Войти"Gue seneng banget Tha. Akhirnya Leon nembak gue."
Nozela sedang bergulung-gulung di atas ranjang queen size miliknya, dia sedang berteleponan dengan Thalia sahabatnya. Nozela ingin berbagi kabar baik ini pada sahabatnya juga.
"Selamat ya Jel, gue ikut seneng. Akhirnya lo nggak digantungin lagi sama singa."
"Tck, jangan panggil dia singa lah. Masa ganteng gitu disamain sama singa sih."
Terdengar suara tawa disebrang telepon membuat Nozela mengerucutkan bibirnya.
"Oh iya, gimana kabar smooky? Udah baikkan kan?"
"Udah Tha, udah mau makan lagi anak gue."
"Terus gimana lo sama Clarissa tadi? Akur kan?"
Nozela mendengus pelan. "Dia rese mulu, harusnya dia baik-baikin gue kalo pacaran sama sahabat gue."
"Tapi untung aja lo nggak jadi dianterin cowok baru lo, dia nggak suka anjing soalnya."
Nozela mengerutkan keningnya. "Lo tau dari mana cowok gue nggak suka anjing?" Tanya Nozela.
Hening.
Beberapa detik dia sama sekali tak mendengar suara Thalia sama sekali. Nozela memeriksa ponselnya, telepon mereka masih terhubung. Namun Thalia hanya diam
"Halo Tha. Lo masih disana kan?"
"M-masih Jel. Itu, gue tau Leon nggak suka anjing karena pernah denger aja sih."Nozela menangkap sesuatu yang aneh, dia rasa sahabatnya menyembunyikan sesuatu darinya.
"Lo tau kan seterkenal apa Leon, mereka yang ngefans sama Leon pasti bakal cari tau kan kesukaannya apa. Nah drai situ gue tau kalo dia nggak suka anjing. Ada salah satu fansnya yang ngomongin dan gue kebetulan denger."
Mencoba percaya saja, Nozela hanya mengangguk seolah Thalia melihatnya.
"Gue malah baru tau."
"Gimana sih lo, sebagai pacar yang baik itu harus tau apa yang disuka sama nggak disukai. Biar nggak terulang kejadian yang sama."
"Oke bestie, bakal gue catet kali ini."
"Terus, lo udah kerjain tugasnya belum? Dikumpul besok pagi lo."
Nozela menepuk keningnya. "Aduh, gue lupa."
"Kerjain gih sekarang. Jangan nonton petir biru mulu lo."
"Sembarangan lo, gue nggak pernah ya nonton begituan."
"Hahah iya, ya udah kerjain sana. Gue tutup telponnya."
"Bay Tha."
"Bay Ojel."
Tut.
Setelah sambungan telepon terputus, Nozela bangkit dari ranjang lalu pergi ke meja belajarnya. Mulai membuka laptopnya lalu melanjutkan tugasnya yang belum selesai.
Drrt
Drrtt
Ponsel di sampingnya kembali bergetar, kini nama Leon terpampang di layar ponselnya. Dia tersenyum lalu mengangkat panggilan video dari kekasihnya.
"Malem cantik, lagi apa?"
"Malem Le, aku lagi kerjain tugas nih. Tadi kelupaan." Ucap Nozel yang pandangannya ke arah laptop.
"Berarti aku ganggu dong?"
"Enggak kok. Nggak sama sekali, masa pacar sendiri ganggu sih."
"Coba madep sini bentar."
Nozela menghentikan ketikan pada laptopnya, dia menghadap ke arah ponselnya. Menatap Leon dengan senyum manisnya.
"Kenapa pacar? Kangen sama aku yang cantik ini?" Tanya Nozela sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Kamu lucu banget sih Zel."
Nozela mendekatkan wajahnya pada ponsel lalu mengerutkan keningnya.
Nozela menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, dia merasakan wajahnya memanas."Kok wajah cantiknya ditutupin sih Zel."
"Ihhh Leon, jangan bikin aku bullshing."
"Aku suka deh kalo kamu malu-malu gitu."Nozela melepaskan tanganya lalu menatap Leon dengan tajam.
"Tahan dulu kalo mau godain aku. Aku lanjutin dulu nugasnya.""Iya ya, maaf. Aku temenin deh sampai selesai.""Awas kalo godain lagi."
Nozela kembali fokus pada laptopnya, sembari mengetik dia juga bersenandung kecil. Selang beberapa menit, pintu kamarnya terbuka.
"Ojel, besok mamah mau nemenin papah ke Bekasi. Berangkatnya pagi-pagi banget dan pulangnya lusa, nggak papa kan dirumah sendiri?"
Nozela menoleh ke arah mamahnya. "Tck, mamah ngikut mulu perasaan. Masa Ojel sendirian lagi sih."
"Kamu bisa nginep di tempat William, mamah udah bilang sama jeng Mona."
Nozela membelakan matanya, dia lupa jika sedang video call dengan kekasihnya. Habis sudah riwayatnya jika Leon mendengar percakapan mereka.
