LOGIN"Selamat datang di apartemen aku Zel." Ucap Leon sambil membuka unit apartemennya.
Nozela masuk, dia mengamati apartemen mewah milik kekasihnya itu. Selain model, dia juga anak dari pengusaha yang cukup tersohor di kotanya. Leon menutup pintu yang terkunci otomatis, dia mengajak Nozela untuk duduk di sofa tak lupa mengambilkan air untuk kekasihnya. "Minum dulu Zel." "Makasih." Nozela mengambil gelas berisi air mineral itu lalu meminumnya. "Mau ke kamar sekarang?" Tanya Leon. Nozela membelakan matanya mendengar pertanyaan ambigu dari kekasihnya. Melihat ekspresi bingung kekasihnya, Leon segera menjelaskan maksud omongannya barusan. "Eh, maksud aku ke kamar kamu. Kamu jangan salah paham dulu." Nozela mengangguk. "Emang kamarnya dimana?" "Di atas. Ke sana aja yuk, sambil istirahat." "Boleh." Leon mengambil alih tas Nozela lalu mengajaknya ke kamar atas. Dia membuka pintu kamar di sebelah kamarnya. Nozela terpaku pada kamar yang begitu rapi itu. "Tapi nggak ada balkonnya, yang ada balkonnya di kamar aku." "Nggak papa kok." "Udah sore juga, mending kamu mandi dulu. Aku ke kamar aku dulu, kalo butuh sesuatu langsung masuk aja. Pintunya nggak di kunci." Nozela mengangguk. "Oke." Setelah Leon keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju tirai besar. Perlahan dia membuka tirainya, seketika sebuah dinding kaca terlihat. Pemandangan kota yang berbalut cahaya jingga nampak indah. "Ini kalo malem, pasti pemandangannya bagus banget." Gumam Nozela. Setelah puas memandangi kota lewat dinding kaca, Nozela segera masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah yang sudah nampak segar. Nozela mengambil kaos crop top hitam dengan celana levis sepaha lalu memakainya. Dia pergi ke nakas untuk mencari hair dryer namun tak menemukannya. "Di kamar Leon mungkin." Dia segera keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah, tanpa mengetuk pintu lebih dulu Nozela langsung masuk ke dalam. "Leon." Panggilnya. Matanya menatap sekeliling namun tak menemukan kekasihnya. Nozela masuk sambil beberapa kali memanggil nama kekasihnya. Terlihat pintu kamar mandi yang tertutup, Nozela mendekat lalu menempelkan telinganya ke pintu. Terdengar suara gemricik air dari dalam. "Mandi ternyata. Aku tungguin aja deh." Nozela membuka pintu balkon kamar Leon, dia berjalan keluar lalu menyandarkan tubuhnya ke pembatas besi. "Nozela. Kamu disini?" Nozela menoleh, seketika tubuhnya menegang saat melihat Leon yang hanya memakai kolor saja tanpa atasan. Handuknya disampirkan ke lehernya, bahkan rambutnya masih meneteskan air yang jatuh mengenai tubuh kekarnya. Mata Nozela menatap dada bidang serta perut Leon yang memiliki abs itu. Dia mulai merasakan wajahnya memanas, tanpa sadar dia menangkupkan kedua tangannya ke pipinya. "Zel?" Panggilan Leon membawanya ke alam sadarnya. "Kamu butuh sesuatu?" Tanya Leon sambil berjalan mendekat ke arahnya. Nozela merasakan perasaan gugup, ini pertama kalinya melihat secara langsung bentuk tubuh seseorang yang kekar dan berotot. Biasanya dia hanya melihatnya di media sosial atau drama yang sering dia tonton. "A-aku mau pinjem hairdryer. Kamu punya?" Leon mengangguk. "Ayo aku bantu keringin." Leon meraih tangan Nozela lalu mengajakanya ke samping ranjang. Dia mendudukkan Nozela di ranjangnya lalu mengambil hairdryer yaang dia simpan di laci. "Aku bantu keringin ya." Nozela mengangguk sambil tersenyum. Leon segera memposisikan tubuhnya di depan Nozela yang duduk di tepi ranjang. Dengan telaten dia mulai menyisir rambut Nozela dengan tangannya. Jantung Nozela berdegup dua kali lebih cepat, perut kotak-kotak Leon berada tepat di depan wajahnya. Aroma sabun tercium di hidungnya, khas sekali