홈 / Romansa / Gairah Salah Sasaran / Bab 3 | Secarik Kertas

공유

Bab 3 | Secarik Kertas

작가: MAMAZAN
last update 게시일: 2026-07-13 17:40:44

Bab 3

Killian mematikan keran air shower. Uap hangat masih memenuhi kamar mandi berdesain marmer mewah itu saat ia meraih handuk putih untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya. Langkahnya terhenti di depan cermin besar. Tatapannya terkunci pada pantulan tubuh atletisnya sendiri.

Sebuah kekehan rendah dan serak lolos dari bibir tebalnya. Di bahu kokoh dan di sekitar dada bidangnya—tepat di atas tato gagak abstraknya—terdapat beberapa bekas kemerahan. Bekas gigitan kecil dan cakaran halus.

Pria bertubuh atletis itu melingkarkan handuk di pinggangnya, membiarkan dadanya yang basah terekspos, kemudian berjalan keluar dari kamar mandi dengan santai. Rambut hitamnya yang basah sedikit berantakan, menutupi sebagian keningnya.

Namun, langkah Killian mendadak terhenti. Keningnya berkerut dalam mendapati tempat tidur king size itu sudah kosong melompong. Selimut putih tebal tampak tersingkap berantakan.

“Dokter Irish?”

Killian memanggil wanita yang sudah menghabiskan malam yang sangat panjang dengannya. Sunyi. Tidak ada sahutan sama sekali. Kamar suite mewah itu mendadak terasa sepi, menyisakan aroma parfum vanila dan musk yang samar-samar masih tertinggal di udara.

Ia melangkah mendekat ke arah tepi ranjang. Alih-alih menemukan sosok wanita pemalu yang berubah liar semalam, matanya yang tajam justru mendapati secarik kertas kecil yang diletakkan di atas bantal.

Killian meraih kertas itu. Begitu matanya membaca deretan kalimat yang tertulis di sana, rahangnya seketika mengeras. Matanya menggelap, memancarkan kilat berbahaya.

"Thanks for saving me last night. Let's anggap malam ini tidak pernah terjadi.”

Killian meremas keras kertas kecil itu di dalam kepalan tangannya sampai terlihat urat-urat yang menonjol di punggung tangannya yang kekar. Berani sekali wanita itu. Setelah menyerahkan kesuciannya, memohon di bawah kungkungannya semalam, sekarang wanita itu pergi begitu saja dan menyuruhnya melupakan semuanya?

Sebuah senyum smirk yang dingin dan licik terukir di wajah tampannya. Killian membuang remasan kertas itu ke lantai, lalu menatap lurus ke arah seprai putih di bawahnya—pada bercak merah yang sudah mengering di sana.

“Kau mau bermain-main denganku, Dokter Irish?” gumamnya rendah, suaranya terdengar seperti ancaman yang mematikan.

Di rumah sakit, wanita itu selalu menunduk hormat, berbicara dengan suara yang terlampau lembut dan sopan seolah ia adalah makhluk paling suci di dunia. Siapa sangka di balik kacamata tipis dan sikap santunnya, Irish Harold memiliki keberanian sebesar ini untuk mencampakkan seorang Killian.

Killian berjalan perlahan menuju meja kecil tempat pakaiannya berada. Sambil memakai kemejanya satu per satu, otaknya menyusun rencana. Jika wanita itu berpikir bisa bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa saat mereka berpapasan di koridor rumah sakit nanti, maka dia salah besar.

Killian akan memastikan 'Dokter Irish' membayar mahal untuk pelariannya pagi ini.

---

Sementara itu, di sebuah apartemen minimalis yang terletak di pusat kota Monschau, Irish Harold baru saja menyelesaikan ritual mandi paginya. Handuk kecil masih melingkar di lehernya saat ia melangkah ke ruang tengah, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sepi.

