Share

bab 4

Author: Addarayuli
last update Huling Na-update: 2025-12-02 14:11:41

Drrtt...drrttt

Nozela mengambil ponselnya saat mendengar ponslenya bergetar, dia melihat nama William yang menghubunginya. Memilih meletakkan lagi smooky ke dalam kandang, Nozela kemudian mengangkat panggilan dari sahabatnya.

"Halo Liam."

"Halo Jel, gimana smooky? Udah mendingan?"

"Udah sih, dia juga udah mau makan."

"Lo mau minta dibawain apa, kebetulan gue mau main."

Senyum dibibir Nozela mengembang saat mendengar William hendak main ke rumahnya.

"Kaya biasanya aja deh."

"Kelengkeng lagi? Lo nggak bosen?"

"Enggak, ya udah kalo mau ke sini. Gue mau ngurus anak gue lagi."

"Oke, kalo gitu gue matiin teleponnya."

Tut.

Nozela kembali menyimpan teleponnya saat panggilannya terputus, dia kemudian memfokuskan perhatiannya pada anjing kesayangannya.

Di tempatnya, William mengambil jaketnya kemudian memakainya, dia segera keluar dari kamar setelah selesai bersiap. William masuk ke dalam lift kemudian turun ke lantai satu, sampai di lantai satu dia melihat adiknya sedang bermain dengan anjingnya.

"Kakak mau kemana lagi udah rapi aja?" tanya Aluna.

"Mau ke rumah kak Ojel, anjingnya sakit."

"Ih Luna ikut."

"Nggak, kalo mau ke sana sendiri aja. Kakak habis dari rumah Ojel mau main sama temen-temen."

"Loh, William mau pergi lagi?" tanya Jimmy yang baru saja datang.

William menganggukkan kepalanya. "Liam mau ke rumah Ojel pah habis itu mau main sama temen."

"Kamu ini main terus yang ada dipikiran kamu." tegur Jimmy.

"Papa kaya nggak pernah muda aja." ucap William sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Kalau gitu Liam berangkat dulu pah."

Tanpa menunggu jawaban dari papanya, William pergi begitu saja setelah berbicara. Dia lekas masuk ke dalam moilnya lalu menuju rumah sahabatnya. Sebelum ke rumah Nozela, William mampir ke toko buah untuk membelikan buah kesukaan Nozela dan juga membeli beberapa makanan ringan.

Setelah mendapatkan barangnya, William kembali melajukan mobilnya menuju rumah Nozela. Dia melirik paper bag yang ada disebelahnya sambil tersenyum, dia sedang membayangkan wajah senang sahabatnya saat medapat makanan kesukaannya nanti.

Tin..tin..

William membunyikan klakson mobilnya saat sampai didepan gerbang rumah Nozela, satpam rumah Nozela pun segera membukakan gerbang dan membiarkan dirinya masuk.

"Itu dia Ojel."

William keluar dari mobil tak lupa membawa makanan yang tadi dia beli, dia menghampiri sahabatnya yang berada dikandang smooky disamping rumah.

"Udah sore masih disini aja?"

"Mana pesenan gue?" tanya Nozela sambil menadahkan tanganya ke hadapan William.

"Cuci tangan dulu sana, lo mau ketularan sakitnya smooky?"

Nozela mendelik. "Amit-amit, enak aja kalo ngomong."

Gadis berambut sebahu itu lekas berdiri dari duduknya kemudian mencuci tangannya, selesai mencuci tangan dia kembali menghampiri William yang duduk dikursi.

"Udah nih." ucap Nozela sambil menunjukkan kedua tangannya.

William tersenyum melihat tingkah lucu Nozela. "Lo dari dulu nggak berubah ya Jel."

"Lo berharap gue jadi apa? Sailor moon?"

"Bisa aja lo."

William mengeluarkan buah kelengkeng pesanan Nozela ke atas meja. "Gue ambil mangkuk dulu."

Nozela mengangguk dan membiarkan William mengambil mangkuk. Selang beberapa menit William sudah kembali sambil membawa mangkuk dan tissue. William mulai mengupas satu persatu kelengkeng itu dan meletakkannya ke dalam mangkuk.

Nozela melihat air dari kelengkeng itu mengalir kemana-mana, dia mendekatkan tubuhnya ke arah William lalu menggulung lengan jaket William agar tidak terkena air dari kelengkeng.

"Makasih cantik."

"Apaan sih? Geli gue."

Nozela memutar bola matanya saat dipuji cantik, dia pun memilih mengabaikan William dan mulai memakan kelengkengnya. Nozela makan dengan lahap sambil tersenyum saat buah manis itu masuk ke dalam mulutnya.

"Pelan-pelan Jel, mulut lo kotor banget."

William mengambil tissue lalu megusapkan ke mulut Nozela yang sedikit kotor, namun degan iseng William justru mengusap seluruh wajah Nozela.

"Liam, kotor semua muka gue." seru Nozela.

William tertawa melihat Nozela yang tampak kesal dan marah.

