Home / Romansa / Gairah Salah Sasaran / Bab 6 | Konfrontasi

Share

Bab 6 | Konfrontasi

Author: MAMAZAN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-23 16:18:56

Bab 6

Irish baru saja memegang handle pintu kayu di depannya. Suara berat Killian dari dalam ruangan yang memanggil namanya masih membekas di telinga, membuat debar di dadanya kian tidak beraturan. Namun, belum sempat ia mendorong pintu itu lebih jauh—

"Dokter Irish!"

Sebuah panggilan panik setengah berteriak memotong keheningan koridor. Irish menghentikan gerak tangannya, refleks memutar tubuhnya ke arah sumber suara.

Seorang dokter wanita berpakaian jaga hijau dengan rambut pirang terikat acak-acak berjalan setengah berlari menghampirinya. Wajahnya dipenuhi peluh, memancarkan ketakutan yang nyata.

"Dokter Clara?" bisik Irish kaget, alisnya bertaut.

"Tolong aku, Irish... please!" napas Clara tersengal-sengal begitu tiba di depan Irish. Tangan dokter spesialis anak itu gemetar saat mencengkeram lengan jubah putih Irish. "Ada pasien rujukan bayi usia empat bulan di bangsal pediatrik, dia mengalami kegagalan sirkulasi akut akibat kelainan jantung bawaan yang mendadak komplikasi. Grafiknya drop drastis, Irish! Dokter bedah anak senior sedang ada tindakan di kota sebelah, aku tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi!"

Mendengar kata 'kegagalan sirkulasi' dan 'bayi empat bulan', insting kemanusiaan serta jiwa dokter spesialis jantung dalam diri Irish seketika menyala terang. Rasa cemas dan kebingungannya soal panggilan Killian menguap begitu saja dari pikirannya. Nyawa seorang bayi dalam kondisi kritis tidak bisa menunggu semenit pun.

"Bawa aku ke sana sekarang, Clara! Siapkan instrumen resusitasi dan dosis epinefrin anak!" tegas Irish tanpa ragu sedikit pun.

"Terima kasih, Irish! Ayo!"

Tanpa berpikir dua kali, Irish melepaskan genggamannya dari handle pintu ruangan Killian. Ia berbalik dan melangkah terburu-buru mengikuti pergerakan cepat Dokter Clara menuju arah tangga darurat menuju bangsal anak, sepenuhnya melupakan tujuan awalnya beberapa detik yang lalu.

Sementara itu, di dalam ruangan kerja bertembok gelap tersebut...

Killian masih duduk tegak di balik meja marmernya. Kacamata baca bertengger di hidung mancungnya, dan tangan kanannya masih mengepal erat gumpalan kertas berisi pesan singkat pelarian semalam.

Mata elangnya menatap lurus ke arah pintu kayu yang beberapa saat lalu sempat terdengar ketukan dan derit kecil handle yang tertekan. Ia sudah menyusun kata-kata intimidasi, sudah menyiapkan tatapan paling dingin untuk menelanjangi kepolosan 'Dokter Irish' yang dikiranya telah menyerahkan kesucian padanya semalam.

Satu menit berlalu...

Dua menit...

Tiga menit...

Keheningan yang pekat merayapi ruangan itu. Pintu tidak pernah terbuka. Tak ada langkah kaki yang masuk.

Killian melirik jam tangan Vacheron Constantin di pergelangan tangannya. Detik jam berputar, namun sosok yang ditunggu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Waktu terasa berjalan sangat lambat, mengikis sisa-sisa kesabaran sang CEO yang biasanya tak tersentuh itu.

Rahang Killian makin mengeras. Kilat amarah yang pekat mendadak membakar sepasang matanya di balik kacamata.

“Wanita itu... berani memainkanku?” batin Killian geram.

Ia mengira Irish sempat ragu di balik pintu, ketakutan membayangkan konfrontasi mereka, lalu sengaja balik kanan dan melarikan diri untuk kedua kalinya. Tanpa membuang waktu lagi, Killian berdiri dari kursinya dengan gerakan tajam, menyambar jubah dokternya, dan melangkah lebar membuka pintu. “Kau!”

Sementara itu, suasana di bangsal pediatrik tampak begitu tegang. Suara beeping moni-tor jantung bayi berukuran kecil itu terdengar memburu.

Dengan jemari yang cekatan dan pandangan fokus di balik kaca mata tipisnya, Irish dengan sangat tenang berhasil menstabilkan kondisi kritis sang bayi setelah beberapa menit tindakan darurat yang menegangkan. Senyum lega akhirnya terukir di wajah cantiknya saat grafik sirkulasi darah pasien cilik itu perlahan kembali normal.

