登入Bab 3
Killian mematikan keran air shower. Uap hangat masih memenuhi kamar mandi berdesain marmer mewah itu saat ia meraih handuk putih untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya. Langkahnya terhenti di depan cermin besar. Tatapannya terkunci pada pantulan tubuh atletisnya sendiri.
Sebuah kekehan rendah dan serak lolos dari bibir tebalnya. Di bahu kokoh dan di sekitar dada bidangnya—tepat di atas tato gagak abstraknya—terdapat beberapa bekas kemerahan. Bekas gigitan kecil dan cakaran halus.
Pria bertubuh atletis itu melingkarkan handuk di pinggangnya, membiarkan dadanya yang basah terekspos, kemudian berjalan keluar dari kamar mandi dengan santai. Rambut hitamnya yang basah sedikit berantakan, menutupi sebagian keningnya.
Namun, langkah Killian mendadak terhenti. Keningnya berkerut dalam mendapati tempat tidur king size itu sudah kosong melompong. Selimut putih tebal tampak tersingkap berantakan.
“Dokter Irish?”
Killian memanggil wanita yang sudah menghabiskan malam yang sangat panjang dengannya. Sunyi. Tidak ada sahutan sama sekali. Kamar suite mewah itu mendadak terasa sepi, menyisakan aroma parfum vanila dan musk yang samar-samar masih tertinggal di udara.
Ia melangkah mendekat ke arah tepi ranjang. Alih-alih menemukan sosok wanita pemalu yang berubah liar semalam, matanya yang tajam justru mendapati secarik kertas kecil yang diletakkan di atas bantal.
Killian meraih kertas itu. Begitu matanya membaca deretan kalimat yang tertulis di sana, rahangnya seketika mengeras. Matanya menggelap, memancarkan kilat berbahaya.
"Thanks for saving me last night. Let's anggap malam ini tidak pernah terjadi.”
Killian meremas keras kertas kecil itu di dalam kepalan tangannya sampai terlihat urat-urat yang menonjol di punggung tangannya yang kekar. Berani sekali wanita itu. Setelah menyerahkan kesuciannya, memohon di bawah kungkungannya semalam, sekarang wanita itu pergi begitu saja dan menyuruhnya melupakan semuanya?
Sebuah senyum smirk yang dingin dan licik terukir di wajah tampannya. Killian membuang remasan kertas itu ke lantai, lalu menatap lurus ke arah seprai putih di bawahnya—pada bercak merah yang sudah mengering di sana.
“Kau mau bermain-main denganku, Dokter Irish?” gumamnya rendah, suaranya terdengar seperti ancaman yang mematikan.
Di rumah sakit, wanita itu selalu menunduk hormat, berbicara dengan suara yang terlampau lembut dan sopan seolah ia adalah makhluk paling suci di dunia. Siapa sangka di balik kacamata tipis dan sikap santunnya, Irish Harold memiliki keberanian sebesar ini untuk mencampakkan seorang Killian.
Killian berjalan perlahan menuju meja kecil tempat pakaiannya berada. Sambil memakai kemejanya satu per satu, otaknya menyusun rencana. Jika wanita itu berpikir bisa bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa saat mereka berpapasan di koridor rumah sakit nanti, maka dia salah besar.
Killian akan memastikan 'Dokter Irish' membayar mahal untuk pelariannya pagi ini.
---
Sementara itu, di sebuah apartemen minimalis yang terletak di pusat kota Monschau, Irish Harold baru saja menyelesaikan ritual mandi paginya. Handuk kecil masih melingkar di lehernya saat ia melangkah ke ruang tengah, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sepi.
Irish bangun pagi dan belum mendapati saudari kembarnya itu. Keningnya berkerut halus. Semalam Irina berjanji akan langsung menyusul ke apartemen ini setelah urusannya selesai, tapi sampai matahari terbit, batang hidung wanita seksi itu belum juga kelihatan.
Ia menghubungi ponsel Irina namun tak kunjung dijawab, hanya nada sambung yang berdering panjang sebelum akhirnya terputus.
“Huft! Dia pasti menginap di hotel tanpa memberitahuku,” gumam Irish pelan, meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Irina memang berjiwa bebas dan glamor, jadi menginap di hotel mewah setelah pesta bukanlah hal baru bagi saudarinya itu.
Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul enam pagi, Irish tersenyum tipis. “Kejutannya nanti malam saja kalau dia sudah pulang.”
Akhirnya Irish tidak lagi menunggu Irina. Ia harus bersiap karena tugas kemanusiaannya sudah menanti. Ia meraih jubah dokter putihnya yang tersampir rapi dan mengambil tas kerjanya. Tidak lupa, ia memakai kacamata bergagang rose gold tipis miliknya, yang membingkai sepasang mata lembutnya dengan sempurna. Irish melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa karena pagi ini dia memiliki jadwal operasi penting.
Begitu sampai di rumah sakit tempatnya bertugas, suasana koridor utama tampak mulai hidup. Beberapa perawat yang sedang berjaga di meja administrasi mendadak tercengang melihat penampilan baru Dokter Irish.
