MasukKringgg..
Kringgg... Nozela meraba nakas dengan mata yang masih terpejam, setelah menemukan alarm yang dia cari dia segera mematikannya. Perlahan Nozela mengerjabkan matanya, meregangkan ototnya lalu bangkit. Dia menyibak selimut lalu pergi ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian, Nozela selesai membersihkan diri. Dia masuk ke walk-in closet lalu mengganti bajunya, Nozela memilih baggy jeans dipadukan dengan tanktop dan dilapisi kardigan. "Leon masih marah deh kayanya." Gumam Nozela. Nozela mematut dirinya didepan cermin, mulai mecatok rambut sebahunya lalu memoles wajahnya dengan make up tipis. "Selesai." Ucapnya setelah menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Tok Tok "Non, di tunggu temennya dibawah." "Iya bik. Sebentar." Teriak Nozela. "Temen? Siapa?" Gumamnya. Nozela segera membereskan tasnya, memakai sneakersnya lalu keluar dari kamar. Tap Tap Nozela menuruni anak tangga dengan terburu-buru, sampai di ruang tamu dia terkejut melihat Leon tengah duduk sambil memainkan ponselnya. "Leon." Panggilnya sambil berjalan mendekat. Leon menoleh, hanya menoleh saja. Tak ada senyum sama sekali, namun Nozela tetap mendekat dan duduk disampingnya. "Udah siap? Yuk berangkat." Ajaknya dengan nada datar. Nozela menelan ludahnya, Leon yang biasanya penuh senyum dan perhatian kini berubah datar. Membuat Nozela sedikit takut. "Non, sarapannya sudah siap. Tadi tuan sama nyonya berpesan katanya non boleh nggak tidur di rumah asalkan ngabarin tuan." Ucap asisten rumah tangga. "Bawain bekal aja bik, nanti Ojel makan di kampus." "Baik non, sebentar." Nozela menundukkan kepalanya, dia merasa serba salah sekarang. "Ini non bekalnya, jangan telat makan ya non nanti asam lambungnya naik." "Makasih bik. Oh iya, nanti jangan lupa kasih obat smooky ya bik." "Siap atuh non." Nozela memasukkan bekalnya ke dalam tas, dia menoleh pada Leon sebentar sebelum berjalan lebih dulu. Nozela merasa beruntung memiliki Leon, meski tak diminta dia inisiatif menjemputnya untuk berangkat bersama. Saat hendak membuka pintu mobil, tangan Leon sudah lebih dulu menarik handle mobil. "Masuk." Nozela mengangguk lalu masuk ke dalam, menyamankan duduknya lalu memasang sabuk pengaman. Leon mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Nozela. Sepanjang perjalanan menuju kampus, hanya ada keheningan di mobil mewah itu. Nozela memeilih menatap ke luar jendela, dia terlalu takut untuk memulai obrolan terlebih dulu. Drrtt Drrtt Getaran ponsel dipangkuannya mengejutkan Nozela dari lamunannya. Dia tersenyum saat melihat nama papahnya di layar ponsel. "Halo pah.""Halo sayang, sudah berangkat ke kampus?" "Udah pah, Ojel dijemput sama.." Nozela memelankan suaranya sambil sedikit melirik Leon dari ujung matanya. "Ojel sama pacar Ojel.""Maafin papah sama mamah yang nggak pamit ke kamu tadi pagi." "Nggak papa kok pah." "Emm, Pah?""Ada apa? Mau minta tambahan uang jajan?" "Tck, bukan itu. Tapi kalo mau ngasih tambahan nggak papa, rekening Ojel selalu terbuka buat di transfer.""Itu sih maunya kamu. Mau ngomong apa, hem?" "Kayanya Ojel mau nginep di kost Thalia aja deh pah, boleh ya?""Boleh aja, tapi apa nggak Thalia aja yang kamu ajak nginep di rumah?" "Coba deh nanti Ojel ajak.""Ya sudah, kalo gitu papah tutup teleponnya. Belajar yang rajin ya anak papah." "Siap pah. Jangan lupa, pulang dari luar kota bawain Ojel adek ya." Ucapnya lalu tertawa."Gampang itu. Ya udah, papah tutup." "Bay papah." Tut. Leon memperhatikan wajah kekasihnya yang terlihat