LOGINWilliam dan Nozela pergi menuju pintu belakang didekat dapur, tangan William masih mencekal pergelangan tangan Nozela dengan erat. Nozela menatap sahabatnya dengan wajah kebingungan, entah William akan mengajaknya kemana.
"Bentar, lo tunggu disini dulu."
"Oke."
William melepaskan cekalan tangannya pada Nozela kemudian pergi dari sana. Nozela menatap kepergian William, dia tambah heran saat William masuk ke ruang penyimpanan barang. Sekitar lima menit mneunggu, William kembali sambil membawa tikar.
"Bawa."
"Eh..."
Nozela lekas menerima tikar itu, dia kembali menatap sahabatnya yang membuka pintu kulkas kemudian mengambil dua botol minuman bersoda dan beberapa makanan. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat tingkah William.
"Yuk Jel."
Nozela mengangguk, dia mengikuti langkah William dari belakang menuju halaman belakang mansion William yang dia ketahui adalah area taman yang luas. Nozela sempat heran karena di mansion William terdapat dua taman, namun di halaman belakang jauh lebih luas.
Sampai di taman belakang, William meletakkan minuman dan makanan itu ke kursi taman. Dia mengambil alih tikar yang dibawa Nozela kemudian menggelar tikar itu tepat di didekat kursi taman. William melepas alas kakinya lalu duduk diatas tikar.
"Ayo duduk, kenapa bengong?" ucap William sambil mendongak menatap Nozela.
"Iya."
Nozela ikut melepaskan alas kakinya kemudian duduk didekat sahabatnya, dia menatap sekeliling taman yang banyak terdapat lampu gantung berwarna kuning. Meski disana terang, namun tetap saja Nozela sedikit takut karena suasananya sangat sunyi.
Nozela menggosok kedua lengannya saat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, angin malam berhembus cukup kencang sampai menerbangkan rambut pendeknya.
"Dingin?" tanya William.
"Pake nanya lagi, udah jelas lah."
"Lagian lo kenapa ajak gue kesini sih?" sambung Nozela.
William tersenyum, dia mengambil dua botol minuman bersoda lalu membukanya dan memberikan pada Nozela.
"Nyari suasana baru aja. Katanya lo belum ngantuk?"
Nozela menerima botol itu lalu meminumnya.
"Ah, enaknya."
William merebahkan tubuhnya ke atas tikar, dia menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya, sudut bibirnya terangkat sambil matanya terus menatap ke atas dimana langit malam yang hitam dipenuhi bintang.
"Sini tiduran Jel." ucap William tanpa menoleh sama sekali.
Nozela menatap William yang merebahkan tubuhnya disebelahnya. "Nggak ah, gue duduk aja."
William menoleh. "Lebih enak lihat bintang sambil tiduran gini Jel."
"Keras, nanti badan gue sakit."
"Tcih." William berdecih.
Dia menarik lengan Nozela hingga Nozela terjatuh disebelahnya, William kemudian meluruskan tangan kirinya sebagai bantalan kepala Nozela.
"Gimana, udah nggak keras kan?"
Nozela mencubit lengan William. "Lo ya, dasar."
Bukan merasa kesakitan, William justru terkekeh pelan melihat wajah kesal bercampur terkejut dari Nozela, dia pun kembali menatap ke atas sambil menghembuskan nafas pelan.
"Lo kenapa ajak gue kesini?" tanya Nozela.
"Lihat bintang, apa lagi?"
Tatapan mata Nozela ikut menatap ke atas dimana banyak bintang bertaburan, dia menipiskan bibirnya melihat keindahan yang hanya muncul saat malam hari itu. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali melakukan hal seperti ini.
"Bagus ya?" ucap Nozela.
William mengangguk membernarkan. "Biasanya gue cuma lihat sendirian dari balkon, sekarang gue ditemenin lo."
"Lo sering nggak bisa tidur?" tanya Nozela.
"Kadang-kadang sih, dan dengan ngelihat bintang gini pikiran gue jadi sedikit tenang."
"Lo nggak sleep call gitu sama cewek lo? Atau cahtan gitu kalo nggak bisa tidur."
William menoleh sambil tersenyum. "Sering sih, tapi dunia gue nggak melulu soal cewek gue Jel."
"Tcih, biasanya bucin parah. Sok bijak lo." cibir Nozela.
Nozela tahu jika sahabatnya itu budak cinta Clarissa, bahkan mereka sering terpaksa berjauhan hanya karena Clarissa tak menyukai dirinya dan sering cemburu padanya. Padahal dia dan William sudah berteman dan bersahabat sejak lama namun sepertinya Clarissa masih tak bisa menerima itu.