“Dokter, Anda terlihat sangat segar dengan warna rambut baru ini. Hitam legam ternyata sangat cocok untuk Anda,” sapa salah satu residen yang berjalan terburu-buru menghampirinya dengan membawa beberapa berkas medis.
Irish tersenyum simpul, merapikan sedikit helaian rambut hitam barunya yang sengaja ia cat sehari lalu demi menyambut kedatangan Irina, agar mereka bisa terlihat kembar identik lagi. “Terima kasih, Amelie.”
Irish sama sekali tidak menyadari bahwa perubahan warna rambut demi kejutan manis itu justru menjadi awal petaka yang mengunci kesalahpahaman ini, membuat Killian semakin yakin seratus persen bahwa wanita di ranjangnya semalam adalah dirinya.
Mereka berbicara tanpa menghentikan langkah kaki mereka, membelah koridor menuju ruang sterilisasi. Rumah sakit terlihat sangat sibuk meski di pagi hari, dengan derap langkah para staf medis dan roda brankar yang bersahutan.
“Bagaimana dengan persiapan pasien untuk operasi jam tujuh nanti, Amelie?” tanya Irish dengan suara soft spoken-nya yang menenangkan, beralih sepenuhnya ke mode dokter profesional.
Amelie langsung membuka papan klip di tangannya. “Semua sudah siap, Dok. Tuan Weber, pasien koroner kita, sudah dipindahkan ke ruang transit. Hasil laboratorium terbaru dan persediaan darah cadangan juga sudah aman di dalam ruang operasi.”
Irish mengangguk puas sambil memeriksa sekilas grafik medis yang disodorkan Amelie. “Bagus. Operasi bypass jantung pagi ini cukup berisiko karena usia pasien, jadi pastikan tim anestesi sudah siap di posisi mereka sebelum aku masuk. Kita harus bergerak cepat dan teliti.”
“Siap, Dokter Irish. Saya akan pastikan semuanya steril dan siap dalam sepuluh menit,” jawab Amelie patuh saat mereka tiba di depan ruang ganti khusus dokter bedah.
Irish memberikan senyuman penyemangat pada residennya itu sebelum mendorong pintu. Namun, tepat sebelum ia melangkah masuk, bulu kuduk Irish mendadak meremang aneh. Perasaannya mendadak tidak enak, seolah-olah ada sepasang mata yang sedang mengintipnya dari balik kegelapan dengan tatapan yang siap mengulitinya hidup-hidup.
Irish menoleh ke belakang, menatap koridor rumah sakit yang ramai. Nihil. Tidak ada siapa-siapa yang mencurigakan di sana.
Irish mengembuskan napas pelan, “Pasti hanya perasaanku saja. Fokus Irish!” ia mengira itu hanya luapan rasa gugupnya sebelum operasi besar.
Derap langkah dentuman pantopel terdengar. Sosok pria dingin melangkah masuk ke dalam lobi Rumah Sakit.
“Pagi Dokter Killian,” sapa beberapa Residen yang hanya di jawab dengan anggukan singkat. Dan hal itu membuat bulu kuduk mereka merinding.
Mereka tahu jika mood Dokter dingin itu sedang tidak bagus.
Sampai langkah kaki pria itu berhenti dan menoleh, “Di mana Dokter Irish?”
Bab 14"Ian?" ulang Irish memastikan."Hmm, seingatku namanya Ian," sahut Irina santai, mengingat-ingat suara berat pria bertato gagak yang sempat membisikkan nama itu di telinganya.Irish tersenyum tipis, lalu mendadak memajukan tubuhnya untuk menggoda sang adik. "Apa dia tampan?" tanyanya sambil memainkan matanya dengan nakal ke arah Irina.Blush...Wajah Irina seketika memerah merona hingga ke ujung telinga. Ia dengan cepat mengalihkan pandangannya, menepis tangan Irish pelan. "Ck! Biasa saja!"Irish tertawa gemas melihat reaksi langka dari saudarinya yang biasanya sangat cuek pada pria itu. "Jadi, bagaimana kelanjutannya?""Yah... ti-tidak ada yang terjadi. Aku langsung pergi begitu kondisiku mulai membaik," bohong Irina, menahan napasnya sejenak. Tentu saja ia tidak mungkin jujur bahwa ia sudah 'bablas' pasrah menyerahkan kesuciannya di atas ranjang kamar suite bersama pria asing itu.Irish membelalak kaget. "P-pergi?" serunya tak percaya. "Kamu bilang terima kasih kan ke pria ya
Bab 13 Karena insiden tadi siang, Irish memilih untuk tidak melanjutkan sisa jadwalnya di rumah sakit. Rasa malu dan canggung yang membebani pikirannya membuat fokusnya berantakan. Ia bahkan terpaksa meminta bantuan Clara untuk menggantikan posisinya menangani beberapa pasien rawat jalan.Dan di sinilah Irish sekarang, berdiri kaku di depan pintu apartemen pribadinya dengan pikiran yang masih melayang.Bip... bip... bip...Saat sandi pintu berhasil terbuka dan Irish mendorongnya pelan, sebuah jeritan riang menyambutnya dari balik lorong masuk.“Sisterrrr!”Irina berlari kencang dan langsung menyergap tubuh kakak perempuannya ke dalam pelukan hangat. Meski hanya lahir berselisih beberapa menit lebih muda dari Irish, Irina sangat menyayangi dan menghormati saudara kembarnya itu.Irish yang masuk dengan wajah tertekuk dan sama sekali tidak menyadari kehadiran saudarinya seketika membelalak kaget. Namun, dalam hitun
