LOGINClarissa tersenyum miring saat memasuki kamar mandi, niatnya ingin menggoda William sepertinya berhasil. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin besar washtafel memperhatikan setiap detail wajah serta tubuhnya yang berisi dibeberapa bagian tertentu.
"Gue lebih cantik, lebih sexy dan lebih segalanya dari gadis centil itu. Nggak akan gue biarin William deket-deket sama dia meskipun mereka sahabatan sekalipun." Ucap Clarissa pada bayangannya sendiri. Setelah cukup lama memandangi wajahnya, dia mulai membuka bathrobe mininya. Clarissa tersenyum sambil memutar-mutar tubuhnya didepan cermin. Dengan bin4lnya, Clarissa bahkan menyentuh kedua bulatan besar miliknya sendiri. "William, sebentar lagi kamu bakal jadi milik aku seutuhnya." Tak ingin berlama-lama memandangi tubuhnya, dia mulai masuk ke dalam ruangan berbentuk kotak berbahan kaca yang buram. Clarissa mulai menyalakan shower, air dingin mulai mengucur membasahi kepala hingga seluruh tubuhnya. Sambil bersenandung kecil, senyum di bibirnya tak pernah luntur sedikit pun. Clarissa mulai mengambil sabun cair beraroma bunga mawar, dia menuangkan ke atas tanganya lalu mulai menyabuni seluruh tubuhnya dengan gerakan pelan. Dia begitu menyukai aroma mawar, menurutnya baunya dapat menenangkan pikiran. Blam. Clarissa menghentikan pergerakannya, dia tersenyum smrik saat mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. "Gue tau, lo nggak bakal menolak gue kali ini Liam." Gumamnya. Clarissa sangat mencintai William, dia teringat pertama kali melihat William saat sering ke fakultasnya untuk menemui Nozela. Dia dan Nozela masih satu angkatan namun beda jurusan yang di ambil. Pertemuan tak sengajanya itu membuat William mendekatinya. Dan ya, siapa yang mampu menolak pesona cowok blasteran Amerika itu. Hanya dekat dalam hitungan minggu, William menyatakan perasaannya pada dirinya. Dan sampai sekarang, hubungan mereka sudah menginjak satu tahun. Selama itu, mereka tak pernah melakukan hal aneh-aneh seperti kebanyakan pasangan lain. Hanya sekedar kissing sampai buka-bukaan saja, tidak lebih. Dan hari ini, Clarissa akan mewujudkan keinginannya yang selama ini terpendam. Dia sampai melakukan berbagai cara agar William seutuhnya menjadi miliknya. Dia juga berharap semoga kali ini tak ada sesuatu yang menganggu kesenangannya dan William. Ceklek. Clarissa menoleh saat pintu kaca itu terbuka, dia pura-pura terkejut saat melihat William. Sebenarnya, ada sedikit keterkejutan di hatinya, karena William datang kepadanya sudah dalam keadaan tak terbalut sehelai benangpun. "William." Ucapnya. William tersenyum, perlahan dia berjalan mendekati Clarissa yang tubuhnya masih dipenuhi oleh busa. Jarak mereka hanya satu jengkal saja, William mulai mengangkat tangannya kemudian mengelus wajah mulus kekasihnya. "Cla, kamu berhasil runtuhin pertahanan yang selama ini aku bangun dengan susah payah." "Aku-" "Ssstt." William menempelkan jari telunjuknya ke bibir Clarissa. "Jangan banyak bicara baby, karena aku...." William memindai tubuh Clarissa lalu tersenyum miring. "Aku apa?" Tanya Clarissa sengaja memancing. menyentuh dada William dengan jemari lentiknya. William memejamkan matanya saat tangan dingin Clarissa mengelus dada bidangnya, miliknya merespon dengan baik saat tangan Clarissa membuat pola abstrak. Greb. Tangan kiri William mencekal tangan Clarissa. Dia mulai membuka matanya lalu menatap tajam kekasihnya. Clarissa, dia hanya tersenyum menggoda. Sesekali menggit bibirnya, di mata William itu terlihat begitu sexy. "Aku nggak tahan lagi Cla." Gumamnya. William memutar kran shower, saat air keluar dia mulai mencium bibir Clarissa dengan rakus. Melumat