Beranda / Romansa / Gairah Salah Sasaran / Bab 7 | Vacheron Constantin

Share

Bab 7 | Vacheron Constantin

Penulis: MAMAZAN
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 16:48:55

Bab 7

“Mampus!”

Dengan napas tersengal-sengal dan langkah kaki yang terburu-buru, Irish setengah berlari membelah koridor menuju lift. Rasa lelah pasca-operasi dua jam dan tindakan darurat di bangsal pediatrik menguap begitu saja, berganti dengan kepanikan luar biasa.

“Bodoh! Bisa-bisanya aku melupakan Dokter Killian!” maki Irish pada dirinya sendiri.

Begitu pintu lift terbuka di lantai spesialis, Irish bergegas menuju pintu kayu bernomor ruangan pria itu. Ia merapikan jubah dokternya yang agak berantakan, menetralkan napasnya yang berburu, lalu mengetuk pintu dengan penuh rasa bersalah.

Tok... Tok...

Satu detik... Tiga detik... Tidak ada jawaban.

“Dokter Killian? Permisi…” bisik Irish pelan. Keraguan menyelimuti dirinya. Ia memberanikan diri menekan handle pintu dan mendorongnya perlahan.

Kosong.

Ruangan bertembok gelap itu tampak lengang. Meja marmer Killian tertata rapi, dan pemiliknya tidak terlihat di mana pun. Irish mengedipkan matanya bingung. Ke mana pria angkuh itu pergi? Padahal Amelie bilang Killian mewanti-wanti agar ia langsung menemuinya.

Sementara itu, di lantai bawah dekat area bedah utama...

Aura membunuh dipancarkan seutuhnya oleh Killian. Langkah kakinya yang lebar dan tegap menciptakan dominasi mutlak di sepanjang koridor. Namun, sosok dokter wanita berambut hitam legam yang dicarinya sama sekali tidak terlihat batang hidungnya di sekitar ruang pemulihan maupun area bedah.

"Dokter Killian, apa Anda ada jadwal operasi?"

Sebuah teguran membuat Killian menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh dingin, mendapati seorang dokter spesialis bedah senior berseragam hijau yang sedang berjalan santai memegang papan rekam medis, bersiap-siap untuk masuk ke dalam ruang operasi.

"Tidak ada, kamu lanjut saja," jawab Killian singkat dan datar, tanpa minat untuk beramah-tamah.

Tanpa menunggu balasan dari rekan sejawatnya itu, Killian langsung berbalik dan berlalu begitu saja, meninggalkan sang dokter senior yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat keangkuhan sang pemilik saham tersembunyi.

Tangan Killian di dalam saku jubah dokternya mengepal amat kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam. Seringai dingin dan bahaya terukir di bibirnya.

“Irish... kau benar-benar menguji kesabaranku!” desis Killian rendah dengan sepasang mata elang yang berkilat penuh ancaman.

Di saat yang bersamaan, kilometer jauhnya dari rumah sakit...

Suasana lobi hotel tempat Irina menginap tampak begitu tenang. Irina duduk bersandar di sofa empuk dengan satu kaki terlipat anggun di atas kaki lainnya. Pandangannya terkunci rapat pada layar ponsel beresolusi tinggi yang sedang memutar potongan rekaman CCTV dari klub Der Hirsch.

Matanya yang tajam mengamati tiap detik pergerakan pria bertubuh tegap yang membopongnya semalam. Rekaman video di koridor privat yang remang itu sengaja ia ulang dan perjelas (zoom in).

Namun, kekesalan mendadak terpancar di wajah cantiknya. Pria itu memiliki postur tubuh yang terlalu tinggi dan tegap, membuat sudut kamera CCTV yang terpasang di langit-langit justru terhalang oleh bahu kokoh pria itu sendiri. Ditambah lagi, ada area blind spot atau titik buta kamera tepat di depan pintu kamar suite.

