Share

bab 2

Author: Addarayuli
last update publish date: 2025-11-12 20:07:11

William dan Nozela pergi menuju pintu belakang didekat dapur, tangan William masih mencekal pergelangan tangan Nozela dengan erat. Nozela menatap sahabatnya dengan wajah kebingungan, entah William akan mengajaknya kemana.

"Bentar, lo tunggu disini dulu."

"Oke."

William melepaskan cekalan tangannya pada Nozela kemudian pergi dari sana. Nozela menatap kepergian William, dia tambah heran saat William masuk ke ruang penyimpanan barang. Sekitar lima menit mneunggu, William kembali sambil membawa tikar.

"Bawa."

"Eh..."

Nozela lekas menerima tikar itu, dia kembali menatap sahabatnya yang membuka pintu kulkas kemudian mengambil dua botol minuman bersoda dan beberapa makanan. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat tingkah William.

"Yuk Jel."

Nozela mengangguk, dia mengikuti langkah William dari belakang menuju halaman belakang mansion William yang dia ketahui adalah area taman yang luas. Nozela sempat heran karena di mansion William terdapat dua taman, namun di halaman belakang jauh lebih luas.

Sampai di taman belakang, William meletakkan minuman dan makanan itu ke kursi taman. Dia mengambil alih tikar yang dibawa Nozela kemudian menggelar tikar itu tepat di didekat kursi taman. William melepas alas kakinya lalu duduk diatas tikar.

"Ayo duduk, kenapa bengong?" ucap William sambil mendongak menatap Nozela.

"Iya."

Nozela ikut melepaskan alas kakinya kemudian duduk didekat sahabatnya, dia menatap sekeliling taman yang banyak terdapat lampu gantung berwarna kuning. Meski disana terang, namun tetap saja Nozela sedikit takut karena suasananya sangat sunyi.

Nozela menggosok kedua lengannya saat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, angin malam berhembus cukup kencang sampai menerbangkan rambut pendeknya.

"Dingin?" tanya William.

"Pake nanya lagi, udah jelas lah."

"Lagian lo kenapa ajak gue kesini sih?" sambung Nozela.

William tersenyum, dia mengambil dua botol minuman bersoda lalu membukanya dan memberikan pada Nozela.

"Nyari suasana baru aja. Katanya lo belum ngantuk?"

Nozela menerima botol itu lalu meminumnya.

"Ah, enaknya."

William merebahkan tubuhnya ke atas tikar, dia menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya, sudut bibirnya terangkat sambil matanya terus menatap ke atas dimana langit malam yang hitam dipenuhi bintang.

"Sini tiduran Jel." ucap William tanpa menoleh sama sekali.

Nozela menatap William yang merebahkan tubuhnya disebelahnya. "Nggak ah, gue duduk aja."

William menoleh. "Lebih enak lihat bintang sambil tiduran gini Jel."

"Keras, nanti badan gue sakit."

"Tcih." William berdecih.

Dia menarik lengan Nozela hingga Nozela terjatuh disebelahnya, William kemudian meluruskan tangan kirinya sebagai bantalan kepala Nozela.

"Gimana, udah nggak keras kan?"

Nozela mencubit lengan William. "Lo ya, dasar."

Bukan merasa kesakitan, William justru terkekeh pelan melihat wajah kesal bercampur terkejut dari Nozela, dia pun kembali menatap ke atas sambil menghembuskan nafas pelan.

"Lo kenapa ajak gue kesini?" tanya Nozela.

"Lihat bintang, apa lagi?"

Tatapan mata Nozela ikut menatap ke atas dimana banyak bintang bertaburan, dia menipiskan bibirnya melihat keindahan yang hanya muncul saat malam hari itu. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali melakukan hal seperti ini.

"Bagus ya?" ucap Nozela.

William mengangguk membernarkan. "Biasanya gue cuma lihat sendirian dari balkon, sekarang gue ditemenin lo."

"Lo sering nggak bisa tidur?" tanya Nozela.

"Kadang-kadang sih, dan dengan ngelihat bintang gini pikiran gue jadi sedikit tenang."

"Lo nggak sleep call gitu sama cewek lo? Atau cahtan gitu kalo nggak bisa tidur."

William menoleh sambil tersenyum. "Sering sih, tapi dunia gue nggak melulu soal cewek gue Jel."

"Tcih, biasanya bucin parah. Sok bijak lo." cibir Nozela.

Nozela tahu jika sahabatnya itu budak cinta Clarissa, bahkan mereka sering terpaksa berjauhan hanya karena Clarissa tak menyukai dirinya dan sering cemburu padanya. Padahal dia dan William sudah berteman dan bersahabat sejak lama namun sepertinya Clarissa masih tak bisa menerima itu.