secara bergantian bibir atas dan bawahnya. Clarissa mengalungkan kedua lengannya ke leher William, mereka sama-sama memejamkan mata semabari menikmati ciuman itu. Busa ditubuh Clarissa mulai menghilang seiring air yang mengaliri tubuh kedua orang yang tengah asik menikmati surga dunia itu. Ciuman William turun ke leher Clarissa, meninggalkan beberapa jejak kissmark disana. Dengan sekali hentakan, tubuh Clarissa dihimpit tubuh tinggi besar dan tembok kamar mandi. "Emmhhh." William kembali membungkam bibir sexy kekasihnya, dia menyatukan kedua tangan Clarissa diatas kepala gadis itu. Tangan kanannya dia gunakan untuk mengelus serta memberi r4ngs4ng4n terhadap pahatan molek mulus didepannya. Meremas dan sesekali memilin pucuknya yang mengeras, tangan William tampak sudah lihai dengan kegiatannya. Cup. William melepaskan ciuman dan cekalan pada tangan Clarissa, ditatapnya wajah sang kekasih yang memerah. Wajah s4ng3 Clarissa membuatnya semakin tak tahan lagi. "Ahhh." William bersuara lembut saat tangan halus Clarissa menyentuh miliknya. Dia memejamkan matanya saat tangan kecil itu bergerak mengikuti nalurinya. Sensasi ini baru pertama kalinya dirasakan oleh William, meski dia pernah hidup di luar negeri namun dia begitu menjaga dirinya agar tak terjerumus pergaulan bebas. "Terus Cla, ini enak bangett." Racaunya. Clarissa tersenyum miring melihat wajah keenakan William. Dia kemudian membalik tubuh William menjadi bersandar pada tembok, Clarissa langsung berjongkok namun tak melepaskan tangannya sama sekali. "Cla." Slurpp. William menggigit bibir bawahnya saat sesuatu yang lembut, hangat dan basah menyentuh titik sensitifnya. Dia menatap ke bawah, Clarissa memberikan tatapan menggoda sambil terus memaju mundurkan wajahnya. "Ahhh." William merem melek dibuatnya, dia bahkan sampai menjambak rambut Clarissa agar tak berhenti. Dibalik wajah Clarissa yang sedikit kesakitan karena tenggorokannya terdesak benda panjang beberapa kali, namun ada kepuasan tersendiri saat berhasil mencapai titik ini. William mencabut miliknya, dia hampir kelepasan sebelum permainan inti dimulai. William menarik tangan Clarissa untuk berdiri, bibir mereka kembali bertemu. Tangan William mengelus perut bawah Clarissa hingga ke pangkal pahanya. Menggunakan jari tengahnya, dia mulai memainkan biji kekasihnya. "Emmhh." Basah, William merasakan milik Clarissa sudah terlampau siap. Dia kembali memepet tubuh Clarissa di tembok, ciumannya turun ke leher, dada lalu perut Clarissa. Turun terus hingga sampai pada milik kekasihnya. Putih dan bersih, Clarissa begitu merawatnya dengan baik. Dia mengangkat satu kaki Clarissa lalu diletakkan di pundaknya. William mendekatkan wajahnya sambil menjulurkan lidahnya, memainkan biji yang mengeras itu. "Liamhhhh." Clarissa seperti melayang saat miliknya di3mut oleh kasihnya. Tak tinggal diam, dia ikut memainkan kedua dadanya sambil terus meracau. "You're so hot baby." Ucap William. Dia merasakan kehangatan yang menyelimuti dirinya saat sentuhan lembut itu mulai menyentuh bagian yang paling sensitif. Perlahan, gerakan itu semakin cepat, membuatnya tenggelam dalam perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lidahnya terus menari dengan penuh perhatian, menghadirkan sensasi yang membuat hatinya berdebar dan pikirannya melayang jauh. "Liam, ahhhhh." Sesuatu dalam diri Clarissa mendesak seperti ingin keluar, seiring gerakan jari William yang cepat, Clarissa terus meremas dadanya. "Liam aku keluar, ahhhhhhh." William menunjukkan perhatian dan kelembutan yang mendalam pada Clarissa, membuatnya merasa dihargai dan diinginkan. Setelah itu, William membalik tubuh Clarissa dengan penuh kasih sayang, menciptakan