Irina berdecak kasar, meremas ponselnya gemas. “Sialan! Kenapa pria ini harus setinggi ini sih? Wajahnya sama sekali tidak tertangkap kamera!” umpatnya jengkel.

Namun, tepat saat video memperlihatkan gerakan tangan pria itu merogoh kunci kartu dari saku celana bahan hitamnya, pencahayaan dari lampu dindingkoridor menyinari pergelangan tangannya selama dua detik.

Gerakan jemari Irina mendadak terhenti di atas layar. Matanya membelalak sempurna.

Fokus Irina terkunci penuh pada sebuah jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan pria tersebut—sebuah jam Vacheron Constantin edisi sangat terbatas dengan tali kulit buaya hitam dan ukiran unik di tepinya.

Napas Irina mendadak tercekat. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar.

“Jam ini...?” gumam Irina lirih.

Ingatannya berputar cepat. Ia pernah melihat jam tangan yang sangat langka dan eksklusif ini sebelumnya. Bukan di katalog majalah fashion, bukan pula di pameran perhiasan Berlin.

Tapi di atas meja kerja saudarinya—Irish.

“Ini bukan kebetulan ‘kan?” gumamnya, keningnya berkerut. “Apa kutanyain aja ke Irish?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
NING
Jangan.kejam2 ya Thor sama si kembar. Mereka berdua ga salah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 150 | (21+) Batas Moral

    Ciuman itu terkesan liar, menuntut, dan penuh keterdesakan. Killian menyesap dan memagut bibir Irina tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas. Irina yang semula hendak memberontak, mendadak kelabakan. Sentuhan intens dan napas hangat Killian yang membakar perlahan mengikis akal sehatnya, memancing Irina untuk ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang menggelap.​Tanpa melepaskan pagutannya yang makin dalam, jemari Killian yang lapar bergerak cepat meraih tuas di samping jok pengemudi, memundurkan kursi kemudinya ke belakang untuk memberi ruang lebih. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Irina dengan mudah, memindahkan dan memangku wanita itu tepat di atas tubuhnya.​Dengan napas memburu dan tatapan mata yang gelap oleh gairah, tangan Killian menyusup cepat ke dalam kaos yang dikenakan Irina. Ia menaikkannya ke atas, meraup dan meremas payudara kenyal wanita itu dengan rakus dan tidak sabaran.​"Oh, shit ... Ian ..." desah Irina tertahan saat rasa sensual yang menyengat menyapu s

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 149 | Anxiety Killian

    Mau tidak mau, Killian akhirnya menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini. Begitu mendengar alamat jalan yang dimaksud, Irina langsung memutuskan panggilan secara sepihak.​Di dalam kamar hotelnya, Irina panik luar biasa. Ia menyambar blazer hitam seadanya dari atas tempat tidur, mengenakannya terburu-buru di atas pakaian santainya, lalu meraih kunci mobil. Ia keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya lagi.​Irina menyetir dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam Kota Monschau. Pikirannya melayang pada ingatan kelam malam itu—saat ia menyaksikan sendiri bagaimana rapuh dan tersiksanya Killian ketika serangan anxiety menghantam pria itu.​Dua puluh menit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mata tajam Irina akhirnya menangkap bayangan mobil sport milik Killian yang terparkir di bahu jalan yang sepi.​Irina menginjak rem mendadak, menghentikan mobilnya tepat di belakang kendaraan Killian. Ia bergegas keluar, berlari menghampiri mobil pria itu. Irina membuka pintu pengemudi lal

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 148 | Pemberontakan Killian

