MasukBab 2
“You're a virgin?”
"Shut up! Ini sangat sakit, Ian."
Killian tersenyum lebar, hatinya berdegup begitu cepat. Ada perasaan luar biasa yang berbeda saat ini—sebuah kepuasan yang mendadak meletup di dadanya. Dokter sedingin es yang biasanya abai pada sekitar itu kini merasakan posesif yang begitu pekat.
Ia memandangi wajah Irina yang berkerut menahan perih, lalu berbisik dengan suara rendah yang begitu menenangkan, "Serahkan padaku, hmm?"
Ia kembali melumat bibir Irina. Mereka berciuman sangat intens, lidah saling melilit, menularkan sisa rasa manis alkohol dan pekatnya gairah. Killian mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang perlahan namun dalam, memberikan waktu agar tubuh wanita di bawahnya terbiasa.
Pekikan kecil lolos dari bibir ranum Irina, "I-ian... Ini... Ah..."
Rasa sakit itu perlahan mengikis, berganti dengan desahan yang memabukkan saat sentuhan Killian menuntut akal sehatnya semakin jauh ke dasar jurang kenikmatan. "Oh my, rasanya luar biasa Ian."
Killian terus menghujam inti tubuh Irina, tangan dan mulutnya bergerak seirama membuat tubuh Irina merasakan nikmat luar biasa.
Tangan Irina mengusap dada bidang Killian, bahkan dengan berani ia memberikan gigitan kecil pada bahu kokoh pria itu saat Killian menumbuk inti tubuhnya dengan kuat.
Di bawah remang cahaya lampu kamar, mata Irina yang berkabut tanpa sengaja tertuju melihat tato besar di dada kiri hingga lengan atas Killian. Sebuah tato berbentuk siluet gagak hitam abstrak dengan garis-garis geometri yang tajam dan misterius. Tato yang tampak begitu kontras dengan citra seorang dokter.
"Ah faster I-ian! Ah..." Tubuh Irina basah, keringat mereka bercampur saat kulit mereka bergesekan dengan intim.
Killian mengukung tubuh Irina dengan erat. “Sial, ini…” Killian menggeram rendah, matanya menggelap. Ia merasakan milik Irina semakin menjepit kejantanannya dengan ketat, seolah enggan melepaskannya pergi.
“Ian… Don’t stop… Aku…” Irina mengeratkan pelukannya pada leher Killian. Ia merasakan letupan yang luar biasa di perut bagian bawah, sebuah sensasi asing yang membuatnya merinding hebat.
Tubuhnya menegang sempurna. “Iann—”
Killian tidak menjawab, ia meraup bibir Irina dan menyesap bibir wanita itu semakin kuat untuk meredam suara mereka. Pinggulnya bergerak semakin cepat dan bertenaga, membuat suara kulit mereka yang bertabrakan memenuhi ruangan yang kedap suara itu.
“Damn!” Killian menggeram kuat saat Irina mengunci tubuhnya dengan kedutan-kedutan nikmat di dalam sana.
“I-iaaann! Eunggg Akh!”
Puncak gairah itu akhirnya pecah menembus batas kesadaran mereka. Killian menghentakkan pinggulnya untuk terakhir kali secara mendalam, menumpahkan seluruh cairannya di dalam tubuh Irina bersamaan dengan tubuh wanita itu yang melengkung lemas dalam pelukannya.
Keduanya terengah-engah.
Killian tersenyum melihat wajah Irina dan mata sayup wanita cantik itu. Tatapan dingin sang dokter seolah meleleh malam ini, digantikan oleh binar kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Irina tersenyum lembut, kecantikan alaminya terpancar meski dalam kondisi berantakan. Tanpa banyak bicara, mereka kembali berciuman. Bibir mereka saling memagut dengan ritme yang lebih lamban namun sarat akan keintiman, layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Kemudian Killian berbisik dengan napas panas yang berhembus di ceruk leher Irina, “Ini belum selesai.”
Irina tersenyum. Tubuhnya yang masih berada di bawah pengaruh obat seolah masih memiliki energi lebih untuk melayani permainan pria di atasnya. Tangannya bergelayut manja di leher Killian, merapatkan kembali tubuh polos mereka tanpa jarak. “I love it,” bisiknya menantang.
Seolah disiram gairah luar biasa yang membakar kewarasan, keduanya kembali bercumbu. Killian kembali memimpin permainan, menghabiskan sisa malam ini bersama Irina sampai beberapa ronde, menumpahkan segala hasrat hingga fajar menyingsing di ufuk timur.
Hingga paginya.
Irina terbangun saat cahaya matahari Monschau mulai mengintip dari sela gorden. Kepalanya terasa begitu sakit, berdenyut-denyut hebat akibat efek samping obat perangsang yang tersisa di tubuhnya. Ia memijit keningnya, mencoba mengumpulkan kesadaran.