"Yang gue omongin bener Jel, kadang gue juga mikirin lo."
Nozela menatap William dengan kening berkerut. "Ngapain lo mikirin gue? Kaya nggak ada kerjaan lain aja."
"Gue heran aja sama lo, lo cantik tapi sampai sekarang masih jomblo."
Mata Nozela terbelak dengan mulut sedikit mengangga. "Sialan lo."
William tertawa terbahak-bahak, sejak kepulangannya ke Indonesia dia belum pernah melihat Nozela berpacaran atau dekat dengan pria, dia sendiri juga heran padahal sahabatnya itu sangat cantik.
"Atau jangan-jangan lo nggak ada yang suka lagi?" tebak William.
"Lo!!" tunjuk Nozela pad William.
"Buktinya lo nggak pacaran, gue sama Clarissa aja udah mau setahun lo."
"Enak aja lo kalo ngomong, gue nggak pacaran bukan berarti gue nggak laku ya. Gue juga lagi deket sama seseorang."
"Deket doang tapi nggak dipacarin, nggak gentle banget-"
"AAAKKKKHHHHH SAKITTT."
"Rasain lo, siapa suruh ledekin gue."
William menatap lengan kirinya yang terdapat bekas gigi Nozela, lengannya memerah karena baru saja digigit oleh sahabatnya.
"Lo mommynya smooky atau saudaranya smooky sih? Perasaan smooky aja nggak pernah gigit gue." ucap William sambil meringis kesakitan.
"Oh, sekarang lo ngatain gue kaya anjing gitu?" seru Nozela.
"Nah itu sadar diri." gumam William namun masih bisa didengar oleh Nozela.
"LIAM...."
"Iya ya enggak, lo nggak kaya anjing."
Nozela kesal, dia mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap dada.
"Oh iya Jel, denger-denger lo lagi deket sama pentolan fakultas lo ya?"
Nozela menoleh. "Tahu dari mana? Thalia?"
"Bukan sih, pernah denger aja ada yang ngomongin."
"Ya kalo deket sih deket ya cuma nggak deket-deket banget. Kita temenan kok."
"Lo nggak takut kalo pacaran sama dia?"
"Kita nggak pacaran, Liam."
"Semisal aja, kalo dia nembak lo, lo mau pacaran sama dia?"
"Mau lah." jawab Nozela cepat.
"Lo nggak takut makan hati, dia ganteng mana terkenal lagi pasti banyak yang suka."
"Risiko jadi pacar cowok famous ya siap nggak siap. Emang kenapa sih? Lo nggak suka kalo gue sama Leon?"
"Oh jadi namanya Leon."
"Ih, jawab dulu."
William mneghembuskan nafas pelan. "Gue bukannya nggak suka, tapi..."
"Tapi apa?"
"Gue nggak mau sahabat gue yang cantik dan banyak omong ini sakit hati." ucap William sambil mencubit pipi Nozela.
"Awww Liam sakit, lepasin." ringis Nozela sambil mencoba melepaskan tangan William dari pipinya.
"Pantesan gue cari nggak ada, mereka disana rupanya." ucap Aluna sambil melihat kedua kakaknya dari pintu dapur.
William terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sedikit pusing. Dia mendesis pelan dan saat hendak mengangkat tanganya, dia tersadar jika ada sesuatu yang menindihnya. Dia menoleh kesamping dimana Clarissa sedang tidur dilengannya dengan pulas.Perlahan William menarik tangannya agar tidak membangunkan Clarissa, dia bangkit dari tidurnya lalu mengambil segelas air diatas nakas dan meminumnya. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas lalu menyalakannya. Matanya terbelak saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari kedua sahabatnya."Tumben mereka spam telepon."William mencoba mengingat-ingat kejadain tadi, namun dia hanya ingat saat datang ke apartemen kekasihya lalu minum hingga dia kehilangan kesadaran. Dia menghela nafas panjang saat ponslenya dalam mode silent.Ting.Ponsel dalam gengamannya berdenting, dia melihat sebuah pesan masuk dari sahabatnya.Lego: (send pict) ini akibat lo abaikan telepon kita.W
"Gimana, diangkat nggak?" tanya Lego.Archen menghela nafas pelan, dia menjauhkan teleponnya dari telinga lalu menggeleng pelan. Lego ikut menghela nafas kasar, mereka sudah beberapa kali mencba menghubungi sahabatnya namun William tak mengangkat panggilan mereka.Archen menyimpan ponselnya ke saku celana, dia menatap Lego lalu menganggukkan kepalanya. Mereka lalu masuk ke dalam mobil, Lego mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan apartemen miliknya."Lo yakin kita pergi tanpa William?" tanya Lego."Mau gimana lagi, dia aja nggak angkat telepon gue." jawab Archen."Lagi sama ceweknya kali, biasanya kan Clarissa suka gitu."Archen mengangguk mengiyakan. "Dia selalu ngelarang-larang Liam pergi sama kita."Lego tetawa pelan, dia sangat menyayangkan sikap William yang sangat bucin dengan kekasihnya hingga tak memiliki banyak waktu untuk mereka. Mereka bedua bukan sekali dua kali meraskan ini, maka dari itu mereka kerap mengeje