lebih hidup setelah berbicara dengan papahnya, dia bisa melihat senyum Nozela yang masih terpatri di wajah cantiknya. Tak lama, mobil Leon memasuki parkiran fakultas. Dia memarkirkan mobilnya, namun dengan sengaja tak membuka kunci pintu mobil. "K-kita nggak keluar?" Tanya Nozela pelan. "Nginep di apartemen aku." Nozela membelakan matanya, dia memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap ke arah kekasihnya. "Apa? Aku nggak salah denger kan?" Leon menatap Nozela datar lalu mengangguk. "Iya, di apart aku ada dua kamar dan kamu bisa pakai salah satu." "What? Yang bener aja, masa gue satu ruangan sama Leon. Ya meskipun dia cowok gue, tapi gue takut anjir." Batin Nozela. Leon menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Nggak mau?" Nozela menggaruk keningnya. "Bukan gitu Le, tapi..gimana ya jelasinnya." "Kamu aja bisa nginep di tempat William, masa di tempat aku nggak bisa?" "Astaga Leon, kamu masih bahas itu?" Leon hanya mengedikkan bahunya acuh. "Kamu jangan salah paham Le, meskipun aku pernah nginep di rumah Liam tapi disana ada Luna sama art juga. Nggak cuma berduaan sama Liam aja, lagian aku juga niatnya nemenin Luna tidur sama dia." "Jadi kamu nolak aku?" Nozela mengerjabkan matanya beberapa kali. "Le." Klik. Terdengar suara kunci terbuka, Leon segera melepaskan seatbeltnya. Saat hendak meraih handle pintu, sebuah tangan mencekal tangannya. "Oke fine, aku nginep di apartemen kamu." Leon tersenyum penuh kemenangan. "Tapi ada satu syarat." "Apa?" "Kita...kita anu.." Nozela menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia malu hendak mengatakannya. Cup. Tubuh Nozela membeku saat sebuah bibir hangat mencium bibirnya dengan cepat. Perlahan tangannya metaba bibirnya sendiri. "First kiss gue." Batinnya. Leon kembali mendekatkan wajahnya membuat Nozela sesikit memundurkan duduknya. "First kiss kamu, hem?" Tanpa sadar Nozela mengangguk, matanya terpaku pada manik hitam Leon. Terlihat senyum manis terukir dibibir Leon, dia merasa beruntung karena menjadi yang pertama untuk Nozela. Leon semakin mendekatkan wajahny membuat Nozela sepontan memejamkan matanya, bibir mereka kembali bertemu namun hanya menempel saja. Leon memperhatikan mata Nozela yang memejam erat, dalam hati dia tersenyum geli. Tok Tok Nozela segera mendorong tubuh Leon menjauh saat mendengar kaca mobil bagian kemudi di ketuk dari luar. "A-ayo k-keluar." Ajak Nozela gugup. Leon mengangguk lalu membuka pintu mobil, dia melihat William berdiri di samping pintu mobilnya. Leon sebenarnya muak melihat wajah William, dia akui jika William sangat tampan dengan wajah blasteran seperti itu. Itu sebabnya dia takut jika Nozela mencintai sahabatnya sendiri."Liam." sapa Nozela dengan senyum ramah seperti biasanya.
William menatap Leon sebentar kemudian kembali menatap sahabatnya.
"Ada yang mau gue omongin Jel, berdua aja." ucap William.
Leon mengepalkan kedua tangannya erat, dia tahu maksud William adalah mengusirnya.
"Aku ke kelas dulu Zel." pamit Leon lalu pergi.
"Mau ngomongi apa?" tanya Nozela.
"Lo pacaran sama dia?"
Nozela meringis kecil kemudian mengangguk. "Iya, baru kemarin kita jadian."
"Kenapa nggak ngasih tahu gue?"
Nozela mengerutkan keningnya. "Harus banget laporan sama lo?"
"Harus lah."
"Ih kok maksa?"
"Iya lah, emang kamu beneran suka sama dia Jel?"
"Kalo enggak gue juga nggak bakal mau. Udah deh nanti aja tanya-tanyanya. Balik ke fakultas lo sana."
William tersenyum, dia mendekati Nozela lalu mengacak rambut gadis itu.
"WILLIAM."
William terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sedikit pusing. Dia mendesis pelan dan saat hendak mengangkat tanganya, dia tersadar jika ada sesuatu yang menindihnya. Dia menoleh kesamping dimana Clarissa sedang tidur dilengannya dengan pulas.Perlahan William menarik tangannya agar tidak membangunkan Clarissa, dia bangkit dari tidurnya lalu mengambil segelas air diatas nakas dan meminumnya. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas lalu menyalakannya. Matanya terbelak saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari kedua sahabatnya."Tumben mereka spam telepon."William mencoba mengingat-ingat kejadain tadi, namun dia hanya ingat saat datang ke apartemen kekasihya lalu minum hingga dia kehilangan kesadaran. Dia menghela nafas panjang saat ponslenya dalam mode silent.Ting.Ponsel dalam gengamannya berdenting, dia melihat sebuah pesan masuk dari sahabatnya.Lego: (send pict) ini akibat lo abaikan telepon kita.W
"Gimana, diangkat nggak?" tanya Lego.Archen menghela nafas pelan, dia menjauhkan teleponnya dari telinga lalu menggeleng pelan. Lego ikut menghela nafas kasar, mereka sudah beberapa kali mencba menghubungi sahabatnya namun William tak mengangkat panggilan mereka.Archen menyimpan ponselnya ke saku celana, dia menatap Lego lalu menganggukkan kepalanya. Mereka lalu masuk ke dalam mobil, Lego mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan apartemen miliknya."Lo yakin kita pergi tanpa William?" tanya Lego."Mau gimana lagi, dia aja nggak angkat telepon gue." jawab Archen."Lagi sama ceweknya kali, biasanya kan Clarissa suka gitu."Archen mengangguk mengiyakan. "Dia selalu ngelarang-larang Liam pergi sama kita."Lego tetawa pelan, dia sangat menyayangkan sikap William yang sangat bucin dengan kekasihnya hingga tak memiliki banyak waktu untuk mereka. Mereka bedua bukan sekali dua kali meraskan ini, maka dari itu mereka kerap mengeje
Drrtt...ddrrttt...Thalia menoleh saat ponselnya bergetar disebelahnya, dia menatap layar ponselnya yang terdapat nama Leon."Ngapain dia telepon gue?"Dengan cepat Thalia mengangkat panggilan dari Leon."Halo.""Lo dimana?""Gue di kost, ada apa?""Bisa ketemu?"Thalia terdiam, untuk apa Leon mengajaknya bertemu di jam sekarang."Gue jemput sekarang."Tut."Eh Le, Leon."Thalia menatap layar ponsel yang panggilannya sudah terputus, dia menghela nafas panajng karena tiba-tiba Leon hendak menjemput tanpa persetujuannya. Dia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam."Ngapain dia mau ketemu gue? Apa mau bahas masalah Ojel lagi?"Thalia mulai bertanya-tanya untuk apa Leon mengajaknya bertemu, terakhir kali mereka membahas masalah dia dan Nozela. Dan saat di perpustakaan tadi dia bahkan tidak tahu apa yang dibahasnya dengan Nozela.Waktu semakin
Plak!"Aw, sakit Jel. Lo main tangan mulu dari tadi." ucap William sambil mengelus keningnya yang baru saja ditabok Nozela."Masih mending gue cuma nabok kening lo ya, bukan mulut lo.""Tapi gue beneran Jel." ucap William berubah serius.William menatap kedua bola mata Nozela dengan intens tanpa berkedip sama sekali, beberapa kali tatapanya mengarah ke bibir sahabatnya yang memerah. Perlahan William mencondongkan tubuhnya ke depan hingga mereka berdekatan.Jantung Nozela berdetak dua kali lebih cepat, ditatap William seperti ini membuatnya semakin gugup dan takut. Dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan hembusan nafas William mengenai wajahnya. Nozela semakin deg-degan saat tangan William meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya."William nggak beneran kan?" batin Nozela takut.Nozela takut pasalnya bibirnya masih bengkak, jika William melakukannya lagi, dia tak bisa membayngkan akan seperti apa bentuk bibirnya.Waj
Leon terdiam sambil menatap lurus kedepan, satu tangannya berada didagunya, hembusan nafas kasar terus keluar dari hidung mancungnya. Perasaannya gelisah sejak meninggalkan kampus tadi, dia tak bisa terus seperti in, merasakan ketidaknyamanan karena hubungannya yang sudah berkakhir meski dia belum menyetujui untuk putus dengan Nozela.Cahaya matahari sore menembus kaca mobilnya dan sedikit menyilaukan mata, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang kacau balau saat ini. Tangan kirinya mengenggam setir mobil dengan kencang hingga urat-uratnya terlihat jelas."Aku udah cantik belum, Le?"Hening....Clarie yang duduk dikursi sebelah Leon seketika menoleh, dia mengerutkan keningnya saat Leon hanya diam saja tanpa merespon dirinya. Dia memasukkan kembali alat makeupnya lalu mneyentuh lengan Leon.Leon terkejut, dia menoleh dan mendapati Clarie sedang menatapnya dengan tatapan bingungnya."Ada apa Clarie?""Kamu ngelamun
"Kamu kenapa cemberut terus dari tadi?""Nggak papa."Clarissa menolehkan wajahnya ke samping lalu menatap keluar jendela. Sambil bersedekap dada dia terus mengerucutkan bibirnya bahkan sejak tadi dia terkesan cuek dengan William.Sambil fokus pada jalanan didepannya, William meraih tangan Clarissa lalu mengenggamnya erat."Kenapa, coba cerita sama aku." ucap William lembut.Clarissa tersenyum tipis selama beberapa detik, namun setelahnya dia berdehem pelan untuk meredakan senyumnya lalu menoleh ke arah William."Janji nggak marah?"Willim menoleh ke arah kekasihnya lalu mengangguk sambil tersenyum."Iya sayang, janji.""Ada apa? Kayanya serius banget."Sebelum bercerita, Clarissa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia kembali memasang wajah sendu dan dengan bibir mengerucut."Sebenarnya aku tadi didorong Nozela."Ckit!William menghentikan mobilnya secara mendadak saking