Ia membuka mata, dan betapa terkejutnya melihat tubuhnya yang hanya ditutupi selimut putih tebal. Rasa dingin ruangan langsung menyengat kulitnya. Dengan jantung yang mulai berdegup kencang, ia mengintip ke arah dalam selimut. Matanya membelalak lebar. Ia telanjang tanpa sehelai benang pun!
Tepat saat kepanikan menyerangnya, suara gemericik air dari arah kamar mandi terdengar. Irina tersentak.
Ingatan semalam berputar cepat seperti potongan film rusak di otaknya. Gala dinner, minuman yang aneh, rekan bisnis yang kurang ajar, dan... koridor sepi. Ia akhirnya ingat jika semalam ia hampir saja celaka, sampai ada seorang pria bertubuh kekar dan bermata elang yang menolongnya. Dan sialnya, ia justru menyerahkan diri pada pria penolong itu karena tubuhnya yang terlampau panas.
Irina menggigit bibir bawahnya, menatap cemas ke arah pintu kaca buram kamar mandi yang menampilkan siluet samar sosok pria yang sedang membersihkan diri di bawah shower.
Namun, Irina segera menarik kembali kesadaran dirinya. Ia tidak boleh terjebak dalam situasi memalukan ini. Ia tidak tahu siapa pria itu, dan ia tidak mau terlibat masalah rumit di kota terpencil ini.
Dengan cepat ia berniat bangun dari ranjang. “Aoch!” Irina memekik pelan dan langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
Inti tubuhnya terasa nyeri dan luar biasa perih, membuatnya tersadar betapa intensnya permainan mereka semalam. Menahan rasa sakit di pangkal pahanya, ia melihat ke sekeliling kamar yang berantakan. Pakaiannya berserakan di lantai.
Dengan sedikit kesulitan dan langkah yang gemetar, Irina turun dari kasur, meraih gaun hitam miliknya yang robek sedikit di bagian resleting, lalu buru-buru memakainya kembali. Matanya kemudian menangkap sebuah pulpen dan secarik kertas kecil di atas meja nakas.
Buru-buru Irina mengambil kertas kecil tersebut dan menuliskan beberapa kata dengan tulisan tangan yang tegas.
Irina meletakkan kertas itu di atas bantal yang sempat ia gunakan, tepat di samping bercak merah yang samar di seprai yang tidak sengaja ia lihat—membuat dadanya berdesir aneh. Tanpa menoleh lagi, dengan langkah berjingkat ia berjalan keluar kamar dengan senyap, menutup pintu suite mewah itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
“Dokter Irish?”
Bab 35“Yups! Bertemu lagi untuk memastikan perasaan kamu dan perasaan dia!”Kata-kata Irish di café tadi terus berputar bak kaset rusak, terngiang-ngiang tanpa henti di dalam kepala Irina.Kini keduanya telah berada di dalam apartemen mewah mereka. Malam sudah sangat larut. Irish sudah tertidur lelap lebih dulu di kamarnya karena kelelahan. Sementara Irina masih bergelut di depan layar iPad-nya, duduk di meja kerja dengan piyama sutra. Ia berusaha keras memeriksa laporan inventaris, mengatur stok galeri, serta mengecek berkas-berkas yang dikirimkan sekretarisnya tadi sore.“Arrrghhh! Please focus, Irina!” gumamnya frustrasi pada diri sendiri, mengacak rambutnya pelan.Ia mengetuk-ngetukkan stylus pen iPad-nya ke pelipisnya berturut-turut. "Bagaimana mau memastikan perasaan? Mau bertemu saja aku tidak tahu bagaimana caranya! Hah!"Tanpa sadar, jemarinya bergerak di atas layar digital, menorehkan kata-kata yang menari-nari di kepalanya.Ian… club… ???"Siapa dia sebenarnya? Kau benar-b
Bab 34"Sekarang... giliran kamu!" Irish mengubah ekspresi wajahnya menjadi teramat serius, menatap tajam saudarinya dengan rasa ingin tahu yang membuncah tinggi."Ck! Tidak sabaran sekali!" cibir Irina sembari memutar bola matanya malas."Look who's talking! Same on you!" balas Irish tak mau kalah, menyipitkan matanya penuh kejahilan.Irina membuang napas pelan, merapikan posisi duduknya sebelum menopang dagu di atas meja kayu café. "Yahh... semalam karena terus-terusan kepikiran kata-katamu tentang pria itu, aku jadi tidak bisa tidur sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mencari angin ke klub hotel malam itu.""Hmm, lalu?" cecar Irish, menantikan setiap kata yang keluar dari bibir saudarinya."Pas aku sedang duduk minum santai di bar, tiba-tiba ada yang menyapaku. Dan... boom!" Irina mengekspresikan ceritanya dengan gestur kedua tangan yang mengembang dramatis. "Pria itu mendadak sudah berdiri di sampingku!""What?! Demi apa?!" pekik Irish menutupi mulutnya dengan kedua ta
