LOGINDrrtt...drrttt
Nozela mengambil ponselnya saat mendengar ponslenya bergetar, dia melihat nama William yang menghubunginya. Memilih meletakkan lagi smooky ke dalam kandang, Nozela kemudian mengangkat panggilan dari sahabatnya.
"Halo Liam."
"Halo Jel, gimana smooky? Udah mendingan?"
"Udah sih, dia juga udah mau makan."
"Lo mau minta dibawain apa, kebetulan gue mau main."
Senyum dibibir Nozela mengembang saat mendengar William hendak main ke rumahnya.
"Kaya biasanya aja deh."
"Kelengkeng lagi? Lo nggak bosen?"
"Enggak, ya udah kalo mau ke sini. Gue mau ngurus anak gue lagi."
"Oke, kalo gitu gue matiin teleponnya."
Tut.
Nozela kembali menyimpan teleponnya saat panggilannya terputus, dia kemudian memfokuskan perhatiannya pada anjing kesayangannya.
Di tempatnya, William mengambil jaketnya kemudian memakainya, dia segera keluar dari kamar setelah selesai bersiap. William masuk ke dalam lift kemudian turun ke lantai satu, sampai di lantai satu dia melihat adiknya sedang bermain dengan anjingnya.
"Kakak mau kemana lagi udah rapi aja?" tanya Aluna.
"Mau ke rumah kak Ojel, anjingnya sakit."
"Ih Luna ikut."
"Nggak, kalo mau ke sana sendiri aja. Kakak habis dari rumah Ojel mau main sama temen-temen."
"Loh, William mau pergi lagi?" tanya Jimmy yang baru saja datang.
William menganggukkan kepalanya. "Liam mau ke rumah Ojel pah habis itu mau main sama temen."
"Kamu ini main terus yang ada dipikiran kamu." tegur Jimmy.
"Papa kaya nggak pernah muda aja." ucap William sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau gitu Liam berangkat dulu pah."
Tanpa menunggu jawaban dari papanya, William pergi begitu saja setelah berbicara. Dia lekas masuk ke dalam moilnya lalu menuju rumah sahabatnya. Sebelum ke rumah Nozela, William mampir ke toko buah untuk membelikan buah kesukaan Nozela dan juga membeli beberapa makanan ringan.
Setelah mendapatkan barangnya, William kembali melajukan mobilnya menuju rumah Nozela. Dia melirik paper bag yang ada disebelahnya sambil tersenyum, dia sedang membayangkan wajah senang sahabatnya saat medapat makanan kesukaannya nanti.
Tin..tin..
William membunyikan klakson mobilnya saat sampai didepan gerbang rumah Nozela, satpam rumah Nozela pun segera membukakan gerbang dan membiarkan dirinya masuk.
"Itu dia Ojel."
William keluar dari mobil tak lupa membawa makanan yang tadi dia beli, dia menghampiri sahabatnya yang berada dikandang smooky disamping rumah.
"Udah sore masih disini aja?"
"Mana pesenan gue?" tanya Nozela sambil menadahkan tanganya ke hadapan William.
"Cuci tangan dulu sana, lo mau ketularan sakitnya smooky?"
Nozela mendelik. "Amit-amit, enak aja kalo ngomong."
Gadis berambut sebahu itu lekas berdiri dari duduknya kemudian mencuci tangannya, selesai mencuci tangan dia kembali menghampiri William yang duduk dikursi.
"Udah nih." ucap Nozela sambil menunjukkan kedua tangannya.
William tersenyum melihat tingkah lucu Nozela. "Lo dari dulu nggak berubah ya Jel."
"Lo berharap gue jadi apa? Sailor moon?"
"Bisa aja lo."
William mengeluarkan buah kelengkeng pesanan Nozela ke atas meja. "Gue ambil mangkuk dulu."
Nozela mengangguk dan membiarkan William mengambil mangkuk. Selang beberapa menit William sudah kembali sambil membawa mangkuk dan tissue. William mulai mengupas satu persatu kelengkeng itu dan meletakkannya ke dalam mangkuk.
Nozela melihat air dari kelengkeng itu mengalir kemana-mana, dia mendekatkan tubuhnya ke arah William lalu menggulung lengan jaket William agar tidak terkena air dari kelengkeng.
"Makasih cantik."
"Apaan sih? Geli gue."
Nozela memutar bola matanya saat dipuji cantik, dia pun memilih mengabaikan William dan mulai memakan kelengkengnya. Nozela makan dengan lahap sambil tersenyum saat buah manis itu masuk ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan Jel, mulut lo kotor banget."
William mengambil tissue lalu megusapkan ke mulut Nozela yang sedikit kotor, namun degan iseng William justru mengusap seluruh wajah Nozela.