"Lihat pah, Ojel kelihatan bahagia banget ya?" tanya Tiara pada suaminya, Andito.

"Papa jadi ingat waktu kita muda dulu mah."

Tanpa Nozela dan William sadari, sejak tadi mereka diawasi ole orang tua Nozela yang berada didekat pintu samping. 

Malam harinya, selesai menemani Nozela, William memutuskan pergi ke apartemen kekasihnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Sampai diunit Clarissa, William lekas memasukkan sandi pada smartdoor lalu masuk ke dalam.

"Clarissa mana? Apa di kamar?"

William menaiki anak tangga menuju kamar Clarissa, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dia membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya William saat pintu terbuka, Clarissa sedang tak memakai apapun karena sepertinya gadis itu habis mandi dan hendak berpakaian.

"William." Ucap Clarissa terkejut.

William tak berucap sepatah kata pun, dia masuk ke dalam kamar Clarissa tak lupa menutup pintunya. Ditatapnya tubuh sang kekasih yang terlihat sangat seksi.

"Cla, kamu berhasil runtuhin pertahanan yang selama ini aku bangun dengan susah payah." racau William.

"Aku-"

"Ssstt." William menempelkan jari telunjuknya ke bibir Clarissa.

"Jangan banyak bicara baby, karena aku...."

William memindai tubuh Clarissa lalu tersenyum miring.

"Aku apa?" Tanya Clarissa sengaja memancing. menyentuh dada William dengan jemari lentiknya.

William memejamkan matanya saat tangan dingin Clarissa mengelus dada bidangnya, miliknya merespon dengan baik saat tangan Clarissa membuat pola abstrak.

Greb.

Tangan kiri William mencekal tangan Clarissa. Dia mulai membuka matanya lalu menatap tajam kekasihnya. Clarissa, dia hanya tersenyum menggoda. Sesekali menggit bibirnya, di mata William itu terlihat begitu sexy.

"Aku nggak tahan lagi Cla." Gumamnya.

"Emmhhh."

William kembali membungkam bibir sexy kekasihnya, dia menyatukan kedua tangan Clarissa diatas kepala gadis itu. Tangan kanannya dia gunakan untuk mengelus serta memberi r4ngs4ng4n terhadap pahatan molek mulus didepannya.

William menunjukkan perhatian dan kelembutan yang mendalam pada Clarissa, membuatnya merasa dihargai dan diinginkan. Setelah itu, William membalik tubuh Clarissa dengan penuh kasih sayang, menciptakan kedekatan yang hangat di antara mereka. Mereka saling menyesuaikan diri, merasakan kehangatan dan kedekatan yang membuat suasana menjadi penuh keintiman dan kenyamanan.

Blesss.

"Ahhh." Ucap keduanya bersamaan.

"Tunggu, kenapa gampang banget. Bukannya kalo masih virgin harusnya sempit dan susah masuk?" Batin William.

"Bodo amat lah, dipikir nanti." Sambungnya dalam hati.

Suara penyatuan keduanya seperti musik yang mengalun indah di telinga, William yang baru pertama merasakannya begitu menikmati setiap sentuhan serta rasa yang mereka buat bersama.

"Ahhhh."

William yang sudah di puncak, mengeluarkannya di punggung Clarissa. Nafas keduanya saling bersahutan, dadanya kembang kempis tanda mereka yang kelelahan. Pria itu kemudian memeluk tubuh Clarissa dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekasihnya.

"Thanks Cla."

Cup.

Dia mengecup pundak mulus Clarissa.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Sahabatku   bab 134

    Drrtt...ddrrttt...Thalia menoleh saat ponselnya bergetar disebelahnya, dia menatap layar ponselnya yang terdapat nama Leon."Ngapain dia telepon gue?"Dengan cepat Thalia mengangkat panggilan dari Leon."Halo.""Lo dimana?""Gue di kost, ada apa?""Bisa ketemu?"Thalia terdiam, untuk apa Leon mengajaknya bertemu di jam sekarang."Gue jemput sekarang."Tut."Eh Le, Leon."Thalia menatap layar ponsel yang panggilannya sudah terputus, dia menghela nafas panajng karena tiba-tiba Leon hendak menjemput tanpa persetujuannya. Dia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam."Ngapain dia mau ketemu gue? Apa mau bahas masalah Ojel lagi?"Thalia mulai bertanya-tanya untuk apa Leon mengajaknya bertemu, terakhir kali mereka membahas masalah dia dan Nozela. Dan saat di perpustakaan tadi dia bahkan tidak tahu apa yang dibahasnya dengan Nozela.Waktu semakin

