya yang besar terasa sunyi saat penghuni rumah sedang bepergian. Nozela menuju kandang smooky lalu membawanya keluar. "Tapi kalo gue punya sodara, kekayaan papa baka
Nozela mengendarai mobilnya menuju kost Thalia, mulutnya terus mengunyah permen karet yang sudah tak terasa manis itu. Nozela mehentikan mobil Nozela tepat di depan gerbang kost khusus putri. "Masuk Tha." Ucap Nozela. Thalia segera masuk ke mobil Nozela, setelah mema
William mengeluarkan tangan Clarissa dan melepaskan celananya, kini William berdiri tanpa mengenakan pakaian sedikit pun. Clarissa menggigit bibirnya, perlahan mulai melepaskan sisa pakaiannya sendiri. William terus memperhatikan gerakan lembut dan penuh makna dari Clarissa di depannya.
"Gimana, diangkat nggak?" tanya Lego.Archen menghela nafas pelan, dia menjauhkan teleponnya dari telinga lalu menggeleng pelan. Lego ikut menghela nafas kasar, mereka sudah beberapa kali mencba menghubungi sahabatnya namun William tak mengangkat panggilan mereka.Archen menyimpan p







