Se connecterGedung yayasan Kuningan mendadak sunyi senyap bersamaan dengan padamnya seluruh pasokan daya listrik secara serentak.
Deggg...
Cindy tersentak kaku di balik meja administrasi forensik, meraba kegelapan kubikal dengan napas memburu panik.
"Mas Slamet! Ka-kamu di mana? Layar monitor saya mati total tepat setelah video Hendra terputus!" jerit Cindy, suaranya parau menahan ngeri.
Slamet yang berada di dekat panel sekring segera menyalakan senter gawai pangkala
"Mas Slamet! Lihat luar! Itu... itu rombongan truk kontainer Jogja beneran sudah menjebol palang pintu otomatis pangkalan bawah kita!" jerit Cindy memecah kesunyian malam Kuningan yang mencekam.Deggg...Suara pecahan besi pembatas pangkalan terdengar kaku menembus dinding kaca, memicu kepanikan moneter baru."Cindy, amankan laptop forensikmu sekarang, kita dilarang keras membiarkan draf eksekusi fisik itu menyentuh server utama!" perintah Slamet.Brian Baskoro yang melihat pergerakan armada musuh dari layar pemantau langsung merapikan letak jas necisnya yang mulai lembap.Keringat dingin mengalir deras membasahi punggungnya, meruntuhkan sisa ketenangan mental seorang politikus bisnis muda."Jess, saya harus bergerak ke restoran mewah di pusat kota sekarang untuk menemui kepala otoritas regulasi kementerian keuangan," ucap Brian, suaranya parau menahan sesak."Saya ikut mendampingimu, Brian, dilarang ada draf pembekuan izin j
Deru baling-baling helikopter kurator di atas atap Marunda terdengar bergetar kaku, mengirimkan gelombang kepanikan siber langsung ke Kantor Kuningan.Deggg...Cindy tersentak di depan meja kerjanya, menatap baris demi baris indikator digital yang berkedip kuning pada layar komputer forensik."Mas Slamet, draf penahanan Tuan Arya beneran aktif, mereka sengaja memotong komunikasi interkom biar fokus kita pecah!" jerit Cindy.Slamet yang sedang berjaga di dekat pintu masuk logistik pangkalan bawah langsung melangkah satset, mendekati kubikal istrinya.Bau solar yang kaku dari kemeja kerjanya beradu pekat dengan aroma parfum melati dari tubuh matang Cindy yang mulai dibanjiri peluh."Dilarang melihat ke luar jendela, Cindy, tugasmu adalah mengunci pergerakan draf dana trust Baskoro Junior sekarang!" perintah Slamet berat.'Sialan, orang-orang Jogja ini beneran licik, mereka memakai isu penculikan bayi hanya untuk mengalihkan per
Asap tipis sisa korsleting mesin server forensik masih mengepul kaku di sudut ruang kerja utama, memutus total seluruh transmisi suara Mawar.Deggg...Sonya Baskoro berdiri mematung dengan ponsel pribadi yang bergetar hebat di genggaman, menatap layar proyektor yang kini gelap gulita."Mas Arya... Kalila palsu? Bagaimana mungkin manipulan Jogja bisa menduplikasi draf biometrik anak kita sampai ke perbankan Singapura?" raung Sonya, suaranya parau menahan sesak.Arya Baswira bergerak satset, melangkah tegap melompati tumpukan berkas manifes logistik yang berantakan di atas lantai marmer.Disambarnya raga matang Sonya oleh Arya, mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya yang kokoh untuk menahan guncangan psikologis sang istri."Tenangkan dirimu, Sonya, dilarang ada air mata di depan dokumen rahasia negara ini," ucap Arya, suaranya berat memancarkan aroma maskulin panas bercampur kayu gaharu.'Sialan, musuh beneran menembak ulu ha
Raungan sirine kapal patroli pelabuhan mendadak menggila dari arah dermaga luar Marunda, mengoyak sisa keheningan pagi.Deggg...Sonya Baskoro berdiri tegak di tengah ruang rapat darurat pangkalan logistik utama, mengepalkan jemarinya hingga memutih."Mbak Sonya, ini draf klaim Singapura, kapal tunda mereka beneran sudah mengunci koordinat satelit fuso jalur utara!" jerit Brian, melangkah masuk dengan wajah banjir keringat dingin.Sonya tidak menjawab dengan kepanikan, dia justru membalikkan badannya kaku dengan sorot mata predator yang sangat berdarah dingin.Wangi aroma melati dari tubuh matangnya seketika menguap, digantikan aura kaku "CEO Galak" yang menolak tunduk pada sabotase birokrasi Jogja."Brian, panggil seluruh manajer operasional ke meja rapat ini sekarang juga dan dilarang ada yang banyak alasan!" perintah Sonya, suaranya melengking kokoh menekan ulu hati.'Sialan, orang-orang Jogja ini pikir saya bakal menangis
Jeritan histeris Sonya memecah keheningan subuh dari arah dalam rumah besar Marunda, menggema kaku menembus dinding ruang kendali.Deggg...Napas Brian tercekat seketika, matanya menatap liar ke arah Arya yang sudah melesat bagai predator menuju koridor utama."Brian, kita dilarang ikut panik, server Kuningan harus dikunci sebelum pengacara Jogja mengambil alih aset trust sepenuhnya!" jerit Jessy.Digandengnya lengan Brian oleh Jessy secara satset, menarik suaminya kembali ke depan kubikal komputer forensik darurat."Aa... anu, Jess, ta-ta-tapi bagaimana kalau tanda tangan digital milik bapak kandungku beneran terotentikasi sah di kementerian?" tanya Brian, suaranya gagap dengan dahi dibanjiri keringat dingin."Kita buktikan lewat analisis piksel malam ini juga, Brian, dilarang ada sistem biometrik yang tidak meninggalkan jejak digital!"Kini, jemari lentik Jessy yang beraroma lavender bergerak sangat cepat di atas p
"Katakan pada Sonya, CEO Galak miliknya dilarang keras melawan draf penyitaan yang ditandatangani oleh bapak kandungnya sendiri," ucap suara tua itu dingin.Deggg...Suara serak yang menggema kaku dari interkom dinding itu seketika memutus sisa pasokan napas di dalam kamar tidur sayap mansion.Brian mematung dengan wajah pucat pasi, gawai satelit Parental Control di genggamannya nyaris terlepas ke atas lantai marmer."B-bapak? Jess, ta-ta-tapi bukankah Bapak sudah dinyatakan meninggal di jurang pelabuhan Jogja sepuluh tahun lalu?" tanya Brian, suaranya bergetar hebat.Jessy tidak langsung menjawab, dia bergerak satset menarik selimut sutra untuk membungkus raga matangnya yang masih polos pasca percintaan intens."Seseorang sedang memainkan taktik psikologis tingkat tinggi untuk meruntuhkan mental kita, Brian, kita dilarang percaya begitu saja!" desis Jessy parau.'Sialan, urusan tanda tangan digital anak belum kelar, sekarang