LOGINBab 6
Irish baru saja memegang handle pintu kayu di depannya. Suara berat Killian dari dalam ruangan yang memanggil namanya masih membekas di telinga, membuat debar di dadanya kian tidak beraturan. Namun, belum sempat ia mendorong pintu itu lebih jauh—
"Dokter Irish!"
Sebuah panggilan panik setengah berteriak memotong keheningan koridor. Irish menghentikan gerak tangannya, refleks memutar tubuhnya ke arah sumber suara.
Seorang dokter wanita berpakaian jaga hijau dengan rambut pirang terikat acak-acak berjalan setengah berlari menghampirinya. Wajahnya dipenuhi peluh, memancarkan ketakutan yang nyata.
"Dokter Clara?" bisik Irish kaget, alisnya bertaut.
"Tolong aku, Irish... please!" napas Clara tersengal-sengal begitu tiba di depan Irish. Tangan dokter spesialis anak itu gemetar saat mencengkeram lengan jubah putih Irish. "Ada pasien rujukan bayi usia empat bulan di bangsal pediatrik, dia mengalami kegagalan sirkulasi akut akibat kelainan jantung bawaan yang mendadak komplikasi. Grafiknya drop drastis, Irish! Dokter bedah anak senior sedang ada tindakan di kota sebelah, aku tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi!"
Mendengar kata 'kegagalan sirkulasi' dan 'bayi empat bulan', insting kemanusiaan serta jiwa dokter spesialis jantung dalam diri Irish seketika menyala terang. Rasa cemas dan kebingungannya soal panggilan Killian menguap begitu saja dari pikirannya. Nyawa seorang bayi dalam kondisi kritis tidak bisa menunggu semenit pun.
"Bawa aku ke sana sekarang, Clara! Siapkan instrumen resusitasi dan dosis epinefrin anak!" tegas Irish tanpa ragu sedikit pun.
"Terima kasih, Irish! Ayo!"
Tanpa berpikir dua kali, Irish melepaskan genggamannya dari handle pintu ruangan Killian. Ia berbalik dan melangkah terburu-buru mengikuti pergerakan cepat Dokter Clara menuju arah tangga darurat menuju bangsal anak, sepenuhnya melupakan tujuan awalnya beberapa detik yang lalu.
Sementara itu, di dalam ruangan kerja bertembok gelap tersebut...
Killian masih duduk tegak di balik meja marmernya. Kacamata baca bertengger di hidung mancungnya, dan tangan kanannya masih mengepal erat gumpalan kertas berisi pesan singkat pelarian semalam.
Mata elangnya menatap lurus ke arah pintu kayu yang beberapa saat lalu sempat terdengar ketukan dan derit kecil handle yang tertekan. Ia sudah menyusun kata-kata intimidasi, sudah menyiapkan tatapan paling dingin untuk menelanjangi kepolosan 'Dokter Irish' yang dikiranya telah menyerahkan kesucian padanya semalam.
Satu menit berlalu...
Dua menit...
Tiga menit...
Keheningan yang pekat merayapi ruangan itu. Pintu tidak pernah terbuka. Tak ada langkah kaki yang masuk.
Killian melirik jam tangan Vacheron Constantin di pergelangan tangannya. Detik jam berputar, namun sosok yang ditunggu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Waktu terasa berjalan sangat lambat, mengikis sisa-sisa kesabaran sang CEO yang biasanya tak tersentuh itu.
Rahang Killian makin mengeras. Kilat amarah yang pekat mendadak membakar sepasang matanya di balik kacamata.
“Wanita itu... berani memainkanku?” batin Killian geram.
Ia mengira Irish sempat ragu di balik pintu, ketakutan membayangkan konfrontasi mereka, lalu sengaja balik kanan dan melarikan diri untuk kedua kalinya. Tanpa membuang waktu lagi, Killian berdiri dari kursinya dengan gerakan tajam, menyambar jubah dokternya, dan melangkah lebar membuka pintu. “Kau!”
Sementara itu, suasana di bangsal pediatrik tampak begitu tegang. Suara beeping moni-tor jantung bayi berukuran kecil itu terdengar memburu.
