Mag-log inAku berjalan tanpa arah di taman luar vila, air mata mengaburkan pandanganku.Ternyata, dari awal hingga akhir, diriku hanyalah sebuah lelucon.Tepat di saat hatiku sudah mati rasa, sosok bayangan menghalangi jalanku.Itu Chandra.“Kenapa kamu lari?” tanyanya dengan dingin.“Pak Chandra.” Aku mendongak menatapnya, berusaha sekuat tenaga membuat suaraku terdengar tenang, “Pestanya belum selesai, kok kamu malah keluar?”Aku sengaja menggunakan panggilan yang terasa asing dan berjarak.Dia mengerutkan kening, tampak sangat tidak puas dengan sikapku.“Angel, apa maksudmu?”“Nggak bermaksud apa-apa.” Aku tersenyum, senyuman itu terlihat sangat menyedihkan.“Aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu karena telah menemukan tunangan yang begitu serasi.”“Selamat… atas pernikahanmu, semoga hubungan kalian langgeng hingga maut memisahkan.”Usai bicara, aku melangkah memutari tubuhnya dan berniat pergi.Namun, tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku kembali dan menghimpitku de
“Ada satu miliar di dalam sini, kata sandinya hari ulang tahunmu.”“Mulai sekarang, aku akan mengirimkan nominal yang sama ke kartu ini setiap bulan.”“Nggak perlu khawatir soal magangmu. Hari senin depan, kontrak karyawan tetap akan dikirim ke kantormu.”Dengan singkat dan padat, dia menetapkan hubungan kami.Aku menatap kartu bank yang dingin itu, hanya bisa merasa benda itu sangat menusuk pandangan.Ternyata, satu malamku, malam pertamaku dan masa depanku hanya dihargai satu miliar.“Aku nggak mau uangmu,” ujarku dengan serak, sambil mendorong kartu itu kembali.Dia mengangkat alisnya, tampak agak terkejut.“Kurang?”“Bukan.” Aku menggelengkan kepala, memberanikan diri untuk menatapnya, “Pak Chandra, aku tahu diriku nggak punya hak untuk bernegosiasi denganmu.”“Tapi aku mau tahu hubungan kita yang seperti ini… akan bertahan berapa lama?”Dia tersenyum, mengulurkan tangan untuk mencengkeram daguku, lalu ujung jarinya mengusap bibirku dengan lembut.“Tergantung kamu.”“Tergantung ber
Setiap dia mengucapkan satu kalimat, rasanya hatiku semakin tenggelam.Dia membedah habis hasrat kelam yang tersembunyi di lubuk hatiku, hasrat yang bahkan tak berani kuhadapi… lalu menelanjanginya begitu saja tanpa ditutup-tutupi.Aku tak berdaya untuk membantah, karena semua ucapannya memang benar.Aku adalah wanita jalang munafik yang mengenakan topeng anggun.Lagi-lagi air mata mengalir turun tanpa bisa ditahan.Melihat wajahku yang dibasahi air mata, dia tidak merasa kasihan sedikitpun. Sebaliknya, sorot matanya malah menjadi semakin membara.Dia mencengkeram daguku, lalu membungkamku dengan ciuman yang kasar.Kali ini, bukan lagi sebuah penjarahan, melainkan gigitan dan sesapan yang membawa kesan menghukum.Tangannya menjelajahi tubuhku sesuka hati, memancing api gairah di setiap bagian tubuhku.Baju tidurku dirobek dengan kasar olehnya.Perlawananku terasa tak berarti di hadapan dominasinya yang begitu kuat.Tak butuh waktu lama, aku sudah ditelanjangi bulat-bulat olehnya, tampa
Ini rasanya seperti mempertahankan sisa harga diri terakhir untuk diriku sendiri.Aku berdiri di depan pintu kamar nomor 808. Tanganku yang terangkat sempat turun beberapa kali, lalu akhirnya terangkat lagi.Setiap detak jantungku rasanya seperti sedang menghakimiku. Pada akhirnya, aku memejamkan mata. Bagaikan tawanan yang melangkah ke tempat eksekusi, aku mengetuk pintu kamar itu.Pintu segera terbuka.Chandra memakai jubah tidur sutra berwarna hitam dengan bagian kerah yang agak terbuka, memperlihatkan dadanya yang tegap.Rambutnya tampak agak basah, jelas sekali dia juga baru selesai mandi.Melihat kedatanganku, dia tak terkejut sedikitpun. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.“Aku kira Bu Angel nggak berniat datang.”Dia bergeser ke samping untuk membiarkanku masuk, lalu menutup pintu kamar.Suara pintu yang terkunci terdengar jelas, bagaikan vonis yang menjatuhkan takdirku.Ini adalah sebuah suite mewah. Ruang tamunya sangat luas dengan dekorasi yang terkesan
“Aku… aku baik-baik saja.” Aku berbalik, memaksakan sebuah senyuman yang sangat menyedihkan di wajahku, “Aku hanya agak capek, hanya perlu istirahat sebentar saja.”Suaraku masih bergetar dan wajahku terlihat sangat pucat.Namun, anak-anak tak menyadari ada yang aneh.“Kalau begitu, kami balik dulu, ya. Bu Angel istirahat yang baik.”Melihat kepergian murid-muridku, sarafku yang tadinya menegang, akhirnya bisa rileks. Seluruh tubuhku merosot lemas dan aku terduduk di lantai sambil bersandar pada batang pohon.Belum sempat merasakan lega karena lolos dari maut, diriku sudah lebih dulu ditelan oleh rasa terhina yang begitu dalam, serta ketakutan yang masih membekas.Aku menunduk sambil memeluk lutut, bahuku gemetar di luar kendali.Chandra menatapku dari atas dengan tatapan yang rumit.Setelah sekian lama, barulah dia berlutut perlahan, mengulurkan tangan dan ingin menyentuh wajahku.Bagai seekor kelinci yang ketakutan, aku langsung memalingkan kepala untuk menghindar.“Jangan sentuh ak
Dia merapat dari belakang. Meski terhalang stoking yang tipis, ‘senjata’ yang membara itu kembali menekan di sela bokongku.“Bu Angel, tadi baru hidangan pembuka.”“Hidangan utamanya baru dimulai sekarang.”Dia menurunkan ritsleting rokku, lalu melucuti stoking dan celana dalamku.Saat lapisan pelindung terakhir di bawah sana dilepas dan udara dingin menyentuh kulit paling tersembunyiku, aku memejamkan mata karena malu.Aku tahu, diriku tak akan bisa lolos lagi hari ini.Dia mencengkeram pinggangku, lalu dengan kuat menyentak pinggang dan perutnya, dia maju perlahan….Tepat saat ujung bendanya yang panas hampir menyentuh gerbangku yang tertutup rapat, dari tempat yang tak jauh, tiba-tiba terdengar suara anak-anak yang memanggil namaku.“Bu Angel….”“Bu Angel, kamu di mana?”Seluruh tubuhku menegang. Seketika, semua gairah pun sirna, hanya menyisakan rasa takut yang tak berdasar.“Itu murid-muridku….” Aku menoleh menatapnya dengan panik, suaraku bergetar hebat tak karuan.Alis Chandra







