Home / Urban / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 258 Pengejaran di Hutan Bakau

Share

Bab 258 Pengejaran di Hutan Bakau

Author: Irbapiko
last update Last Updated: 2026-03-11 08:10:47

Lumpur hitam yang kental merembes masuk ke sela-sela sandal jepit Slamet, terasa dingin dan licin, membelit mata kakinya setiap kali ia mencoba melangkah lebih cepat. Di kejauhan, suara serangga malam di hutan bakau Marunda terdengar saling bersahutan, menciptakan kebisingan yang justru membuat kesunyian muara terasa kian mencekam. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap bayangan pohon bakau yang meliuk-liuk di atas permukaan air yang keruh. Ia merogoh saku celananya, mencari korek api hanya

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 264 Ancaman di Hari Bahagia

    Denting sendok yang beradu dengan piring porselen di ruang makan keluarga Pak Broto terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu. Slamet menatap butiran nasi di piringnya, namun pikirannya melayang jauh ke lembaran kertas kusam yang kini ia simpan di balik saku beskap putihnya. Ia sempat terhenti sejenak, memutar-mutar gelas air putih di tangannya, memperhatikan bagaimana gelembung udara kecil naik ke permukaan—sebuah distraksi yang ia perlukan agar tangannya tidak gemetar di depan calon mertuanya."Met? Kok cuma diaduk-aduk nasinya? Ayo dimakan, bentar lagi rombongan kita jalan ke masjid," suara Pak Broto memecah kesunyian. Beliau tampak gagah dengan beskap senada, wajahnya memancarkan kelegaan yang tulus.Slamet mendongak, mencoba memaksakan senyum. "Nggih, Bapak. Sedikit mulas ini, mungkin karena tegang mau ijab kabul.""Hahaha! Biasa itu, Met. Dulu waktu saya mau nikahin Ibunya Cindy, saya malah hampir salah nyebut maskawin. Santai saja, se

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 263 Rahasia Cerita Di Balik Masa Lalu

    Embun pagi masih menempel tebal di jok motor Supra tua milik Slamet saat ia memacu kendaraannya menembus jalanan Depok. Ia sempat terhenti sejenak di perempatan lampu merah, jemarinya yang agak kaku tanpa sadar mengetuk-ngetuk tangki bensin. Matanya terpaku pada seorang penjual koran yang sedang mengusap keringat, sebuah distraksi psikologis yang ia gunakan untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya. Di dalam tas selempangnya, dokumen kusam dari Sita seolah mengeluarkan hawa panas yang membakar punggungnya."Sabar, Met... sabar," gumamnya pelan.Tujuannya bukan gudang, melainkan kediaman Darmawangsa. Ia butuh jawaban dari satu-satunya orang yang mungkin pernah mendengar pengakuan jujur dari bibir Pak Baskoro sendiri.Sesampainya di sana, Slamet melihat Tante Lina sedang duduk di teras belakang, menatap kolam ikan koi dengan pandangan kosong. Di sampingnya, segelas teh hangat yang sudah dingin dibiarkan begitu saja."Assalamualaikum, Tante," sapa Slamet lirih

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 262 Rahasia Sang Ular

    Lantai koridor ruang tahanan itu terasa lembap, menyisakan jejak uap dingin yang merayap dari sela-sela ubin semen yang mulai retak. Slamet berdiri mematung di depan pintu besi berat yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangannya sendiri pada kaca kusam di pintu—wajahnya tampak lebih tirus dengan sorot mata yang sarat akan beban. Tangannya yang kasar tanpa sadar meraba kancing kemeja batiknya, memastikan penampilannya rapi untuk menghadapi sidang keluarga Tebet nanti sore. Di sampingnya, Arya berdiri dengan rahang yang mengeras, sesekali memperbaiki letak jam tangannya, sebuah gestur gelisah yang jarang ia tunjukkan."Met... kalau nanti dia mulai ngaco soal Yayasan, kita langsung keluar aja," bisik Arya, suaranya parau tertahan gema ruangan.Slamet hanya mengangguk pelan. "Nggih, Mas. Saya cuma mau tahu kenapa dia bersikeras mau ketemu saya sebelum saya nikah sama Cindy."Petugas penjaga membukakan pintu dengan b

