Share

Bab 34. Bertemu Arya

Penulis: ZeeHyung
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-27 10:12:01

Rossa segera masuk ke dalam lift dia tidak peduli dengan rekan kerjanya yang menatapnya. Entah kenapa dirinya begitu berani untuk mengatakan hal itu.

"Lihat si pelakor itu. Berani-beraninya dia katakan itu. Harusnya dia sadar diri. Sudah merebut Tuan Darren. Ini dia malah katakan kita tidak punya kesadaran," omel salah satu karyawati yang tidak terima dengan apa yang Rossa katakan.

"Sudah biarkan saja. Nanti dia akan kena batunya. Kita harus dukung Nona Monica. Aku yakin Nona Monica bisa melawan dia. Kita lihat saja," jawab salah satu rekan karyawati yang satunya.

Sedangkan Rossa yang sudah berada di lobby bersama Mimi berbincang kecil sambil tertawa.

"Caca, kamu tidak mau punya anak kah?" tanya Mimi.

"Punya anak? Pasti mau. Setiap orang pasti hendak memiliki anak. Tapi, aku tidak bisa memaksa Tuhan untuk memberikan anak kepada kami berdua karena itu sudah ketentuan dari Tuhan. Karena jika Tuhan katakan kita siap maka kita akan diberikan anak. Berdoa saja," jawab Rossa dianggukka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 123. Ledakan

    "Tutup mulutmu, Bunga," pekik Tantri yang kesal dengan Bunga. "Jawabannya sudah bisa ditebak Bunga. Cinta sepihak. Menyakitkan sekali kenapa harus cinta sepihak. Yang ada rugi, merendahkan harga diri wanita, bodoh," ejek Cintya membuat Tantri makin murka. Tantri memukul Cintya dengan kencang. Dia melampiaskan amarahnya atas ejekan dari Tantri. Bunga melihat Cintya dipukul tentu saja tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Tantri. Bunga memberontak dia ingin membalas apa yang Tantri lakukan kepada Cintya. Begitu juga dengan Cintya dia ikut memberontak tapi tenaganya kalah dengan dua pria yang bertubuh tegap. "Itu untukmu, wanita sialan!" pekik Tantri dengan napas memburu. "Kamu yang sialan! Wanita tidak punya harga dirinya. Asal kamu tahu si tua bangka itu tidak menyukaimu. Apa kamu pikir dengan menyerahkan tubuhmu itu dia menyukaimu? Tidak, Sayang. Kamu tidak akan mendapatkan cinta dari dia. Sampai mati pun kamu tidak akan bisa, stupid!" Cintya mengeluarkan amarahnya kepada T

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 122. Bawa Keranjang

    Bunga dibawa pergi oleh Tantri begitu saja. Tantri tidak peduli dengan serangan dari Verrel. Karena saat ini anak buah dari Oliver Junior atau tepatnya rekannya sangat banyak hingga membuat Verrel sedikit kesulitan untuk menyelamatkan istrinya itu. Dan situasi di tempat tersebut benar-benar kacau semua pengunjung berhamburan pergi menyelamatkan diri mereka. Karena mereka takut jika mereka menjadi sasaran tembak antara dua kubu. Verrel yang melihat istrinya di bawa pergi hanya berteriak kencang dia tidak bisa berkata-kata dan hanya mengejar tanpa peduli tembakan yang terus terdengar. "Bunga. Bunga! Jangan bawa dia. Jangan bawa dia," teriak Verrel dengan kencang. Akan tetapi teriakan dari Verrel tidak terdengar sedikitpun mobil terus melaju bawa Bunga pergi ke markas milik Oliver Junior. Verrel sudah kehilangan akal dia menembak semua anak buah dari Oliver Junior dengan penuh emosi. "Kakak sudah cukup. Sudah, ayo kita kejar kalau Kakak di sini kita tidak bisa mengejar mereka. Ayo c

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 121. Menculik Bunga

    "Selama dia belum bereaksi kita tenang saja dulu, Pa. Jangan gegabah kita lihat saja perkembangannya dan kita ikuti dia. Jika dia sampai berbuat sesuatu maka kita akan selesaikan dia," jawab Verrel yang dianggukan oleh Darren. "Sayang, aku ingin ke kamar mandi sebentar saja nanti aku kembali lagi." Bunga meminta izin kepada Verrel untuk ke kamar mandi. "Aku temani ya. Aku tidak ingin kamu sendiri," ucap Verrel khawatir dengan Bunga. "Tenanh aja, tidak apa-apa. Aku dengan Cintya berdua. Dan kalau perlu yang lainnya juga ikut denganku. Kamu tenang saja tidak lama sebentar aja kok," jawab Bunga yang dianggukan oleh Verrel. Sebenarnya dia takut tapi entah kenapa dirinya mengiyakan dan beberapa pengawalnya ikut bersama dengan Bunga. Walaupun Bunga tidak ingin tapi melihat sorot mata Verrel yang tajam akhirnya Bunga setuju dia pun tidak mempermasalahkan pengawal Verrel ikut dengan dirinya. Mereka pun segera pergi ke kamar mandi bersama dengan Cintya, Lala, Lola dan Bella. Bunga bersam

