Compartir

bab 2

Autor: Addarayuli
last update Última actualización: 2025-11-12 20:07:11

"Ojel."

Nozela yang tengah berjalan bersama Thalia dan Leon menoleh saat mendengar suara sahabatnya. Wiliam sedikit berlari sambil membawa sesuatu ditangannya.

"Buat lo." Ucapnya sambil memberikan paper bag kepada Nozela.

Lego dan Archen hanya tersenyum jahil melihat sahabatnya rela jauh-jauh dari fakultas teknik menuju fakultas ekonomi hanya untuk memberikan buah untuk Nozela.

Nozela tersenyum senang, dia menerimanya. "Makacih Liam."

Nozela membuka paperbag itu, dia melihat banyak buah kelengkeng didalamnya. Dia merentangkan tangannya lalu memeluk tubuh William, Nozela senang karena William masih ingat buah kesukaannya.

"Habis ini gue pinjem PS5 punya lo, buat main di apart sama mereka." Tunjuk William pada kedua temannya.

Nozela melepaskan pelukannya, dia mencebikkan bibirnya. "Pamrih banget."

Leon menatap tak suka pada William yang menurutnya teralu bebas pada Nozela padahal dia sudah memiliki kekasih. Dia samping Nozela, Thalia memperhatikan perubahan wajah Leon saat William datang.

"WILLIAM."

"Mampus lo Liam." Ucap Lego.

William menoleh saat kekasihnya datang menghampirinya. Clarissa langsung merangkul lengan William dengan mesra di depan teman kekasihnya.

"Jadi ke kantin?" Tanya Leon pada Nozela.

Nozela mengangguk. "Jadi."

"Liam, gue ke kantin dulu. Makasih loh kelengkengnya."

Leon mengandeng tangan Nozela lalu mengajaknya pergi, Thalia mengikuti mereka dari belakang. Melihat kepergian sahabatnya, William juga mengajak Clarissa pergi dari sana.

Sampai di kantin, Leon memesan tiga piring nasi goreng. Dia juga memesan air putih untuk Nozela.

"Nanti lo free nggak?"

Nozela tampak berpikir-pikir dulu sebelum menjawab. "Free sih. Emang kenapa Le?"

"Temenin gue kerja, cuma sebentar sih dua jam doang. Bisa?"

Nozela menatap Leon dengan mata berbinar. "Boleh?"

Leon mengangguk. "Boleh dong."

"Emang lo udah ngerjain tugas Prof Darma Zel?" Tanya Thalia.

"Tinggal dikit sih." Jawab Nozela.

"Deadlinenya kan besok."

"Nanti gue bantu kerjain kalo udah selesai pemotretan." Ucap Leon pada Nozela.

Thalia hanya mengangguk, tak lama pesanan mereka datang. Mereka langsung memakan nasi goreng seafood sambil ngobrol ringan. Hanya Nozela dan Leon yang asik berbicara, sedangkan Thalia hanya menyimak pembicaraan mereka.

"Tapi gue bawa mobil sendiri Le. Gimana dong?"

Leon menatap Thalia yang duduk di depannya. "Lo bisa bawa mobil Tha."

Thalia menggelengkan kepalanya. "Enggak. Lo ngejek gue ya?"

Leon tertawa kecil. "Kan gue nggak tahu, makanya gue tanya."

"O atau nggak gini aja, gue suruh Liam bawa aja mobilnya." Ucap Nozela.

Leon menatap gadis yang dia sukai. "Lagi-lagi Liam." Batinnya.

Nozela segera mengirim pesan pada William untuk membawa mobilnya, setelah itu dia kembali melanjutkan makannya.

Siangnya, kelas Nozela selesai pukul dua. Sesuai janjinya dengan Leon tadi dia akan menemani Leon untuk pemotretan cover majalah. Dia masuk de dalam mobil sport milik Leon.

"Kenapa?" Tanya Nozela saat Leon menatap lama wajahnya.

"Ada sesuatu di wajah gue ya Le?"

Buru-buru Nozela mengambil ponselnya untuk melihat wajahnya, dia tak ingin membuat Leon ilfeel padanya.

"Nggak ada apa-apa kok diwajah lo." Ucap Leon sambil menghentikan pergerakan tangan Nozela.

Nozela mengerutkan keningnya. "Terus, kenapa lo lihatinnya gitu banget? Gue kira-"

"Lo cantik Zel, dan gue suka."