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 261 Akad di Ambang Bahagia

    Ketukan palu kecil dari tukang kayu yang memperbaiki pagar belakang rumah Tebet terdengar konstan, beradu dengan suara deru motor yang lewat di kejauhan. Slamet duduk di kursi plastik di teras samping, menatap nanar pada selembar formulir N1 yang sudah terisi rapi di atas meja. Jemarinya yang kasar tanpa sadar mengusap bekas luka gores yang hampir kering di punggung tangannya, sisa "kenang-kenangan" dari Marunda. Ia sempat terhenti sejenak, memperhatikan seekor laba-laba kecil yang sedang berjuang meniti jaring di sudut atap teras, merasa bahwa nasibnya tidak jauh berbeda—sedang meniti benang tipis menuju masa depan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya."Mas... kok bengong terus? Itu tehnya diminum, nanti keburu dikerubutin semut," suara Cindy lembut memecah lamunannya. Ia muncul membawa nampan berisi pisang goreng hangat.Slamet menoleh, tersenyum tipis. "Nggih, Cin. Cuma masih nggak nyangka aja. Seminggu lagi kita beneran ke penghulu?"Cindy duduk di

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 260 Penangkapan di Terminal 3

    Lantai marmer Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta memantulkan cahaya lampu neon yang putih pucat, membuat suasana tengah malam itu terasa dingin dan steril. Arya melangkah cepat, sepatunya beradu dengan lantai, menciptakan bunyi tuk-tuk-tuk yang konsisten. Ia sempat terhenti sejenak di dekat mesin penjual otomatis, menatap pantulan dirinya di kaca; kemeja yang masih bernoda lumpur kering di bagian lengan dan wajah yang lebam. Ia meraba sakunya, memastikan ponselnya masih aktif, sementara di kejauhan, suara pengumuman keberangkatan pesawat ke Singapura terdengar seperti lonceng kematian bagi kesabarannya."Ar, itu mereka! Dekat loket imigrasi!" bisik Brian sambil menunjuk ke arah dua sosok yang mencoba membaur dengan kerumunan calon penumpang.Brian terengah-engah, kemejanya sudah keluar dari ikat pinggang. "Gila, hampir aja kita telat. Itu Anwar pake topi... terus Sita... gila, dia masih sempet-sempetnya pake kacamata hitam malem-malem begini.""Jangan sa

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 259 Sidang di Meja Makan Pak Broto

    Lantai teras rumah Tebet itu masih menyisakan kelembapan sisa hujan semalam, dinginnya merambat pelan menembus sol sepatu Slamet yang sudah mulai menipis. Ia berdiri mematung di depan pintu jati besar itu, tangannya yang kotor oleh sisa lumpur hutan bakau meremas ujung kemejanya yang robek. Di sampingnya, Cindy bersandar lemas, rambutnya yang kusut masai hanya ditutupi jaket denim milik Slamet. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap seekor semut yang berjuang mendaki celah ukiran pintu, ia merasa dunianya sendiri sedang berada di ambang keruntuhan yang sama.Ia menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu. Tok... tok... tok.Pintu terbuka dengan sentakan kasar. Pak Broto berdiri di sana, mengenakan sarung dan kaus dalam putih, wajahnya yang biasa berwibawa kini tampak sepuluh tahun lebih tua. Matanya merah, kantung matanya menebal, menunjukkan ia tidak tidur sedetik pun sejak Cindy dikabarkan hilang di muara."Papa..." suara Cindy pecah, nyaris tak terde

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status