Irish bangun pagi dan belum mendapati saudari kembarnya itu. Keningnya berkerut halus. Semalam Irina berjanji akan langsung menyusul ke apartemen ini setelah urusannya selesai, tapi sampai matahari terbit, batang hidung wanita seksi itu belum juga kelihatan.

Ia menghubungi ponsel Irina namun tak kunjung dijawab, hanya nada sambung yang berdering panjang sebelum akhirnya terputus.

“Huft! Dia pasti menginap di hotel tanpa memberitahuku,” gumam Irish pelan, meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Irina memang berjiwa bebas dan glamor, jadi menginap di hotel mewah setelah pesta bukanlah hal baru bagi saudarinya itu.

Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul enam pagi, Irish tersenyum tipis. “Kejutannya nanti malam saja kalau dia sudah pulang.”

Akhirnya Irish tidak lagi menunggu Irina. Ia harus bersiap karena tugas kemanusiaannya sudah menanti. Ia meraih jubah dokter putihnya yang tersampir rapi dan mengambil tas kerjanya. Tidak lupa, ia memakai kacamata bergagang rose gold tipis miliknya, yang membingkai sepasang mata lembutnya dengan sempurna. Irish melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa karena pagi ini dia memiliki jadwal operasi penting.

Begitu sampai di rumah sakit tempatnya bertugas, suasana koridor utama tampak mulai hidup. Beberapa perawat yang sedang berjaga di meja administrasi mendadak tercengang melihat penampilan baru Dokter Irish.

“Dokter, Anda terlihat sangat segar dengan warna rambut baru ini. Hitam legam ternyata sangat cocok untuk Anda,” sapa salah satu residen yang berjalan terburu-buru menghampirinya dengan membawa beberapa berkas medis.

Irish tersenyum simpul, merapikan sedikit helaian rambut hitam barunya yang sengaja ia cat sehari lalu demi menyambut kedatangan Irina, agar mereka bisa terlihat kembar identik lagi. “Terima kasih, Amelie.”

Irish sama sekali tidak menyadari bahwa perubahan warna rambut demi kejutan manis itu justru menjadi awal petaka yang mengunci kesalahpahaman ini, membuat Killian semakin yakin seratus persen bahwa wanita di ranjangnya semalam adalah dirinya.

Mereka berbicara tanpa menghentikan langkah kaki mereka, membelah koridor menuju ruang sterilisasi. Rumah sakit terlihat sangat sibuk meski di pagi hari, dengan derap langkah para staf medis dan roda brankar yang bersahutan.

“Bagaimana dengan persiapan pasien untuk operasi jam tujuh nanti, Amelie?” tanya Irish dengan suara soft spoken-nya yang menenangkan, beralih sepenuhnya ke mode dokter profesional.

Amelie langsung membuka papan klip di tangannya. “Semua sudah siap, Dok. Tuan Weber, pasien koroner kita, sudah dipindahkan ke ruang transit. Hasil laboratorium terbaru dan persediaan darah cadangan juga sudah aman di dalam ruang operasi.”

Irish mengangguk puas sambil memeriksa sekilas grafik medis yang disodorkan Amelie. “Bagus. Operasi bypass jantung pagi ini cukup berisiko karena usia pasien, jadi pastikan tim anestesi sudah siap di posisi mereka sebelum aku masuk. Kita harus bergerak cepat dan teliti.”

“Siap, Dokter Irish. Saya akan pastikan semuanya steril dan siap dalam sepuluh menit,” jawab Amelie patuh saat mereka tiba di depan ruang ganti khusus dokter bedah.

Irish memberikan senyuman penyemangat pada residennya itu sebelum mendorong pintu. Namun, tepat sebelum ia melangkah masuk, bulu kuduk Irish mendadak meremang aneh. Perasaannya mendadak tidak enak, seolah-olah ada sepasang mata yang sedang mengintipnya dari balik kegelapan dengan tatapan yang siap mengulitinya hidup-hidup.

