Share

bab 5

Author: Addarayuli
last update Huling Na-update: 2025-12-02 14:13:06

"Gue seneng banget Tha. Akhirnya Leon nembak gue."

Nozela sedang bergulung-gulung di atas ranjang queen size miliknya, dia sedang berteleponan dengan Thalia sahabatnya. Nozela ingin berbagi kabar baik ini pada sahabatnya juga.

"Selamat ya Jel, gue ikut seneng. Akhirnya lo nggak digantungin lagi sama singa."

"Tck, jangan panggil dia singa lah. Masa ganteng gitu disamain sama singa sih."

Terdengar suara tawa disebrang telepon membuat Nozela mengerucutkan bibirnya.

"Oh iya, gimana kabar smooky? Udah baikkan kan?"

"Udah Tha, udah mau makan lagi anak gue."

"Terus gimana lo sama Clarissa tadi? Akur kan?"

Nozela mendengus pelan. "Dia rese mulu, harusnya dia baik-baikin gue kalo pacaran sama sahabat gue."

"Tapi untung aja lo nggak jadi dianterin cowok baru lo, dia nggak suka anjing soalnya."

Nozela mengerutkan keningnya. "Lo tau dari mana cowok gue nggak suka anjing?" Tanya Nozela.

Hening.

Beberapa detik dia sama sekali tak mendengar suara Thalia sama sekali. Nozela memeriksa ponselnya, telepon mereka masih terhubung. Namun Thalia hanya diam

"Halo Tha. Lo masih disana kan?"

"M-masih Jel. Itu, gue tau Leon nggak suka anjing karena pernah denger aja sih."

Nozela menangkap sesuatu yang aneh, dia rasa sahabatnya menyembunyikan sesuatu darinya.

"Lo tau kan seterkenal apa Leon, mereka yang ngefans sama Leon pasti bakal cari tau kan kesukaannya apa. Nah drai situ gue tau kalo dia nggak suka anjing. Ada salah satu fansnya yang ngomongin dan gue kebetulan denger."

Mencoba percaya saja, Nozela hanya mengangguk seolah Thalia melihatnya.

"Gue malah baru tau."

"Gimana sih lo, sebagai pacar yang baik itu harus tau apa yang disuka sama nggak disukai. Biar nggak terulang kejadian yang sama."

"Oke bestie, bakal gue catet kali ini."

"Terus, lo udah kerjain tugasnya belum? Dikumpul besok pagi lo."

Nozela menepuk keningnya. "Aduh, gue lupa."

"Kerjain gih sekarang. Jangan nonton petir biru mulu lo."

"Sembarangan lo, gue nggak pernah ya nonton begituan."

"Hahah iya, ya udah kerjain sana. Gue tutup telponnya."

"Bay Tha."

"Bay Ojel."

Tut.

Setelah sambungan telepon terputus, Nozela bangkit dari ranjang lalu pergi ke meja belajarnya. Mulai membuka laptopnya lalu melanjutkan tugasnya yang belum selesai.

Drrt

Drrtt

Ponsel di sampingnya kembali bergetar, kini nama Leon terpampang di layar ponselnya. Dia tersenyum lalu mengangkat panggilan video dari kekasihnya.

"Malem cantik, lagi apa?"

"Malem Le, aku lagi kerjain tugas nih. Tadi kelupaan." Ucap Nozel yang pandangannya ke arah laptop.

"Berarti aku ganggu dong?"

"Enggak kok. Nggak sama sekali, masa pacar sendiri ganggu sih."

"Coba madep sini bentar."

Nozela menghentikan ketikan pada laptopnya, dia menghadap ke arah ponselnya. Menatap Leon dengan senyum manisnya.

"Kenapa pacar? Kangen sama aku yang cantik ini?" Tanya Nozela sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Kamu lucu banget sih Zel."

Nozela mendekatkan wajahnya pada ponsel lalu mengerutkan keningnya.

Nozela menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, dia merasakan wajahnya memanas.

"Kok wajah cantiknya ditutupin sih Zel."

"Ihhh Leon, jangan bikin aku bullshing."

"Aku suka deh kalo kamu malu-malu gitu."

Nozela melepaskan tanganya lalu menatap Leon dengan tajam.

"Tahan dulu kalo mau godain aku. Aku lanjutin dulu nugasnya."

"Iya ya, maaf. Aku temenin deh sampai selesai."

"Awas kalo godain lagi."

Nozela kembali fokus pada laptopnya, sembari mengetik dia juga bersenandung kecil. Selang beberapa menit, pintu kamarnya terbuka.

"Ojel, besok mamah mau nemenin papah ke Bekasi. Berangkatnya pagi-pagi banget dan pulangnya lusa, nggak papa kan dirumah sendiri?"