"Liam, kotor semua muka gue." seru Nozela.
William tertawa melihat Nozela yang tampak kesal dan marah.
"Lihat pah, Ojel kelihatan bahagia banget ya?" tanya Tiara pada suaminya, Andito.
"Papa jadi ingat waktu kita muda dulu mah."
Tanpa Nozela dan William sadari, sejak tadi mereka diawasi ole orang tua Nozela yang berada didekat pintu samping.
Malam harinya, selesai menemani Nozela, William memutuskan pergi ke apartemen kekasihnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Sampai diunit Clarissa, William lekas memasukkan sandi pada smartdoor lalu masuk ke dalam.
"Clarissa mana? Apa di kamar?"
William menaiki anak tangga menuju kamar Clarissa, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dia membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya William saat pintu terbuka, Clarissa sedang tak memakai apapun karena sepertinya gadis itu habis mandi dan hendak berpakaian.
"William." Ucap Clarissa terkejut.
William tak berucap sepatah kata pun, dia masuk ke dalam kamar Clarissa tak lupa menutup pintunya. Ditatapnya tubuh sang kekasih yang terlihat sangat seksi.
"Cla, kamu berhasil runtuhin pertahanan yang selama ini aku bangun dengan susah payah." racau William.
"Aku-""Ssstt." William menempelkan jari telunjuknya ke bibir Clarissa.
"Jangan banyak bicara baby, karena aku...."
William memindai tubuh Clarissa lalu tersenyum miring. "Aku apa?" Tanya Clarissa sengaja memancing. menyentuh dada William dengan jemari lentiknya. William memejamkan matanya saat tangan dingin Clarissa mengelus dada bidangnya, miliknya merespon dengan baik saat tangan Clarissa membuat pola abstrak.Greb.
Tangan kiri William mencekal tangan Clarissa. Dia mulai membuka matanya lalu menatap tajam kekasihnya. Clarissa, dia hanya tersenyum menggoda. Sesekali menggit bibirnya, di mata William itu terlihat begitu sexy.
"Aku nggak tahan lagi Cla." Gumamnya.
"Emmhhh."
William kembali membungkam bibir sexy kekasihnya, dia menyatukan kedua tangan Clarissa diatas kepala gadis itu. Tangan kanannya dia gunakan untuk mengelus serta memberi r4ngs4ng4n terhadap pahatan molek mulus didepannya.
William menunjukkan perhatian dan kelembutan yang mendalam pada Clarissa, membuatnya merasa dihargai dan diinginkan. Setelah itu, William membalik tubuh Clarissa dengan penuh kasih sayang, menciptakan kedekatan yang hangat di antara mereka. Mereka saling menyesuaikan diri, merasakan kehangatan dan kedekatan yang membuat suasana menjadi penuh keintiman dan kenyamanan.
Blesss.
"Ahhh." Ucap keduanya bersamaan.
"Tunggu, kenapa gampang banget. Bukannya kalo masih virgin harusnya sempit dan susah masuk?" Batin William.
"Bodo amat lah, dipikir nanti." Sambungnya dalam hati.
Suara penyatuan keduanya seperti musik yang mengalun indah di telinga, William yang baru pertama merasakannya begitu menikmati setiap sentuhan serta rasa yang mereka buat bersama.
"Ahhhh."
William yang sudah di puncak, mengeluarkannya di punggung Clarissa. Nafas keduanya saling bersahutan, dadanya kembang kempis tanda mereka yang kelelahan. Pria itu kemudian memeluk tubuh Clarissa dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekasihnya.
"Thanks Cla."
Cup.
Dia mengecup pundak mulus Clarissa.
Halo semua pembaca setia novel Gairah Sahabatku, gimana kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat ya.Kisah NOZELLA x WILLIAM akan dilanjut di novel selanjutnya ya, judulnya "Pengasuh Polos untuk CEO Dingin" dengan mereka yang akan muncul di pertengahan cerita + mengambil porsi besar di sana.Buat teman-teman yang sudah mendukung novel ini, author mau ucapin banyak terima kasih buat kalian. Dan maaf kalau novel dan endingnya nggak sesuai sama selera atau keinginan kalian.Kisah ini memang fokus di tokoh lain, tapi Nozella dan William akan ambil peran besar karena mereka juga jadi tokoh sampingan di sana. Author sudah nulis naskahnya sampai bab 20 dan Nozella sudah muncul di sana, kok ~^Jadi, stay tune ya, mereka bakal happy ending, kok ~Terima kasih.....
