MasukAngin pagi belum berhenti menggoyangkan tiang-tiang tenda saat Alice menyiapkan senjatanya. Rambut merahnya tergerai, tak lagi terikat dalam simpul prajurit. Matanya memandangi bayangan samar di cermin kecil, bayangan yang bukan milik seorang tentara, melainkan seorang wanita yang baru saja mencium pangeran.
Namun pikirannya buyar saat seseorang menerobos masuk dengan napas memburu. “Lady Alice!” seru Maxime. Alice menoleh tajam. “Apa yang terjadi?” Maxime, anak buah paling setia sekaligus informan terbaiknya. Menunduk, menyodorkan sepucuk surat yang basah oleh embun dan keringat. “Lady Anne. Saudari kembar anda. Dia mengalami kecelakaan semalam.” Alice membeku. “Apa?” “Kereta yang ia tumpangi terbalik saat pulang dari jamuan makan bangsawan. Jalanan basah. Tapi... terlalu kebetulan. Ia belum sadar hingga sekarang.” Detak jantung Alice menggema di telinganya. Ia tahu Anne seharusnya hadir dalam pesta ulang tahun Putra Mahkota dua hari lagi, acara penting, yang akan menempatkan nama keluarga Adelaide di hadapan seluruh istana. Acara debute Pangeran Evrard yang secara resmi di umumkan sebagai putra mahkota menggantikan pangeran Adhelard. Ya, dirinya dan Adhelard sama, anak yang terbuang. Namun kini... “Siapkan kudaku,” bisiknya. Maxime hendak pergi, tapi Alice memanggilnya kembali. “Tunggu. Sampaikan ini pada Pangeran Adhelard…” Maxime menoleh. “Katakan padanya aku akan membayar utangnya. Tapi tidak sekarang. Aku harus menyelesaikan urusanku terlebih dahulu. Saat segalanya selesai… aku akan kembali menemuinya. Dan membayar utang itu sendiri.” Kediaman keluarga Adelaide berdiri bagai lukisan musim gugur: megah namun terasa sunyi dan tua. Alice turun dari kudanya tanpa dituntun. Tak ada pelayan menyambut. Tak ada suara kehidupan. Hanya udara penuh beban. Begitu ia melangkah masuk ke aula utama, suara sepatu tumit tinggi menggema dari atas tangga batu. Sosok anggun dalam gaun beludru biru tua berdiri di puncak. Rambut keemasan sang ibu digelung rapi. Tatapannya seperti pisau es—tajam, lelah, dan dipenuhi perasaan yang tak sempat disebutkan. “Ibu,” ucap Alice pelan. Wanita itu menuruni tangga, langkahnya tenang namun tegang. Begitu ia sampai di hadapan Alice, tangannya terangkat—dan tamparan keras mendarat di pipi kiri putrinya. Bukan kebencian. Tapi rasa takut. “Kau… sudah berjanji tak akan bertemu Anne lagi,” katanya gemetar. Alice menahan air mata, tapi tak mundur. “Aku tak tahu dia masih sering datang diam-diam.” Sang ibu memalingkan wajah, bahunya naik turun menahan emosi. “Kau tahu ramalan itu, Alice. Sejak kalian lahir, seluruh tetua memperingatkan. Dua anak kembar tidak boleh tumbuh bersama. Jika tidak…” “...malapetaka akan datang,” gumam Alice. “Dan sekarang dia terbaring koma!” bentaknya pelan. “Dua hari sebelum pesta kerajaan!” Alice mendekat, tenang dan tegar. “Tunjukkan kamarnya. Aku harus melihatnya ibu.” Ibunya ragu sejenak. Lalu, dengan lirih, berkata, “Jangan lama. Dan jangan beri harapan kalau kau akan tinggal.” Tapi saat Alice berjalan melewatinya, ia bisa merasakan: sang ibu masih menyayanginya. Hanya saja... rasa cinta itu terkubur dalam ketakutan yang diwariskan turun-temurun. Anne terbaring diam di atas ranjang. Kulitnya pucat seperti salju musim dingin, rambutnya menyebar di bantal, dan napasnya lemah