Share

Bab 2

Author: Liam
Hanya terhalang kemeja yang tipis, aku bisa merasakan dengan jelas kehangatan dada dan lekuk ototnya yang keras.

Aku bahkan… bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan bertenaga. Detakan demi detakan itu seolah mengetuk langsung tulang belakangku.

“Di dalam bus ramai sekali, susah berdiri tegak,” ujarnya menjelaskan dengan singkat dan padat. Nada suaranya terdengar datar, tapi lengannya malah mendekapku semakin erat.

“Biar kubantu pegangin.”

Alasannya sama sekali tak bisa dibantah.

Sebagai seorang guru magang, aku sama sekali tak punya hak untuk bilang ‘tidak’ di hadapan donatur terbesar sekolah.

Aku hanya bisa pasrah dalam posisi setengah dipeluk dengan kaku, merasakan telapak tangannya yang panas membekas di samping pinggangku, meskipun terhalang kain rok.

Kulit di bagian sana seperti terbakar. Rasa panasnya menjalar ke mana-mana, membuat tenggorokanku kering dan hatiku panik tak karuan.

Aku tak berani banyak bergerak, hanya bisa menundukkan kepala serendah mungkin, berharap tak ada yang menyadari keanehan di sini.

Namun, semakin mencoba mengabaikannya, sentuhan telapak tangannya malah terasa semakin jelas.

Itu bukan sentuhan sopan dari pria terhormat. Jarinya yang agak kapalan mencengkeram dengan kuat, seolah ingin meremas pinggangku dan menyatukan tubuhku ke dalam tubuhnya.

Tubuhku mulai lemas di luar kendali dan kedua kakiku rasanya seperti menginjak kapas.

Bus wisata itu melaju sambil terguncang-guncang di jalanan.

Setiap kali ada guncangan, tubuhku akan terbenam sekali ke dalam pelukannya.

Bokongku yang hanya terhalang selembar rok span tipis dan celana kainnya, menempel ketat di bagian bawah perutnya.

Awalnya aku tak berpikir macam-macam, tapi seiring guncangan bus, lama-lama diriku menyadari ada yang tidak beres.

Ada sesuatu yang keras dan membara sedang menekan tepat di belahan bokongku.

Seketika, bentuk dan rasa panas itu langsung membuat otakku kosong.

Selama dua puluh tiga tahun hidup, aku baru pernah pacaran sekali di zaman sekolah. Bahkan berciuman saja sangat jarang, apalagi menghadapi situasi ekstrem seperti ini.

Aku ketakutan hingga bulu kudukku merinding. Aku berusaha mati-matian bergeser ke depan untuk memberi sedikit jarak.

Namun, tidak ada ruang yang tersisa di dalam bus.

Begitu aku bergerak maju, ransel seorang anak di depan langsung menekan perutku.

Aku terjebak dalam dilema, hanya bisa pasrah terjepit di tengah-tengah.

“Bu Angel, jangan banyak gerak.”

Suara Chandra kembali terdengar dari belakang telingaku. Kali ini, ada sedikit nada serak yang samar.

Dia seolah menyadari kepanikan dan penolakanku. Bukannya menahan diri, dia malah memanfaatkan guncangan bus berikutnya untuk sengaja mendorong maju pinggang dan perutnya.

“Hm….”

Aku menggigit bibir kuat-kuat agar desahan memalukan itu tak lolos dari tenggorokanku.

Terhalang dua lapis kain, sentuhan keras itu menjadi semakin jelas, seperti batangan besi membara yang menempel di sela bokongku.

Aku merasa sangking panasnya, wajahku rasanya bisa digunakan untuk menggoreng telur.

Rasa malu, marah dan sensasi geli yang asing, yang bahkan tak berani kuakui itu membanjiriku seperti ombak pasang.

Berani sekali dia?!

Di dalam bus yang penuh dengan murid dan guru, tepat di hadapan anak kandungnya sendiri….