Drrtt...ddrrttt...Thalia menoleh saat ponselnya bergetar disebelahnya, dia menatap layar ponselnya yang terdapat nama Leon."Ngapain dia telepon gue?"Dengan cepat Thalia mengangkat panggilan dari Leon."Halo.""Lo dimana?""Gue di kost, ada apa?""Bisa ketemu?"Thalia terdiam, untuk apa Leon mengajaknya bertemu di jam sekarang."Gue jemput sekarang."Tut."Eh Le, Leon."Thalia menatap layar ponsel yang panggilannya sudah terputus, dia menghela nafas panajng karena tiba-tiba Leon hendak menjemput tanpa persetujuannya. Dia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam."Ngapain dia mau ketemu gue? Apa mau bahas masalah Ojel lagi?"Thalia mulai bertanya-tanya untuk apa Leon mengajaknya bertemu, terakhir kali mereka membahas masalah dia dan Nozela. Dan saat di perpustakaan tadi dia bahkan tidak tahu apa yang dibahasnya dengan Nozela.Waktu semakin
Plak!"Aw, sakit Jel. Lo main tangan mulu dari tadi." ucap William sambil mengelus keningnya yang baru saja ditabok Nozela."Masih mending gue cuma nabok kening lo ya, bukan mulut lo.""Tapi gue beneran Jel." ucap William berubah serius.William menatap kedua bola mata Nozela dengan intens tanpa berkedip sama sekali, beberapa kali tatapanya mengarah ke bibir sahabatnya yang memerah. Perlahan William mencondongkan tubuhnya ke depan hingga mereka berdekatan.Jantung Nozela berdetak dua kali lebih cepat, ditatap William seperti ini membuatnya semakin gugup dan takut. Dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan hembusan nafas William mengenai wajahnya. Nozela semakin deg-degan saat tangan William meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya."William nggak beneran kan?" batin Nozela takut.Nozela takut pasalnya bibirnya masih bengkak, jika William melakukannya lagi, dia tak bisa membayngkan akan seperti apa bentuk bibirnya.Waj
Leon terdiam sambil menatap lurus kedepan, satu tangannya berada didagunya, hembusan nafas kasar terus keluar dari hidung mancungnya. Perasaannya gelisah sejak meninggalkan kampus tadi, dia tak bisa terus seperti in, merasakan ketidaknyamanan karena hubungannya yang sudah berkakhir meski dia belum menyetujui untuk putus dengan Nozela.Cahaya matahari sore menembus kaca mobilnya dan sedikit menyilaukan mata, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang kacau balau saat ini. Tangan kirinya mengenggam setir mobil dengan kencang hingga urat-uratnya terlihat jelas."Aku udah cantik belum, Le?"Hening....Clarie yang duduk dikursi sebelah Leon seketika menoleh, dia mengerutkan keningnya saat Leon hanya diam saja tanpa merespon dirinya. Dia memasukkan kembali alat makeupnya lalu mneyentuh lengan Leon.Leon terkejut, dia menoleh dan mendapati Clarie sedang menatapnya dengan tatapan bingungnya."Ada apa Clarie?""Kamu ngelamun
"Kamu kenapa cemberut terus dari tadi?""Nggak papa."Clarissa menolehkan wajahnya ke samping lalu menatap keluar jendela. Sambil bersedekap dada dia terus mengerucutkan bibirnya bahkan sejak tadi dia terkesan cuek dengan William.Sambil fokus pada jalanan didepannya, William meraih tangan Clarissa lalu mengenggamnya erat."Kenapa, coba cerita sama aku." ucap William lembut.Clarissa tersenyum tipis selama beberapa detik, namun setelahnya dia berdehem pelan untuk meredakan senyumnya lalu menoleh ke arah William."Janji nggak marah?"Willim menoleh ke arah kekasihnya lalu mengangguk sambil tersenyum."Iya sayang, janji.""Ada apa? Kayanya serius banget."Sebelum bercerita, Clarissa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia kembali memasang wajah sendu dan dengan bibir mengerucut."Sebenarnya aku tadi didorong Nozela."Ckit!William menghentikan mobilnya secara mendadak saking







