بيت / Romansa / Gairah Salah Sasaran / Bab 2 | Ini Belum Selesai

مشاركة

Bab 2 | Ini Belum Selesai

مؤلف: MAMAZAN
last update تاريخ النشر: 2026-07-13 17:39:47

Bab 2

“You're a virgin?”

"Shut up! Ini sangat sakit, Ian."

Killian tersenyum lebar, hatinya berdegup begitu cepat. Ada perasaan luar biasa yang berbeda saat ini—sebuah kepuasan yang mendadak meletup di dadanya. Dokter sedingin es yang biasanya abai pada sekitar itu kini merasakan posesif yang begitu pekat.

Ia memandangi wajah Irina yang berkerut menahan perih, lalu berbisik dengan suara rendah yang begitu menenangkan, "Serahkan padaku, hmm?"

Ia kembali melumat bibir Irina. Mereka berciuman sangat intens, lidah saling melilit, menularkan sisa rasa manis alkohol dan pekatnya gairah. Killian mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang perlahan namun dalam, memberikan waktu agar tubuh wanita di bawahnya terbiasa.

Pekikan kecil lolos dari bibir ranum Irina, "I-ian... Ini... Ah..."

Rasa sakit itu perlahan mengikis, berganti dengan desahan yang memabukkan saat sentuhan Killian menuntut akal sehatnya semakin jauh ke dasar jurang kenikmatan. "Oh my, rasanya luar biasa Ian."

Killian terus menghujam inti tubuh Irina, tangan dan mulutnya bergerak seirama membuat tubuh Irina merasakan nikmat luar biasa.

Tangan Irina mengusap dada bidang Killian, bahkan dengan berani ia memberikan gigitan kecil pada bahu kokoh pria itu saat Killian menumbuk inti tubuhnya dengan kuat.

Di bawah remang cahaya lampu kamar, mata Irina yang berkabut tanpa sengaja tertuju melihat tato besar di dada kiri hingga lengan atas Killian. Sebuah tato berbentuk siluet gagak hitam abstrak dengan garis-garis geometri yang tajam dan misterius. Tato yang tampak begitu kontras dengan citra seorang dokter.

"Ah faster I-ian! Ah..." Tubuh Irina basah, keringat mereka bercampur saat kulit mereka bergesekan dengan intim.

Killian mengukung tubuh Irina dengan erat. “Sial, ini…” Killian menggeram rendah, matanya menggelap. Ia merasakan milik Irina semakin menjepit kejantanannya dengan ketat, seolah enggan melepaskannya pergi.

“Ian… Don’t stop… Aku…” Irina mengeratkan pelukannya pada leher Killian. Ia merasakan letupan yang luar biasa di perut bagian bawah, sebuah sensasi asing yang membuatnya merinding hebat.

Tubuhnya menegang sempurna. “Iann—”

Killian tidak menjawab, ia meraup bibir Irina dan menyesap bibir wanita itu semakin kuat untuk meredam suara mereka. Pinggulnya bergerak semakin cepat dan bertenaga, membuat suara kulit mereka yang bertabrakan memenuhi ruangan yang kedap suara itu.

“Damn!” Killian menggeram kuat saat Irina mengunci tubuhnya dengan kedutan-kedutan nikmat di dalam sana.

“I-iaaann! Eunggg Akh!”

Puncak gairah itu akhirnya pecah menembus batas kesadaran mereka. Killian menghentakkan pinggulnya untuk terakhir kali secara mendalam, menumpahkan seluruh cairannya di dalam tubuh Irina bersamaan dengan tubuh wanita itu yang melengkung lemas dalam pelukannya.

Keduanya terengah-engah.

Killian tersenyum melihat wajah Irina dan mata sayup wanita cantik itu. Tatapan dingin sang dokter seolah meleleh malam ini, digantikan oleh binar kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Irina tersenyum lembut, kecantikan alaminya terpancar meski dalam kondisi berantakan. Tanpa banyak bicara, mereka kembali berciuman. Bibir mereka saling memagut dengan ritme yang lebih lamban namun sarat akan keintiman, layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta.

Kemudian Killian berbisik dengan napas panas yang berhembus di ceruk leher Irina, “Ini belum selesai.”

Irina tersenyum. Tubuhnya yang masih berada di bawah pengaruh obat seolah masih memiliki energi lebih untuk melayani permainan pria di atasnya. Tangannya bergelayut manja di leher Killian, merapatkan kembali tubuh polos mereka tanpa jarak. “I love it,” bisiknya menantang.

Seolah disiram gairah luar biasa yang membakar kewarasan, keduanya kembali bercumbu. Killian kembali memimpin permainan, menghabiskan sisa malam ini bersama Irina sampai beberapa ronde, menumpahkan segala hasrat hingga fajar menyingsing di ufuk timur.

Hingga paginya.