"Udah, gampang itu mah. Sekarang mamah keluar sana, Ojel mau lanjut nugas."
"Iya, jangan tidur malem-malem."
"Oke mah."
Setelah pintu tertutup, Nozela melihat ponselnya. Leon terlihat jelas sedang kesal.
"Kamu sering nginep di rumah William?"
Nozela menggaruk alisnya lalu mengangguk pelan.
"Tapi nggak sering juga kok. Kamu tau kan kalo aku sama dia sahabatan, udah dari kecil malah. Papah aku sama papah dia sahabat juga waktu sekolah sampai sekarang."
"Kamu jangan cemburu ya Le, keluarga kita udah deket dari lama."
"Tapi aku tetep cemburu lihat kamu deket sama William Zel."
Nozela menggigit bibir bawahnya. "Tapi kan, Liam juga udah punya cewek."
Hening sejenak, Nozela menatap Leon yang nampak bad mood.
"Jangan marah." Cicit Nozela.
"Kita bahas besok, aku capek mau tidur."
Tut.
Nozela melongo melihat panggilan yang dimatikan sepihak, dia bahkan belum sempat menganggapi perkataan Leon tadi.
"Ini yakin gue diginiin?" Ucap Nozela tak percaya.
Dia menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali mengerjakan tugasnya.
"Belum juga dua puluh empat jam pacaran anjir, udah ngambekan aja."
"Liam Liam, kayanya kita nggak cocok sahabatan deh. Semuanya aja cemburu."
Sambil mengetik, Nozela terus menggerutu. Dia juga tak menyangka persahabatannya membuat semua orang tak suka.
"Nasib, jadi cewek cantik."
Selesai mengerjakan tugas, Nozela berbaring diranjang sambil memaikan ponselnya. Dia menatap pesan yang dia kirimkan ke Leon namun sampai sekarang tak kunjung dibuka. Nozela mengela nafas pelan, dia bingung bagaimana cara membujuk Leon agar tidak marah padanya.
"Padahal dia udah tahu dari awal kalo gue sahabatan sama Liam udah lama. Tapi kenapa dia marah sih?"
Pesan yang dikirim Nozela sejak dua puluh menit yang lalu masih saja belum dibuka, dia menjadi kesal sendiri karena diabaikan oleh pacar barunya.
"Bodo amat lah, gue mau tidur."
"Tante titip Nozela sama kalian ya, kalau ada apa-apa segera hubungi kami.""Iya tante, tante bisa percayakan Ojel sama kita, pokoknya om dan tante harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran dulu, Ojel aman disini sama kita. Kita bakal jagain Ojel.""Benar om tante, besok siang atau sore kalian bisa kesini lagi. Yang jelas kalian harus istirahat dulu."Tiara menatap kedua teman putrinya penuh haru, sejak dia mengenal Thalia, Thalia memang anak yang baik. Bahkan dia sudah menganggap Thalia seperti putri keduanya."Terima kasih ya kalia sudah mau membantu kami menjaga Nozela." ucap Andito.Thalia mengngguk. "Sama-sama om."Tiara menatap putrinya yang masih terdiam, dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah putrinya. Tiara sangat ingin memeluk Nozela sebelum dia pulang, namun dia sangat takut sentuhan tangannya bisa menyakiti putrinya lagi."Jel, mama pulang dulu ya. Malam ini kamu ditemani Thalia sama Fela dulu, besok mama p
Gluk.Gluk.Gluk.Archen menatap sahabatnya yang meminum alkohol dari botolnya dengan rakus, dia menghela nafas panjang kemudian menyesap minumannya.Tak.William meletakkan botol minuman bralhokol itu dengan kasar diatas meja, mata serta wajahnya sudah memerah, dia mengelap bibirnya dengan tangannya lalu menundukkan kepalanya."Lo mau habisin berapa botol lagi, Liam?" tanya Lego.Meja dihadapan mereka ada tiga botol kosong dan dua botol yang masih utuh, dan William lah yang sudah menghabiskan tiga botol itu dalam waktu kurang dari 2 jam. Mereka saat ini berada di apartemen Lego karena ajakan William. Baik Archen maupun Lego memilih mengiyakan ajakan William karena mereka tahu saat ini William sangat membutuhkan dukungan atas kesedihan yang dia alami.Lego menuangkan minuman ke gelasnya dan milik Archen, tatapannya menatap ke arah William yang masih menundukkan kepalanya. Dia merasa kasihan pada sahabatnya, saat ini pasti
Thalia menatap paper bag ditangannya yang berisi buah kelengkeng dan chees cake kesukaan sahabatnya, beberapa hari setelah kejadian yang menimpa sahabatnya dia sangat disibukkan dengan kegiatan kampus dan mengajar les. Dan hari ini dia berencana menginap di rumah sakit untuk menemani Nozela karena kebetuan besok weekend, Thalia sudah menyiapkan semuanya dan juga ingin mengganti Tiara untuk menjaga Nozela. Setelah siap, dia segera keluar dari kamar kostnya. "Udah siap Tha?" tanya Fela. Thalia mengangguk. "Udah, ayo kak." Mereka segera pergi menaiki motor Fela kemudian berangkat ke rumah sakit bersama. Thalia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nozela, dia yakin pasti Nozela akan suka dengan makanan yang dibawanya. Sampai di rumah sakit, mereka segera masuk ke lobi menuju kamar Nozela dirawat. "Tha, apa Nozela baik-baik aja?" Thalia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. "Kejadian itu buat Ojel trauma kak. Keadaan