"Yang gue omongin bener Jel, kadang gue juga mikirin lo."

Nozela menatap William dengan kening berkerut. "Ngapain lo mikirin gue? Kaya nggak ada kerjaan lain aja."

"Gue heran aja sama lo, lo cantik tapi sampai sekarang masih jomblo."

Mata Nozela terbelak dengan mulut sedikit mengangga. "Sialan lo." 

William tertawa terbahak-bahak, sejak kepulangannya ke Indonesia dia belum pernah melihat Nozela berpacaran atau dekat dengan pria, dia sendiri juga heran padahal sahabatnya itu sangat cantik.

"Atau jangan-jangan lo nggak ada yang suka lagi?" tebak William.

"Lo!!" tunjuk Nozela pad William.

"Buktinya lo nggak pacaran, gue sama Clarissa aja udah mau setahun lo."

"Enak aja lo kalo ngomong, gue nggak pacaran bukan berarti gue nggak laku ya. Gue juga lagi deket sama seseorang."

"Deket doang tapi nggak dipacarin, nggak gentle banget-"

"AAAKKKKHHHHH SAKITTT."

"Rasain lo, siapa suruh ledekin gue."

William menatap lengan kirinya yang terdapat bekas gigi Nozela, lengannya memerah karena baru saja digigit oleh sahabatnya.

"Lo mommynya smooky atau saudaranya smooky sih? Perasaan smooky aja nggak pernah gigit gue." ucap William sambil meringis kesakitan.

"Oh, sekarang lo ngatain gue kaya anjing gitu?" seru Nozela.

"Nah itu sadar diri." gumam William namun masih bisa didengar oleh Nozela.

"LIAM...."

"Iya ya enggak, lo nggak kaya anjing."

Nozela kesal, dia mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap dada.

"Oh iya Jel, denger-denger lo lagi deket sama pentolan fakultas lo ya?"

Nozela menoleh. "Tahu dari mana? Thalia?"

"Bukan sih, pernah denger aja ada yang ngomongin."

"Ya kalo deket sih deket ya cuma nggak deket-deket banget. Kita temenan kok."

"Lo nggak takut kalo pacaran sama dia?"

"Kita nggak pacaran, Liam."

"Semisal aja, kalo dia nembak lo, lo mau pacaran sama dia?"

"Mau lah." jawab Nozela cepat.

"Lo nggak takut makan hati, dia ganteng mana terkenal lagi pasti banyak yang suka."

"Risiko jadi pacar cowok famous ya siap nggak siap. Emang kenapa sih? Lo nggak suka kalo gue sama Leon?"

"Oh jadi namanya Leon."

"Ih, jawab dulu."

William mneghembuskan nafas pelan. "Gue bukannya nggak suka, tapi..."

"Tapi apa?"

"Gue nggak mau sahabat gue yang cantik dan banyak omong ini sakit hati." ucap William sambil mencubit pipi Nozela.

"Awww Liam sakit, lepasin." ringis Nozela sambil mencoba melepaskan tangan William dari pipinya.

"Pantesan gue cari nggak ada, mereka disana rupanya." ucap Aluna sambil melihat kedua kakaknya dari pintu dapur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Sahabatku   bab 249

    "Selamat sore Nozela, gimana perasaan kamu hari ini?""Sore dok, saya seharian ini agak nggak mood dok." jawab Nozela."Loh, kenapa? Ada sesuatu yang menganggu kamu?"Nozela melemahkan bahunya. "Saya pengen kuliah lagi dok, saya jenuh dan bosen di rumah terus. Saya kangen main sama temen-temen, padahal saya udah baik-baik aja dok saya juga udah bisa bersentuhan lagi sama orang-orang." jelas Nozela.Dokter perempuan yang memiliki name tag bernama Teresa itu tersenyum, dia pun tiba-tiba menyentuh tangan Nozela membuat Nozela menoleh ke arahnya."Bagaimana ketika saya menyentuh kamu tiba-tiba?"Nozela menggelengkan kepalanya. "Saya tidak merasakan apa-apa lagi dok.""Benarkah?" tanya dokter dengan senyum merekah."Iya dok, itu berarti saya sudah sembuh kan dok?"Dokter melepaskan cekalan tangannya dari tangan Nozela, dia merasa senang karena salah satu pasiennya sudah sembuh. Dia pun segera menuliskan resep o

  • Gairah Sahabatku   bab 248

    "Menyatakan terdakwa, saudara Drake Alexander dan saudari Naomi Clarissa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pelecehan seksual berencana sebagaimana dalam dakwaan primair."Tok!Tok!Tok!Palu diketuk tiga kali setelah putusan hakim selesai diucapkan, sidang dinyatakan selesai.Cleo, Marisa dan Fahmi segera menghampiri Clarissa yang sedang m