    Plak!​Cassian menghentakkan telapak tangannya keras ke atas meja kerja mahogani, membuat dokumen di atasnya bergetar. "Killian! Jaga ucapanmu!"​"Aku sudah cukup diam dan mengikuti semua aturan mainmu, Ayah!" potong Killian dengan nada suara yang meninggi, kehilangan seluruh ketenangan yang selama ini ia jaga. "Aku membiarkanmu mengatur hidupku, karierku, bahkan identitasku di rumah sakit! Tapi kalau Ayah pikir bisa terus menyembunyikan kebusukan dan ancaman di balik nama besar keluarga ini ... Ayah salah besar."​Cassian menatap tajam putra sulungnya, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lawan, Killian. Jangan kekanak-kanakan!"​"Justru karena aku tahu bahayanya, aku tidak bisa tinggal diam!" tukas Killian dingin. Pria itu memperbaiki posisi jasnya, mengambil satu langkah mundur menjarahi tatapan mengintimidasi sang ayah. "Jika Ayah tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencarinya sendiri. Dengan atau tanpa izin darimu."​"Killian!"

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 147 | Pionir

    "File apa yang sampai membuat Ayah begitu murka? Apa ada hal yang seharusnya tidak kami ketahui?" tanya Killian tajam, melangkah maju satu tapak dengan sorot mata menuntut setelah mendengar penuturan sang ayah.​Cassian menatap nyalang pada Killian, napasnya masih terengah oleh amarah yang membakar dada. "Belum waktunya kau mengetahui hal ini, Killian!" bentaknya dingin. Pria paruh baya itu lalu menoleh, menancapkan tatapan membunuhnya pada Kane. "Kembalikan file tersebut, Kane!"​Kane mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak tahu sepenting apa file yang hilang itu. Sekalipun Anda membunuhku malam ini, file itu tidak akan pernah Anda temukan. Karena sepertinya ... Anda salah tangkap, Tuan Cassian yang terhormat."​Kane memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan sinis yang penuh provokasi tepat ke arah Killian. "Kenapa Anda tidak menaruh curiga sedikit pun pada putra sulung Anda yang sempurna ini? Bukannya dia yang paling m

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 146 | Kerasnya Kehidupan Keluarga Cassian Russo

    "Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Sayang," ucap Killian seraya menatap lembut Irish sebelum ia menutup pintu mobil kekasihnya itu.​"Hmm, tidak masalah," sahut Irish singkat dari balik kemudi, memberikan senyuman tipis yang tak tersentuh.​"Kamu hati-hati di jalan ya."​Irish mengangguk paham, lalu jemarinya menyalakan mesin kendaraan mewahnya yang berdesung halus. Tanpa sepatah kata tambahan, mobil dokter cantik itu bergerak meninggalkan pelataran hotel.​Begitu kendaraan Irish melaju dan menghilang di belokan jalan, raut wajah Killian seketika mengeras kaku. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menuju mobil sport miliknya. Pria itu masuk, menghidupkan mesin, dan langsung menancap gas dalam-dalam menembus kegelapan malam menuju kediaman utama keluarga Cassian Russo.​Begitu tiba di rumah megah bak benteng itu, Killian melangkah terburu-buru masuk ke dalam. Sepatunya menghentak lantai marmer dengan irama kuat saat ia berjalan menuju ruang kerja sang ayah di lantai dua.​Pintu gand

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 145 | Urgensi

    "Tidak seperti itu, Sayang. Kamu terlihat cantik bukan karena gaunnya milik siapa, tapi karena kamu yang memakainya," ujar Killian jujur. Suara beratnya terdengar begitu lembut, berusaha menenangkan badai terselubung di dalam mata kekasihnya.​Irish tersenyum tipis, mengusap pelan rahang tegas Killian. "Terima kasih, Sayang."​Ringtone bernada standar mendadak memecah ketegangan halus di antara mereka. Killian merogoh saku jasnya dan melihat layar ponsel. Nama Lucas—asisten pribadinya—terpampang di sana. Jika pria kepercayaan itu menelepon di jam seperti ini, artinya ada hal yang sangat krusial.​Irina yang duduk di atas kasur sontak menoleh, menatap Killian dengan kening berkerut penasaran.​"Aku izin angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Killian pelan.​Irish mengangguk anggun. "Iya, angkat saja."​Pria bertubuh jangkung itu segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca tersebut, berdiri di ambang batas ruangan sembari jemarinya memegang tir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status