tapi teratur. Alice duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan saudarinya. “Kenapa harus kamu?” bisiknya. “Kau yang baik. Kau yang penurut. Kau yang masih diakui sebagai anak.” Air mata menitik. Tapi bukan karena kelemahan. Alice tahu, ia tidak boleh rapuh sekarang. Pintu terbuka pelan. Sang ayah muncul, tubuh tegap yang kini terlihat lebih tua dan melelahkan. “Putra Mahkota menunggu. Bila Anne tidak muncul dalam pesta itu, reputasi keluarga ini bisa runtuh.” Alice bangkit. “Lalu apa? Mengumumkan sakitnya Anne? Mengganti undangan dengan permintaan maaf?” “Ada harga yang harus dibayar,” kata sang ayah dingin. “Kita tidak bisa membatalkan kehadiran.” Alice menatap wajah kakaknya sekali lagi, lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku akan menggantikannya.” Sang ayah mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?” “Aku akan datang ke pesta itu sebagai Anne. Kita anak kembar. Suara, postur, cara bicara, aku bisa menirunya. Tak ada yang akan tahu.” Langkah ringan terdengar dari pintu. Sang ibu muncul, menatapnya curiga. “Kau pikir penyamaran bisa menyelamatkan kita?” “Aku tahu satu hal,” Alice menatap mereka berdua. “Kalau aku tidak melakukan ini, kalian bisa kehilangan semuanya.” Sang ibu menahan napas. “Dan kutukan yang diramalkan itu? Kau masih berdarah… terluka dibahumu.” Alice diam. Ia menyadari ibunya masih memperhatikannya dengan detail. Ibunya, mengkhawatirkannya. Rasa hangat menjalar dihatinya. Alice menatapnya tajam. “Kalian yang selalu berkata kutukan itu nyata. Kalian selalu mencecarku dengan luka di tubuhku. Tapi tak pernah bertanya bagaimana aku bisa mendapatkannya.” Suasana membeku. Lalu, Alice melangkah ke tengah ruangan, berdiri tegak seperti pemimpin. “Penyamaranku bukan hanya untuk menyelamatkan pesta. Tapi untuk mencari tahu siapa yang mencelakai Anne.” Semua menatapnya. “Aku yakin... kecelakaan ini bukan takdir. Tapi pesan. Seseorang ingin Anne gagal muncul. Seseorang ingin menggantikannya di mata istana.” Ibunya mengepalkan tangan. “Kau ingin jadi penyelamat sekarang? Kau pikir setelah semua ini kau bisa kembali ke rumah ini sebagai pahlawan?” Alice tersenyum kecil, senyum wanita yang tahu dia sudah kehilangan segalanya, dan tak takut lagi kehilangan. “Aku tak peduli disebut apa. Aku akan ke pesta itu. Dan aku akan mencari tahu... siapa yang mencoba membunuh kakakku.” Ia menatap ibunya, untuk terakhir kalinya. “Dan jika kutukan itu memang nyata, biarlah aku saja yang menanggungnya.” Sang ibu tidak menjawab. Tapi matanya merah. Getaran di bibirnya nyaris tak kentara. Namun sebelum Alice pergi, ia berhenti dan menoleh: “Atau mungkin… malapetaka itu bukan aku. Tapi seseorang di dalam istana yang takut Anne terlalu dekat pada kebenaran.” ***Jari-jari Alice mulai gemetar. Cahaya putih yang keluar dari telapak tangannya terus mengalir memasuki tubuh Adhelard, namun luka di dada lelaki itu masih mengeluarkan darah hangat yang membasahi pahanya.“Bangun Adhelard…” bisiknya lirih. “Jangan bercanda sekarang…”Angin dingin hutan utara berhembus pelan. Bau darah bercampur tanah basah memenuhi udara. Rambut Alice berantakan tertiup angin, gaun putihnya ikut ternoda merah karena darah Adhelard yang terus mengalir tanpa henti.Maxime berdiri beberapa langkah dari mereka. Lelaki itu terlihat benar-benar kehilangan ketenangan.“Lady Alice…” suaranya berat. “Kereta medis sudah hampir sampai.”Alice tidak menjawab.Tangannya masih menempel di luka dada Adhelard. Cahaya suci yang ia curi dari Teon terus dipaksakan keluar. Sedikit demi sedikit warna pucat di wajah Adhelard mulai berubah, namun napas lelaki itu tetap lemah.Lalu…Batuk kecil keluar dari bibir Adhelard.Darah segar kembali mengalir dari sudut bibirnya.Mata Alice membelala
