LOGINBab 8
“Apa kutanyain aja ke Irish?”
Irina menutup video rekaman CCTV di layar ponselnya, lalu tanpa ragu beralih memanggil nomor saudarinya. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya sambil mengetuk-ngetukkan jari kuku cantiknya ke armrest sofa hotel.
Di tempat lain, Irish yang baru saja keluar dari ruangan Killian yang kosong sedang berjalan pelan menuju ruang kerjanya sendiri. Saat ponsel di saku jubah dokternya bergetar, ia merogohnya dan tersenyum melihat nama 'Irina' tertera di layar.
Irish mengangkat panggilan itu, "Halo, Ir?"
"Sis, sibuk gak?" tanya Irina santai dari seberang telepon.
"Gak, ada apa, Ir?" sahut Irish sambil melangkah masuk ke ruangannya dan menyandarkan tubuhnya yang lelah ke kursi kerja.
"Nice!" Irina terkekeh senang. Ia sangat tahu betapa padatnya jadwal operasi saudarinya itu di jam-jam sibuk seperti ini. Tanpa membuang waktu, Irina langsung bertanya terus terang, "Aku ingat pernah lihat jam tangan Vacheron Constantin di meja kerja kamu waktu aku main ke apartemenmu... uhm, kamu kasih buat siapa jam itu?"
Blush...
Wajah Irish seketika memerah merona. Reaksi tubuhnya begitu cepat hanya karena pertanyaan sederhana itu. Irish tentu ingat betul jam tangan limited edition itu. Ia sengaja membelinya bulan lalu sebagai kado ulang tahun untuk Dokter Killian—pria yang diam-diam ia kagumi. Namun, saat ia ingin memberikan jam tangan tersebut. Irish hanya tersenyum simpul saat ia melihat jam tangan yang setipe dengan yang ia beli sudah melingkar di pergelangan tangan Killian.
Hal itulah yang membuat irish mengurungkan niatnya untuk memberikan kado tersebut ke Killian.
"Ah itu... Ada kok," jawab Irish gugup, mencoba menetralkan nada suaranya agar tidak ketahuan.
"Eh? Bukannya kamu bilang mau ngasih ke rekan kerja kamu?" cecar Irina curiga.
"Iya, tidak jadi," alih Irish cepat, mengusip lehernya yang terasa hangat. "Kenapa? Kamu mau?"
Irina mengembuskan napas panjang. Ada perasaan lega yang mendadak menyapu dadanya, meski diselimuti rasa aneh yang samar. Kalau jam tangan milik Irish masih disimpan dan belum pernah diberikan kepada siapa pun, artinya pria bertato gagak di klub semalam tidak ada hubungannya dengan rekan kerja Irish di rumah sakit. Itu hanya kebetulan belaka bahwa pria bernama 'Ian' itu mengoleksi jam tangan langka yang sama.
"Ada apa, Ir?" tanya Irish bingung mendengar hembusan napas saudara kembarnya yang terdengar pasrah.
"Tidak ada," sahut Irina cepat, mengibaskan tangannya di udara seolah Irish bisa melihatnya. "Cuma penasaran aja."
"Ya sudah, sekarang kamu di mana?" tanya Irish mengalihkan pembicaraan. "Katanya kemarin kamu udah sampai di kota ini? Kok gak langsung ke apartemenku?"
Irina menggigit bibir bawahnya sesaat. Ia tentu tidak mungkin jujur bahwa ia habis dijebak, kehilangan kesuciannya di kamar hotel, dan baru saja menyewa hacker untuk meretas CCTV klub malam.
"Aku masih ada sedikit urusan bisnis di hotel tempat gala dinner kemarin, Sis," jawab Irina dengan kebohongan yang sangat mulus. "Nanti sorean aku langsung meluncur ke apartemen kamu. Jangan lupa masakin makanan enak ya!"
Irish tertawa kecil di ujung telepon, "Dasar. Ya sudah, hati-hati di jalan, Ir. Aku mau lanjut cek rekam medis pasien dulu."
"Sip, see you, Irish!"
Panggilan terputus. Irina melemparkan ponselnya ke atas sofa hotel, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang. Satu masalah tentang identitas jam tangan itu terasa sudah selesai di kepalanya—meski ia tidak tahu bahwa teka-teki yang sesungguhnya baru saja dimulai. “Lebih baik aku bersihkan para sampah itu! Kalian akan merasakan balasanku berkali-kali lipat!”
Sementara itu, Irish baru saja meletakkan ponselnya di atas meja kerja. Ia menghela napas panjang, lalu membuka laci mejanya. Di dalam sana, sebuah kotak bludru hitam berisi jam tangan Vacheron Constantin yang masih tersimpan rapi tampak berkilau.
Namun, sebelum Irish sempat menutup laci itu kembali—
BAM!
Pintu ruang kerja Irish didorong terbuka secara kasar tanpa ketukan sama sekali, membentur dinding dengan suara keras yang mengejutkan!
“Kamu di sini rupanya!”