Bruk!Nozela menatap tumpukan kertas pada mejanya, dia menghela nafas panajang sambil menatap sekretarisnya dengan datar."Maafkan saya nona, ini dari tuan Andito."Ctak!Nozela meletakan pulpennya dengan kasar ke meja kerjanya, dia melepaskan kacamatanya kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Seharian ini dia sangat tak bisa menikamati waktunya karena terus berkerja, bahkan untuk makan siang saja dia berada diruanganya karena saking banyaknya pekerjaan.Ana, sekretaris Nozela merasa kasihan pada bosnya yang terus-terusan bekerja tanpa henti selama seminggu ini. Mereka bahkan sampai lembur karena harus segera menyelesaikan berkas yang harus diberikan pada Andito."Nona mau saya belikan kopi?" tanya Ana.Nozela menggelengkan kepalanya, dia memejamkan matanya sebentar lalu menghela nafasnya kasar dan berdiri dari duduknya."Anda mau kemana nona?""Jangan halangi aku Ana, aku mau menghadap tuan Andito yang terhormat itu." jawab Nozela sambil berjalan keluar dari ruanganya."Tapi nona, t
1 Tahun kemudian..."Enghh."Nozela membuka matanya, dia terkejut dan seketika bangkit dari tidurnya. Dia menatap jam di ponselnya yang sudah menunjukkan hampir jam tujuh pagi. Nozel membelakan matanya, dia lekas menyingkap selimutnya kemudian turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.Nozela mandi dengan cepat lalu masuk ke walk-in closet lalu memakai baju yang sudah dari semalam dia siapkan. Nozela memakainya dengan cepat lalu segera keluar dari ruangan itu dan mulai mengeringkan rambutnya. Dia melakukan semuanya dengan buru-buru karena waktu terus berjalan, di tak ingin terlambat di acara penting ini.Selesai mengeringkan rabutnya, Nozela kemudian merias wajahnya dan mencatok rambutnya yang sudah panjang. Selesai merias wajahnya dia tersenyum menatap pantulan wajahnya yang di depan cermin, Nozela berdiri dari duduknya kemudian berputar-butar untuk mengecek penampilannya."Selesai."Nozela tampak cantik dengan balutan d
"Selamat sore Nozela, gimana perasaan kamu hari ini?""Sore dok, saya seharian ini agak nggak mood dok." jawab Nozela."Loh, kenapa? Ada sesuatu yang menganggu kamu?"Nozela melemahkan bahunya. "Saya pengen kuliah lagi dok, saya jenuh dan bosen di rumah terus. Saya kangen main sama temen-temen, padahal saya udah baik-baik aja dok saya juga udah bisa bersentuhan lagi sama orang-orang." jelas Nozela.Dokter perempuan yang memiliki name tag bernama Teresa itu tersenyum, dia pun tiba-tiba menyentuh tangan Nozela membuat Nozela menoleh ke arahnya."Bagaimana ketika saya menyentuh kamu tiba-tiba?"Nozela menggelengkan kepalanya. "Saya tidak merasakan apa-apa lagi dok.""Benarkah?" tanya dokter dengan senyum merekah."Iya dok, itu berarti saya sudah sembuh kan dok?"Dokter melepaskan cekalan tangannya dari tangan Nozela, dia merasa senang karena salah satu pasiennya sudah sembuh. Dia pun segera menuliskan resep o
"Menyatakan terdakwa, saudara Drake Alexander dan saudari Naomi Clarissa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pelecehan seksual berencana sebagaimana dalam dakwaan primair."Tok!Tok!Tok!Palu diketuk tiga kali setelah putusan hakim selesai diucapkan, sidang dinyatakan selesai.Cleo, Marisa dan Fahmi segera menghampiri Clarissa yang sedang m
"Hari ini sidang putusan atas kasus Nozela akan dilaksanakan, apa kamu mau datang?" tanya Jimmy pada putranya.William mengelengkan kepalanya pelan. "Tidak, selesai kualiah nanti Liam mau nemenin Ojel terapi, kebetulan hari ini jadwal dia terapi.""Baiklah, nanti biar Robi yang urus semuanya."William menganggukkan kepalanya, alasan dia tak mau hadir disana adalah tak ingin melihat para pelaku yang sudah menyebabkan Nozela trauma. Dia takut kehilangan kendali saat melihat mereka apa lagi ada Clarissa juga disana.Meski Clarissa sudah melakukan kesalahan yang fatal, namun mereka sudah bersama cukup lama hingga tak mudah begitu saja dia melupakan kenangan itu. Masih ada sedikit rasa iba dihati William jika dia melihat Clarissa di persidangan, dan itu bisa membuatnya ragu.Sambil menghabiskan makanannya, Jimmy melihat wajah putaranya yang tampak murung, dia melirik istrinya yang juga saat ini sedang menatap ke arahnya."Mau tambah lagi?"