kedekatan yang hangat di antara mereka. Mereka saling menyesuaikan diri, merasakan kehangatan dan kedekatan yang membuat suasana menjadi penuh keintiman dan kenyamanan. Blesss. "Ahhh." Ucap keduanya bersamaan. "Tunggu, kenapa gampang banget. Bukannya kalo masih virgin harusnya sempit dan susah masuk?" Batin William. "Bodo amat lah, dipikir nanti." Sambungnya dalam hati. Suasana di tempat yang tak terlalu luas itu dipenuhi oleh kehangatan dan kedekatan yang mendalam antara William dan kekasihnya. Hari ini menjadi momen istimewa bagi William, saat ia merasakan ikatan yang semakin erat dengan orang yang sangat dicintainya. Peluh yang mengalir dan kehangatan yang menyelimuti mereka menjadi saksi bisu dari kedekatan yang tumbuh di antara mereka. Setelahnya, William merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, seolah dunia berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua. "Ahh." "Ahhh." "Kamu enak banget sayang." Suara penyatuan keduanya seperti musik yang mengalun indah di telinga, William yang baru pertama merasakannya begitu menikmati setiap sentuhan serta rasa yang mereka buat bersama. Disela desahannya, Clarissa tersenyum puas karena berhasil membawa William melayang bersama. Bukan hanya sekedar ciuman atau saling menyentuh, tapi sesuatu yang lebih intim lagi. Milik William seperti disedot oleh milik Clarissa, batangnya mulai berkedut siap untuk menyemburkan laharnya. William memegangi pinggang Clarissa, dia semakin menghentak-hentakkan miliknya saat sesuatu mendesak ingin keluar. "Ahhhh." William segera mencabut miliknya dan mengeluarkannya di b0k0ng Clarissa. Nafas keduanya saling bersahutan, dadanya kembang kempis tanda mereka yang kelelahan. William memeluk tubuh Clarissa dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekasihnya. "Thanks Cla." Cup. Dia mengecup pundak mulus Clarissa."Lun, kak Ojel kemana?"Luna yang sedang mencoba lipstick seketika menoleh ke belakang, dia kaget mendapati kakaknya yang sedang berdiri dibelakangnya. Kepalanya menoleh ke segala arah mencari keberadan Nozela."Tadi sama aku kok kak, dibelakang Luna tadi." jawab Luna sedikit panik."Tapi kakak lihat dari tadi nggak ada Lun, kakak cuma lihat kamu doang dari tadi.""Terus kak Ojel kemana dong?"Luna meletakkan tester lipstik kembali ke tempatnya, dia mengajak William keluar dari sana kemudian mencari keberadaan Nozela. Merkea berdua mengelilingi sekitar toko itu guna mencari Nozela yang entah dimana keberadaannya."Lo kemana si Jel? Baru juga gue tinggal noleh sebentar udah ilang aja." gumam William.Adanya event yang sedang berlangsung dan banyaknya kerumunan orang membuat William dan Aluna sedikit kesulitan mencari keberadaan Nozela. Mereka bahkan sampai berpencar namun masih belum menemukan Nozela. Kakak bera
Nozela menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar mandi, dia memegangi dadanya yang berdetak kecang sambil memejamkan matanya. Dia sedang berusaha meredakan detak jantungnya yang menggila, semakin hari dia semakin merasakan keanehan pada dirinya ketika berdekatan dengan Wiliam. Nozela merasa ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya saat melakukan kontak fisik maupun sekedar bertatapan saja."Kok gue jadi gini sih?"Mata bulat Nozela terbuka dengan perlahan, dia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya panjang, dia melakukannya beberapa kali sampai perasaannya lebih tenang. Nozela menggigit bibir bawahnya dengan kuat agar dia kembali sadar."Gue nggak mimpi kan? Astaga Liam, lo bener-bener, arghhhhh bisa gila gue."Nozela mengacak rambutnya sendiri, dia lekas masuk ke toilet lalu membuang hajatnya yang sudah diujung tanduk. Selesai membuang air, Nozela berdiri didepan washtafel lalu mencuci tangannya. Dia juga membasuh wajahnya agar lebih segar. Nozela menat