Ciuman itu terkesan liar, menuntut, dan penuh keterdesakan. Killian menyesap dan memagut bibir Irina tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas. Irina yang semula hendak memberontak, mendadak kelabakan. Sentuhan intens dan napas hangat Killian yang membakar perlahan mengikis akal sehatnya, memancing Irina untuk ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang menggelap.Tanpa melepaskan pagutannya yang makin dalam, jemari Killian yang lapar bergerak cepat meraih tuas di samping jok pengemudi, memundurkan kursi kemudinya ke belakang untuk memberi ruang lebih. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Irina dengan mudah, memindahkan dan memangku wanita itu tepat di atas tubuhnya.Dengan napas memburu dan tatapan mata yang gelap oleh gairah, tangan Killian menyusup cepat ke dalam kaos yang dikenakan Irina. Ia menaikkannya ke atas, meraup dan meremas payudara kenyal wanita itu dengan rakus dan tidak sabaran."Oh, shit ... Ian ..." desah Irina tertahan saat rasa sensual yang menyengat menyapu s
Mau tidak mau, Killian akhirnya menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini. Begitu mendengar alamat jalan yang dimaksud, Irina langsung memutuskan panggilan secara sepihak.Di dalam kamar hotelnya, Irina panik luar biasa. Ia menyambar blazer hitam seadanya dari atas tempat tidur, mengenakannya terburu-buru di atas pakaian santainya, lalu meraih kunci mobil. Ia keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya lagi.Irina menyetir dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam Kota Monschau. Pikirannya melayang pada ingatan kelam malam itu—saat ia menyaksikan sendiri bagaimana rapuh dan tersiksanya Killian ketika serangan anxiety menghantam pria itu.Dua puluh menit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mata tajam Irina akhirnya menangkap bayangan mobil sport milik Killian yang terparkir di bahu jalan yang sepi.Irina menginjak rem mendadak, menghentikan mobilnya tepat di belakang kendaraan Killian. Ia bergegas keluar, berlari menghampiri mobil pria itu. Irina membuka pintu pengemudi lal
Plak!Cassian menghentakkan telapak tangannya keras ke atas meja kerja mahogani, membuat dokumen di atasnya bergetar. "Killian! Jaga ucapanmu!""Aku sudah cukup diam dan mengikuti semua aturan mainmu, Ayah!" potong Killian dengan nada suara yang meninggi, kehilangan seluruh ketenangan yang selama ini ia jaga. "Aku membiarkanmu mengatur hidupku, karierku, bahkan identitasku di rumah sakit! Tapi kalau Ayah pikir bisa terus menyembunyikan kebusukan dan ancaman di balik nama besar keluarga ini ... Ayah salah besar."Cassian menatap tajam putra sulungnya, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lawan, Killian. Jangan kekanak-kanakan!""Justru karena aku tahu bahayanya, aku tidak bisa tinggal diam!" tukas Killian dingin. Pria itu memperbaiki posisi jasnya, mengambil satu langkah mundur menjarahi tatapan mengintimidasi sang ayah. "Jika Ayah tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencarinya sendiri. Dengan atau tanpa izin darimu.""Killian!"
"File apa yang sampai membuat Ayah begitu murka? Apa ada hal yang seharusnya tidak kami ketahui?" tanya Killian tajam, melangkah maju satu tapak dengan sorot mata menuntut setelah mendengar penuturan sang ayah.Cassian menatap nyalang pada Killian, napasnya masih terengah oleh amarah yang membakar dada. "Belum waktunya kau mengetahui hal ini, Killian!" bentaknya dingin. Pria paruh baya itu lalu menoleh, menancapkan tatapan membunuhnya pada Kane. "Kembalikan file tersebut, Kane!"Kane mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak tahu sepenting apa file yang hilang itu. Sekalipun Anda membunuhku malam ini, file itu tidak akan pernah Anda temukan. Karena sepertinya ... Anda salah tangkap, Tuan Cassian yang terhormat."Kane memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan sinis yang penuh provokasi tepat ke arah Killian. "Kenapa Anda tidak menaruh curiga sedikit pun pada putra sulung Anda yang sempurna ini? Bukannya dia yang paling m
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Sayang," ucap Killian seraya menatap lembut Irish sebelum ia menutup pintu mobil kekasihnya itu."Hmm, tidak masalah," sahut Irish singkat dari balik kemudi, memberikan senyuman tipis yang tak tersentuh."Kamu hati-hati di jalan ya."Irish mengangguk paham, lalu jemarinya menyalakan mesin kendaraan mewahnya yang berdesung halus. Tanpa sepatah kata tambahan, mobil dokter cantik itu bergerak meninggalkan pelataran hotel.Begitu kendaraan Irish melaju dan menghilang di belokan jalan, raut wajah Killian seketika mengeras kaku. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menuju mobil sport miliknya. Pria itu masuk, menghidupkan mesin, dan langsung menancap gas dalam-dalam menembus kegelapan malam menuju kediaman utama keluarga Cassian Russo.Begitu tiba di rumah megah bak benteng itu, Killian melangkah terburu-buru masuk ke dalam. Sepatunya menghentak lantai marmer dengan irama kuat saat ia berjalan menuju ruang kerja sang ayah di lantai dua.Pintu gand
"Tidak seperti itu, Sayang. Kamu terlihat cantik bukan karena gaunnya milik siapa, tapi karena kamu yang memakainya," ujar Killian jujur. Suara beratnya terdengar begitu lembut, berusaha menenangkan badai terselubung di dalam mata kekasihnya.Irish tersenyum tipis, mengusap pelan rahang tegas Killian. "Terima kasih, Sayang."Ringtone bernada standar mendadak memecah ketegangan halus di antara mereka. Killian merogoh saku jasnya dan melihat layar ponsel. Nama Lucas—asisten pribadinya—terpampang di sana. Jika pria kepercayaan itu menelepon di jam seperti ini, artinya ada hal yang sangat krusial.Irina yang duduk di atas kasur sontak menoleh, menatap Killian dengan kening berkerut penasaran."Aku izin angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Killian pelan.Irish mengangguk anggun. "Iya, angkat saja."Pria bertubuh jangkung itu segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca tersebut, berdiri di ambang batas ruangan sembari jemarinya memegang tir







