MasukSesuai dengan rencana yang telah disusun dengan sangat rapi, Tante Lina mengarahkan mobilnya menuju sebuah hotel butik eksklusif di kawasan Jakarta Utara. Kawasan ini sengaja dipilih karena letaknya yang cukup jauh dari jangkauan pergaulan rekan-rekan bisnisnya di Jakarta Pusat maupun kediaman Pak Baskoro di Jakarta Selatan. Di balik kacamata hitamnya, mata Lina berkilat dengan antusiasme yang sudah lama tidak ia rasakan—sebuah adrenalin murni yang dipicu oleh rahasia dan pengkhianatan.
Lorong rumah sakit bersalin kelas VIP itu terasa sangat sunyi, hanya deru pendingin udara yang terdengar stabil di antara detak jantung orang-orang yang menunggu dengan cemas. Jam dinding menunjukkan pukul 04.15 dini hari. Cahaya lampu lorong yang putih pucat memantul di lantai marmer yang mengilap. Pak Baskoro masih duduk di kursi tunggu, punggungnya tegak namun kedua tangannya yang saling bertaut memperlihatkan kegelisahan yang mendalam.Di sampingnya, Jessy menyandarkan kepala di bahu Brian. Brian sendiri terus mengelus punggung tangan istrinya, memberikan kehangatan di tengah udara dingin rumah sakit. Mereka sudah berada di sana selama hampir enam jam sejak air ketuban Sonya pecah di rumah Kemang tadi sore."Mas... sudah lama ya di dalam? Apa nggak ada kabar dari dokter?" bisik Jessy, suaranya parau karena kelelahan dan rasa khawatir.Brian mengecup pucuk kepala Jessy. "Sabar, Sayang. Melahirkan anak pertama memang biasanya butuh waktu lebih lama. Mas Arya a
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama di rumah Kemang, menciptakan garis-garis emas di atas sprei sutra yang masih sedikit berantakan. Ini adalah minggu pertama setelah acara pernikahan besar itu usai. Jessy menggeliat pelan di balik selimut tebal, merasakan lengan kekar Brian masih melingkar protektif di pinggangnya. Aroma maskulin suaminya bercampur dengan wangi sisa perawatan tubuhnya semalam menciptakan rasa nyaman yang membuat Jessy enggan beranjak."Mas... sudah bangun?" bisik Jessy sambil memutar tubuhnya menghadap Brian.Brian membuka matanya perlahan, sebuah senyuman langsung terkembang. Ia mengecup kening Jessy dengan lembut. "Sudah dari tadi, Sayang. Cuma lagi betah saja lihat wajah tidurmu. Ternyata bener ya kata orang, punya istri itu bikin males berangkat kerja."Jessy tertawa kecil, ia menyentuh rahang Brian yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. "Gombal. Inget lho, Mas sudah janji hari ini mau ajak aku ke kantor yayasan. Aku pe
Pintu kamar Honeymoon Suite bernomor 1201 itu tertutup dengan suara dentum halus yang mengunci seluruh dunia luar. Di dalam, pencahayaan otomatis yang temaram berwarna kekuningan memberikan atmosfer yang sangat intim, menyinari kelopak mawar merah yang ditabur membentuk hati di atas ranjang king-size. Brian masih menyudutkan Jessy di balik pintu, napasnya memburu, terasa panas di permukaan kulit wajah Jessy."Mas... tadi itu wejangan dari Ibu sama Pak Dirman bener-bener bikin aku mau ketawa keras di depan mereka," bisik Jessy sambil meraba dada bidang Brian yang masih terbungkus beskap pengantin.Brian terkekeh, suara baritonnya terdengar rendah dan sangat menggairahkan. "Iya, Sayang. Mereka pikir aku ini anak kucing yang baru lahir. Mereka nggak tahu kalau aku sudah 'lulus sensor' waktu kita di rumah Ampera dan hotel Gambir kemarin."Brian tidak menunggu jawaban lagi. Ia menangkup wajah Jessy dan melumat bibirnya dengan ciuman yang jauh lebih
Resepsi megah di aula hotel bintang lima itu baru saja berakhir satu jam yang lalu. Aroma bunga lili dan mawar masih menempel di pakaian keluarga besar Baskoro yang kini telah berkumpul di Presidential Suite yang dipesan khusus untuk keluarga inti. Suasana formal yang kaku selama resepsi kini berganti menjadi kehangatan keluarga yang cair dan penuh tawa. Jessy dan Brian, yang masih mengenakan pakaian pengantin modern namun sudah melepas atribut-atribut beratnya, duduk berdampingan di sofa utama, menjadi pusat perhatian sekaligus pusat godaan.Pukul menunjukkan pukul 21.00 WIB. Meskipun kelelahan tampak jelas di wajah mereka, sinar kebahagiaan tidak bisa disembunyikan. Namun, sebelum mereka diizinkan "menghilang" ke kamar pengantin mereka sendiri, sebuah tradisi keluarga kecil-kecilan harus dilewati: sesi wejangan malam pertama.***Pak Baskoro duduk di kursi tunggalnya dengan secangkir teh hangat, menatap putri bungsunya dan menantu barunya dengan tatap
Pagi itu, Jakarta diguyur gerimis tipis yang seolah menyucikan udara di sekitar gedung pertemuan mewah tempat berlangsungnya akad nikah Jessy dan Brian. Di dalam ruangan utama, dekorasi serba putih dengan sentuhan melati segar menciptakan aroma surgawi yang menenangkan. Pak Baskoro tampak duduk di kursi barisan depan, mengenakan beskap lengkap berwarna krem emas, matanya berkaca-kaca menatap meja akad yang sudah disiapkan di tengah ruangan.Di ruang rias pengantin yang terletak di lantai dua, Jessy tampak begitu sempurna. Kebaya putih panjang dengan ekor menjuntai dan siger Sunda yang bertahta permata membuatnya terlihat seperti putri dari negeri dongeng. Namun, di balik keanggunan itu, ada degup jantung yang kencang—bukan hanya karena gugup akan menikah, tapi karena ia merasakan ketegangan yang tertangkap dari raut wajah Arya yang sesekali melirik jam tangannya dan keluar-masuk ruangan dengan gelisah."Jess, kamu cantik sekali. Pangling Kakak lihatnya," bisik So
Malam di kawasan Kemang terasa begitu sunyi, hanya suara rintik gerimis yang membasahi dedaunan di taman rumah besar keluarga Baskoro. Namun, di balik tembok-tembok kokoh itu, kesibukan luar biasa sedang terjadi. Tiga hari menjelang akad nikah Jessy dan Brian, setiap sudut rumah dipenuhi oleh barang-barang kebutuhan pernikahan. Koper-koper besar milik keluarga Jogja yang sudah tiba kemarin tampak tertata di sudut lorong, sementara aroma melati mulai tercium samar dari beberapa rangkaian bunga yang baru saja diantarkan vendor.Di ruang tengah, Sonya duduk di sofa panjang dengan kaki yang disandarkan di atas ottoman. Kandungannya yang sudah memasuki usia delapan bulan membuatnya cepat merasa lelah. Perutnya yang membuncit besar sesekali bergerak-gerak, menandakan si jabang bayi sedang sangat aktif."Mas... tolong ambilkan bantal satu lagi, dong. Pinggangku rasanya mau copot," keluh Sonya pelan kepada Arya yang sedang sibuk memeriksa manifes katering di tabletnya