Nozela terdiam sebentar dengan mulut sedikit terbuka, dia terkejut dengan pernyataan Leon barusan. Selama mereka dekat, Leon tak pernah mengatakan perasaannya pada Nozela, tapi kali ini berbeda.

"Le."

"Gue suka sama lo Zel." Ucap Leon dengan serius.

"Lo mau kan jadi pacar gue?"

Nozela seperti kesulitan bernafas, dia mengerjabkan matanya beberapa kali mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

"Gue nggak mimpi kan?" Gumamnya.

Plak!

"Aww." Pekik Nozela saat dengan sengaja menampar pipinya sendiri.

Leon terkekeh kecil, dia memegang tangan Nozela lalu mengelus pipinya.

"Lo nggak mimpi Zel, gue emang mau lo jadi pacar gue. Gimana? Mau nggak?"

Nozela berdehem beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya, sebenarnya dia juga suka denga Leon. Siapa sih yang nggak jatuh cinta sama bintang kampus, berprofesi sebagai model lagi.

Sekuat mungkin Nozela menahan senyumnya, dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah.

"Nggak harus dijawab sekarang kok, kapan lo siap aja. Gue bisa nunggu."

Nozela memejamkan matanya, tak lama dia mengangguk. Leon yang melihatnya merasa gemas sendiri.

"Apa Zel, kok ngangguk aja."

"Iya, gue mau." Ucap Nozela lirih.

Leon mencondongkan tubuhnya ke Nozela. "Gimana gimana, gue nggak denger."

Nozela mendongak menatap wajah Leon yang menggodanya. "Iya, gue mau jadi pacar lo."

Leon melebarkan senyumnya, dia tak tahan melihat wajah Nozela yang malu-malu. Dia pun segera membawa Nozela ke dalam pelukannya.

"Makasih ya Zel."

Nozela membalas pelukan pacar barunya itu. "Sama-sama Le."

Ting.

Terdengar suara ponsel berdenting, Leon melepaskan pelukannya lalu merogoh ponsel dari saku celanannya. Ternyata managernya yang mengirim pesan.

"Kita berangkat sekarang ya, manager gue udah chat suruh ke sana sekarang."

Nozela mengangguk, saat hendak memasang seatbelt tangannya kalah cepat dengan Leon. Sambil menatap wajah Nozela, Leon memasangkan seatbelt.

Mereka sama-sama tersenyum, setelah terdengar suara klik, Leon segera menyalakan mobilnya lalu meninggalkan fakultasnya.

Tak jauh dari keberadaan mobil Leon tadi, seorang gadis memperhatikan keduanya dari kejauhan. Dia tersenyum melihat kepergian mobil Leon.

"Mungkin gue emang ditakdirkan buat mencintai lo dalam diam Le. Gue seneng lihat lo bahagai sama pilihan lo, semoga lo bahagia." Ucapnya kemudian pergi dari sana.

Di lokasi pemotretan, Nozela berdiri di antara staf. Dia tersenyum melihat pacarnya yang terlihat semakin tampan saat bergaya di depan kamera.

"Cowok gue ganteng banget anjirr." Gumamnya.

Nozela mengeluarkan ponselnya, dia mengarahkan kameranya ke arah Leon. Setelah mendapatkan fotonya, dia memposting distory i*******m miliknya tak lupa dia menandai akun milik Leon juga.

"Oke, istirahat dulu." Ucap sang fotografer.

Leon bersama managernya kemudian pergi ke ruang rias, Nozela mengikutinya tak lama setelah Leon pergi.

"Buat lo."

Leon yang tengah duduk tersenyum saat Nozela memberikannya sebotol air mineral.

"Sini duduk."

Nozela mengangguk lalu duduk disebelah Leon, dia mengeluarkan tissunya lalu mengusap keringat di dahi serta leher Leon.

"Perasaan berAC kok keringetan sih?" Tanya Nozela.

"Gue gugup Zel, baru kali ini gue kerja ditemenin pacar." Jawab Leon menikmati elusan Nozela di wajahnya.

"Ih, gombal."

"Enggak gombal Zel. Tapi gue seneng deh ada lo disini. Bikin gue tambah semangat."

"Leon, sepuluh menit lagi sesi terakhir." Ucap Meri sang manager.

"Oke kak."

"Heyy, siapa gadis cantik ini. Baru lihat."