Nozela menoleh ke arah mamahnya. "Tck, mamah ngikut mulu perasaan. Masa Ojel sendirian lagi sih."

"Kamu bisa nginep di tempat William, mamah udah bilang sama jeng Mona."

Nozela membelakan matanya, dia lupa jika sedang video call dengan kekasihnya. Habis sudah riwayatnya jika Leon mendengar percakapan mereka.

"Udah, gampang itu mah. Sekarang mamah keluar sana, Ojel mau lanjut nugas."

"Iya, jangan tidur malem-malem."

"Oke mah."

Setelah pintu tertutup, Nozela melihat ponselnya. Leon terlihat jelas sedang kesal.

"Kamu sering nginep di rumah William?"

Nozela menggaruk alisnya lalu mengangguk pelan.

"Tapi nggak sering juga kok. Kamu tau kan kalo aku sama dia sahabatan, udah dari kecil malah. Papah aku sama papah dia sahabat juga waktu sekolah sampai sekarang."

"Kamu jangan cemburu ya Le, keluarga kita udah deket dari lama."

"Tapi aku tetep cemburu lihat kamu deket sama William Zel."

Nozela menggigit bibir bawahnya. "Tapi kan, Liam juga udah punya cewek."

Hening sejenak, Nozela menatap Leon yang nampak bad mood.

"Jangan marah." Cicit Nozela.

"Kita bahas besok, aku capek mau tidur."

Tut.

Nozela melongo melihat panggilan yang dimatikan sepihak, dia bahkan belum sempat menganggapi perkataan Leon tadi.

"Ini yakin gue diginiin?" Ucap Nozela tak percaya.

Dia menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali mengerjakan tugasnya.

"Belum juga dua puluh empat jam pacaran anjir, udah ngambekan aja."

"Liam Liam, kayanya kita nggak cocok sahabatan deh. Semuanya aja cemburu."

Sambil mengetik, Nozela terus menggerutu. Dia juga tak menyangka persahabatannya membuat semua orang tak suka.

"Nasib, jadi cewek cantik."

Selesai mengerjakan tugas, Nozela berbaring diranjang sambil memaikan ponselnya. Dia menatap pesan yang dia kirimkan ke Leon namun sampai sekarang tak kunjung dibuka. Nozela mengela  nafas pelan, dia bingung bagaimana cara membujuk Leon agar tidak marah padanya.

"Padahal dia udah tahu dari awal kalo gue sahabatan sama Liam udah lama. Tapi kenapa dia marah sih?"

Pesan yang dikirim Nozela sejak dua puluh menit yang lalu masih saja belum dibuka, dia menjadi kesal sendiri karena diabaikan oleh pacar barunya.

"Bodo amat lah, gue mau tidur."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Sahabatku   bab 134

    Drrtt...ddrrttt...Thalia menoleh saat ponselnya bergetar disebelahnya, dia menatap layar ponselnya yang terdapat nama Leon."Ngapain dia telepon gue?"Dengan cepat Thalia mengangkat panggilan dari Leon."Halo.""Lo dimana?""Gue di kost, ada apa?""Bisa ketemu?"Thalia terdiam, untuk apa Leon mengajaknya bertemu di jam sekarang."Gue jemput sekarang."Tut."Eh Le, Leon."Thalia menatap layar ponsel yang panggilannya sudah terputus, dia menghela nafas panajng karena tiba-tiba Leon hendak menjemput tanpa persetujuannya. Dia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam."Ngapain dia mau ketemu gue? Apa mau bahas masalah Ojel lagi?"Thalia mulai bertanya-tanya untuk apa Leon mengajaknya bertemu, terakhir kali mereka membahas masalah dia dan Nozela. Dan saat di perpustakaan tadi dia bahkan tidak tahu apa yang dibahasnya dengan Nozela.Waktu semakin

  • Gairah Sahabatku   bab 133

    Plak!"Aw, sakit Jel. Lo main tangan mulu dari tadi." ucap William sambil mengelus keningnya yang baru saja ditabok Nozela."Masih mending gue cuma nabok kening lo ya, bukan mulut lo.""Tapi gue beneran Jel." ucap William berubah serius.William menatap kedua bola mata Nozela dengan intens tanpa berkedip sama sekali, beberapa kali tatapanya mengarah ke bibir sahabatnya yang memerah. Perlahan William mencondongkan tubuhnya ke depan hingga mereka berdekatan.Jantung Nozela berdetak dua kali lebih cepat, ditatap William seperti ini membuatnya semakin gugup dan takut. Dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan hembusan nafas William mengenai wajahnya. Nozela semakin deg-degan saat tangan William meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya."William nggak beneran kan?" batin Nozela takut.Nozela takut pasalnya bibirnya masih bengkak, jika William melakukannya lagi, dia tak bisa membayngkan akan seperti apa bentuk bibirnya.Waj