Tok...tok.Ceklek.Pintu ruang rawat Clarissa terbuka, dua orang polwan dan satu orang polisi masuk ketika semua orang yang berada disana sedang mebereskan pakaian Clarissa. Clarissa terkejut saat melihat polisi masuk ke dalam ruangannya, dia lekas mendekati daddynya yang sedang berbicara dengan papanya."Selamat pagi."Cleo dan Fahmi bangkit dari duduknya, mereka sama terkejutnya seperti Clarissa saat melihat polisi itu masuk ke ruang rawat Clarissa. Cleo lekas menarik lengan Clarissa kemudian menyembunyikan Clarissa dibelakang tubuhnya."Selamat pagi pak." jawab Fahmi."Saya ke sini untuk membawa nona Clarissa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas kasus pelecehan seksual berencana.""Ini surat penangkapannya."Cleo menerima sebuah amplop dan mengeluarkan isinya yang dimana dalam surat itu adalah utusan penangkapan terhadap Clarissa."Tapi pak, putri saya baru saja sembuh." ucap Fahmi."Anda bisa
"Setelah pemeriksaan menyeluruh yang saya lakukan, Nozela terdeteksi mengalami trauma psikologis atas kejadian yang dia alami. Meski kejadian itu tak sampai merenggut kesuciannya dan dalam keadaan setengah sadar karena efek obat yang dia konsumsi, namun otaknya merekam jelas kejadian demi kejadian yang dialami. Hal itu menyebabkan Nozela terus mengingatnya dan memunculkan rasa trauma."Tiara tak bisa lagi menopang tubuhnya setelah mendengar penjelasan dari dokter, dia terduduk di sofa sambil menutup mulutnya sendiri. Air matanya menetes tanpa bisa dia bendung lagi, dia tak menyangka Nozela akan mengalami hal seperti ini."Apa bisa sembuh dok?" tanya Andito.Dokter mengangguk. "Tentu saja bisa tuan, dengan menjalani terapi dan dengan dukungan keluarga pasti Nozela akan cepat pulih. Namun semua pengobatannya membutuhkan proses yang sedikit panjang, jika Nozela bisa menerima dengan baik maka tak sampai menunggu lama dia akan segera pulih.""Tolong bantu putr
"Leon, kamu disini? Aku baru aja mau jenguk Drake sama kak Clarissa.""Ikut aku."Leon segera menarik tangan Clarie kemudian membwanya pergi ke koridor rumah sakit yang sepi, dia melepaskan tangan Clarie dengan kasar membuat Clarie kebingungan. Dia menoleh ke belakang dimana mamanya masih menunggunya."Ada apa Leon?"Leon menatap Clarie dengan tajam, dia mencengkeram lengan Calrie untuk menyalurkan rasa kesalnya. Clarie yang diperlakukan begitu kasar hanya bisa meringis kecil."Leon sakit.""Kamu tahu kan rencana Clarissa buat jebak Nozela sama Drake makanya kamu aku ajak pulang duluan?"Clarie mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa? Aku nggak paham sama sekali."Leon mendegus kasar. "Nggak usah belaga bodoh Clarie, aku tahu kamu sengaja bantuin kakak kamu karena kamu juga nggak suka sama Nozela kan?"Clarie merasa marah karena dituduh oleh Leon, dia akui dia memang membantu Clarissa namun dia tak tahu rencana kakaknya.
Drrtt..drrtt... William merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar, dia menghentikan langkahnya kemudian mengambil ponselnya. Tertera nama Aluna dilayar ponselnya, dia pun segera mengangkat panggilan dari adiknya itu. "Halo Lun." "Halo kak, kakak dim
"Sudah siap semuanya?"Mona dan Aluna mengangguk."Tapi Liam kemana mah? Nggak ikut?" tanya Jimmy."Kakak udah di rumah kak Ojel pah, udah dari sore sih katanya." jawab Aluna.Mona menoleh ke arah putrinya. "Dia udah di rumah Ojel, kenapa nggak bilang sama mama?"
Drrtt Drrtt Drrtt Clarissa yang tengah bersantai di tepi kolam renang merasa terganggu dengan getaran ponselnya. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja sebelahnya. Dia mengerutkan kening saat melihat nomor baru terus menelponnya.
"Kalo gue punya sodara enak kali ya, rame nih rumah." Gumam Nozela sambil menuruni anak tangga. Rumahnya yang besar terasa sunyi saat penghuni rumah sedang bepergian. Nozela menuju kandang smooky lalu membawanya keluar. "Tapi kalo gue punya sodara, kekayaan papa baka







