Share

bab 7

Author: Addarayuli
last update publish date: 2025-12-03 20:19:56

Kriet.

Leon duduk dengan kasar dikursinya, dia kesal karena tak suka melihat Nozela bersama dengan William berduaan saja di parkira.

"Apa yang mereka bicarain?" gumam Leon.

Tak lama setelah dia duduk, dia melihat Nozela masuk ke dalam kelas sambil berlari lalu menghampiri dirinya. Nozela sengaja duduk disebelah Leon yang masih terdiam.

"Leon, sarapan bareng yuk." ajak Nozela mencoba mencairkan kecanggungan diantara mereka.

Gadis cantik itu mengeluarkan bekal yang tadi dibawanya dari rumah.

"Leon." panggil Nozela lagi.

Leon menoleh, dia mneghela nafas panjang lalu menganggk.

"Aduh, pagi-pagi udah romantis aja sih." Ucap Thalia yang baru saja masuk kelas bersama teman-teman yang lain.

"Kita berasa jadi toping lela nggak sih?" Ucap salah satu teman mereka.

"Lela siapa anjir?"

Seketika teman-teman sekelas mereka tertawa, Nozela dan Leon yang semula sibuk denga dunia mereka seketika menoleh.

"Tck, lela itu singkatan nama mereka Leon dan Nozela."

Uhuk..Uhuk...

Nozela tersedak ludahnya sendiri mendengar nama yqng temannya sebutkan tadi. Leon segera membukakan Nozela air mineral lalu memberikannya.

"Pelan-pelan sayang." Ucap Leon.

Seketika suara tawa yang tadi menggema di seluruh kelas lenyap saat mereka mendengar Leon memanggil Nozela sayang.

"Dia bilang sayang nggak sih?"

"Gue juga denger anjir."

"Jadi, mereka?"

"Mereka pacaran." Ucap Thalia sambil berjalan kebangkunya.

Kelas yang tadi hening tiba-tiba kembali riuh. Suara ledekan serta siulan saling bersahut-sahutan.

"Akhirnya setelah sekian purnama kalian jadian juga."

"Enak Jel, sekarang kalo gandengan udah punya status."

"Berisik banget sih kalian." Ucap Nozela setelah selesai dengan acara tersedaknya.

"Wih, pacar Leon nih sekarang."

Teman-temannya tak berhenti meledek mereka berdua membuat wajah Nozela memerah. Meski sering digoda teman sekelas mereka, namun Nozela tak pernah semalu ini.

"Cie cie, salting. Wajahnya merah."

"Udah, udah jangan godain cewek gue." Ucap Leon.

Dia merasa kasihan sekaligus gemas melihat Nozela yang salah tingkah dan malu-malu itu.

"Gue ikut seneng lihat lo bahagia Jel." Batin Thalia.

Siang harinya dikoridor kampus...

"Ojel."

William yang hendak menjemput kekasihnya tak sengaja melihat Nozela yang berjalan bersama Leon menuju parkiran.

Nozela yang merasa dipanggil, menoleh. Dia melihat sahabatnya berjalan ke arahnya.

"Paan?"

"Kata om Andito mereka ke luar kota, jadi nginep di tempatnya Thalia?"

Nozela menoleh ke arah Leon, dia bingung harus menjawab apa pada William sekarang. Melihat raut kebingungan Nozela, membuat William mengerutkan keningnya.

"Dia nginep di tempat gue." Jawab Leon.

Nozela memelototkan kedua matanya, dia kemudian beralih menatap sahabatnya yang menatap tajam kekasihnya.

"Maksud lo apa, hah?" Seru William.

"Ehh, jangan berantem dulu." Lerai Nozela.

"Dia cewek gue, apa salahnya gue bawa dia nginep di apartemen gue."

William mengepalkan kedua tangannya. "Lo nggak bisa seenaknya ngajak Ojel ke apartemen lo. Lo gila hah?"

Wiliam maju satu langkah, namun dengan cepat Nozela menjadi tameng untuk kekasihnya.

"Stop Liam, malu dilihatin banyak orang." Lerai Nozela.

"Tapi dia udah kurang ajar, kalo om Andito tahu lo bakal dimarahin Jel."

"Lo siapa berani ngatur-ngatur Nozela?"

Rahang William mengetat, rasanya dia ingin menonjok wajah sok ganteng kekasih sahabatnya ini.

"Lo cuma sahabatnya, sedangkan gue cowoknya. Gue satu tingkat di atas lo sekarang."

"Tapi seenggaknya di rumah ada adek sama nyokap bokap gue yang bakal jagain Ojel."

Nozela merasakan telinganya berdengung saat kedua cowok itu saling berteriak di sampingnya.

"Le, Liam udah. Kenapa malah berantem kaya anak kecil sih."