Aku menoleh dan berniat memberinya peringatan melalui tatapan mata.

Namun, begitu menoleh, aku malah langsung disambut oleh sepasang matanya yang dalam.

Tidak ada kepanikan sedikitpun di sana. Sebaliknya, ada kilat senyuman geli yang penuh candaan, seolah-olah sedang menikmati pemandangan seekor kelinci kecil yang masuk ke dalam jebakan tanpa disadarinya.

“Bu Angel.” Dia menunduk, bibirnya hampir menempel di telingaku, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, “Wajahmu merah sekali, karena terlalu panas, ya?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 14

    Aku berjalan tanpa arah di taman luar vila, air mata mengaburkan pandanganku.Ternyata, dari awal hingga akhir, diriku hanyalah sebuah lelucon.Tepat di saat hatiku sudah mati rasa, sosok bayangan menghalangi jalanku.Itu Chandra.“Kenapa kamu lari?” tanyanya dengan dingin.“Pak Chandra.” Aku mendongak menatapnya, berusaha sekuat tenaga membuat suaraku terdengar tenang, “Pestanya belum selesai, kok kamu malah keluar?”Aku sengaja menggunakan panggilan yang terasa asing dan berjarak.Dia mengerutkan kening, tampak sangat tidak puas dengan sikapku.“Angel, apa maksudmu?”“Nggak bermaksud apa-apa.” Aku tersenyum, senyuman itu terlihat sangat menyedihkan.“Aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu karena telah menemukan tunangan yang begitu serasi.”“Selamat… atas pernikahanmu, semoga hubungan kalian langgeng hingga maut memisahkan.”Usai bicara, aku melangkah memutari tubuhnya dan berniat pergi.Namun, tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku kembali dan menghimpitku de

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 13

    “Ada satu miliar di dalam sini, kata sandinya hari ulang tahunmu.”“Mulai sekarang, aku akan mengirimkan nominal yang sama ke kartu ini setiap bulan.”“Nggak perlu khawatir soal magangmu. Hari senin depan, kontrak karyawan tetap akan dikirim ke kantormu.”Dengan singkat dan padat, dia menetapkan hubungan kami.Aku menatap kartu bank yang dingin itu, hanya bisa merasa benda itu sangat menusuk pandangan.Ternyata, satu malamku, malam pertamaku dan masa depanku hanya dihargai satu miliar.“Aku nggak mau uangmu,” ujarku dengan serak, sambil mendorong kartu itu kembali.Dia mengangkat alisnya, tampak agak terkejut.“Kurang?”“Bukan.” Aku menggelengkan kepala, memberanikan diri untuk menatapnya, “Pak Chandra, aku tahu diriku nggak punya hak untuk bernegosiasi denganmu.”“Tapi aku mau tahu hubungan kita yang seperti ini… akan bertahan berapa lama?”Dia tersenyum, mengulurkan tangan untuk mencengkeram daguku, lalu ujung jarinya mengusap bibirku dengan lembut.“Tergantung kamu.”“Tergantung ber

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 12

    Setiap dia mengucapkan satu kalimat, rasanya hatiku semakin tenggelam.Dia membedah habis hasrat kelam yang tersembunyi di lubuk hatiku, hasrat yang bahkan tak berani kuhadapi… lalu menelanjanginya begitu saja tanpa ditutup-tutupi.Aku tak berdaya untuk membantah, karena semua ucapannya memang benar.Aku adalah wanita jalang munafik yang mengenakan topeng anggun.Lagi-lagi air mata mengalir turun tanpa bisa ditahan.Melihat wajahku yang dibasahi air mata, dia tidak merasa kasihan sedikitpun. Sebaliknya, sorot matanya malah menjadi semakin membara.Dia mencengkeram daguku, lalu membungkamku dengan ciuman yang kasar.Kali ini, bukan lagi sebuah penjarahan, melainkan gigitan dan sesapan yang membawa kesan menghukum.Tangannya menjelajahi tubuhku sesuka hati, memancing api gairah di setiap bagian tubuhku.Baju tidurku dirobek dengan kasar olehnya.Perlawananku terasa tak berarti di hadapan dominasinya yang begitu kuat.Tak butuh waktu lama, aku sudah ditelanjangi bulat-bulat olehnya, tampa