Dengan jemari yang cekatan dan pandangan fokus di balik kaca mata tipisnya, Irish dengan sangat tenang berhasil menstabilkan kondisi kritis sang bayi setelah beberapa menit tindakan darurat yang menegangkan. Senyum lega akhirnya terukir di wajah cantiknya saat grafik sirkulasi darah pasien cilik itu perlahan kembali normal.
"Tekanan darah dan saturasi oksigennya sudah stabil, Clara. Tolong lanjutkan pemantauan ketat tiap tiga puluh menit," instruksi Irish lembut sambil mengusap pelan dahi bayi tersebut.
"Terima kasih banyak, Irish! Kau benar-benar penyelamat," sahut Dokter Clara dengan napas yang mulai teratur, mengusap peluh di keningnya. “Aku akan mentraktirmu!”
Irish mengangguk halus dan menyunggingkan tawa kecil, “Terserah kamu saja.”
Namun, tepat saat ia melepaskan sarung tangan latex-nya dan hendak membasuh tangan di wastafel, langkahnya mendadak terhenti.
Irish terdiam selama beberapa detik. Dahi mulusnya berkerut tipis, matanya mengedip bingung menatap pantulan dirinya di cermin wastafel.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu... apa ya?" gumamnya lirih pada diri sendiri.
Sesaat kemudian, ingatan saat jemarinya memegang handle pintu kayu di lantai spesialis mendadak melintas di kepalanya. Mata Irish serta-merta membelalak sempurna di balik kacamatanya.
"Dokter Killian!" bisiknya panik, menepuk dahi mulusnya sendiri. “Mampus!”
Killian mendorong pintu kamar dengan kakinya, lalu perlahan merebahkan tubuh Irish ke atas kasur. Tanpa membuang waktu, pria itu merayap naik ke atas tubuh Irish, mengunci tatapan kekasihnya yang mulai digenangi kabut gairah."Sayang ... kamu indah banget," bisik Killian serak, memutus jarak untuk melumat bibir Irish dengan menuntut.Tangannya bergerak lihai menyibak pakaian yang melilit tubuh Irish hingga polos tanpa sehelai benang pun. Killian menurunkan ciumannya ke leher, berlanjut menyusuri dada, lalu memberikan gigitan-gigitan kecil di sekitar perut mulus kekasihnya."Euhm ... Killian ..." desah Irish pasrah, jemarinya meremas rambut lebat Killian saat pria itu makin memosisikan tubuhnya di antara kedua paha Irish yang terbuka.Killian menundukkan kepala, memisahkan lipatan lembut di pusat sensitif wanita itu dengan jemarinya, sebelum melancarkan jilatan hangatnya tepat di sana."Ahhh! Ki-Killian!" Irish tersentak kaget, pinggulnya terangkat refleks. Sensasi basah dan hangat
"Apa pun itu?" gumam Killian pelan, seperti berbisik pada dirinya sendiri.Irish menatap kekasihnya itu lurus-lurus, lalu berkata tenang, "Aku melihat sikapmu kepada Kane bukan seperti orang yang pertama kali bertemu.""Kane saudara tiriku," jujur Killian akhirnya.Irish menghela napas lega di dalam hati. Ia tidak menyangka Killian akan dengan mudah mengatakan yang sebenarnya tanpa banyak berbelit-belit."Dan?" pancing Irish lagi."Hmm, apa yang ingin kamu tanyakan lagi, Sayang?"Irish memperbaiki posisi duduknya, menatap Killian makin intens. "Kenapa kalian bersikap seperti orang tidak saling mengenal waktu di rumah sakit?""Ya karena itu tadi. Aku tidak mau identitasku diketahui orang-orang di sana," sahut Killian beralasan."Oke ..." jawab Irish singkat.Sejujurnya Irish tidak terlalu membutuhkan penjelasan panjang lebar. Selama Killian mau jujur, itu sudah lebih dari cukup baginya saat ini. Soal alasan mendalam atau rahasia lain di baliknya, itu terserah Killian.Lagi pu
