MasukSetelah Sonya dan Arya kembali dari liburan mereka yang bertujuan untuk melepas penat bagi Sonya, suasana di kantor Sonya Fast menjadi lebih baik. Sonya terlihat segar, bersemangat, dan bahagia. Meskipun demikian, sifat galaknya masih terasa di kalangan anak buahnya.
Suatu pagi, Sonya mengadakan rapat besar dengan semua kepala cabang dan stafnya. Ruang rapat dipenuhi oleh berbagai wajah tegang dan khawatir. Mereka tahu bahwa sang pemilik perusahaan, Bu Sonya, memiliki reputasi sebagai seorang wanita yang tegas dan perfeksionis. Mereka tidak pernah tahu apa yang bisa mereka harapkan dari rapat-rapat seperti ini.
Sonya memimpin rapat dengan tangan yang tegas. Dia memberikan arahan yang jelas tentang strategi perusahaan, target penjualan, dan peningkatan kualitas layanan. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Sonya berbicara dengan nada yang lebih lembut dan penuh pengertian. Dia juga berusaha memberikan apresiasi kepada stafnya yang telah
Malam di Jakarta selalu menyisakan hawa panas yang lengket, namun di dalam unit apartemen mewah milik Cindy di kawasan Kuningan, suhu udara diatur sedemikian dingin oleh mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Aroma lilin aromaterapi vanila bercampur dengan bau parfum mahal memenuhi ruangan yang tertata minimalis namun glamor itu. Cindy, sang sekretaris seksi blasteran Indonesia-Belanda, baru saja melepaskan blazer kerjanya dan melemparkannya begitu saja ke sofa beludru merah.Ia hanya mengenakan kemeja putih tipis yang kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan bra renda hitam yang menopang dadanya yang padat. Di tangannya, sebotol wine merah sudah terbuka setengah. Tak lama, bel apartemen berbunyi. Cindy tersenyum binal, ia tahu siapa yang datang.Begitu pintu terbuka, Jodi langsung merangsek masuk. Tanpa basa-basi, ia menarik pinggul Cindy dan melumat bibirnya dengan beringas. Jodi, staf operasional andalan Sonya Fast yang biasanya terlih
Sinar matahari pagi menyinari gedung perkantoran Sonya Fast yang berdiri megah di kawasan pusat bisnis Jakarta. Setelah kegaduhan yang terjadi di Marunda, Sonya memutuskan bahwa operasional harus segera kembali normal. Ia tidak ingin para klien kehilangan kepercayaan hanya karena satu insiden sabotase. Baginya, bisnis adalah medan perang, dan seorang jenderal tidak boleh terlihat lemah hanya karena satu serangan gerilya.Suasana di lobi utama sudah tampak sibuk sejak pukul delapan. Para kurir dengan seragam oranye khas Sonya Fast berlalu-lalang mengangkut paket, sementara staf admin sibuk dengan panggilan telepon yang tak kunjung berhenti. Di tengah kesibukan itu, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan lobi.Arya turun dari kursi kemudi. Penampilannya pagi itu sangat berkelas, mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru muda yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan pemberian Sonya yang melingkar gagah di perge