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 11

    Ini rasanya seperti mempertahankan sisa harga diri terakhir untuk diriku sendiri.Aku berdiri di depan pintu kamar nomor 808. Tanganku yang terangkat sempat turun beberapa kali, lalu akhirnya terangkat lagi.Setiap detak jantungku rasanya seperti sedang menghakimiku. Pada akhirnya, aku memejamkan mata. Bagaikan tawanan yang melangkah ke tempat eksekusi, aku mengetuk pintu kamar itu.Pintu segera terbuka.Chandra memakai jubah tidur sutra berwarna hitam dengan bagian kerah yang agak terbuka, memperlihatkan dadanya yang tegap.Rambutnya tampak agak basah, jelas sekali dia juga baru selesai mandi.Melihat kedatanganku, dia tak terkejut sedikitpun. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.“Aku kira Bu Angel nggak berniat datang.”Dia bergeser ke samping untuk membiarkanku masuk, lalu menutup pintu kamar.Suara pintu yang terkunci terdengar jelas, bagaikan vonis yang menjatuhkan takdirku.Ini adalah sebuah suite mewah. Ruang tamunya sangat luas dengan dekorasi yang terkesan

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 10

    “Aku… aku baik-baik saja.” Aku berbalik, memaksakan sebuah senyuman yang sangat menyedihkan di wajahku, “Aku hanya agak capek, hanya perlu istirahat sebentar saja.”Suaraku masih bergetar dan wajahku terlihat sangat pucat.Namun, anak-anak tak menyadari ada yang aneh.“Kalau begitu, kami balik dulu, ya. Bu Angel istirahat yang baik.”Melihat kepergian murid-muridku, sarafku yang tadinya menegang, akhirnya bisa rileks. Seluruh tubuhku merosot lemas dan aku terduduk di lantai sambil bersandar pada batang pohon.Belum sempat merasakan lega karena lolos dari maut, diriku sudah lebih dulu ditelan oleh rasa terhina yang begitu dalam, serta ketakutan yang masih membekas.Aku menunduk sambil memeluk lutut, bahuku gemetar di luar kendali.Chandra menatapku dari atas dengan tatapan yang rumit.Setelah sekian lama, barulah dia berlutut perlahan, mengulurkan tangan dan ingin menyentuh wajahku.Bagai seekor kelinci yang ketakutan, aku langsung memalingkan kepala untuk menghindar.“Jangan sentuh ak

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 9

    Dia merapat dari belakang. Meski terhalang stoking yang tipis, ‘senjata’ yang membara itu kembali menekan di sela bokongku.“Bu Angel, tadi baru hidangan pembuka.”“Hidangan utamanya baru dimulai sekarang.”Dia menurunkan ritsleting rokku, lalu melucuti stoking dan celana dalamku.Saat lapisan pelindung terakhir di bawah sana dilepas dan udara dingin menyentuh kulit paling tersembunyiku, aku memejamkan mata karena malu.Aku tahu, diriku tak akan bisa lolos lagi hari ini.Dia mencengkeram pinggangku, lalu dengan kuat menyentak pinggang dan perutnya, dia maju perlahan….Tepat saat ujung bendanya yang panas hampir menyentuh gerbangku yang tertutup rapat, dari tempat yang tak jauh, tiba-tiba terdengar suara anak-anak yang memanggil namaku.“Bu Angel….”“Bu Angel, kamu di mana?”Seluruh tubuhku menegang. Seketika, semua gairah pun sirna, hanya menyisakan rasa takut yang tak berdasar.“Itu murid-muridku….” Aku menoleh menatapnya dengan panik, suaraku bergetar hebat tak karuan.Alis Chandra

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status