Irina terbangun saat cahaya matahari Monschau mulai mengintip dari sela gorden. Kepalanya terasa begitu sakit, berdenyut-denyut hebat akibat efek samping obat perangsang yang tersisa di tubuhnya. Ia memijit keningnya, mencoba mengumpulkan kesadaran.

Ia membuka mata, dan betapa terkejutnya melihat tubuhnya yang hanya ditutupi selimut putih tebal. Rasa dingin ruangan langsung menyengat kulitnya. Dengan jantung yang mulai berdegup kencang, ia mengintip ke arah dalam selimut. Matanya membelalak lebar. Ia telanjang tanpa sehelai benang pun!

Tepat saat kepanikan menyerangnya, suara gemericik air dari arah kamar mandi terdengar. Irina tersentak.

Ingatan semalam berputar cepat seperti potongan film rusak di otaknya. Gala dinner, minuman yang aneh, rekan bisnis yang kurang ajar, dan... koridor sepi. Ia akhirnya ingat jika semalam ia hampir saja celaka, sampai ada seorang pria bertubuh kekar dan bermata elang yang menolongnya. Dan sialnya, ia justru menyerahkan diri pada pria penolong itu karena tubuhnya yang terlampau panas.

Irina menggigit bibir bawahnya, menatap cemas ke arah pintu kaca buram kamar mandi yang menampilkan siluet samar sosok pria yang sedang membersihkan diri di bawah shower.

Namun, Irina segera menarik kembali kesadaran dirinya. Ia tidak boleh terjebak dalam situasi memalukan ini. Ia tidak tahu siapa pria itu, dan ia tidak mau terlibat masalah rumit di kota terpencil ini.

Dengan cepat ia berniat bangun dari ranjang. “Aoch!” Irina memekik pelan dan langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan.

Inti tubuhnya terasa nyeri dan luar biasa perih, membuatnya tersadar betapa intensnya permainan mereka semalam. Menahan rasa sakit di pangkal pahanya, ia melihat ke sekeliling kamar yang berantakan. Pakaiannya berserakan di lantai.

Dengan sedikit kesulitan dan langkah yang gemetar, Irina turun dari kasur, meraih gaun hitam miliknya yang robek sedikit di bagian resleting, lalu buru-buru memakainya kembali. Matanya kemudian menangkap sebuah pulpen dan secarik kertas kecil di atas meja nakas.

Buru-buru Irina mengambil kertas kecil tersebut dan menuliskan beberapa kata dengan tulisan tangan yang tegas.

Irina meletakkan kertas itu di atas bantal yang sempat ia gunakan, tepat di samping bercak merah yang samar di seprai yang tidak sengaja ia lihat—membuat dadanya berdesir aneh. Tanpa menoleh lagi, dengan langkah berjingkat ia berjalan keluar kamar dengan senyap, menutup pintu suite mewah itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

“Dokter Irish?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (3)
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Deg-degan gimana nasib Irina
goodnovel comment avatar
Ratu As
🫦🫦🫦🫦 gimana ya respon Ian kalau tahu itu bukan dokter Irish
goodnovel comment avatar
NING
Padahal itu bukan Irish. Kasihan. Salah orang
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 150 | (21+) Batas Moral

    Ciuman itu terkesan liar, menuntut, dan penuh keterdesakan. Killian menyesap dan memagut bibir Irina tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas. Irina yang semula hendak memberontak, mendadak kelabakan. Sentuhan intens dan napas hangat Killian yang membakar perlahan mengikis akal sehatnya, memancing Irina untuk ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang menggelap.​Tanpa melepaskan pagutannya yang makin dalam, jemari Killian yang lapar bergerak cepat meraih tuas di samping jok pengemudi, memundurkan kursi kemudinya ke belakang untuk memberi ruang lebih. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Irina dengan mudah, memindahkan dan memangku wanita itu tepat di atas tubuhnya.​Dengan napas memburu dan tatapan mata yang gelap oleh gairah, tangan Killian menyusup cepat ke dalam kaos yang dikenakan Irina. Ia menaikkannya ke atas, meraup dan meremas payudara kenyal wanita itu dengan rakus dan tidak sabaran.​"Oh, shit ... Ian ..." desah Irina tertahan saat rasa sensual yang menyengat menyapu s

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 149 | Anxiety Killian

    Mau tidak mau, Killian akhirnya menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini. Begitu mendengar alamat jalan yang dimaksud, Irina langsung memutuskan panggilan secara sepihak.​Di dalam kamar hotelnya, Irina panik luar biasa. Ia menyambar blazer hitam seadanya dari atas tempat tidur, mengenakannya terburu-buru di atas pakaian santainya, lalu meraih kunci mobil. Ia keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya lagi.​Irina menyetir dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam Kota Monschau. Pikirannya melayang pada ingatan kelam malam itu—saat ia menyaksikan sendiri bagaimana rapuh dan tersiksanya Killian ketika serangan anxiety menghantam pria itu.​Dua puluh menit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mata tajam Irina akhirnya menangkap bayangan mobil sport milik Killian yang terparkir di bahu jalan yang sepi.​Irina menginjak rem mendadak, menghentikan mobilnya tepat di belakang kendaraan Killian. Ia bergegas keluar, berlari menghampiri mobil pria itu. Irina membuka pintu pengemudi lal

