แชร์

Gairah Terlarang Di Bus Wisata
Gairah Terlarang Di Bus Wisata
ผู้แต่ง: Liam

Bab 1

ผู้เขียน: Liam
“Bu Angel, di dalam bus ramai sekali, aku bantu pegangin, ya.”

Suara berat pria itu terdengar di dekat telingaku, disusul satu tangan besar hangat menempel di pinggangku.

Aku tak berani bergerak, karena dia adalah ayah dari murid paling sulit diatur di kelasku, sekaligus investor terbesar sekolah ini.

Aku tak tahu, ternyata bus wisata yang penuh sesak ini akan membawaku menuju jurang hasrat….

….

Namaku Angel, seorang guru Bahasa Indonesia di Sekolah Mondi.

Untuk bisa magang di sekolah unggulan ini, aku sudah berjuang mati-matian. Agar bisa segera diangkat menjadi pegawai tetap, aku terus menekan diriku setiap hari.

Kemeja putihku selalu kukancingkan sampai ke atas, rok span hitam sepanjang lutut yang kupakai begitu rapat, seolah memperlihatkan kulit sedikit saja adalah penghinaan terhadap gelar ‘pendidik’.

Aku pikir selama bersikap profesional dan sopan, diriku bisa melewati masa magang dengan tenang.

Namun, aku lupa ada beberapa bahaya yang tak bisa dihindari hanya dengan menghindar.

Hari ini adalah kegiatan wisata tahunan sekolah.

Kelasku kebagian satu bus yang di dalamnya penuh sesak dengan murid-murid SD yang berisik dan beberapa orang tua yang ikut mendampingi.

Udara di dalam bus bercampur antara aroma manis cemilan dan bau keringat anak-anak, sungguh gerah dan sesak.

Aku memakai setelan yang kupilih sepenuh hati, berdiri di lorong untuk menghitung jumlah murid. Keringat sudah membasahi punggung kemejaku, menempel ketat di kulit dan memperlihatkan siluet pakaian dalamku.

Aku merasa tak nyaman, reflek ingin menarik ujung bajuku.

Tepat saat itu, sosok tubuh tinggi besar menerobos masuk dari pintu bus.

“Maaf, aku terlambat.”

Itu Chandra.

Dia adalah ayah dari David, murid paling nakal di kelasku, sekaligus donatur terbesar sekolah ini.

Aku hanya pernah melihatnya sekali saat pertemuan orang tua murid, tapi kesannya begitu mendalam.

Dia tak seperti pebisnis biasanya yang berperut buncit. Sebaliknya, posturnya tegap, memakai setelan jas kasual yang potongannya pas dengan wajah dewasa dan tampan yang memancarkan kesan dingin.

Begitu dia naik ke bus, suasana yang tadinya bising mendadak hening.

Aku buru-buru menyambutnya, memperlihatkan senyuman profesional, “Pak Chandra, selamat datang. Kursi David ada di sebelah sana.”

Dia mengangguk, tapi tatapannya tertuju pada wajahku selama dua detik.

Pandangan itu terlalu lantang, membawa kesan seolah sedang menilai, membuat jantungku berdegup hebat.

Tepat saat kami berpapasan, mungkin sopir sedang terburu-buru, dia tiba-tiba menginjak gas, membuat bus berguncang hebat.

“Ah!”

Aku menjerit, hak sepatuku goyah dan tubuhku terhuyung ke belakang.

Rasa sakit yang kubayangkan tak terjadi. Aku malah menabrak dada yang keras dan membara.

Satu tangan besar dengan tepat merangkul pinggangku, mendekapku dalam pelukannya.

Seketika, hidungku dipenuhi aroma maskulin pria yang kuat, bercampur dengan wangi parfum kayu yang samar, dominan dan wangi.

Aku langsung membeku.

“Bu Angel, kamu baik-baik saja?”

Suara berat Chandra terdengar tepat di atas kepalaku. Hembusan napasnya yang hangat menerpa kulit kepalaku, memicu aliran listrik halus.

