MasukKegelapan di sekitar mansion Shaquille terasa mencekam. Aksa mondar-mandir di ruang kendali dengan ponsel yang terus menempel di telinga. Nada sambung itu terdengar berulang-ulang tanpa jawaban. Denzel benar-benar tidak bisa dihubungi. ”Sial! Kenapa di saat kritis seperti ini dia harus mematikan suara ponselnya?" umpat Aksa sambil membanting ponselnya ke atas meja operator. Ia menatap monitor CCTV yang memenuhi dinding ruangan. Kamera termal menunjukkan pergerakan di batas hutan luar pagar mansion. Ada sesuatu yang mendekat, tapi gerakannya sangat halus, hampir menyerupai hewan liar. [Tim Satu, periksa sektor Barat! Ada pergerakan mencurigakan!] perintah Aksa melalui interkom. [Akan aku periksa, Pak Aksa.] Aksa tidak bisa menunggu. Pesan ancaman dari nomor asing itu peringatan yang nyata. Ia mengambil senapan taktisnya, memeriksa magasin, dan keluar dari ruang kendali dengan langkah lebar. Ia harus membereskan ini sebelum matahari terbit, sebelum rombongan Audrey dan Elena
Di saat yang sama, di luar gedung rumah sakit, Aksa baru saja sampai di lokasi puing helikopter. Udara di sana masih terasa panas. Petugas pemadam kebakaran sedang mengemasi selang mereka. Aksa berjalan mendekati bangkai besi yang sudah menghitam itu. "Bagaimana?" tanya Aksa pada kepala tim identifikasi. "Kami menemukan potongan jari dengan cincin yang identik dengan milik Viktor. Tapi tubuhnya... hancur menjadi serpihan kecil karena ledakan bahan bakar," jelas petugas itu sambil menunjukkan kantong jenazah berisi puing-puing biologis. Aksa memperhatikan cincin itu. Memang benar, itu cincin keluarga Viktor. Namun, instingnya sebagai mantan agen lapangan merasa ada yang janggal. Ia melihat ke arah jalur pelarian yang mungkin diambil kalau seseorang sempat melompat sebelum ledakan. Ada semak-semak yang tampak patah di arah yang berlawanan dengan arah jatuhnya helikopter. Aksa berjalan menuju semak-semak itu, menyalakan senter kuatnya. Ia menemukan bercak darah. Kecil, namun mas
Suasana di lorong VVIP rumah sakit itu perlahan mulai mendingin, namun sisa-sisa ketegangan masih begitu terasa. Bau mesiu yang tadi menyengat kini mulai tersamarkan oleh aroma pembersih lantai yang digunakan petugas rumah sakit di bawah pengawasan ketat tim elit Shaquille. Denzel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah gedung parkir, lokasi di mana helikopter Viktor meledak beberapa jam lalu. Ponsel di sakunya bergetar. Sebuah panggilan dari Aksa. [Denzel, pembersihan di area dermaga dan gudang distribusi air sudah selesai. Tidak ada satupun anak buah Viktor yang dibiarkan lolos. Kami sudah memastikan jalur mereka terputus total,] suara Aksa terdengar serak di seberang telepon. Denzel menghembuskan napas panjang, matanya yang tajam menatap sisa-puing yang masih berasap di kejauhan. [Bagaimana dengan jasad Viktor? Aku ingin konfirmasi visual, Aksa. Aku tidak butuh laporan 'mungkin' atau 'kemungkinan'.] [Tim identifikasi sedang berada di titik jatuhnya bangkai he
Trustin tidak tega melihat kesedihan Aiden. Ia hanya menahan Aiden agar tidak terus menerobos masuk kedalam ruang penanganan. Namun Suara denging panjang dari monitor jantung di dalam ruang operasi itu seolah-olah terus terngiang ditelinga Aiden. Ia terus meronta, berusaha melepaskan diri dari dekapan Denzel dan Trustin. Kekuatannya yang biasanya besar kini terasa liar karena didorong rasa putus asa yang mendalam. "Lepaskan aku, Pa! Elena memanggilku! Dia butuh aku di dalam sana!" teriak Aiden dengan suara parau yang menyayat hati. "Aiden, tenang! Biarkan dokter menanganinya!" bentak Denzel sambil mempererat tangannya yang menahan bahu Aiden. Mata Denzel sendiri berkaca-kaca melihat putra angkatnya hancur seperti itu. Sementra didalam ruangan, melalui celah pintu yang terbuka sedikit, terlihat Dokter Maya sedang melakukan kompresi dada pada Elena. "Satu, dua, tiga... Charge ke 200 joule! Clear!" DUG! Tubuh Elena terpental di atas meja operasi, namun monitor masih menunjukkan
Denzel segera berbalik dan berlari secepat kilat menuju ruangan sebelah. Di koridor, ia melihat tumpukan mayat musuh yang sudah dilumpuhkan tim elitnya. "Jaga pintu ini! Siapa pun yang berani mendekat tanpa izin, tembak di tempat!" perintah Denzel pada dua anggota tim elit yang berjaga di depan kamar Audrey. Denzel membuka pintu kamar Audrey dengan kasar. "Audrey!" Di dalam, ruangan Denzel melihat Audrey sedang duduk di pojok tempat tidur, meringkuk sambil mendekap erat bayi Kenneth di dadanya. Tubuhnya gemetar hebat, air mata membasahi wajahnya yang pucat. "D-Denzel?" suara Audrey bergetar, hampir tidak terdengar di tengah isak tangisnya. Denzel langsung menjatuhkan senjatanya ke lantai dan berlari ke arah istrinya. Ia naik ke atas tempat tidur, melingkarkan lengan kokohnya di sekeliling Audrey dan Kenneth. Ia memeluk mereka begitu erat, seolah ingin menyatukan tubuh mereka ke dalam dadanya. "Aku di sini, Sayang... Aku di sini. Maafkan aku, aku terlambat," bisik Denzel pa
Jendela kamar yang berada di lantai lima itu sudah pecah. Dua orang pria bertopeng sedang mencoba menarik Elena yang berontak di atas tempat tidur, sementara Sarah tergeletak pingsan di lantai dengan luka di kepalanya. "LEPASKAN ISTRKU!" teriak Aiden menggelegar. Aiden mencabut pistol dari balik jasnya dan melepaskan tembakan presisi yang menghantam bahu salah satu penculik. Namun, penculik yang satu lagi dengan cepat menarik Elena dan menodongkan pisau tepat di leher istrinya yang sedang pucat pasi. "Mundur! Atau istrimu dan bayi di perutnya akan mati sekarang juga!" teriak si penculik dengan suara parau. Elena menatap Aiden dengan mata yang penuh ketakutan. "Aiden... Tolong..." Di saat yang sama, Denzel dan Trustin sampai di pintu. Trustin langsung berlari menghampiri Sarah yang tidak sadarkan diri, sementara Denzel berdiri di samping Aiden dengan senjata teracung. Namun, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi. Dari arah luar jendela, terdengar suara helikopter yang mende