"Di duluan yang mulai Jel."

"STOP!!"

Wiliam mengusap wajahnya kasar sambil memundurkan langkahnya.

"Please, kali ini aja. Biarin gue ikut Leon, oke."

"Tapi Jel-"

"Liam, please."

"Lo percaya kan sama gue?"

William mendengus kasar. "Terserah." Ucapnya acuh.

"Ayo Le."

William menatap kepergian sahabatnya, bisa dia lihat Leon menyunggingkan senyum kemenangan sebelum masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Nozela masuk ke mobilnya sendiri. Melihat dua mobil itu pergi meningalkan parkiran, William mengacak rambutnya sendir.

"Arrghh." Pekiknya kemudian pergi.

Sebelum pergi ke apartemen Leon, Nozela pulang terlebih dahulu untuk mengambil baju serta melihat keadaan anjingnya.

"Masuk dulu Le."

Leon mengangguk kemudian mengikuti langkah Nozela menuju kamar gadis itu.

"Tunggu dulu bentar, aku ambil baju aku dulu."

"Iya."

Setelah kepergian Nozela, Leon mulai memindai kamar kekasihnya yang bernuansa pastel ini. Dia melihat ada TV besar di samping rak buku. Leon berjalan ke arah meja TV, dia melihat banyak foto Nozela waktu kecil bersama seorang anak laki-laki.

"Apa dia William?" Gumamnya.

Dia juga melihat foto Nozela dan William kecil sedang duduk bersama anak kecil perempuan diantara mereka. Leon mengangkat satu figura yang memperlihatkan gadis remaja yang berulangtahun. Dia tersenyum melihat Nozela memakai gaun biru dan rambut panjangnya digerai.

"Kamu cantik juga dengan rambut panjang." Gumamnya.

"Leon."

Leon menoleh saat dipanggil Nozela. Dia tersenyum melihat kemasihnya mendekat.

"Kamu cantik." Ucapnya sambil memperhatikan foto Nozela.

"Ini ulang tahun aku ke tujuh belas. Waktu itu rambut aku masih panjang."

"Kenapa di potong?"

"Emmm, gerah aja sih. Susah tahu punya rambut panjang."

Leon mengangguk, dia kemudian meletakkan figura itu lalu mengambil figura denga tiga orang anak.

"Itu aku, Liam sama Luna. Liam punya adek saat dia masuk SMP. Kita udah temenan saat masih kecil dulu, bokap aku sama bokap dia sahabatan waktu jaman sekolah."

Mendengar penjelasan Nozela, Leon hanya mengguk. "Kamu pernah suka sama dia?"

Nozela menatap kekasihnya sambil tersenyum lalu menggeleng. "Enggak, kita cuma sahabatan aja. Setelah lulus SMP dia pindah selama tiga tahun di Amerika."

"Eh kok jadi ngomogin Liam sih. Aku mau nengok smooky dulu, kamu tunggu di depan aja. Aku cuma sebentar kok."

Leon mengangguk, dia meletakkan figura itu lalu mengikuti Nozela dari bekalang. Sampai di depan, dia melihat Nozela berjalan ke samping rumah tempat dimana kandang anjinnya berada.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Nozela datang. Mereka pun segera masuk ke mobil, Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kirinya meraih jemari Nozela lalu mengenggamnya erat, sesekali dia mencium punggung tangan kekasih barunya itu.

"Gue nggak sabar nanti malem." Batin Leon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nining
Apaan, baru pacaran dua hari leon udah ada niat busuk ni ... semoga ozel aman dan nggak kebobolan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gairah Sahabatku   Note!

    Halo semua pembaca setia novel Gairah Sahabatku, gimana kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat ya.Kisah NOZELLA x WILLIAM akan dilanjut di novel selanjutnya ya, judulnya "Pengasuh Polos untuk CEO Dingin" dengan mereka yang akan muncul di pertengahan cerita + mengambil porsi besar di sana.Buat teman-teman yang sudah mendukung novel ini, author mau ucapin banyak terima kasih buat kalian. Dan maaf kalau novel dan endingnya nggak sesuai sama selera atau keinginan kalian.Kisah ini memang fokus di tokoh lain, tapi Nozella dan William akan ambil peran besar karena mereka juga jadi tokoh sampingan di sana. Author sudah nulis naskahnya sampai bab 20 dan Nozella sudah muncul di sana, kok ~^Jadi, stay tune ya, mereka bakal happy ending, kok ~Terima kasih.....

