LOGINSore harinya, persiapan peresmian dimulai. Meskipun mansion ini terasa seperti sebuah 'benteng', Trustin tetap ingin menjaga prestise keluarga. Katering kelas satu didatangkan, bunga-bunga segar menghiasi aula, dan musik klasik mulai mengalun lembut. Di kamarnya, Denzel sedang membantu Audrey memakai kalung berlian yang menjadi perhiasan turun-temurun keluarga Shaquille. Denzel menatap pantulan istrinya di cermin, gaun malam berwarna emerald yang dikenakan Audrey membuatnya tampak seperti dewi. "Kamu gugup?" tanya Denzel lembut, tangannya masih berada di bahu Audrey. "Sedikit," aku Audrey. "Setelah semua kejadian panjang yang kita lalui bersama, berdiri di tengah orang-orang yang mungkin saja musuh kita terasa... Aneh." "Ingatlah satu hal, Sayang," Denzel memutar tubuh Audrey, menatap matanya dalam-dalam. "Rumah ini perlindungan keluarga Shaquille untuk keluarganya. Tidak ada yang bisa melukaimu di bawah atap ini. Paka
Setelah proses administrasi keamanan selesai, mereka akhirnya memasuki aula utama. Wangi kayu jati tua dan lilin aromaterapi langsung menyapa indra penciuman. Interior mansion ini sangat berbeda dengan resort yang modern. Di sini, segalanya terasa berat, penuh dengan sejarah, dan megah. Langit-langitnya yang tinggi dihiasi oleh lukisan mural yang menceritakan kejayaan keluarga Shaquille dari masa ke masa. "Luar biasa..." bisik Fiona sambil menyentuh pilar marmer yang dingin. "Tempat ini terasa sangat... aman." "Memang," sahut Trustin. "Namun, keindahan ini hanya di permukaan. Denzel, Aiden, mari ikut aku ke ruang kontrol pusat. Sarah, Audrey, Elena, Fiona, para pelayan akan mengantar kalian ke kamar masing-masing. Kamar kalian sudah dipersiapkan dengan sistem sirkulasi udara mandiri dan pintu anti-ledak yang disamarkan dengan panel kayu." Denzel mencium dahi Audrey sekali lagi sebelum mengikuti Trustin. "Beristirahatlah. Aku akan mene
"Denzel, apa kamu sudah mengecek daftar manifes helikopter?" tanya Audrey sambil memasukkan botol susu terakhir ke dalam tas bayi yang ergonomis. Denzel berbalik, tatapannya yang tajam melunak saat melihat istrinya. Ia melangkah mendekat, melingkarkan tangan di pinggang Audrey, dan menariknya ke dalam pelukan singkat yang protektif. "Aksa sudah memeriksa semuanya tiga kali, Sayang. Dua helikopter akan mengangkut kita. Helikopter pertama untuk Trustin, Sarah, dan Paman Jacksonville. Helikopter kedua untuk kita, Elena, Aiden, Aksa dan Fiona. Kita tidak akan berada dalam satu transportasi yang sama untuk memecah risiko." Audrey menghela napas, menyandarkan kepalanya di dada bidang Denzel. "Aku tahu ini demi keamanan, tapi mendengar pembagian itu membuatku sadar bahwa hidup kita tidak akan pernah benar-benar 'normal' lagi setelah ini." "Normal bagi Shaquille adalah memastikan tidak ada celah bagi musuh," bisik Denzel sambil mencium puncak kepala Audrey. "Dan mansion lama adalah jaw
"Kamu terlalu banyak bicara, Sarah," bisik Trustin, suaranya serak dan rendah, bergetar tepat di depan bibir Sarah. "Malam ini, biarkan tubuhku yang menjelaskan seberapa besar ketakutanku kehilanganmu." Tanpa menunggu jawaban, Trustin kembali membungkam bibir Sarah. Ciuman kali ini jauh berbeda dari sebelumnya, tidak ada lagi ketergesaan yang kasar, melainkan sebuah penjelajahan yang dalam dan penuh perasaan. Lidah Trustin menyapu deretan gigi Sarah, mencari tautan yang lebih intim, menuntut balasan yang sama besarnya. Sarah mendesah pasrah, tangannya merayap naik, jemarinya menyusup ke dalam rambut Trustin yang masih sedikit lembap, menarik pria itu agar tidak memberikan celah sedikit pun di antara mereka. Tangan besar Trustin mulai bekerja. Dengan gerakan yang sangat terlatih namun penuh kelembutan, ia mengusap sisi wajah Sarah, turun ke leher, dan berhenti sejenak di denyut nadi istrinya yang berpacu kencang. Perlahan, telapak tangan yang kasar karena latihan militer itu tur