Bab 33Malam kian larut saat mobil mewah putih itu akhirnya terparkir anggun di pelataran sebuah café kecil bernuansa vintage yang hangat dan nyaman. Suasana di dalam café terasa sangat tenang, dihiasi pendar lampu kekuningan yang lembut serta lantunan musik instrumental pelan. Setelah memesan minuman hangat, Irish dan Irina memilih sudut sofa empuk yang cukup privat di dekat jendela kaca besar.Irina menyandarkan sikunya di atas meja kayu, melipat jemarinya sembari menatap kembarannya dengan pandangan menyelidik yang teramat tajam."Sekarang katakan padaku... kenapa wajahmu terlihat begitu memerah dan senyuman di wajahmu tidak hilang sedikit pun sampai detik ini?"Blush!Rona merah muda seketika menyebar dari kedua pipi hingga ke leher dan daun telinga Irish. Wanita cantik itu refleks membuang wajahnya canggung, buru-buru meraih cangkir dan meneguk lemon tea hangat di tangannya demi mengalihkan perhatian saudarinya."Ti—tidak! Perasaanmu saja!" kilah Irish cepat dengan nada suara yang
Bab 32Irina menyandarkan punggungnya di sofa empuk ruang kerjanya. Ia membuang napas lega karena sampai detik ini, sang Daddy sama sekali tidak menghubunginya untuk meminta konfirmasi apa pun terkait masalahnya.Sinar jingga keemasan matahari sore menyeruak lembut melalui celah jendela kaca galerinya. Irina melirik jam tangan berdesain elegan yang melingkar di pergelangan tangannya."Jam tujuh... Apa aku jemput Irish saja, ya?" gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu, Irina meraih ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk kembarannya, “Aku on the way ke rumah sakit.”Irina lantas bangkit dari duduknya, membuang napas penuh kepuasan. Ia menyudahi seluruh aktivitasnya hari ini setelah menatap bangga hasil pengerjaan interior galerinya yang hampir rampung.Karena jarak antara galeri dan Rumah Sakit Monschau tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi Irina untuk membelah jalanan kota yang disiram pendar senja. Tak lama, mobil mewahnya sudah tiba dan berhenti di pelataran
Bab 31“Gilaaaa!” seru Irish, berusaha keras menahan suaranya agar tidak menggema di tangga darurat sembari memukul dada bidang Killian dengan wajah memerah kesal.Dengan ekspresi datar, cengkeraman tangannya di pinggang Irish sama sekali tidak melonggar. “Bukannya jadi makin seru?”“Ck! Aku ti—umhpp!”Belum sempat Irish menyelesaikan protesnya, Killian kembali memotong kata-katanya dengan menyapu bilah bibirnya. Namun kali ini, bukan ciuman yang menuntut, liar, dan menggebu-gebu seperti sebelumnya. Killian mencumbunya dengan begitu lembut, dalam, dan tanpa terburu-buru—seolah ingin menikmati setiap detik sensasi bibir peach milik Irish.Lagi dan lagi, pertahanan Irish runtuh total. Ia kembali terbawa oleh buaian manis yang diciptakan Killian. Pria ini benar-benar lihai memainkan ritme dan detak hatinya.“Euhmp… Killian…” lenguh Irish dalam helaan napasnya yang samar saat Killian perlahan menyudahi ciuman itu.“Aku tahu kamu menyukainya,” bisik Killian dengan suara parau nan berat, la
Bab 30Begitu langkah kaki mereka makin dekat dengan pintu besi berat berwarna abu-abu itu, Killian menunduk, berbisik tepat di samping telinga Irish, "Aku tidak bisa menahannya."Irish mendongak, matanya membelalak kaget. "Ya—"Belum sempat Irish menyelesaikan ucapannya, tubuhnya sudah terhuyung pelan, dibawa dengan begitu mudah oleh cengkeraman halus namun posesif milik Killian. Dalam hitungan detik, pintu tangga darurat itu tertutup rapat, mengunci kesunyian dan mengisolasi mereka dari dunia luar.Klek.Killian menyandarkan tubuh Irish di balik pintu besi, mengikis habis jarak di antara mereka hingga tak ada celah tersisa."Dok—Dokter Killian..." panggil Irish gugup dengan wajah yang seketika memanas. Jantungnya berdegup kencang melihat posisi mereka yang teramat intim saat ini.Killian menerbitkan senyum smirk yang teramat menawan namun berbahaya. Tatapannya terkunci tajam pada bilah bibir tipis yang berada tepat di hadapannya."Aku ingin merasakan bibir peach ini," bisik Killian d