  • Gairah Sahabatku   Extra Chapter

    Bruk!Nozela menatap tumpukan kertas pada mejanya, dia menghela nafas panajang sambil menatap sekretarisnya dengan datar."Maafkan saya nona, ini dari tuan Andito."Ctak!Nozela meletakan pulpennya dengan kasar ke meja kerjanya, dia melepaskan kacamatanya kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Seharian ini dia sangat tak bisa menikamati waktunya karena terus berkerja, bahkan untuk makan siang saja dia berada diruanganya karena saking banyaknya pekerjaan.Ana, sekretaris Nozela merasa kasihan pada bosnya yang terus-terusan bekerja tanpa henti selama seminggu ini. Mereka bahkan sampai lembur karena harus segera menyelesaikan berkas yang harus diberikan pada Andito."Nona mau saya belikan kopi?" tanya Ana.Nozela menggelengkan kepalanya, dia memejamkan matanya sebentar lalu menghela nafasnya kasar dan berdiri dari duduknya."Anda mau kemana nona?""Jangan halangi aku Ana, aku mau menghadap tuan Andito yang terhormat itu." jawab Nozela sambil berjalan keluar dari ruanganya."Tapi nona, t

  • Gairah Sahabatku   bab 250

    1 Tahun kemudian..."Enghh."Nozela membuka matanya, dia terkejut dan seketika bangkit dari tidurnya. Dia menatap jam di ponselnya yang sudah menunjukkan hampir jam tujuh pagi. Nozel membelakan matanya, dia lekas menyingkap selimutnya kemudian turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.Nozela mandi dengan cepat lalu masuk ke walk-in closet lalu memakai baju yang sudah dari semalam dia siapkan. Nozela memakainya dengan cepat lalu segera keluar dari ruangan itu dan mulai mengeringkan rambutnya. Dia melakukan semuanya dengan buru-buru karena waktu terus berjalan, di tak ingin terlambat di acara penting ini.Selesai mengeringkan rabutnya, Nozela kemudian merias wajahnya dan mencatok rambutnya yang sudah panjang. Selesai merias wajahnya dia tersenyum menatap pantulan wajahnya yang di depan cermin, Nozela berdiri dari duduknya kemudian berputar-butar untuk mengecek penampilannya."Selesai."Nozela tampak cantik dengan balutan d

  • Gairah Sahabatku   bab 249

    "Selamat sore Nozela, gimana perasaan kamu hari ini?""Sore dok, saya seharian ini agak nggak mood dok." jawab Nozela."Loh, kenapa? Ada sesuatu yang menganggu kamu?"Nozela melemahkan bahunya. "Saya pengen kuliah lagi dok, saya jenuh dan bosen di rumah terus. Saya kangen main sama temen-temen, padahal saya udah baik-baik aja dok saya juga udah bisa bersentuhan lagi sama orang-orang." jelas Nozela.Dokter perempuan yang memiliki name tag bernama Teresa itu tersenyum, dia pun tiba-tiba menyentuh tangan Nozela membuat Nozela menoleh ke arahnya."Bagaimana ketika saya menyentuh kamu tiba-tiba?"Nozela menggelengkan kepalanya. "Saya tidak merasakan apa-apa lagi dok.""Benarkah?" tanya dokter dengan senyum merekah."Iya dok, itu berarti saya sudah sembuh kan dok?"Dokter melepaskan cekalan tangannya dari tangan Nozela, dia merasa senang karena salah satu pasiennya sudah sembuh. Dia pun segera menuliskan resep o

  • Gairah Sahabatku   bab 248

    "Menyatakan terdakwa, saudara Drake Alexander dan saudari Naomi Clarissa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pelecehan seksual berencana sebagaimana dalam dakwaan primair."Tok!Tok!Tok!Palu diketuk tiga kali setelah putusan hakim selesai diucapkan, sidang dinyatakan selesai.Cleo, Marisa dan Fahmi segera menghampiri Clarissa yang sedang m

  • Gairah Sahabatku   bab 247

    "Hari ini sidang putusan atas kasus Nozela akan dilaksanakan, apa kamu mau datang?" tanya Jimmy pada putranya.William mengelengkan kepalanya pelan. "Tidak, selesai kualiah nanti Liam mau nemenin Ojel terapi, kebetulan hari ini jadwal dia terapi.""Baiklah, nanti biar Robi yang urus semuanya."William menganggukkan kepalanya, alasan dia tak mau hadir disana adalah tak ingin melihat para pelaku yang sudah menyebabkan Nozela trauma. Dia takut kehilangan kendali saat melihat mereka apa lagi ada Clarissa juga disana.Meski Clarissa sudah melakukan kesalahan yang fatal, namun mereka sudah bersama cukup lama hingga tak mudah begitu saja dia melupakan kenangan itu. Masih ada sedikit rasa iba dihati William jika dia melihat Clarissa di persidangan, dan itu bisa membuatnya ragu.Sambil menghabiskan makanannya, Jimmy melihat wajah putaranya yang tampak murung, dia melirik istrinya yang juga saat ini sedang menatap ke arahnya."Mau tambah lagi?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status