Raungan mesin mobil Pak Baskoro akhirnya berhenti tepat di depan teras rumah mewah di Kemang. Suasana malam yang sunyi seolah menjadi saksi bisu kelegaan luar biasa yang dirasakan oleh Arya dan Sonya. Setelah ketegangan maut yang mereka hadapi di Marunda—adu nyawa dengan Reza yang berakhir dengan ledakan di dermaga—keduanya seolah baru saja kembali dari ambang kematian.Arya turun lebih dulu, wajahnya yang ganteng mirip Adjie Massaid itu tampak lelah namun guratan maskulinnya justru semakin menonjol. Ia segera membukakan pintu untuk Sonya. Tanpa banyak bicara, Arya meraih tubuh istrinya yang cantik itu ke dalam gendongan bridal style."Ar, aku bisa jalan sendiri... malu dilihat Pak Dirman," bisik Sonya manja, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arya. Aroma parfum maskulin suaminya yang bercampur keringat justru terasa sangat merangsang bagi indra penciuman Sonya."Diamlah, Sayang. Malam ini kamu ratuku, dan aku tidak mau kaki jenjangmu me
Udara di ruang kerja Sonya mendadak terasa tipis. Arya berdiri mematung di tengah ruangan yang berantakan, menggenggam kertas ancaman berwarna merah itu hingga remuk di tangannya. Di luar, suara kepanikan staf IT yang mencoba menyelamatkan server masih terdengar samar, namun bagi Arya, dunia seolah sunyi senyap. Fokusnya hanya satu: Sonya dan bayi mereka yang sedang dalam bahaya."Pak Arya! Pak!" Pak Dirman berlari masuk dengan napas tersenggal. "Saya sudah cek rekaman CCTV cadangan yang tersambung ke ponsel saya. Sepuluh menit yang lalu, ada mobil boks katering yang keluar lewat pintu belakang. Saya yakin mereka ada di dalam sana!"Arya menoleh dengan mata yang memerah karena amarah yang tertahan. "Pak Dirman, jangan hubungi polisi. Saya tidak mau mengambil risiko. Reza itu jenius gila, dia pasti memantau frekuensi radio polisi atau sinyal seluler di sekitar sini.""Tapi Pak, sendirian ke Marunda itu bunuh diri! Itu wilayah mati, banyak gudang tua yang sudah di
Lampu neon di koridor lantai server berkedip sekali sebelum akhirnya padam total. Pak Dirman, yang sudah puluhan tahun bekerja di keluarga itu, merasa bulu kuduknya berdiri. Namun, instingnya sebagai mantan penjaga keamanan tidak hilang. Ia merogoh saku, mencari ponsel untuk dijadikan senter."Reza?" panggilnya dengan suara berat. Tidak ada sahutan. Hanya suara hening yang mencekam dan desis mesin server yang perlahan mati.Di ujung koridor, bayangan itu bergerak. Pak Dirman mencoba mengejar, namun langkahnya terhalang oleh tumpukan kardus yang sengaja diletakkan di tengah jalan. Saat ia berhasil menyalakan senter ponselnya, koridor itu sudah kosong. Pintu darurat di ujung lorong masih berayun pelan.***Sementara itu, di sebuah kedai kopi tersembunyi yang jauh dari jangkauan gedung Sonya Fast, Reza duduk dengan tenang sambil menyesap espresso-nya. Di depannya, duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan topi bisbol rendah. Pria itu ad
Pagi itu, suasana di kantor pusat Sonya Fast tampak seperti biasa, namun di bawah permukaan, ada arus yang mulai bergejolak. Arya, yang kini sudah terbiasa dengan setelan kemeja kerja yang rapi, melangkah masuk melalui lobi utama. Beberapa karyawan memberikan salam dengan hormat, tetapi Arya bisa merasakan perubahan atmosfer. Ada bisik-bisik yang terhenti setiap kali ia melintas.Reza, asisten pribadinya yang ambisius, sudah menunggu di depan ruang kerja dengan tablet di tangan dan senyum yang terlalu sempurna."Pagi, Pak Arya. Jadwal hari ini cukup padat. Ada rapat dengan tim audit eks-Nexus jam sepuluh, lalu makan siang dengan perwakilan pelabuhan," sapa Reza dengan suara yang sangat profesional."Pagi, Rez. Langsung siapkan bahan auditnya di meja saya. Oh ya, apa ada masalah dengan operasional semalam?" tanya Arya sambil membuka pintu ruangannya.Reza mengikuti dari belakang, menutup pintu dengan pelan. "Operasional lancar, Pak. Tapi... anu, a







