Share

CHAPTER 106 | BLACK CARD ISA

Penulis: Langit Parama
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 08:02:15

Aurora duduk berhadapan dengan Luke di ruangan lantai atas. Tangannya terlipat angkuh di dada, sementara sang manajer di sampingnya terlihat gelisah.

Luke bersandar di kursi, wajahnya dingin, rahang mengeras. “Jadi benar, kamu ingin mengakhiri kontrak sebelum waktunya?” tanya pria itu, suaranya sedikit teredam karena mengenakan masker.

Aurora mengangguk singkat, “Ya. Aku rasa ... aku gak perlu lagi melanjutkan pekerjaan di mana aku tidak dihargai sebagai senior yang sudah membuat agensi ini semakin dikenal.”

Manajernya buru-buru menimpali, “Pak Luke, Aurora punya alasan pribadi. Saya rasa kita bisa bicarakan baik-baik soal ini.”

Ia meremas jemari Aurora agar namanya tidak rusak di depan sang atasan, tak ingin sampai Aurora di blacklist dari agensi-agensi lain.

Luke mengetuk meja dengan jarinya, sorot matanya menusuk.

“Alasan pribadi? Kontrak ini nilainya miliaran rupiah. Kita sudah menginvestasikan campaign, photoshoot, iklan besar-besaran.”

“Kalau kamu berhenti sekarang, perus
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 330 |

    “Argh!” Isandro mengerang pelan saat ujung jarum tato menekan kulit dadanya. Otot-otot di lengannya menegang refleks, rahang kokohnya mengeras menahan perih yang menyebar pelan tapi pasti. Hari itu, Isandro memang datang dengan satu niat. Membuat tato di dada kirinya—tepat di dekat jantung. Sebuah tulisan sederhana, namun sarat makna. YESS–Y/A² “Woy, San, tahan dikit lah,” suara temannya terkekeh dari samping. “Badan segede gitu, otot semua, masa baru jarum segini aja udah meringis?” Isandro mendengus, mencoba mengatur napas. “Ini dada, bukan lengan. Beda rasanya,” sahutnya ketus, meski jelas nada suaranya sedikit goyah. “Alasan,” temannya kembali menggoda. “Keliatan sangar, tapi pas ditato langsung lembek.” “Kamu coba sendiri kalau berani,” balas Isandro cepat, melirik tajam. “Aku hajar pakai jarum juga.” Tawa kecil pecah di ruangan itu. Sementara jarum kembali bergerak, menggoreskan huruf demi huruf di kulitnya. Isandro kembali memejamkan mata. Perihnya memang nyata, tapi p

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 329 |

    Pukul tujuh malam, Luke akhirnya tiba di Puncak bersama putrinya dan babysitter Arsy, Elis. Mereka menginap di sebuah villa yang cukup luas, bahkan terasa terlalu lengang untuk ditempati hanya bertiga. Udara malam itu menusuk tulang. Beruntung Arsy mengenakan jaket tebal, membuat Luke sedikit lega. Lagi pula, mereka sudah sampai di villa. Tak perlu khawatir sang anak akan masuk angin. “Non Arsy ketiduran, Tuan,” lapor Elis begitu Luke turun dari mobil dan membuka bagasi untuk mengambil barang-barang. “Tidak apa-apa,” jawab Luke tenang sambil mengulurkan tangan. “Sudah malam juga. Nanti dia bangun sendiri kalau sudah cukup tidur.” Luke mengambil alih putrinya dari pelukan Elis, lalu melangkah masuk ke dalam villa. Elis menyusul di belakang, membawa barang-barang mereka—tak banyak, hanya satu tas kecil milik Arsy dan koper Luke. Di kamar, Luke langsung merebahkan Arsy ke atas ranjang. Tubuh kecil itu menggeliat pelan, namun tak kunjung terbangun. “Akhirnya sampai juga, Nak,” gu