"Kenalin kak, ini Nozela pacar gue."

Nozela segera mengangguk lalu mengulurkan tangannya. "Nozela."

"Hai Nozela, aku Meri managernya Leon."

"Salam kenal kak." Ucap Nozela lalu melepaskan tangannya.

Setelah selesai menemani Leon pemotretan, kini mereka sedang berada di cafe untuk sekedar mengisi perut.

"Makasih ya hari ini udah nemenin."

"Iya sama-sama. Lo pasti capek kan masih harus nganterin gue pulang."

Leon tersenyum, dia meraih tangan Nozela lalu mengenggamnya erat. "Nggak kok. Gue malah seneng bisa berduaan sama lo."

Drrtt

Drrtt

"Eh bentar Le, ada telpon."

Nozela mengangkat panggilan dari mamahnya.

"Iya mah, ada apa?"

"Kamu dimana Jel?" 

"Ojel lagi di cafe, emang kenapa?"

"Ini, smooky dari tadi pagi nggak mau makan. Kayanya sakit deh."

"Apa? Kok mamah baru ngasih tau sekarang sih."

"Ya mamah nggak tau, orang mamah baru sekarang nengok anjing kamu."

"Yaudah Ojel pulang sekarang."

Tut.

"Ada apa Zel?" Tanya Leon.

"Maaf Le, gue harus pulang sekarang. Smooky sakit."

Leon mengerutkan keningnya. "Smooky? Siapa dia?"

"Itu anjing gue."

"Ya udah gue anterin pulang sekarang."

"Maaf ya ngerusak acara ngedate pertama kita."

"Nggak masalah Zel, besok masih bisa bisa kok."

Nozela bergegas pulang saat mendengar anjing kesayangannya sakit, dia begitu khawatir dengan smooky. Sampai di rumah, Leon mengikuti Nozela sampai ke dalam. Dia juga berkenalan dengan mamah Nozela juga.

"Smooky, are you oke? Kok nggak mau makan?" Tanya Nozela sambil mengelus anjing jenis beagle itu.

"Bawa ke dokter sana." Ucap Tiara.

"Mobil aku belum balik mah." Jawab Nozela tanpa menoleh.

Leon bergidik melihat kekasihnya mengelus hewan bertelinga panjang itu. Sejujurnya dia takut dengan anjing, dengan kucing pun dia juga merasa geli.

"Panggil dokter yang biasanya aja, takut keburu mati anjingnya." Ucap Tiara lagi.

Sejak tadi dia melirik teman anaknya yang tampak beberapa kali mengusap lengannya. Tiara yakin jika cowok di sampingnya ini tak menyukai anjing. Terlihat jelas dari gestur tubuhnya.

Tin.

Tin.

"Itu papah." Ucao Nozela.

Tak lama Andito keluar dari mobil, dia terkejut melihat cowok tampan berdiri di samping rumah.

"Ada apa mah?" Tanya Andito sambil mendekati istrinya.

"Anjing Ojel sakit pah."

"Sore om." Sapa Leon.

"Sore, temannya Ojel ya?"

Leon mengangguk. "Iya om, saya teman sekelasnya."

"Ayo masuk, masa tamu dibiarin di luar sih."

"Nggak usah om, saya mau pulang. Kebetulan masih ada yang harus dikerjakan." Tolak Leon sopan.

Nozela berdiri lalu mencuci tangannya. "Lo beneran mau pulang?"

Leon mengangguk. "Iya, udah sore juga."

"Hati-hati ya."

"Iya Zel."

Leon mengelus pucuk kepala Nozela sebelum pergi. "Gue pulang ya. Om tante, saya pamit pulang dulu."

"Iya nak, hati-hati ya." Ucap Tiara.

Nozela melambaikan tangannya saat mobil Leon meninggalkan pekarangan rumahnya.

"Yakin cuma temen?" Goda Andito.

"Dia pacar Ojel pah."

"Papah kira kamu pacaran sama Liam."

Di tempat lain, William berada di apartemen Clarissa. Dia sendang membujuk pacarnya yang sedang merajuk.

"Masa kamu cemburu sama Ojel sih Cal, aku udah beberapa kali bilang sama kamu kalo kita cuma sahabat. Nggak lebih."

"Nggak ada yang namanya persahabatan antara cewek dan cowok Liam, pasti salah satunya nyimpen perasaan."