"Tekanan darah dan saturasi oksigennya sudah stabil, Clara. Tolong lanjutkan pemantauan ketat tiap tiga puluh menit," instruksi Irish lembut sambil mengusap pelan dahi bayi tersebut.

"Terima kasih banyak, Irish! Kau benar-benar penyelamat," sahut Dokter Clara dengan napas yang mulai teratur, mengusap peluh di keningnya. “Aku akan mentraktirmu!”

Irish mengangguk halus dan menyunggingkan tawa kecil, “Terserah kamu saja.”

Namun, tepat saat ia melepaskan sarung tangan latex-nya dan hendak membasuh tangan di wastafel, langkahnya mendadak terhenti.

Irish terdiam selama beberapa detik. Dahi mulusnya berkerut tipis, matanya mengedip bingung menatap pantulan dirinya di cermin wastafel.

"Sepertinya aku melupakan sesuatu... apa ya?" gumamnya lirih pada diri sendiri.

Sesaat kemudian, ingatan saat jemarinya memegang handle pintu kayu di lantai spesialis mendadak melintas di kepalanya. Mata Irish serta-merta membelalak sempurna di balik kacamatanya.

"Dokter Killian!" bisiknya panik, menepuk dahi mulusnya sendiri. “Mampus!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
NING
Jangan datang deh Iris.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 107 | Senyuman Irina

    ​"Sasha, tolong cek barang-barang yang akan dikirim dari kantor pusat," minta Irina seraya merapikan jajaran gaun di manekin utama. Sejak pagi, ia benar-benar menyibukkan dirinya di butik demi mengalihkan pikirannya.​Sasha mengacungkan jarinya tinggi-tinggi. "Oke, Bos!" sahutnya ceria sebelum melangkah cekatan menuju ruang kantor untuk mengambil iPad.​Jemari lentik stafnya itu menari di atas layar, mengetik dan melakukan check list ulang inventaris barang. "Semua sudah oke. Pengiriman sekitar satu jam lagi," ujar Sasha melaporkan.​"Estimasi tiba?" tanya Irina memastikan.​Irina mengulas senyum tipis. Antusias masyarakat kota Monschau terhadap butik dan galerinya ternyata jauh melampaui ekspektasi. Sejak pagi, pelanggan tak henti-hentinya bergantian datang, mengagumi koleksi busana hingga karya seni yang dipajang.​"Kemungkinan tiba nanti malam," jawab Sasha.​Irina mengangguk paham. "Hmm, oke. Sambil menunggu, kita siapkan saja penempatannya. Ruangan yang semalam dipakai untuk gran

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 106 | Hal Besar Yang Kamu Tutupi

    Genggaman tangan Killian di pergelangan tangan Irish terasa begitu hangat namun sangat erat. Pria itu menuntun langkah Irish membelah koridor rumah sakit Monschau tanpa menguarkan sepatah kata pun. Langkah kakinya yang tegap dan lebar memaksa Irish sedikit berlari kecil untuk menyelaraskan posisi.​Mata cantik Irish melirik profil samping wajah Killian. Rahang tegas pria itu mengeras, garis bibirnya terkatup rapat, dan sorot matanya yang biasanya menenangkan kini redup dilapisi aura dingin yang pekat.​Setiap melintasi beberapa perawat yang membungkuk sopan, Killian sama sekali tak membalas sapaan mereka seperti biasanya. Ia hanya terus melangkah lurus menuju area ruang kerjanya yang berada di lantai atas.​"Pria ini... kenapa sebenarnya?" batin Irish bertanya-tanya.​Perubahan sikap Killian yang mendadak impulsif dan penuh dominasi terasa asing sekaligus mengintimidasi. Mengingat bagaimana tatapan Killian saat mengunci sosok Dokter Kane di restoran tadi, sebuah pemikiran mendadak terb