Bab 12Dengan langkah cepat dan napas yang naik turun tak beraturan, Irish berlari menyusuri lorong rumah sakit tanpa memedulikan tatapan heran dari beberapa perawat yang berselisih jalan dengannya.Begitu sampai di depan pintu kantornya, Irish langsung melangkah masuk dan memutar kunci pintunya rapat-rapat. Klek.Ia berjalan gontai menuju meja kerjanya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Irish membuang punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas, menatap kosong langit-langit ruangannya yang serba putih."HAH!"Pengap di dadanya akhirnya terhempas bersamaan dengan helaan napas panjang yang terasa menyiksa.Ia melepaskan kacamatanya, lalu meletakkannya di atas meja dengan asal."KAU GILA, IRISH!" umpat wanita cantik itu pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata erat-erat, memijit kening dengan kedua tangannya.Bukan hanya Killian yang membuatnya marah, tapi juga dirinya sendiri! Bagaimana bisa ia sempat terbuai dan memejamkan mata menikmati ciuman menuntut dari pria itu? Seorang Killian—
Bab 11Darah? Sprei?"Oh my!" gumam Irish pelan, namun suara cicitan halus itu terdengar begitu jelas oleh telinga Killian.Desahan halus yang sama persis seperti yang terus terngiang di telinganya sepanjang malam dari mulut wanita cantik di depannya ini.Irish menutup mulutnya tanpa sadar. Wajahnya seketika semerah tomat yang matang. Ingatannya mendadak berputar ke semalam—saat ia ketiduran sebentar di kamar istirahat dokter karena kelelahan pasca-operasi VIP. Irish menahan napas. Apakah jadwal haidnya maju? Apakah ia bocor dan menodai sprei tempat tidur itu dan Dokter Killian melihatnya?!Rasa malu yang luar biasa menghantam kesadaran Irish."An-Anda keterlaluan, Dokter Killian!" bisik Irish gagap, matanya bergetar hebat."Keterlaluan? Kau meninggalkan darahmu di atas ranjangku, Dokter Irish..." Killian semakin mengikis jarak di antara mereka, hingga napas hangat pria itu menyapu permukaan kulit leher Irish.Kalimat Killian benar-benar meruntuhkan sisa-sisa harga dirinya.Blush!Waj
Bab 10"Ikut aku. Sekarang," perintah Killian.Irish masih terdiam beberapa saat, namun suara Killian membuatnya langsung berdiri. “Atau kau ingin semua orang mendengar pembicaraan kita tentang semalam?”Deg!Irish terkesiap, bingung. Tanpa menjawab lagi, ia mengikuti langkah Killian sambil berpikir apa kesalahan yang sudah ia lakukan? Apa benar karena kejadian semalam membuat Killian semarah ini?Begitu memasuki ruang kerja Killian di lantai spesialis, pria itu mendorong pintu hingga tertutup rapat dan menekan selot kuncinya. Klek.Suara kunci yang berputar membuat Irish terlonjak kecil. Jantungnya berdebar kencang saat melihat Killian melepaskan jas dokternya, melemparnya ke sofa, lalu berbalik dan memutari meja untuk berdiri tepat di hadapan Irish. Pria itu menyandar santai di tepi meja, melipat lengan di dada dengan pandangan elang yang menguliti kepolosan Irish."Bisa jelaskan padaku, apa maksud semua ini, Dokter Irish?" tanya Killian, suaranya rendah tapi penuh penekanan.Irish m
Bab 9“Kamu di sini rupanya!”Irish yang sempat tersentak kaget hingga dadanya berdebar keras refleks mendorong laci mejanya dengan halus hingga terkunci rapat. Begitu mengalihkan pandangan ke arah pintu, ia mendapati sosok Dokter Clara yang berdiri dengan napas tersengal-sengal di ambang pintu.Irish menetralkan napasnya, lalu tersenyum tipis. "Clara?""Hah! Kamu aku cariin dari tadi," keluh Clara sambil mengusap dadanya, mencoba mengembalikan sisa-sisa tenaganya setelah berlari membelah lorong rumah sakit. Pintu ruangan itu memantul pelan setelah terdorong kuat oleh siku Clara yang kerepotan membawa papan rekam medis. "Makan yuk! Perutku sudah berbunyi sejak selesai tindakan di bangsal pediatrik tadi."Irish melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat sedikit. Rasa lelah pasca-operasi dua jam dan kepanikannya mencari Dokter Killian tadi mendadak membuat perutnya ikut bergejolak lapar."Aku masih harus cek satu