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 120. Bunga Jangan Nakal

    Selesai bermain panas Verrel dan Bunga mandi keduanya tertawa dan bersenda gurau. Bunga yang memang memiliki kejahilan kembali menjahili Verrel. "Bunga, kamu nakal sekali. Kenapa kamu masih jahil hmm?" tanya Verrel. Bunga tertawa melihat Verrel kesal dengan dirinya yang terus mengganggu Verrel. "Aku tidak menjahulimu, Sayang. Sejak kapan aku menjahilihimu. Aku tidak seperti itu. Lagi pula aku ini baik," jawab bunga yang lagi-lagi mencolek perut Verrel. Keduanya memutuskan mandi bersama karena itu keinginan dari Verrel dan Bunga tidak membantahnya. Dia mengikuti apa yang Verrel inginkan. Akan tetapi sampai di kamar mandi bukannya mandi, keduanya lagi-lagi berbagi keringat karena kejahilan dari Bunga. Puas bermain keduanya pun segera menyelesaikan mandi dan berpakaian. "Apa aku bisa bekerja kembali menjadi sekretarismu, Sayang ?" tanya Bunga yang menatap ke arah Verrel meminta persetujuan dari Verrel apakah dirinya masih boleh bekerja di perusahaan milik Verrel atau tidak. "Tentu

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 119. Aku Mencintaimu (21+)

    Verrel menganggukkan kepala dan dia tersenyum mendengar jawaban dari Bunga. Melihat anggukan dan senyuman dari Verrel tentu saja membuat Bunga ikut tersenyum. "Aku benar-benar sudah jatuh cinta denganmu. Sudah berkali-kali aku katakan kepadamu kalau aku mencintaimu. Dan jangan lagi meragukan cintaku, ya," jawab Verrel menarik tangan istrinya dan menggenggam erat kedua tangan istrinya. Bunga yang diperlakukan sangat manis oleh Verrel merasakan ledakan kupu-kupu yang sangat besar di dalam dirinya. Bunga terharu mendengar apa yang Verrel ucapkan."Aku percaya kepadamu. Maaf kalau aku bertanya seperti itu. Bukannya aku meragukanmu aku ingin memastikan kebenarannya. Apaakah kamu marah ?" tanya Bunga kepada Verrel yang masih mencium tangannya Bunga. Verrel yang mendengar Bunga berkata seperti itu tentu saja ditanggapi oleh Verrel dengan gelenga kepala. Dia tidak marah dengan apa yang Bunga katakan karena wajar jika Bunga bertanya seperti itu."Aku tidak marah sama sekali, wajar kalau ka

  • Gairah Semalam Dengan Kakak Ipar    Bab 118. Kamu Mencintaiku Juga

    "Ya kita tangkap lah. Masa kita lihatin dia saja. Itu tidak baik namanya. Hah! Kenapa kita jadi incaran dia padahal yang salah itu mereka bukan kita kenapa kita yang salah. Bukankah itu aneh namanya." Chiko tidak menyangka kalau Oliver malah mengejar mereka padahal mereka tidak salah sama sekali tapi kenapa mereka yang kena imbasnya dan itu sangat keterlaluan sekali. "Aku rasa kita biarkan saja dia dulu. Kita harus buat dia kesal karena tidak bisa membunuh kita. Setelah itu kita temui dia. Kita katakan kalau dia sudah tidak bisa lari lagi, itu ide yang luar biasa," jawab Miko membuat Chiko dan lainnya menaikkan alisnya. "Anakku, kamu kenapa kasih ide seperti itu, hmm?" tanya Chiko ke anaknya. "Kok kenapa? Itu ide terbaik, Papa. Apa papa nggak suka?" tanya Miko ke Chiko. Chiko geleng kepala dia tidak suka dengan ide anaknya. Terlalu cepat dan tidak mungkin bisa mereka menangkap Oliver Junior yang licik itu. "Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran anakku. Darren ayo kita ke sana kit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status