LOGINKriet.
Leon duduk dengan kasar dikursinya, dia kesal karena tak suka melihat Nozela bersama dengan William berduaan saja di parkira.
"Apa yang mereka bicarain?" gumam Leon.
Tak lama setelah dia duduk, dia melihat Nozela masuk ke dalam kelas sambil berlari lalu menghampiri dirinya. Nozela sengaja duduk disebelah Leon yang masih terdiam.
"Leon, sarapan bareng yuk." ajak Nozela mencoba mencairkan kecanggungan diantara mereka.
Gadis cantik itu mengeluarkan bekal yang tadi dibawanya dari rumah.
"Leon." panggil Nozela lagi.
Leon menoleh, dia mneghela nafas panjang lalu menganggk.
"Aduh, pagi-pagi udah romantis aja sih." Ucap Thalia yang baru saja masuk kelas bersama teman-teman yang lain.
"Kita berasa jadi toping lela nggak sih?" Ucap salah satu teman mereka.
"Lela siapa anjir?"
Seketika teman-teman sekelas mereka tertawa, Nozela dan Leon yang semula sibuk denga dunia mereka seketika menoleh.
"Tck, lela itu singkatan nama mereka Leon dan Nozela."
Uhuk..Uhuk...
Nozela tersedak ludahnya sendiri mendengar nama yqng temannya sebutkan tadi. Leon segera membukakan Nozela air mineral lalu memberikannya.
"Pelan-pelan sayang." Ucap Leon.
Seketika suara tawa yang tadi menggema di seluruh kelas lenyap saat mereka mendengar Leon memanggil Nozela sayang.
"Dia bilang sayang nggak sih?"
"Gue juga denger anjir."
"Jadi, mereka?"
"Mereka pacaran." Ucap Thalia sambil berjalan kebangkunya.
Kelas yang tadi hening tiba-tiba kembali riuh. Suara ledekan serta siulan saling bersahut-sahutan.
"Akhirnya setelah sekian purnama kalian jadian juga."
"Enak Jel, sekarang kalo gandengan udah punya status."
"Berisik banget sih kalian." Ucap Nozela setelah selesai dengan acara tersedaknya.
"Wih, pacar Leon nih sekarang."
Teman-temannya tak berhenti meledek mereka berdua membuat wajah Nozela memerah. Meski sering digoda teman sekelas mereka, namun Nozela tak pernah semalu ini.
"Cie cie, salting. Wajahnya merah."
"Udah, udah jangan godain cewek gue." Ucap Leon.
Dia merasa kasihan sekaligus gemas melihat Nozela yang salah tingkah dan malu-malu itu.
"Gue ikut seneng lihat lo bahagia Jel." Batin Thalia.
Siang harinya dikoridor kampus...
"Ojel."
William yang hendak menjemput kekasihnya tak sengaja melihat Nozela yang berjalan bersama Leon menuju parkiran.
Nozela yang merasa dipanggil, menoleh. Dia melihat sahabatnya berjalan ke arahnya.
"Paan?"
"Kata om Andito mereka ke luar kota, jadi nginep di tempatnya Thalia?"
Nozela menoleh ke arah Leon, dia bingung harus menjawab apa pada William sekarang. Melihat raut kebingungan Nozela, membuat William mengerutkan keningnya.
"Dia nginep di tempat gue." Jawab Leon.
Nozela memelototkan kedua matanya, dia kemudian beralih menatap sahabatnya yang menatap tajam kekasihnya.
"Maksud lo apa, hah?" Seru William.
"Ehh, jangan berantem dulu." Lerai Nozela.
"Dia cewek gue, apa salahnya gue bawa dia nginep di apartemen gue."
William mengepalkan kedua tangannya. "Lo nggak bisa seenaknya ngajak Ojel ke apartemen lo. Lo gila hah?"
Wiliam maju satu langkah, namun dengan cepat Nozela menjadi tameng untuk kekasihnya.
"Stop Liam, malu dilihatin banyak orang." Lerai Nozela.
"Tapi dia udah kurang ajar, kalo om Andito tahu lo bakal dimarahin Jel."
"Lo siapa berani ngatur-ngatur Nozela?"
Rahang William mengetat, rasanya dia ingin menonjok wajah sok ganteng kekasih sahabatnya ini.
"Lo cuma sahabatnya, sedangkan gue cowoknya. Gue satu tingkat di atas lo sekarang."
"Tapi seenggaknya di rumah ada adek sama nyokap bokap gue yang bakal jagain Ojel."
Nozela merasakan telinganya berdengung saat kedua cowok itu saling berteriak di sampingnya.
"Le, Liam udah. Kenapa malah berantem kaya anak kecil sih."
"Di duluan yang mulai Jel."
"STOP!!"
Wiliam mengusap wajahnya kasar sambil memundurkan langkahnya.