Drrtt...drrtttWilliam mengerjapkan matanya saat mendengar suara getaran ponsel disamping tubuhnya, saat dia membuka mata dia melihat Nozela yang masih tertidur dipelukannya. Perlahan William mengangkat tangannya agar tidak membangunkan Nozela, dia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya.Melihat nama kekasihnya di layar ponsel, dia segera mengangkat panggilan itu sambil menguap pelan."Halo Cla.""Liam, kamu kemana aja sih? Aku dari tadi hubungin kamu nggak diangkat aku chat juga nggak dibales."William menatap jam pada layar ponselnya yang menunjukkan pukul empat sore."Maaf sayang aku ketiduran.""Ketiduran? Kamu udah janji tadi mau ngabarin aku terus tapi kamu bohong Liam.""Aku beneran ketiduran sayang, maaf ya."Nozela begerak gelisah dalam tidurnya, dia memegang pinggangnya yang tak lagi melingkar tangan William disana. Nozela menoleh ke belakang dan melihat William sedang meng
"Leon pertahankan senyum kamu." "Ya, oke." Leon dan Clarie selesai melakukan sesi pemotretan untuk brand yang bekerja sama dengan agensi mereka. Siang ini mereka akan langsung menghadiri event disebuah mall terbesar di kota itu untuk acara serupa. Keduanya kembali ke ruang make up bersamaan dengan kedua asisten mereka. "Kamu capek?" tanya Leon. "Sedikit." jawab Clarie sambil tersenyum manis. "Mer, apa habis ini kita langsung ke tempat event?" tanya Leon pada asistennya. "Acaranya masih satu jam lagi, kalian bisa istirahat dulu." "Kamu baik-baik aja Cla?" tanya asisten Clarie. Clarie mengangguk. "Aku baik-baik saja." Sampai di ruang make up, Clarie lekas duduk dikursi sambil menyandarkan tubuhnya. Tangannya menyangga kepalanya yang terasa sedikit pusing. Dia memejamkan matanya sambil sesekali memijit pelipisnya. Pekerjaan yang padat membuatnya kekurangan tidur dan lebih se
Drrtt...drrrttt.. Clarissa yang hendak membuang sampah mengurungkan niatnya saat ponselnya bergetar, dia mendekat ke arah meja dan seketika tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. "Daddy." Clarissa segera mengangkat panggilan dari ayahnya. "Halo daddy." "Kamu tidak pulang? Tidak kangen daddy?" Clarissa membelakan matanya. "Daddy di rumah?" "Iya, daddy tunggu ya." "Oke daddy." Clarissa meletakkan kembali palstik sampahnya ke lantai, dia segera berlari menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamarnya. Gadis 21 tahun itu mengganti pakaianya dan mengambil tasnya lalu kembali keluar kamar. Dia meninggalkan kamar apartemennya dan bersiap pulang ke rumahnya. Sampai di basement, Clarissa masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sudah tak sabar bertemu dengan daddynya. Beb
Nozela keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya, ditanganya terdapat handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dia duduk didepan meja rias lalu mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Gadis cantik itu mengeringkan rambut sambil sesekali bernyanyi kecil, hari ini senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya karena akan mneghadiri pameran buku yang salah satunya ada penulis favoritnya. Drrtt...drrttt.. Nozela menoleh ke belakang saat mendengar getaran ponslenya, dia meletakkan alat pengering rambutnya kemudian bangkit dari duduknya untuk mengambil ponselnya. Dia melebarkan senyumnya saat melihat nomor sahabatnya yang menghubunginya lewat panggilan video. Dia lekas menggeser icon hijau pada layar ponselnya dan tak lama muncul wajah Thalia. "Udah habis mandi aja nih." "Iya nih Tha, gue udah nggak sabar buat nanti." "Lo jadi berangkat sendiri Jel?" Noze