Menatap pintu di depannya, Killian akhirnya menekan bel unit apartment milik kekasihnya.Hanya butuh beberapa saat sampai pintu itu terbuka. "Sayang."Irish menyambutnya dengan senyum tenang, seolah tidak ada ketegangan yang menggantung di antara mereka. "Hmm, masuk, Yank."Grep!Bukannya melangkah masuk, Killian justru menarik lembut pergelangan tangan Irish dan memojokkan kekasihnya itu ke dinding lorong pintu. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat, deru napas hangat Killian terasa menyapu wajahnya.Pria itu langsung melumat bibir kekasihnya, awalnya lembut namun perlahan semakin menuntut dan mendominasi—seolah mencari kepastian bahwa wanita di depannya ini masih miliknya."Euhm ..." Irish membalas lumatan itu sejenak. Namun jemarinya yang hinggap di dada bidang Killian perlahan mendorong pelan tubuh pria itu.Mau tidak mau Killian melepaskan tautan bibir mereka.Napas keduanya beradu di udara yang mendadak terasa makin pekat.Killian menatap lekat manik mata
"Salah orang ..." Kata-kata Clara menghantui Irish sepanjang hari. Kalimat sederhana itu terus berputar gila di kepalanya, memutar ulang memori momen di depan toilet tadi saat Killian mengurung Irina.Sampai sebuah getaran pesan masuk di ponselnya memaksa Irish kembali ke kesadarannya.Irish menghela napas, meraih ponsel di atas meja dan membuka pesan dari Rhea."Cassian Russo seratus persen terlibat di dalam organisasi. Dia memiliki dua anak laki-laki bernama Killian dan Kane. Killian sendiri bekerja sebagai Dokter spesialis di Rumah Sakit Monschau. Sedangkan Kane, informasi terbaru dia berada di Italia sedang mengambil spesialis obgyn. Apa kamu sudah bertemu dengan Killian?"Deg!Irish membeku di tempatnya. Matanya membelalak tak percaya membaca deretan kalimat itu."Kane?" gumam Irish shock, tangannya mendadak gemetar hebat. "Jadi ... Kane saudara Killian?"Ia menyandarkan punggungnya di kursi, menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan dadanya yang bergemuruh. kepingan
"Aku duluan ya," Irish langsung saja melepas seatbelt miliknya begitu Killian memarkirkan kendaraannya tepat di depan pintu masuk rumah sakit.Grep!Killian menggenggam jemari Irish, menahannya sejenak."Sayang?"Irish menoleh, menatap pria di sampingnya. "Ya?""Are you okay?" lirih Killian dalam hati. Rasanya lidahnya mendadak kelu hanya untuk mengutarakan pertanyaan sederhana itu. Ketakutan akan jawaban Irish menahannya."Killian?" Irish menegur kekasihnya yang hanya terdiam membisu itu.Killian berdeham pelan, berusaha menguasai suaranya. "Aku lanjut urus kerjaan di luar dulu, hmm?"Irish mengangguk dan tersenyum tipis. "Iya."Secara perlahan, Irish menarik tangannya dari genggaman Killian. Ia melangkah keluar lalu menutup pintu mobil tanpa menoleh lagi.Dari balik kaca mobil, Killian menatap punggung kekasihnya yang makin menjauh dengan perasaan bersalah yang menghantam dadanya. "Maafkan aku, Irish."Irish melangkah masuk melintasi lobi rumah sakit dengan pikiran yang
"Irina, Killian?" Suara Irish dari ujung koridor membuat mereka berdua terlonjak kaget.Dengan sigap, Killian menarik turun kedua tangannya dari dinding, mengambil satu langkah mundur untuk memperlebar jarak di antara mereka."Kalian di sini?" tanya Irish dengan suara rendah."Hmm, kamu mau ke toilet juga?" tanya Irina cepat, sengaja mengalihkan dan tidak menjawab pertanyaan saudari kembarnya itu."Ah ... iya. Kamu sudah selesai?""Baru saja." Irina menoleh ke arah Killian sesaat, melemparkan tatapan dingin penuh peringatan agar pria itu tidak berbuat hal nekat atau bersikap mencurigakan."Mau kutungguin atau ...?" Irina menggantung kalimatnya.Irish melangkah mendekat. "Duluan aja, kamu temanin Dokter Kane. Ada Killian kok." Ia menoleh ke arah Killian, tersenyum tipis. "Boleh kan, Sayang?""Iya. Aku tunggu," sahut Killian rendah seraya mengusap lembut surai rambut Irish, mencoba bersikap semanis mungkin di depan kekas