"Please, kali ini aja. Biarin gue ikut Leon, oke."
"Tapi Jel-"
"Liam, please."
"Lo percaya kan sama gue?"
William mendengus kasar. "Terserah." Ucapnya acuh.
"Ayo Le."
William menatap kepergian sahabatnya, bisa dia lihat Leon menyunggingkan senyum kemenangan sebelum masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Nozela masuk ke mobilnya sendiri. Melihat dua mobil itu pergi meningalkan parkiran, William mengacak rambutnya sendir.
"Arrghh." Pekiknya kemudian pergi.
Sebelum pergi ke apartemen Leon, Nozela pulang terlebih dahulu untuk mengambil baju serta melihat keadaan anjingnya.
"Masuk dulu Le."
Leon mengangguk kemudian mengikuti langkah Nozela menuju kamar gadis itu.
"Tunggu dulu bentar, aku ambil baju aku dulu."
"Iya."
Setelah kepergian Nozela, Leon mulai memindai kamar kekasihnya yang bernuansa pastel ini. Dia melihat ada TV besar di samping rak buku. Leon berjalan ke arah meja TV, dia melihat banyak foto Nozela waktu kecil bersama seorang anak laki-laki.
"Apa dia William?" Gumamnya.
Dia juga melihat foto Nozela dan William kecil sedang duduk bersama anak kecil perempuan diantara mereka. Leon mengangkat satu figura yang memperlihatkan gadis remaja yang berulangtahun. Dia tersenyum melihat Nozela memakai gaun biru dan rambut panjangnya digerai.
"Kamu cantik juga dengan rambut panjang." Gumamnya.
"Leon."
Leon menoleh saat dipanggil Nozela. Dia tersenyum melihat kemasihnya mendekat.
"Kamu cantik." Ucapnya sambil memperhatikan foto Nozela.
"Ini ulang tahun aku ke tujuh belas. Waktu itu rambut aku masih panjang."
"Kenapa di potong?"
"Emmm, gerah aja sih. Susah tahu punya rambut panjang."
Leon mengangguk, dia kemudian meletakkan figura itu lalu mengambil figura denga tiga orang anak.
"Itu aku, Liam sama Luna. Liam punya adek saat dia masuk SMP. Kita udah temenan saat masih kecil dulu, bokap aku sama bokap dia sahabatan waktu jaman sekolah."
Mendengar penjelasan Nozela, Leon hanya mengguk. "Kamu pernah suka sama dia?"
Nozela menatap kekasihnya sambil tersenyum lalu menggeleng. "Enggak, kita cuma sahabatan aja. Setelah lulus SMP dia pindah selama tiga tahun di Amerika."
"Eh kok jadi ngomogin Liam sih. Aku mau nengok smooky dulu, kamu tunggu di depan aja. Aku cuma sebentar kok."
Leon mengangguk, dia meletakkan figura itu lalu mengikuti Nozela dari bekalang. Sampai di depan, dia melihat Nozela berjalan ke samping rumah tempat dimana kandang anjinnya berada.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Nozela datang. Mereka pun segera masuk ke mobil, Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kirinya meraih jemari Nozela lalu mengenggamnya erat, sesekali dia mencium punggung tangan kekasih barunya itu.
"Gue nggak sabar nanti malem." Batin Leon.
Drrtt...ddrrttt...Thalia menoleh saat ponselnya bergetar disebelahnya, dia menatap layar ponselnya yang terdapat nama Leon."Ngapain dia telepon gue?"Dengan cepat Thalia mengangkat panggilan dari Leon."Halo.""Lo dimana?""Gue di kost, ada apa?""Bisa ketemu?"Thalia terdiam, untuk apa Leon mengajaknya bertemu di jam sekarang."Gue jemput sekarang."Tut."Eh Le, Leon."Thalia menatap layar ponsel yang panggilannya sudah terputus, dia menghela nafas panajng karena tiba-tiba Leon hendak menjemput tanpa persetujuannya. Dia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam."Ngapain dia mau ketemu gue? Apa mau bahas masalah Ojel lagi?"Thalia mulai bertanya-tanya untuk apa Leon mengajaknya bertemu, terakhir kali mereka membahas masalah dia dan Nozela. Dan saat di perpustakaan tadi dia bahkan tidak tahu apa yang dibahasnya dengan Nozela.Waktu semakin
Plak!"Aw, sakit Jel. Lo main tangan mulu dari tadi." ucap William sambil mengelus keningnya yang baru saja ditabok Nozela."Masih mending gue cuma nabok kening lo ya, bukan mulut lo.""Tapi gue beneran Jel." ucap William berubah serius.William menatap kedua bola mata Nozela dengan intens tanpa berkedip sama sekali, beberapa kali tatapanya mengarah ke bibir sahabatnya yang memerah. Perlahan William mencondongkan tubuhnya ke depan hingga mereka berdekatan.Jantung Nozela berdetak dua kali lebih cepat, ditatap William seperti ini membuatnya semakin gugup dan takut. Dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan hembusan nafas William mengenai wajahnya. Nozela semakin deg-degan saat tangan William meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya."William nggak beneran kan?" batin Nozela takut.Nozela takut pasalnya bibirnya masih bengkak, jika William melakukannya lagi, dia tak bisa membayngkan akan seperti apa bentuk bibirnya.Waj