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 328 |

    “Aku sama Arsy malam ini mau berangkat ke puncak, kami akan liburan berdua,” ucap Luke siang itu, pada Aurora yang entah sudah berapa hari tak keluar dari kamarnya. Wanita itu bahkan tak menoleh, seolah masih kesal pada Luke karena kehamilannya saat ini. “Aku gak ngajak kamu bukan sengaja, tapi karena aku udah tahu jawabannya. Kalau kamu mau makan nanas muda, silakan,” lanjut Luke, kalimat terakhirnya spontan membuat Aurora menoleh. Tatapan wanita itu dingin, tak terima kala dirinya disuruh secara terang-terangan untuk melakukan hal tersebut. “Kamu baik-baik saja di sini selama tidak ada kami berdua. Ah, tentunya kamu akan lebih nyaman kalau gak ada aku sama Arsy.” Luke menambahkan, nada bicaranya terdengar menyindir. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia lantas meninggalkan kamar Aurora. “Apa sih, Luke? Kamu pikir aku bakal sedih ditinggal kalian berdua?” ketus Aruroa sinis, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya—bersiap tidur siang. Di dalam kamarnya, Luke benar-benar bersiap untu

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 327 |

    “Tipe manusia yang akan jatuh cinta setelah kehilangan?” gumam Luke pelan, setelah percakapannya dengan Isandro sudah lama selesai. Tatapannya kosong, seolah menembus udara. “Maksud Isandro, setelah aku pergi, Aurora akan menyesal?” Ia tersenyum pahit. “Menyesal, lalu sadar kalau dia butuh aku. Baru setelah itu … dia jatuh cinta?” Luke menghela napas berat, dadanya terasa sesak. “Kalau iya begitu. Kalau tidak?” Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. Karena dia bertanya pada dirinya sendiri, di taman yang sepi karena Isandro dan Yessy sudah meninggalkan taman satu menit yang lalu. “Papa,” panggil Arsy, berjalan tertatih ke arahnya yang duduk di kursi taman dengan langkah kecil yang belum sepenuhnya seimbang. Luke tersentak dari lamunannya. “Ada apa, Nak?” tangannya segera terulur. Arsy langsung meraih jari ayahnya, menggenggam erat. “Sini,” ujar Luke lembut sambil menarik tubuh kecil itu ke pangkuannya. “Duduk sama Papa.” Arsy naik, lalu menarik kedua tangan Luke agar melingka

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 326 |

    Pagi itu, Isandro membawa Yessy berjalan-jalan. Tangannya menggenggam tangan si kecil yang tinggi badannya bahkan belum sampai lututnya. Langkah mereka santai, menyusuri taman di kawasan tempat tinggal, bukan taman pribadi di mansion, melainkan taman umum yang sengaja Isandro pilih karena satu alasan. Luke. Pria itu sudah lebih dulu datang, mendampingi Arsy yang sedang bermain perosotan. Sesekali terdengar tawa bocah kecil itu, disambut senyum tipis di wajah Luke. “Kamu mau main perosotan sama Arsy, sayang?” tanya Isandro sambil menunduk, menatap putri kecilnya. Yessy menoleh, lalu mengangguk singkat. “Main,” celotehnya polos, sebelum melepaskan genggaman tangan sang ayah. “Aciiih,” panggilnya nyaring ke arah Arsy. Arsy langsung menoleh. Senyum lebarnya mengembang, sempat melirik Luke sejenak sebelum turun dari perosotan dan menghampiri Yessy. Dua bocah itu lalu bermain bersama, berbicara dengan bahasa mereka sendiri—ocehan yang hanya mereka berdua pahami. “Jangan berantem, y

  • Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku   CHAPTER 325 |

    “Sayang,” bisik Isandro tepat di telinga Yessa. Ia baru saja tiba di rumah usai dari rumah sakit, tepat pukul sepuluh malam. Yessa sebenarnya sudah terlelap, namun tak ada satu hari pun bagi Isandro tanpa membangunkannya. Seolah ada yang kurang jika istrinya tidur lebih dulu tanpa menyambut kepulangannya. “Mas …,” Yessa melenguh pelan sambil mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang temaram. “Bangun, aku udah pulang,” bisik Isandro lagi. Tangannya bergerak refleks, mengusap perut sang istri yang kini memasuki usia tujuh bulan kehamilan. Gerakannya lembut naik turun. “Hm … ya udah, sana mandi dulu,” gumam Yessa dengan suara serak, sambil mendorong dada suaminya lemah. “Ada yang mau aku omongin, tapi mandi dulu.” “Mandiin,” balas Isandro lirih, nada suaranya terdengar manja dan sengaja. Yessa tersenyum kecil, matanya masih setengah tertutup. “Nyebelin banget sih, Mas. Aku lagi enak-enaknya tidur malah dibangunin.” Ia lalu berusaha duduk. Isandro

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status