Pemandangan itu terlihat oleh Trustin dan Sarah yang baru saja bergabung di tepi pantai. Sarah tersenyum haru. "Sepertinya mansion lama kita akan semakin ramai, Trustin." Trustin merangkul pinggang Sarah, menariknya mendekat hingga tubuh mereka menyatu. "Ya. Dan aku akan memastikan setiap inci mansion itu aman untuk kalian semua. Tidak akan ada Natalia kedua, tidak akan ada pengkhianat lain." Trustin menunduk, mencium kening Sarah dengan durasi yang lama, seolah sedang menyalurkan seluruh cintanya. Ia kemudian berbisik di telinga Sarah dengan suara yang sangat rendah, "Malam ini, setelah semua orang tidur... Aku punya kejutan kecil di taman belakang untukmu. Hanya kita berdua." Sarah meremang, ia menatap mata Trustin yang berkilat penuh hasrat. "Kejutan apa?" "Sesuatu yang akan membuatmu ingat kalau kamu wanita yang paling aku cintai sekarang dan selamanya," jawab Trustin sebelum melumat bibir Sarah dengan ciuman yang mendebarkan, mengabaikan teriakan Kenneth dan tawa anggota
Denzel terdiam sejenak, matanya menyisir perimeter pantai. Ia melihat Aksa berdiri tidak jauh dari sana, dan beberapa orang Jacksonville yang berjaga dengan waspada. "Hanya di area yang sudah disterilkan, Sayang. Aku tidak ingin kamu atau Kenneth berada terlalu jauh dari jangkauanku." Audrey tersenyum lebar, ia berjinjit dan memberikan kecupan singkat di bibir Denzel. "Terima kasih, suamiku tersayang." "Hanya kecupan singkat?" Denzel menyeringai nakal. Ia menahan tengkuk Audrey, memperdalam ciuman itu di depan deburan ombak. Sebuah ciuman yang menuntut, penuh gairah, dan seolah menunjukkan kalau wanita ini sepenuhnya miliknya. Audrey mendesah halus di sela ciuman mereka, merasakan lidah Denzel yang menyapu lembut bibirnya sebelum akhirnya pria itu melepaskannya dengan enggan. “Eumm.. Denzel..” "Pergilah. Aku akan mengawasimu dari sini sambil bicara dengan Trustin," kata Denzel dengan suara serak. Audrey menghampiri Kenneth yang sudah duduk di stroller di sampingnya, sementar
Aiden melangkah masuk terlebih dahulu dengan tangan yang masih menggenggam erat jemari Elena. Keduanya tampak lebih segar, meskipun kelelahan dari ketegangan kemarin masih sedikit membekas di wajah mereka. "Pagi, semuanya," sapa Aiden dengan suara yang terdengar cukup tenang. Elena tersenyum le
Perjalanan pulang dari resor menuju Mansion Shaquille seharusnya menjadi momen paling membahagiakan bagi Elena. Cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya sebagai bukti nyata kalau Aiden telah menjadi miliknya secara resmi. Namun, hangatnya sinar matahari yang menembus kaca mobil tidak ma
Suara mesin mobil Aiden terdengar sangat memekakkan telinga saat ia mengerem mendadak di depan lobi rumah sakit. Wajah Elena tampak sangat pucat, tangannya masih gemetar memikirkan kondisi Audrey yang tiba-tiba pingsan Aiden menggandeng tangan Elena, menariknya berlari menyusuri koridor rumah sak
Tangan Elena gemetar hebat saat memegang foto itu, seakan mengingatkannya kembali pada keraguan yang baru saja coba ia lupakan. Saat melihat Aiden masuk ke balkon dengan senyum lebar, ia segera menyembunyikan foto itu. "Semua sudah siap, sayang. Lusa, di dermaga tempat kita pertama kali bertemu,