  • Gairah Sahabatku   bab 133

    Plak!"Aw, sakit Jel. Lo main tangan mulu dari tadi." ucap William sambil mengelus keningnya yang baru saja ditabok Nozela."Masih mending gue cuma nabok kening lo ya, bukan mulut lo.""Tapi gue beneran Jel." ucap William berubah serius.William menatap kedua bola mata Nozela dengan intens tanpa berkedip sama sekali, beberapa kali tatapanya mengarah ke bibir sahabatnya yang memerah. Perlahan William mencondongkan tubuhnya ke depan hingga mereka berdekatan.Jantung Nozela berdetak dua kali lebih cepat, ditatap William seperti ini membuatnya semakin gugup dan takut. Dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan hembusan nafas William mengenai wajahnya. Nozela semakin deg-degan saat tangan William meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya."William nggak beneran kan?" batin Nozela takut.Nozela takut pasalnya bibirnya masih bengkak, jika William melakukannya lagi, dia tak bisa membayngkan akan seperti apa bentuk bibirnya.Waj

  • Gairah Sahabatku   bab 132

    Leon terdiam sambil menatap lurus kedepan, satu tangannya berada didagunya, hembusan nafas kasar terus keluar dari hidung mancungnya. Perasaannya gelisah sejak meninggalkan kampus tadi, dia tak bisa terus seperti in, merasakan ketidaknyamanan karena hubungannya yang sudah berkakhir meski dia belum menyetujui untuk putus dengan Nozela.Cahaya matahari sore menembus kaca mobilnya dan sedikit menyilaukan mata, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang kacau balau saat ini. Tangan kirinya mengenggam setir mobil dengan kencang hingga urat-uratnya terlihat jelas."Aku udah cantik belum, Le?"Hening....Clarie yang duduk dikursi sebelah Leon seketika menoleh, dia mengerutkan keningnya saat Leon hanya diam saja tanpa merespon dirinya. Dia memasukkan kembali alat makeupnya lalu mneyentuh lengan Leon.Leon terkejut, dia menoleh dan mendapati Clarie sedang menatapnya dengan tatapan bingungnya."Ada apa Clarie?""Kamu ngelamun

  • Gairah Sahabatku   bab 131

    "Kamu kenapa cemberut terus dari tadi?""Nggak papa."Clarissa menolehkan wajahnya ke samping lalu menatap keluar jendela. Sambil bersedekap dada dia terus mengerucutkan bibirnya bahkan sejak tadi dia terkesan cuek dengan William.Sambil fokus pada jalanan didepannya, William meraih tangan Clarissa lalu mengenggamnya erat."Kenapa, coba cerita sama aku." ucap William lembut.Clarissa tersenyum tipis selama beberapa detik, namun setelahnya dia berdehem pelan untuk meredakan senyumnya lalu menoleh ke arah William."Janji nggak marah?"Willim menoleh ke arah kekasihnya lalu mengangguk sambil tersenyum."Iya sayang, janji.""Ada apa? Kayanya serius banget."Sebelum bercerita, Clarissa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia kembali memasang wajah sendu dan dengan bibir mengerucut."Sebenarnya aku tadi didorong Nozela."Ckit!William menghentikan mobilnya secara mendadak saking

  • Gairah Sahabatku   bab 130

    Brugh."Aww..""Kalo jalan pake mata dong."Thalia mendongak sambil memegangi pundaknya yang terasa ngilu akibat tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, dia terkejut melihat Clarissa sedang menatapnya dengan senyum mengejek terpatri diwajah cantiknya. Dia menegakkan tubuhnya kemudian berdehem pelan."Sorry, gue nggak fokus tadi."ucap Thalia.Clarissa mendekat kemudian bersedekap dada, dia sedikit menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Thalia."Nggak sengaja? Jelas-jelas lo lihat gue tapi masih nabrak gue, lo ada dendam sama gue?"Thalia mengepalkan kedua tangannya disamping tubuhnya."Awas, gue mau pergi." lirih Thalia.Clarissa mencebikkan bibirnya sambil berjalan mundur dua langkah, dia senang karena bisa membuat lawannya kesal, apalagi seorang Thalia."Kenapa? Takut sama gue?"Clarissa menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu."Sahabat lo yang cewek gatel itu kemana tum

  • Gairah Sahabatku   bab 129

    "Kelas saya akhiri sampai disini. Dan untuk ketua kelas, saya mau tugas Nozela sudah ada dimeja saya sebelum jam sebelas siang.""Baik Prof.""Selamat pagi.""Aku harus nemuin Nozela sekarang, bagaimana pun caranya aku nggak mau putus sama dia." batin Leon.Setelah dosen keluar dari kelas, Leon segera membereskan bukunya. Pagi ini masalahnya dengan Nozela harus segera selesai dan dia bisa kembali lagi dengan Nozela, dia tak ingin hubungannya berakir begitu saja. Namun saat hendak berdiri, ponsel disaku celananya bergetar."Tck, siapa sih?" gumam Leon.Leon kembali duduk dan mengambil ponselnya, dia melihat nama mamanya yang menghubungi. Leon menghela nafas pelan, terpaksa dia mengngkat panggilan dari mamanya dulu.Kriet.Kepala Leon mendongak saat mendengar suara meja berderit, dia melihat Thalia yang nampak terburu-buru keluar dari kelas. Leon mencengkeram ponselnya dengan erat, dia menatap kepergian Thalia dengan tatapan data

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status