  • Gairah Sahabatku   bab 247

    "Hari ini sidang putusan atas kasus Nozela akan dilaksanakan, apa kamu mau datang?" tanya Jimmy pada putranya.William mengelengkan kepalanya pelan. "Tidak, selesai kualiah nanti Liam mau nemenin Ojel terapi, kebetulan hari ini jadwal dia terapi.""Baiklah, nanti biar Robi yang urus semuanya."William menganggukkan kepalanya, alasan dia tak mau hadir disana adalah tak ingin melihat para pelaku yang sudah menyebabkan Nozela trauma. Dia takut kehilangan kendali saat melihat mereka apa lagi ada Clarissa juga disana.Meski Clarissa sudah melakukan kesalahan yang fatal, namun mereka sudah bersama cukup lama hingga tak mudah begitu saja dia melupakan kenangan itu. Masih ada sedikit rasa iba dihati William jika dia melihat Clarissa di persidangan, dan itu bisa membuatnya ragu.Sambil menghabiskan makanannya, Jimmy melihat wajah putaranya yang tampak murung, dia melirik istrinya yang juga saat ini sedang menatap ke arahnya."Mau tambah lagi?"

  • Gairah Sahabatku   bab 246

    Nozela meremas tanganya sendiri ketika berada di ruangan yang cukup luas namun terasa menyesakkan dada, dia mendongak menatap lampu yang menerangi ruangan itu dengan tatapan takut. Pandangannya kembali menatap kesembarang arah, dia sendirian di ruangan itu dengan penerangan yang cukup minim.Kriet.Pintu ruangan terbuka, muncul lah dua orang yang langsung duduk dihadapan Nozela dan satu orang berdiri disampingnya. Jantung Nozela semakin berdetak kecang saat dua orang itu menatapnya dengan intens, dia merasaka keringat menetes melewati lehernya. Kedua tangannya sudah basah karena keringat dingin."Selamat siang." ucap polisi.Nozela tersentak dari lamunannya, matanya bergerak gelisah ke kanan kiri."Anda tidak perlu takut nona, kami hanya akan meminta sedikit keterangan dari anda." ucap polwan yang berdiri disamping polisi.Gluk.Nozela menelan ludahnya kasar. "B-Baik.""Baik, bisa kita mulai?"Nozela menganggukkan kepala

  • Gairah Sahabatku   bab 245

    Sepatu berwarna hitam melangkah masuk ke dalam sebiah lift, sepasang kaki jenjang itu berdiri dan tubuhnya bersandar pada dinding lift. Jari tangan panjang itu menekan lantai tertinggi pada gedung itu dan lak lama pintu lift tertutup.Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada dinding lift, matanya menatap datar lurus ke depan. Sesekali dia menghela nafas panjang. Dia mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.Ting.Pintu lift terbuka, pria tampan dengan tinggi 185cm itu keluar dari lift dengan wajah datarnya."Selamat siang tuan muda." ucap seorang sekretaris, dia berdiri dari duduknya sambil membungkukkan badannya."Papa ada?""Tuan Jimmy ada di dalam tuan muda."William mengangukkan keplanya, dia segera berjalan menuju ruangan papanya dan tak lupa mengetuk pintunya terlebih dahulu sebelum masuk."Akhirnya kamu datang.""Maaf Liam telat pah."Jimmi mengangguk. "Tidak papa, ayo

  • Gairah Sahabatku   bab 244

    Nozela menghabiskan hari-harinya di rumah sakit selama satu bulan penuh, gadis cantik yang masih terlihat sedikit pucat itu mulai menunjukkan banyak perubahan. Pipinya yang semula tirus kini mulai terlihat berisi kembali, bahkan sekarang Nozela sudah bisa berinteraksi dengan banyak orang. Meski hanya William yang bisa menyentuhnya, sesekali Nozela masih sering kambuh ketika tak sengaja bersentuhan dengan seseorang.Gadis cantik itu sedang berjalan-jalan sendirian di taman rumah sakit, dia melihat kursi didekat pohon kemudian memilih duduk disana. Nozela memejamkan matanya sambil menarik nafasnya pelan, aroma tahan yang baru saja terkena hujan sedikit menenangkan hatinya.Perlahan mata Nozela terbuka, dia mendongakkan kepalanya dia menatap langit yang masih mendung. Perlahan sudut bibirnya terangkat saat bisa kembali menikmati udara sore dan pemandangna yang indah, dia tak menyangka jika saat ini sudah memasuki musim penghujan.Tes.Nozela mengerjapkan mat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status