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 105 | Dokter Kane

    Suasana restoran Jepang di dekat rumah sakit terasa riuh dan hangat. Kane duduk di tengah kepungan para dokter dan beberapa perawat, menebar senyum ramah yang terlihat begitu memesona. Pria itu memesankan berbagai menu mewah tanpa ragu, membuat meja besar mereka dipenuhi hidangan terbaik.​Di sisi lain meja, Clara dan Amelie duduk berdampingan.​“Gimana Dokter Clara? Ganteng kan dokter Obgyn baru kita?” bisik Amelie antusias pada Clara.​Clara terkekeh pelan, menyesap Ocha-nya. “Lumayan lah buat menyegarkan pemandangan di poliklinik.”​Kane yang mendengar obrolan itu menyunggingkan senyum hangat. Ia menggeser piring berisi salmon sashimi segar ke dekat posisi Irish. “Dokter Irish, dicoba sashiminya. Ini salah satu menu terbaik di sini.”​Irish tersenyum ramah dan menyambut penawaran itu tanpa ragu. “Terima kasih, Dokter Kane. Kebetulan saya memang suka salmon,” jawab Irish santai, meraih sumpitnya dan mencicipi irisan ikan segar tersebut.​“Nah, begitu dong, Rish. Makanan enak kok didi

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 104 | Kedatangan Dokter Baru

    Aroma khas antiseptik dan kesibukan pagi menyambut langkah Killian dan Irish begitu keduanya menapakkan kaki di lobi utama rumah sakit. Killian berjalan tegap di samping Irish, menyelaraskan langkahnya dengan irama santai sang dokter cantik.​“Dokter!”​Suara renyah Amelie tiba-tiba memecah atensi. Dokter residen itu bergegas mendekat dengan wajah yang mendadak memerah—lebih tepatnya tersipu malu.​Irish mengerutkan keningnya heran melihat tingkah asistennya itu. “Ya?”​“Hehehe... Tidak ada apa-apa, Dok,” jawab Amelie diiringi kekehan pelan, matanya sedikit melirik ke arah Killian yang berdiri tenang di sebelah Irish.​Helaan napas lembut lolos dari bibir Irish. “Hah... Kamu ada-ada saja.”​Irish lalu menoleh, menatap Killian dengan senyum tipis. “Aku langsung ke ruanganku ya?”​Killian mengangguk pelan. Tanpa memedulikan tatapan mengagumi dari beberapa staf di sekitar mereka, pria itu menaikkan tangan besarnya, mengusap lembut surai hitam Irish dengan sentuhan posesif. “Hmm. Aku pergi

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 103 | Perbandingan

    Irish mengusap lembut punggung atletis Killian yang masih dibasahi peluh. “Sayang?” bisiknya perlahan tepat di samping telinga pria itu.​“Hmm?” Killian bergumam rendah, seolah enggan mengurai pelukannya. Pria itu makin membenamkan wajahnya di leher Irish, menghirup dalam-dalam aroma tubuh kekasihnya demi menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan.Satu yang akhirnya ia sadari, ​aroma tubuh antara Irish dan Irina ternyata berbeda. Irish memiliki wangi tubuh yang segar, menenangkan, dan alami. Sementara Irina... memiliki aroma pekat yang manis, tajam, dan sensual.​Setelah mengetahui fakta ini, otak Killian secara tak sadar mulai membandingkan setiap detail antara Irish dan Irina. Sensasi sentuhan mereka, respons tubuh mereka, hingga kehangatan yang ditinggalkan—semuanya kini terpetakan makin jelas.​“Boleh aku ke kamar mandi, sayang?” ujar Irish pelan, mencoba mengurai dekapan Killian.​“Aku antar?” tawar Killian seraya memposisikan tubuhnya untuk ikut turun dari sofa.​Irish dengan cepat

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 102 | Bayangan

    ​‘Maaf, sayang... Aku melakukannya sama Irina.’​Pengakuan itu cuma berputar di kepala Killian. Bibirnya terkunci rapat, tidak sanggup melontarkan kata-kata itu secara langsung.​Pengecut. Ya, dia mengaku kalau dirinya memang pria pengecut saat ini. Pria yang biasanya tidak pernah takut sama apa pun itu mendadak ciut. Dia terlalu takut membayangkan bagaimana hancurnya Irish kalau sampai tahu kebenaran ini.​“Kita masuk dulu, hmm?”​Suara lembut Irish memecah lamunan Killian. Wanita cantik itu membimbing langkah Killian melewati pintu, membawanya masuk ke dalam unit apartemen.​Tapi baru beberapa langkah, Irish mendadak menghentikan jalannya. Jantungnya berdegup kencang pas ingat satu hal—di dalam kamarnya masih berserakan dokumen-dokumen penting yang baru aja dia ambil dari kediaman Cassian Russo. Kalau Killian sampai lihat, semuanya bakal kacau.​Irish buru-buru menguasai diri, berbalik menatap Killian sambil tersenyum menenangkan. “Kamu duduk dulu, sayang. Aku ambilkan air putih sebe

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status