  • Gairah Sahabatku   bab 132

    Leon terdiam sambil menatap lurus kedepan, satu tangannya berada didagunya, hembusan nafas kasar terus keluar dari hidung mancungnya. Perasaannya gelisah sejak meninggalkan kampus tadi, dia tak bisa terus seperti in, merasakan ketidaknyamanan karena hubungannya yang sudah berkakhir meski dia belum menyetujui untuk putus dengan Nozela.Cahaya matahari sore menembus kaca mobilnya dan sedikit menyilaukan mata, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang kacau balau saat ini. Tangan kirinya mengenggam setir mobil dengan kencang hingga urat-uratnya terlihat jelas."Aku udah cantik belum, Le?"Hening....Clarie yang duduk dikursi sebelah Leon seketika menoleh, dia mengerutkan keningnya saat Leon hanya diam saja tanpa merespon dirinya. Dia memasukkan kembali alat makeupnya lalu mneyentuh lengan Leon.Leon terkejut, dia menoleh dan mendapati Clarie sedang menatapnya dengan tatapan bingungnya."Ada apa Clarie?""Kamu ngelamun

  • Gairah Sahabatku   bab 131

    "Kamu kenapa cemberut terus dari tadi?""Nggak papa."Clarissa menolehkan wajahnya ke samping lalu menatap keluar jendela. Sambil bersedekap dada dia terus mengerucutkan bibirnya bahkan sejak tadi dia terkesan cuek dengan William.Sambil fokus pada jalanan didepannya, William meraih tangan Clarissa lalu mengenggamnya erat."Kenapa, coba cerita sama aku." ucap William lembut.Clarissa tersenyum tipis selama beberapa detik, namun setelahnya dia berdehem pelan untuk meredakan senyumnya lalu menoleh ke arah William."Janji nggak marah?"Willim menoleh ke arah kekasihnya lalu mengangguk sambil tersenyum."Iya sayang, janji.""Ada apa? Kayanya serius banget."Sebelum bercerita, Clarissa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia kembali memasang wajah sendu dan dengan bibir mengerucut."Sebenarnya aku tadi didorong Nozela."Ckit!William menghentikan mobilnya secara mendadak saking

  • Gairah Sahabatku   bab 130

    Brugh."Aww..""Kalo jalan pake mata dong."Thalia mendongak sambil memegangi pundaknya yang terasa ngilu akibat tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, dia terkejut melihat Clarissa sedang menatapnya dengan senyum mengejek terpatri diwajah cantiknya. Dia menegakkan tubuhnya kemudian berdehem pelan."Sorry, gue nggak fokus tadi."ucap Thalia.Clarissa mendekat kemudian bersedekap dada, dia sedikit menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Thalia."Nggak sengaja? Jelas-jelas lo lihat gue tapi masih nabrak gue, lo ada dendam sama gue?"Thalia mengepalkan kedua tangannya disamping tubuhnya."Awas, gue mau pergi." lirih Thalia.Clarissa mencebikkan bibirnya sambil berjalan mundur dua langkah, dia senang karena bisa membuat lawannya kesal, apalagi seorang Thalia."Kenapa? Takut sama gue?"Clarissa menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu."Sahabat lo yang cewek gatel itu kemana tum

  • Gairah Sahabatku   bab 129

    "Kelas saya akhiri sampai disini. Dan untuk ketua kelas, saya mau tugas Nozela sudah ada dimeja saya sebelum jam sebelas siang.""Baik Prof.""Selamat pagi.""Aku harus nemuin Nozela sekarang, bagaimana pun caranya aku nggak mau putus sama dia." batin Leon.Setelah dosen keluar dari kelas, Leon segera membereskan bukunya. Pagi ini masalahnya dengan Nozela harus segera selesai dan dia bisa kembali lagi dengan Nozela, dia tak ingin hubungannya berakir begitu saja. Namun saat hendak berdiri, ponsel disaku celananya bergetar."Tck, siapa sih?" gumam Leon.Leon kembali duduk dan mengambil ponselnya, dia melihat nama mamanya yang menghubungi. Leon menghela nafas pelan, terpaksa dia mengngkat panggilan dari mamanya dulu.Kriet.Kepala Leon mendongak saat mendengar suara meja berderit, dia melihat Thalia yang nampak terburu-buru keluar dari kelas. Leon mencengkeram ponselnya dengan erat, dia menatap kepergian Thalia dengan tatapan data

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status