Irish menoleh ke belakang, menatap koridor rumah sakit yang ramai. Nihil. Tidak ada siapa-siapa yang mencurigakan di sana.

Irish mengembuskan napas pelan, “Pasti hanya perasaanku saja. Fokus Irish!” ia mengira itu hanya luapan rasa gugupnya sebelum operasi besar.

Derap langkah dentuman pantopel terdengar. Sosok pria dingin melangkah masuk ke dalam lobi Rumah Sakit.

“Pagi Dokter Killian,” sapa beberapa Residen yang hanya di jawab dengan anggukan singkat. Dan hal itu membuat bulu kuduk mereka merinding.

Mereka tahu jika mood Dokter dingin itu sedang tidak bagus.

Sampai langkah kaki pria itu berhenti dan menoleh, “Di mana Dokter Irish?”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (3)
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Haiyaaa, salah paham yang salah paham bangeeet
goodnovel comment avatar
Ratu As
jadi Ian nanti bakal sama Irina atau Irish? 🫢🫢 mmmmm penasaran...
goodnovel comment avatar
NING
Kasihan. iris kalau nanti jd mangsa si dokter dingin ini
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 150 | (21+) Batas Moral

    Ciuman itu terkesan liar, menuntut, dan penuh keterdesakan. Killian menyesap dan memagut bibir Irina tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas. Irina yang semula hendak memberontak, mendadak kelabakan. Sentuhan intens dan napas hangat Killian yang membakar perlahan mengikis akal sehatnya, memancing Irina untuk ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang menggelap.​Tanpa melepaskan pagutannya yang makin dalam, jemari Killian yang lapar bergerak cepat meraih tuas di samping jok pengemudi, memundurkan kursi kemudinya ke belakang untuk memberi ruang lebih. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Irina dengan mudah, memindahkan dan memangku wanita itu tepat di atas tubuhnya.​Dengan napas memburu dan tatapan mata yang gelap oleh gairah, tangan Killian menyusup cepat ke dalam kaos yang dikenakan Irina. Ia menaikkannya ke atas, meraup dan meremas payudara kenyal wanita itu dengan rakus dan tidak sabaran.​"Oh, shit ... Ian ..." desah Irina tertahan saat rasa sensual yang menyengat menyapu s

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 149 | Anxiety Killian

    Mau tidak mau, Killian akhirnya menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini. Begitu mendengar alamat jalan yang dimaksud, Irina langsung memutuskan panggilan secara sepihak.​Di dalam kamar hotelnya, Irina panik luar biasa. Ia menyambar blazer hitam seadanya dari atas tempat tidur, mengenakannya terburu-buru di atas pakaian santainya, lalu meraih kunci mobil. Ia keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya lagi.​Irina menyetir dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam Kota Monschau. Pikirannya melayang pada ingatan kelam malam itu—saat ia menyaksikan sendiri bagaimana rapuh dan tersiksanya Killian ketika serangan anxiety menghantam pria itu.​Dua puluh menit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mata tajam Irina akhirnya menangkap bayangan mobil sport milik Killian yang terparkir di bahu jalan yang sepi.​Irina menginjak rem mendadak, menghentikan mobilnya tepat di belakang kendaraan Killian. Ia bergegas keluar, berlari menghampiri mobil pria itu. Irina membuka pintu pengemudi lal

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 148 | Pemberontakan Killian

    Plak!​Cassian menghentakkan telapak tangannya keras ke atas meja kerja mahogani, membuat dokumen di atasnya bergetar. "Killian! Jaga ucapanmu!"​"Aku sudah cukup diam dan mengikuti semua aturan mainmu, Ayah!" potong Killian dengan nada suara yang meninggi, kehilangan seluruh ketenangan yang selama ini ia jaga. "Aku membiarkanmu mengatur hidupku, karierku, bahkan identitasku di rumah sakit! Tapi kalau Ayah pikir bisa terus menyembunyikan kebusukan dan ancaman di balik nama besar keluarga ini ... Ayah salah besar."​Cassian menatap tajam putra sulungnya, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lawan, Killian. Jangan kekanak-kanakan!"​"Justru karena aku tahu bahayanya, aku tidak bisa tinggal diam!" tukas Killian dingin. Pria itu memperbaiki posisi jasnya, mengambil satu langkah mundur menjarahi tatapan mengintimidasi sang ayah. "Jika Ayah tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencarinya sendiri. Dengan atau tanpa izin darimu."​"Killian!"