Alice melambaikan tangan dari balik jendela kereta.Ayah dan kakaknya berdiri di depan kediaman Adelaide sambil memperhatikannya pergi.Daniel masih terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.Sedangkan ayahnya hanya menghela napas pasrah melihat putrinya tetap keras kepala.Alice tersenyum kecil.Namun matanya sempat mencari satu sosok.Ibunya.Dan benar saja—Wanita itu tidak datang.Alice tidak terlalu terkejut.Memang sejak dulu ibunya tidak pernah terlalu menyukainya.Kereta mulai bergerak menjauh.Suara roda memenuhi jalan batu.Alice akhirnya bersandar santai di kursinya.Tak lama kemudian—Louis masuk ke dalam kereta.Ia langsung menghela napas panjang.Alice meliriknya lalu tersenyum kecil.“Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan.”Louis tidak berputar-putar kali ini.“Apa yang diberikan Ibu Teon padamu?”Tatapan Alice langsung turun pada liontin di lehernya.Ia tersenyum tipis.“Akhirnya kau bertanya juga.”Louis diam memperhatikannya.Dan untuk pertama kalinya—Alice mulai m
Adhelard membuka matanya perlahan.Udara dingin dini hari memenuhi tenda tahanan itu.Dari celah kain tenda, cahaya gelap kebiruan mulai terlihat.Malam akan segera berakhir.Tatapan Adhelard turun pada rantai yang membelenggu kedua tangannya.Lalu—Dengan tenang ia menggerakkan pergelangan tangannya perlahan.Suara besi kecil terdengar samar.Klik.Rantai itu langsung terlepas begitu saja.Seolah benda itu tidak pernah mampu menahannya.Adhelard menggerakkan sedikit pergelangan tangannya yang memerah lalu berdiri.Tatapannya jatuh pada pedangnya yang disandarkan di dekat meja.Mereka benar-benar terlalu meremehkannya.Adhelard mengambil pedang itu lalu menariknya perlahan dari sarung.Sret.Tatapan matanya langsung berubah tajam.Saat keluar dari tenda—Dua penjaga langsung menoleh kaget.Namun mereka bahkan tidak sempat membuka mulut.Slash!Pedang Adhelard bergerak cepat membelah udara.Tubuh kedua penjaga langsung jatuh bersamaan.Darah mengalir di tanah dingin.Adhelard berjalan
Adhelard berdiri lemah di dalam tenda tahanan. Kedua tangannya terikat rantai besi.Suara api unggun dan langkah para penjaga terdengar samar dari luar.Sehari lalu—Ia ditukar dengan Arthur di depan gerbang benteng Eterdal.Arthur dalam keadaan setengah sadar saat dibawa kembali.Tubuh pria itu penuh luka.Darah bahkan masih terus menetes dari lengannya.Namun saat itu Adhelard tetap berdiri tenang.Ia hanya memberi perintah singkat pada Maxime.“Bawa dia masuk.”Dan setelah itu—Pasukan suku Belian langsung mundur membawa Adhelard menuju perkemahan mereka.Kini ia berada di sini.Sebagai tawanan.Pintu tenda terbuka.Putri Relia masuk bersama beberapa pengawal.Tatapan tajam wanita itu langsung jatuh pada Adhelard.Namun beberapa detik kemudian Relia memberi isyarat.“Kalian keluar.”Para pengawal langsung menunduk dan meninggalkan tenda.Kini hanya mereka berdua.Adhelard menatap wanita itu datar tanpa mengatakan apa pun.Relia berjalan pelan mendekat.Ia melirik nampan makanan di