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 148 | Pemberontakan Killian

    Plak!​Cassian menghentakkan telapak tangannya keras ke atas meja kerja mahogani, membuat dokumen di atasnya bergetar. "Killian! Jaga ucapanmu!"​"Aku sudah cukup diam dan mengikuti semua aturan mainmu, Ayah!" potong Killian dengan nada suara yang meninggi, kehilangan seluruh ketenangan yang selama ini ia jaga. "Aku membiarkanmu mengatur hidupku, karierku, bahkan identitasku di rumah sakit! Tapi kalau Ayah pikir bisa terus menyembunyikan kebusukan dan ancaman di balik nama besar keluarga ini ... Ayah salah besar."​Cassian menatap tajam putra sulungnya, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lawan, Killian. Jangan kekanak-kanakan!"​"Justru karena aku tahu bahayanya, aku tidak bisa tinggal diam!" tukas Killian dingin. Pria itu memperbaiki posisi jasnya, mengambil satu langkah mundur menjarahi tatapan mengintimidasi sang ayah. "Jika Ayah tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencarinya sendiri. Dengan atau tanpa izin darimu."​"Killian!"

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 147 | Pionir

    "File apa yang sampai membuat Ayah begitu murka? Apa ada hal yang seharusnya tidak kami ketahui?" tanya Killian tajam, melangkah maju satu tapak dengan sorot mata menuntut setelah mendengar penuturan sang ayah.​Cassian menatap nyalang pada Killian, napasnya masih terengah oleh amarah yang membakar dada. "Belum waktunya kau mengetahui hal ini, Killian!" bentaknya dingin. Pria paruh baya itu lalu menoleh, menancapkan tatapan membunuhnya pada Kane. "Kembalikan file tersebut, Kane!"​Kane mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak tahu sepenting apa file yang hilang itu. Sekalipun Anda membunuhku malam ini, file itu tidak akan pernah Anda temukan. Karena sepertinya ... Anda salah tangkap, Tuan Cassian yang terhormat."​Kane memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan sinis yang penuh provokasi tepat ke arah Killian. "Kenapa Anda tidak menaruh curiga sedikit pun pada putra sulung Anda yang sempurna ini? Bukannya dia yang paling m

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 146 | Kerasnya Kehidupan Keluarga Cassian Russo

    "Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Sayang," ucap Killian seraya menatap lembut Irish sebelum ia menutup pintu mobil kekasihnya itu.​"Hmm, tidak masalah," sahut Irish singkat dari balik kemudi, memberikan senyuman tipis yang tak tersentuh.​"Kamu hati-hati di jalan ya."​Irish mengangguk paham, lalu jemarinya menyalakan mesin kendaraan mewahnya yang berdesung halus. Tanpa sepatah kata tambahan, mobil dokter cantik itu bergerak meninggalkan pelataran hotel.​Begitu kendaraan Irish melaju dan menghilang di belokan jalan, raut wajah Killian seketika mengeras kaku. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menuju mobil sport miliknya. Pria itu masuk, menghidupkan mesin, dan langsung menancap gas dalam-dalam menembus kegelapan malam menuju kediaman utama keluarga Cassian Russo.​Begitu tiba di rumah megah bak benteng itu, Killian melangkah terburu-buru masuk ke dalam. Sepatunya menghentak lantai marmer dengan irama kuat saat ia berjalan menuju ruang kerja sang ayah di lantai dua.​Pintu gand

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 145 | Urgensi

    "Tidak seperti itu, Sayang. Kamu terlihat cantik bukan karena gaunnya milik siapa, tapi karena kamu yang memakainya," ujar Killian jujur. Suara beratnya terdengar begitu lembut, berusaha menenangkan badai terselubung di dalam mata kekasihnya.​Irish tersenyum tipis, mengusap pelan rahang tegas Killian. "Terima kasih, Sayang."​Ringtone bernada standar mendadak memecah ketegangan halus di antara mereka. Killian merogoh saku jasnya dan melihat layar ponsel. Nama Lucas—asisten pribadinya—terpampang di sana. Jika pria kepercayaan itu menelepon di jam seperti ini, artinya ada hal yang sangat krusial.​Irina yang duduk di atas kasur sontak menoleh, menatap Killian dengan kening berkerut penasaran.​"Aku izin angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Killian pelan.​Irish mengangguk anggun. "Iya, angkat saja."​Pria bertubuh jangkung itu segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca tersebut, berdiri di ambang batas ruangan sembari jemarinya memegang tir

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status