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 147 | Pionir

    "File apa yang sampai membuat Ayah begitu murka? Apa ada hal yang seharusnya tidak kami ketahui?" tanya Killian tajam, melangkah maju satu tapak dengan sorot mata menuntut setelah mendengar penuturan sang ayah.​Cassian menatap nyalang pada Killian, napasnya masih terengah oleh amarah yang membakar dada. "Belum waktunya kau mengetahui hal ini, Killian!" bentaknya dingin. Pria paruh baya itu lalu menoleh, menancapkan tatapan membunuhnya pada Kane. "Kembalikan file tersebut, Kane!"​Kane mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak tahu sepenting apa file yang hilang itu. Sekalipun Anda membunuhku malam ini, file itu tidak akan pernah Anda temukan. Karena sepertinya ... Anda salah tangkap, Tuan Cassian yang terhormat."​Kane memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan sinis yang penuh provokasi tepat ke arah Killian. "Kenapa Anda tidak menaruh curiga sedikit pun pada putra sulung Anda yang sempurna ini? Bukannya dia yang paling m

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 146 | Kerasnya Kehidupan Keluarga Cassian Russo

    "Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Sayang," ucap Killian seraya menatap lembut Irish sebelum ia menutup pintu mobil kekasihnya itu.​"Hmm, tidak masalah," sahut Irish singkat dari balik kemudi, memberikan senyuman tipis yang tak tersentuh.​"Kamu hati-hati di jalan ya."​Irish mengangguk paham, lalu jemarinya menyalakan mesin kendaraan mewahnya yang berdesung halus. Tanpa sepatah kata tambahan, mobil dokter cantik itu bergerak meninggalkan pelataran hotel.​Begitu kendaraan Irish melaju dan menghilang di belokan jalan, raut wajah Killian seketika mengeras kaku. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menuju mobil sport miliknya. Pria itu masuk, menghidupkan mesin, dan langsung menancap gas dalam-dalam menembus kegelapan malam menuju kediaman utama keluarga Cassian Russo.​Begitu tiba di rumah megah bak benteng itu, Killian melangkah terburu-buru masuk ke dalam. Sepatunya menghentak lantai marmer dengan irama kuat saat ia berjalan menuju ruang kerja sang ayah di lantai dua.​Pintu gand

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 145 | Urgensi

    "Tidak seperti itu, Sayang. Kamu terlihat cantik bukan karena gaunnya milik siapa, tapi karena kamu yang memakainya," ujar Killian jujur. Suara beratnya terdengar begitu lembut, berusaha menenangkan badai terselubung di dalam mata kekasihnya.​Irish tersenyum tipis, mengusap pelan rahang tegas Killian. "Terima kasih, Sayang."​Ringtone bernada standar mendadak memecah ketegangan halus di antara mereka. Killian merogoh saku jasnya dan melihat layar ponsel. Nama Lucas—asisten pribadinya—terpampang di sana. Jika pria kepercayaan itu menelepon di jam seperti ini, artinya ada hal yang sangat krusial.​Irina yang duduk di atas kasur sontak menoleh, menatap Killian dengan kening berkerut penasaran.​"Aku izin angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Killian pelan.​Irish mengangguk anggun. "Iya, angkat saja."​Pria bertubuh jangkung itu segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca tersebut, berdiri di ambang batas ruangan sembari jemarinya memegang tir

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status