William meraup wajahnya. "Enggak Cla. Buktinya aku pacaran sama kamu, bahkan kita kenal karena aku sering nyamperin Ojel ke fakultas kalian. Kalo aku suka sama dia, nggak mungkin aku pacarin kamu."

"Please lah Cla, kita udah sering bahas ini." Sambung William.

Clarissa memalingkan wajahnya, dia enggan menatap kekasihnya.

"Kalo kamu nggak suka, berarti dia yang suka."

William mendekat, dia memperlihatkan ponselnya pada Clarissa.

"Lihat story Ojel, dia tadi nemenin Leon pemotretan. Dan ini, chatan aku sama Ojel tadi." William membuka room chatnya dengan Nozela.

"Lihat, dia bilang sama aku kalo Leon nembak dia. Mereka sekarang pacaran."

Clarissa membaca dengan seksama chat antara kekasihnya dan Nozela. Isinya hanya membahas anjing dan Nozela yang di tembak Leon dua jam yang lalu.

Clarissa menatap William dengan tatapan menyesal, mungkin ini hanya perasaannya saja terlalu cemburuan.

"Kamu percaya kan sama aku?" Tanya William.

Clarissa mengangguk, tak lama William memeluk tubuh kekasihnya dengan erat.

"Maafin aku Liam."

William mengelus rambut Clarissa dengan lembut. "Aku ngerti kok."

Drrtt

Drrtt

Ponsel di genggaman William bergetar, dia melihat nama Ojel yang menghubunginya. Clarissa yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas.

"Halo Jel." William sengaja mengaktifkan pengeras suaranya.

"Sibuk nggak? Smooky sakit nih, temenin ke dokter dong

William menoleh ke arah Clarissa sebelum menjawab ajakan Nozela.

"Boleh tapi aku ikut." Ucap Clarissa.

William mengangguk. "Oke, gue ke sana sekarang."

"Mobil gue gimana?"

"Aman, dibawa Archen. Besok dikembaliin sekalian ke kampus."

"Oke, cepetan gue tunggu."

Tut.

Setelah Nozela mematikan sambungan teleponnya, William memasukkan ponselnya ke saku celana.

"Beneran mau ikut?"

Clarissa mengangguk. "Iya, mau sekalian lihat anjingnya Nozela."

"Oke. Yuk berangkat sekarang."

Clarissa mengambil tasnya lalu keluar dari apartemennya.

"Gue nggak akan biarin William cuma berduaan sama cewek gatel itu." Batin Clarissa.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Gairah Sahabatku   bab 80

    "Lun, kak Ojel kemana?"Luna yang sedang mencoba lipstick seketika menoleh ke belakang, dia kaget mendapati kakaknya yang sedang berdiri dibelakangnya. Kepalanya menoleh ke segala arah mencari keberadan Nozela."Tadi sama aku kok kak, dibelakang Luna tadi." jawab Luna sedikit panik."Tapi kakak lihat dari tadi nggak ada Lun, kakak cuma lihat kamu doang dari tadi.""Terus kak Ojel kemana dong?"Luna meletakkan tester lipstik kembali ke tempatnya, dia mengajak William keluar dari sana kemudian mencari keberadaan Nozela. Merkea berdua mengelilingi sekitar toko itu guna mencari Nozela yang entah dimana keberadaannya."Lo kemana si Jel? Baru juga gue tinggal noleh sebentar udah ilang aja." gumam William.Adanya event yang sedang berlangsung dan banyaknya kerumunan orang membuat William dan Aluna sedikit kesulitan mencari keberadaan Nozela. Mereka bahkan sampai berpencar namun masih belum menemukan Nozela. Kakak bera

  • Gairah Sahabatku   bab 79

    Nozela menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar mandi, dia memegangi dadanya yang berdetak kecang sambil memejamkan matanya. Dia sedang berusaha meredakan detak jantungnya yang menggila, semakin hari dia semakin merasakan keanehan pada dirinya ketika berdekatan dengan Wiliam. Nozela merasa ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya saat melakukan kontak fisik maupun sekedar bertatapan saja."Kok gue jadi gini sih?"Mata bulat Nozela terbuka dengan perlahan, dia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya panjang, dia melakukannya beberapa kali sampai perasaannya lebih tenang. Nozela menggigit bibir bawahnya dengan kuat agar dia kembali sadar."Gue nggak mimpi kan? Astaga Liam, lo bener-bener, arghhhhh bisa gila gue."Nozela mengacak rambutnya sendiri, dia lekas masuk ke toilet lalu membuang hajatnya yang sudah diujung tanduk. Selesai membuang air, Nozela berdiri didepan washtafel lalu mencuci tangannya. Dia juga membasuh wajahnya agar lebih segar. Nozela menat