dengan bau tubuh Leon. "Tuhan, kalo cobaan bukannya harus dicobain ya?" Gumam Nozela. Kembang kempis perut serta dada Leon seolah melambai-lambai Nozela untuk menyentuhnya. "Sama-sama dosa, mending di pegang langsung aja nggak sih?" Nozela mulai berperang dengan pikirannya sendiri. Mempunyai kekasih tampan merupakan tantangan tersendiri baginya. Leon yang tengah fokus mengeringkan rambut Nozela tiba-tiba tersenyum miring, dia bisa merasakan betapa tegangnya Nozela sekarang. Dengan sengaja dia memajukan tubuhnya hingga jarak wajah Nozela dan perutnya hanya beberapa centi saja. "Eh." Tanpa sengaja Nozela memegang pinggang Leon yang terasa keras, dia mendongakkan wajahnya untuk menatap Leon. Di luar ekspektasi, Leon merinding saat tangan lembut Nozela berpegangan pada pinggangnya. "M-maaf Le." Saat hendak melepaskan tangannya, tangan kiri Leon dengan cepat menahan tangan Nozela. Mereka saling menatap dalam diam. Perlahan Leon menggerakkan tangan Nozela untuk menyentuh perutnya, mengelusnya dari atas sampai bawah. "Emh." Leon menggigit bibir bawahnya, dia mendongakkan kepalanya menahan glenyar aneh pada tubuhnya. Sedangkan Nozela, dia justru terpaku pada roti sobek kekasihnya. "Keras." Batinnya. Tersadar akan tindakan kekasihnya, Nozela melepaskan tangannya membuat Leon menghentikan aktifitasnya. "Kenapa Zel?" Tanya Leon. "A-aku..." Ctak. Nozela terkejut saat Leon meletakkan kasar hairdryer ke atas meja. Dia berjongkok di hadapan Nozela sambil menyugar rambutnya ke kebelakang. "Maaf sayang, aku kelepasan." Ucapnya. Nozela yang masih merasa canggung hanya tersenyum. Dia mengambil handuk di leher Leon lalu mulai mengusapkan pada rambut kekasihnya yang masih setengah basah. "Ini juga harus dikeringin biar nggak pusing." Ucap Nozela mulai mengalihkan perhatian. Leon tersenyum, dia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Nozela. "Perhatiannya pacar aku." "Gombal." Ucap Nozela sambil menahan senyumnya. Kryukk. Nozela memejamkan matanya, perutnya sungguh memalukan. Kenapa harus berbunyi sekarang? Leon tertawa kecil. "Kamu laper?" Nozela meringis lalu mengangguk kecil. "Sedikit." Leon berdiri lalu meletakkan handuknya ke kamar mandi, dia juga mengambil ponsel yang terletak di atas nakas lalu memberikanya pada Nozela. "Nih, pesen apapun yang kamu mau." "Boleh?" Tanya Nozela hati-hati. "Maksudnya pake ponsel kamu." Lanjut Nozela. Leon duduk di samping Nozela lalu menatap kekasihnya. "Boleh, kenapa enggak?" Leon sedikit menjeda perkataannya. "Kamu pacar aku sekarang Zel, kamu bebas melakukan apapun atau pakai apapun punya aku." Nozela memalingkan wajahnya. "Tck, seneng banget bikin anak orang salah tingkah." Meski begitu, Nozela tetap merebut ponsel Leon. Dia terkejut saat melihat wallpaper ponsel Leon adalah fotonya yang diambil secara candid saat dia berada di kelas. Nozela membalikkan tubuhnya, menatap Leon dengan tatapan menyelidik. Leon mengangkat kedua tangannya. "Nggak sengaja." "Ihh, Leon." Rengek Nozela. Meski di foto itu terlihat cantik, tapi dia juga malu. "Cantik kok." Ucap Leon. "Ih, tau ah." Nozela segera membuka aplikasi pesan antar, dia memilih beberapa menu serta memesan beberapa jajanan juga. Greb. Leon memeluk tubuh Nozela dari samping, dia menyandarkan dagunya ke pundak kekasihnya. Nozela bisa merasakan hembusan hangat nafas Leon di lehernya, seketika bulu kuduknya merinding. Cup. Leon mencuri satu kecupan di pipi Nozela. "Leon." Protes Nozela. "Aku mau tanya sesuatu sama kamu." Ucap Leon. Nozela menoleh. "Tanya apa?" "Kamu pernah pacaran sebelumnya?" "Pernah." "Waktu SMA dulu, tapi cuma beberapa bulan terus putus." Jawab Nozela. "Kenapa putus?" "Karena....." "Karena?" Tanya Leon."Bosen."