Seketika, wajahku langsung memerah, terasa seperti terbakar api.

“Aku… nggak apa-apa. Terima kasih, Pak Chandra.”

Aku buru-buru mencoba melepaskan diri dari pelukannya, tapi lengannya yang merangkul pinggangku sama sekali tak berniat melonggar.

Bus itu penuh sesak dengan orang, kami berdua terhimpit dalam posisi yang sangat ambigu. Punggungku hampir sepenuhnya menempel pada dadanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 14

    Aku berjalan tanpa arah di taman luar vila, air mata mengaburkan pandanganku.Ternyata, dari awal hingga akhir, diriku hanyalah sebuah lelucon.Tepat di saat hatiku sudah mati rasa, sosok bayangan menghalangi jalanku.Itu Chandra.“Kenapa kamu lari?” tanyanya dengan dingin.“Pak Chandra.” Aku mendongak menatapnya, berusaha sekuat tenaga membuat suaraku terdengar tenang, “Pestanya belum selesai, kok kamu malah keluar?”Aku sengaja menggunakan panggilan yang terasa asing dan berjarak.Dia mengerutkan kening, tampak sangat tidak puas dengan sikapku.“Angel, apa maksudmu?”“Nggak bermaksud apa-apa.” Aku tersenyum, senyuman itu terlihat sangat menyedihkan.“Aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu karena telah menemukan tunangan yang begitu serasi.”“Selamat… atas pernikahanmu, semoga hubungan kalian langgeng hingga maut memisahkan.”Usai bicara, aku melangkah memutari tubuhnya dan berniat pergi.Namun, tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tanganku, menarikku kembali dan menghimpitku de

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 13

    “Ada satu miliar di dalam sini, kata sandinya hari ulang tahunmu.”“Mulai sekarang, aku akan mengirimkan nominal yang sama ke kartu ini setiap bulan.”“Nggak perlu khawatir soal magangmu. Hari senin depan, kontrak karyawan tetap akan dikirim ke kantormu.”Dengan singkat dan padat, dia menetapkan hubungan kami.Aku menatap kartu bank yang dingin itu, hanya bisa merasa benda itu sangat menusuk pandangan.Ternyata, satu malamku, malam pertamaku dan masa depanku hanya dihargai satu miliar.“Aku nggak mau uangmu,” ujarku dengan serak, sambil mendorong kartu itu kembali.Dia mengangkat alisnya, tampak agak terkejut.“Kurang?”“Bukan.” Aku menggelengkan kepala, memberanikan diri untuk menatapnya, “Pak Chandra, aku tahu diriku nggak punya hak untuk bernegosiasi denganmu.”“Tapi aku mau tahu hubungan kita yang seperti ini… akan bertahan berapa lama?”Dia tersenyum, mengulurkan tangan untuk mencengkeram daguku, lalu ujung jarinya mengusap bibirku dengan lembut.“Tergantung kamu.”“Tergantung ber

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 12

    Setiap dia mengucapkan satu kalimat, rasanya hatiku semakin tenggelam.Dia membedah habis hasrat kelam yang tersembunyi di lubuk hatiku, hasrat yang bahkan tak berani kuhadapi… lalu menelanjanginya begitu saja tanpa ditutup-tutupi.Aku tak berdaya untuk membantah, karena semua ucapannya memang benar.Aku adalah wanita jalang munafik yang mengenakan topeng anggun.Lagi-lagi air mata mengalir turun tanpa bisa ditahan.Melihat wajahku yang dibasahi air mata, dia tidak merasa kasihan sedikitpun. Sebaliknya, sorot matanya malah menjadi semakin membara.Dia mencengkeram daguku, lalu membungkamku dengan ciuman yang kasar.Kali ini, bukan lagi sebuah penjarahan, melainkan gigitan dan sesapan yang membawa kesan menghukum.Tangannya menjelajahi tubuhku sesuka hati, memancing api gairah di setiap bagian tubuhku.Baju tidurku dirobek dengan kasar olehnya.Perlawananku terasa tak berarti di hadapan dominasinya yang begitu kuat.Tak butuh waktu lama, aku sudah ditelanjangi bulat-bulat olehnya, tampa