Langit berwarna jingga tua.Matahari turun perlahan di balik pegunungan utara, menyisakan cahaya redup yang memantul di ujung pedang dan baju zirah para prajurit.Debu beterbangan.Suara benturan logam tidak pernah berhenti.Adhelard masih di garis depan.Kudanya bergerak cepat, menembus barisan musuh. Pedangnya terangkat, lalu turun dengan tegas. Tidak ragu.Di sampingnya, Arthur tidak pernah jauh darinya.“Yang Mulia, kita mulai terdesak di sisi kiri!” teriak Arthur di tengah riuh pertempuran.Adhelard melirik sekilas.Benar.Pasukan mereka mulai kewalahan.Jumlah suku Belian terlalu banyak, dan mereka bergerak liar, tidak beraturan—namun justru itu yang membuat mereka sulit ditebak.“Kita tahan sampai senja,” jawab Adhelard singkat.Napasnya berat.Namun matanya tetap tajam.Pasukan Kabut Putih yang dipimpin Maxime… belum juga datang.Badai di perjalanan jelas memperlambat mereka.Dan di medan seperti ini—Setiap detik terasa terlalu lama.Angin mulai berubah.Dingin.Kabut tipis m
Gelap.Lalu perlahan… cahaya terlihat.Adhelard membuka matanya.Pandangan kabur itu perlahan menajam, memperlihatkan langit-langit kamarnya sendiri. Napasnya terasa berat, dadanya seperti ditekan dari dalam.Ia mencoba bergerak.Namun tubuhnya lemah.“Yang Mulia…”Suara Arthur terdengar di sampingnya.Adhelard menoleh sedikit.Arthur segera membantu menopangnya, mengangkat tubuhnya agar bersandar.Wajah Adhelard pucat.Bahkan lebih pucat dari sebelumnya.“Tenang,” gumam Arthur pelan, jelas menahan kekhawatiran. “Anda sudah kembali ke kamar.”Adhelard belum sempat menjawab—Langkah kaki lain terdengar.Tenang.Teratur.Teon.Ia masuk tanpa banyak kata.Di tangannya, sebuah obat—bulat, cukup besar, berwarna gelap.Teon berdiri di hadapan Adhelard.“Telan ini,” katanya singkat.Nada suaranya datar.Tidak memohon.Tidak memaksa.Adhelard menatap obat itu beberapa detik.Lalu—tanpa komentar—ia mengambilnya.Menelannya.Pahit langsung menyebar di tenggorokannya.Teon mengangkat tangannya.
Alice membuka mata perlahan. Cahaya lembut dari jendela menerobos masuk, menembus tirai tipis yang berkibar pelan karena angin pagi. Ia mengerjapkan matanya sekali, dua kali, lalu mendesah kecil. Anehnya, tubuhnya lebih segar dari biasanya. Tubuhnya seperti terbangun dari tidur yang panjang dan sek
Kesadaran Alice kembali menghantam tubuhnya bagaikan badai. Alice tersentak, kedua matanya melebar, napasnya terengah dan dalam sekejap, ia menyadari betapa dekatnya tubuh Teon dengan dirinya. Nafas Teon masih hangat di kulitnya, tetapi bukan kehangatan itu yang menakutkan, melainkan dorongan gelap
Beberapa hari sejak ia sadar, Alice belum benar - benar pulih. Tubuhnya masih lemah, tetapi warna wajahnya yang pucat sudah berganti dengan semburat segar. Para tabib yang merawatnya mulai merasa lega, namun mereka tahu perlakuannya pada Teon akan tetap sama.Sejak hari pertama ia membuka mata, Ali
Ketegangan di arena berburu masih terasa kental. Angin berdesir membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang terinjak kuda-kuda. Suara sorakan para pemburu terdengar samar dari beberapa sisi. Alice, dengan rambut merahnya yang berkibar diterpa angin, berdiri tegak di atas pelana kuda putihnya. Matan