Drrtt...ddrrttt...Thalia menoleh saat ponselnya bergetar disebelahnya, dia menatap layar ponselnya yang terdapat nama Leon."Ngapain dia telepon gue?"Dengan cepat Thalia mengangkat panggilan dari Leon."Halo.""Lo dimana?""Gue di kost, ada apa?""Bisa ketemu?"Thalia terdiam, untuk apa Leon mengajaknya bertemu di jam sekarang."Gue jemput sekarang."Tut."Eh Le, Leon."Thalia menatap layar ponsel yang panggilannya sudah terputus, dia menghela nafas panajng karena tiba-tiba Leon hendak menjemput tanpa persetujuannya. Dia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam."Ngapain dia mau ketemu gue? Apa mau bahas masalah Ojel lagi?"Thalia mulai bertanya-tanya untuk apa Leon mengajaknya bertemu, terakhir kali mereka membahas masalah dia dan Nozela. Dan saat di perpustakaan tadi dia bahkan tidak tahu apa yang dibahasnya dengan Nozela.Waktu semakin
Plak!"Aw, sakit Jel. Lo main tangan mulu dari tadi." ucap William sambil mengelus keningnya yang baru saja ditabok Nozela."Masih mending gue cuma nabok kening lo ya, bukan mulut lo.""Tapi gue beneran Jel." ucap William berubah serius.William menatap kedua bola mata Nozela dengan intens tanpa berkedip sama sekali, beberapa kali tatapanya mengarah ke bibir sahabatnya yang memerah. Perlahan William mencondongkan tubuhnya ke depan hingga mereka berdekatan.Jantung Nozela berdetak dua kali lebih cepat, ditatap William seperti ini membuatnya semakin gugup dan takut. Dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan hembusan nafas William mengenai wajahnya. Nozela semakin deg-degan saat tangan William meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya."William nggak beneran kan?" batin Nozela takut.Nozela takut pasalnya bibirnya masih bengkak, jika William melakukannya lagi, dia tak bisa membayngkan akan seperti apa bentuk bibirnya.Waj
Leon terdiam sambil menatap lurus kedepan, satu tangannya berada didagunya, hembusan nafas kasar terus keluar dari hidung mancungnya. Perasaannya gelisah sejak meninggalkan kampus tadi, dia tak bisa terus seperti in, merasakan ketidaknyamanan karena hubungannya yang sudah berkakhir meski dia belum menyetujui untuk putus dengan Nozela.Cahaya matahari sore menembus kaca mobilnya dan sedikit menyilaukan mata, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang kacau balau saat ini. Tangan kirinya mengenggam setir mobil dengan kencang hingga urat-uratnya terlihat jelas."Aku udah cantik belum, Le?"Hening....Clarie yang duduk dikursi sebelah Leon seketika menoleh, dia mengerutkan keningnya saat Leon hanya diam saja tanpa merespon dirinya. Dia memasukkan kembali alat makeupnya lalu mneyentuh lengan Leon.Leon terkejut, dia menoleh dan mendapati Clarie sedang menatapnya dengan tatapan bingungnya."Ada apa Clarie?""Kamu ngelamun
"Kamu kenapa cemberut terus dari tadi?""Nggak papa."Clarissa menolehkan wajahnya ke samping lalu menatap keluar jendela. Sambil bersedekap dada dia terus mengerucutkan bibirnya bahkan sejak tadi dia terkesan cuek dengan William.Sambil fokus pada jalanan didepannya, William meraih tangan Clarissa lalu mengenggamnya erat."Kenapa, coba cerita sama aku." ucap William lembut.Clarissa tersenyum tipis selama beberapa detik, namun setelahnya dia berdehem pelan untuk meredakan senyumnya lalu menoleh ke arah William."Janji nggak marah?"Willim menoleh ke arah kekasihnya lalu mengangguk sambil tersenyum."Iya sayang, janji.""Ada apa? Kayanya serius banget."Sebelum bercerita, Clarissa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia kembali memasang wajah sendu dan dengan bibir mengerucut."Sebenarnya aku tadi didorong Nozela."Ckit!William menghentikan mobilnya secara mendadak saking
Brugh."Aww..""Kalo jalan pake mata dong."Thalia mendongak sambil memegangi pundaknya yang terasa ngilu akibat tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, dia terkejut melihat Clarissa sedang menatapnya dengan senyum mengejek terpatri diwajah cantiknya. Dia menegakkan tubuhnya kemudian berdehem pelan."Sorry, gue nggak fokus tadi."ucap Thalia.Clarissa mendekat kemudian bersedekap dada, dia sedikit menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Thalia."Nggak sengaja? Jelas-jelas lo lihat gue tapi masih nabrak gue, lo ada dendam sama gue?"Thalia mengepalkan kedua tangannya disamping tubuhnya."Awas, gue mau pergi." lirih Thalia.Clarissa mencebikkan bibirnya sambil berjalan mundur dua langkah, dia senang karena bisa membuat lawannya kesal, apalagi seorang Thalia."Kenapa? Takut sama gue?"Clarissa menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu."Sahabat lo yang cewek gatel itu kemana tum
"Kelas saya akhiri sampai disini. Dan untuk ketua kelas, saya mau tugas Nozela sudah ada dimeja saya sebelum jam sebelas siang.""Baik Prof.""Selamat pagi.""Aku harus nemuin Nozela sekarang, bagaimana pun caranya aku nggak mau putus sama dia." batin Leon.Setelah dosen keluar dari kelas, Leon segera membereskan bukunya. Pagi ini masalahnya dengan Nozela harus segera selesai dan dia bisa kembali lagi dengan Nozela, dia tak ingin hubungannya berakir begitu saja. Namun saat hendak berdiri, ponsel disaku celananya bergetar."Tck, siapa sih?" gumam Leon.Leon kembali duduk dan mengambil ponselnya, dia melihat nama mamanya yang menghubungi. Leon menghela nafas pelan, terpaksa dia mengngkat panggilan dari mamanya dulu.Kriet.Kepala Leon mendongak saat mendengar suara meja berderit, dia melihat Thalia yang nampak terburu-buru keluar dari kelas. Leon mencengkeram ponselnya dengan erat, dia menatap kepergian Thalia dengan tatapan data