  • Gairah Sahabatku   bab 78

    Drrtt...drrtttWilliam mengerjapkan matanya saat mendengar suara getaran ponsel disamping tubuhnya, saat dia membuka mata dia melihat Nozela yang masih tertidur dipelukannya. Perlahan William mengangkat tangannya agar tidak membangunkan Nozela, dia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya.Melihat nama kekasihnya di layar ponsel, dia segera mengangkat panggilan itu sambil menguap pelan."Halo Cla.""Liam, kamu kemana aja sih? Aku dari tadi hubungin kamu nggak diangkat aku chat juga nggak dibales."William menatap jam pada layar ponselnya yang menunjukkan pukul empat sore."Maaf sayang aku ketiduran.""Ketiduran? Kamu udah janji tadi mau ngabarin aku terus tapi kamu bohong Liam.""Aku beneran ketiduran sayang, maaf ya."Nozela begerak gelisah dalam tidurnya, dia memegang pinggangnya yang tak lagi melingkar tangan William disana. Nozela menoleh ke belakang dan melihat William sedang meng

  • Gairah Sahabatku   bab 77

    "Leon pertahankan senyum kamu." "Ya, oke." Leon dan Clarie selesai melakukan sesi pemotretan untuk brand yang bekerja sama dengan agensi mereka. Siang ini mereka akan langsung menghadiri event disebuah mall terbesar di kota itu untuk acara serupa. Keduanya kembali ke ruang make up bersamaan dengan kedua asisten mereka. "Kamu capek?" tanya Leon. "Sedikit." jawab Clarie sambil tersenyum manis. "Mer, apa habis ini kita langsung ke tempat event?" tanya Leon pada asistennya. "Acaranya masih satu jam lagi, kalian bisa istirahat dulu." "Kamu baik-baik aja Cla?" tanya asisten Clarie. Clarie mengangguk. "Aku baik-baik saja." Sampai di ruang make up, Clarie lekas duduk dikursi sambil menyandarkan tubuhnya. Tangannya menyangga kepalanya yang terasa sedikit pusing. Dia memejamkan matanya sambil sesekali memijit pelipisnya. Pekerjaan yang padat membuatnya kekurangan tidur dan lebih se

  • Gairah Sahabatku   bab 76

    Drrtt...drrrttt.. Clarissa yang hendak membuang sampah mengurungkan niatnya saat ponselnya bergetar, dia mendekat ke arah meja dan seketika tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. "Daddy." Clarissa segera mengangkat panggilan dari ayahnya. "Halo daddy." "Kamu tidak pulang? Tidak kangen daddy?" Clarissa membelakan matanya. "Daddy di rumah?" "Iya, daddy tunggu ya." "Oke daddy." Clarissa meletakkan kembali palstik sampahnya ke lantai, dia segera berlari menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamarnya. Gadis 21 tahun itu mengganti pakaianya dan mengambil tasnya lalu kembali keluar kamar. Dia meninggalkan kamar apartemennya dan bersiap pulang ke rumahnya. Sampai di basement, Clarissa masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sudah tak sabar bertemu dengan daddynya. Beb

  • Gairah Sahabatku   bab 75

    Nozela keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya, ditanganya terdapat handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dia duduk didepan meja rias lalu mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Gadis cantik itu mengeringkan rambut sambil sesekali bernyanyi kecil, hari ini senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya karena akan mneghadiri pameran buku yang salah satunya ada penulis favoritnya. Drrtt...drrttt.. Nozela menoleh ke belakang saat mendengar getaran ponslenya, dia meletakkan alat pengering rambutnya kemudian bangkit dari duduknya untuk mengambil ponselnya. Dia melebarkan senyumnya saat melihat nomor sahabatnya yang menghubunginya lewat panggilan video. Dia lekas menggeser icon hijau pada layar ponselnya dan tak lama muncul wajah Thalia. "Udah habis mandi aja nih." "Iya nih Tha, gue udah nggak sabar buat nanti." "Lo jadi berangkat sendiri Jel?" Noze

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status