Leon terdiam sambil menatap lurus kedepan, satu tangannya berada didagunya, hembusan nafas kasar terus keluar dari hidung mancungnya. Perasaannya gelisah sejak meninggalkan kampus tadi, dia tak bisa terus seperti in, merasakan ketidaknyamanan karena hubungannya yang sudah berkakhir meski dia belum menyetujui untuk putus dengan Nozela.Cahaya matahari sore menembus kaca mobilnya dan sedikit menyilaukan mata, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang kacau balau saat ini. Tangan kirinya mengenggam setir mobil dengan kencang hingga urat-uratnya terlihat jelas."Aku udah cantik belum, Le?"Hening....Clarie yang duduk dikursi sebelah Leon seketika menoleh, dia mengerutkan keningnya saat Leon hanya diam saja tanpa merespon dirinya. Dia memasukkan kembali alat makeupnya lalu mneyentuh lengan Leon.Leon terkejut, dia menoleh dan mendapati Clarie sedang menatapnya dengan tatapan bingungnya."Ada apa Clarie?""Kamu ngelamun
"Kamu kenapa cemberut terus dari tadi?""Nggak papa."Clarissa menolehkan wajahnya ke samping lalu menatap keluar jendela. Sambil bersedekap dada dia terus mengerucutkan bibirnya bahkan sejak tadi dia terkesan cuek dengan William.Sambil fokus pada jalanan didepannya, William meraih tangan Clarissa lalu mengenggamnya erat."Kenapa, coba cerita sama aku." ucap William lembut.Clarissa tersenyum tipis selama beberapa detik, namun setelahnya dia berdehem pelan untuk meredakan senyumnya lalu menoleh ke arah William."Janji nggak marah?"Willim menoleh ke arah kekasihnya lalu mengangguk sambil tersenyum."Iya sayang, janji.""Ada apa? Kayanya serius banget."Sebelum bercerita, Clarissa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia kembali memasang wajah sendu dan dengan bibir mengerucut."Sebenarnya aku tadi didorong Nozela."Ckit!William menghentikan mobilnya secara mendadak saking
Brugh."Aww..""Kalo jalan pake mata dong."Thalia mendongak sambil memegangi pundaknya yang terasa ngilu akibat tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, dia terkejut melihat Clarissa sedang menatapnya dengan senyum mengejek terpatri diwajah cantiknya. Dia menegakkan tubuhnya kemudian berdehem pelan."Sorry, gue nggak fokus tadi."ucap Thalia.Clarissa mendekat kemudian bersedekap dada, dia sedikit menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Thalia."Nggak sengaja? Jelas-jelas lo lihat gue tapi masih nabrak gue, lo ada dendam sama gue?"Thalia mengepalkan kedua tangannya disamping tubuhnya."Awas, gue mau pergi." lirih Thalia.Clarissa mencebikkan bibirnya sambil berjalan mundur dua langkah, dia senang karena bisa membuat lawannya kesal, apalagi seorang Thalia."Kenapa? Takut sama gue?"Clarissa menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu."Sahabat lo yang cewek gatel itu kemana tum
"Kelas saya akhiri sampai disini. Dan untuk ketua kelas, saya mau tugas Nozela sudah ada dimeja saya sebelum jam sebelas siang.""Baik Prof.""Selamat pagi.""Aku harus nemuin Nozela sekarang, bagaimana pun caranya aku nggak mau putus sama dia." batin Leon.Setelah dosen keluar dari kelas, Leon segera membereskan bukunya. Pagi ini masalahnya dengan Nozela harus segera selesai dan dia bisa kembali lagi dengan Nozela, dia tak ingin hubungannya berakir begitu saja. Namun saat hendak berdiri, ponsel disaku celananya bergetar."Tck, siapa sih?" gumam Leon.Leon kembali duduk dan mengambil ponselnya, dia melihat nama mamanya yang menghubungi. Leon menghela nafas pelan, terpaksa dia mengngkat panggilan dari mamanya dulu.Kriet.Kepala Leon mendongak saat mendengar suara meja berderit, dia melihat Thalia yang nampak terburu-buru keluar dari kelas. Leon mencengkeram ponselnya dengan erat, dia menatap kepergian Thalia dengan tatapan data