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 11

    Ini rasanya seperti mempertahankan sisa harga diri terakhir untuk diriku sendiri.Aku berdiri di depan pintu kamar nomor 808. Tanganku yang terangkat sempat turun beberapa kali, lalu akhirnya terangkat lagi.Setiap detak jantungku rasanya seperti sedang menghakimiku. Pada akhirnya, aku memejamkan mata. Bagaikan tawanan yang melangkah ke tempat eksekusi, aku mengetuk pintu kamar itu.Pintu segera terbuka.Chandra memakai jubah tidur sutra berwarna hitam dengan bagian kerah yang agak terbuka, memperlihatkan dadanya yang tegap.Rambutnya tampak agak basah, jelas sekali dia juga baru selesai mandi.Melihat kedatanganku, dia tak terkejut sedikitpun. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.“Aku kira Bu Angel nggak berniat datang.”Dia bergeser ke samping untuk membiarkanku masuk, lalu menutup pintu kamar.Suara pintu yang terkunci terdengar jelas, bagaikan vonis yang menjatuhkan takdirku.Ini adalah sebuah suite mewah. Ruang tamunya sangat luas dengan dekorasi yang terkesan

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 10

    “Aku… aku baik-baik saja.” Aku berbalik, memaksakan sebuah senyuman yang sangat menyedihkan di wajahku, “Aku hanya agak capek, hanya perlu istirahat sebentar saja.”Suaraku masih bergetar dan wajahku terlihat sangat pucat.Namun, anak-anak tak menyadari ada yang aneh.“Kalau begitu, kami balik dulu, ya. Bu Angel istirahat yang baik.”Melihat kepergian murid-muridku, sarafku yang tadinya menegang, akhirnya bisa rileks. Seluruh tubuhku merosot lemas dan aku terduduk di lantai sambil bersandar pada batang pohon.Belum sempat merasakan lega karena lolos dari maut, diriku sudah lebih dulu ditelan oleh rasa terhina yang begitu dalam, serta ketakutan yang masih membekas.Aku menunduk sambil memeluk lutut, bahuku gemetar di luar kendali.Chandra menatapku dari atas dengan tatapan yang rumit.Setelah sekian lama, barulah dia berlutut perlahan, mengulurkan tangan dan ingin menyentuh wajahku.Bagai seekor kelinci yang ketakutan, aku langsung memalingkan kepala untuk menghindar.“Jangan sentuh ak

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 9

    Dia merapat dari belakang. Meski terhalang stoking yang tipis, ‘senjata’ yang membara itu kembali menekan di sela bokongku.“Bu Angel, tadi baru hidangan pembuka.”“Hidangan utamanya baru dimulai sekarang.”Dia menurunkan ritsleting rokku, lalu melucuti stoking dan celana dalamku.Saat lapisan pelindung terakhir di bawah sana dilepas dan udara dingin menyentuh kulit paling tersembunyiku, aku memejamkan mata karena malu.Aku tahu, diriku tak akan bisa lolos lagi hari ini.Dia mencengkeram pinggangku, lalu dengan kuat menyentak pinggang dan perutnya, dia maju perlahan….Tepat saat ujung bendanya yang panas hampir menyentuh gerbangku yang tertutup rapat, dari tempat yang tak jauh, tiba-tiba terdengar suara anak-anak yang memanggil namaku.“Bu Angel….”“Bu Angel, kamu di mana?”Seluruh tubuhku menegang. Seketika, semua gairah pun sirna, hanya menyisakan rasa takut yang tak berdasar.“Itu murid-muridku….” Aku menoleh menatapnya dengan panik, suaraku bergetar hebat tak karuan.Alis Chandra

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status