Masuk"Status istri dan diakui oleh keluarga besar Viko. Tapi, kamu harus melakukan apa yang aku minta." Andrew menjelaskan, tapi Asih hanya diam. Asih bukannya menolak, ia hanya butuh waktu untuk berpikir. Apakah keputusannya untuk menerima tawaran Andrew, itu benar atau malah sebaliknya."Perutmu sudah membesar. Bayi yang ada di dalam rahimmu, akan segera lahir di dunia.""Ya aku tahu itu. Tidak perlu memberitahuku lagi! Aku sudah punya rumah, status kepemilikan rumah ini atas namaku. Ini bukan rumah kontrakan. Urusan uang belanja, aku mendapatkannya tepat waktu!" seru Asih menjelaskan semuanya. Ia tersinggung akan ucapan Andrew. "Tapi saat mengurus data kependudukan, kamu perlu nama ayahnya. Meski punya rumah, kamu hanya istri simp4nan saja. Kamu tidak bisa mengadu ke keluarga besarnya, kalau kamu ada masalah. Iya, kan?" Wajah Asih tertunduk lesu. Apa yang dikatakan oleh Andrew, memang benar adanya."Anakmu akan disebut sebagai anak h4ram, karena statusnya yang tidak jelas," imbuh Andr
"Kalau tidak, apa? Apa kau mulai mengancamku? Apa kau lupa siapa dirimu? Apa kau lupa siapa orang yang selalu mendukungmu? Apa kau lupa, hidupmu mewahmu berasal dari mana?" Viko menyela perkataan Asih. Setiap kalimat yang dikatakan oleh Viko membuat Asih terdiam. "Apapun yang kau mau, aku berikan. Kemewahan, kemudahan, perhiasan, rumah dan makanan enak. Apa itu masih kurang?"Asih mulai menangis, ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Aku ingin diakui. Aku tidak mau dijadikan wanita simpan4n." Suara Asih terdengar lirih di telinga."Aku tahu itu Asih. Aku tahu. Dan aku sedang berusaha. Semuanya butuh waktu. Karena perbedaan kita yang terlalu jauh. Keluarga besarku butuh waktu untuk bisa menerimamu." Viko menjelaskan, ia berharap agar Asih bisa percaya dengan kata-katanya.Asih terduduk di atas kursi. Ia tak mampu lagi berdebat, hanya air mata yang bisa mengekspresikan bagaimana perasaannya sekarang."Maafkan aku, karena masih be
Viko pergi meninggalkan ruangannya. Ia menuju ke ruangan ayahnya yang saat ini sedang berbicara dengan klien. Viko yang panik, mulai kehilangan akal. Ia masuk tanpa permisi bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Saat Viko datang, semua mata tertuju ke arahnya. "Viko! Kenapa kau masuk tanpa mengetuk lebih dulu!" Johan yang tak suka dengan sikap anaknya, langsung menegur."Aku butuh uang. Ada hal penting yang harus aku lakukan." "Uang? Untuk apa? Dan berapa banyak? Lagipula kau kan punya rekening sendiri. Kenapa meminta uang padaku?" Johan menggeleng pelan. Ekspresi wajahnya datar, nada suaranya juga datar tapi penuh dengan nada penekanan."Uang di rekeningku habis. Aku tidak punya uang lagi." Viko terpaksa bicara jujur.Johan melihat ke arah langit-langit sambil menarik nafas dalam, ia mengatur emosinya. "Kita bicara ini, nanti setelah aku selesaikan urusanku!" Viko keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia berdiri di depannya. Berj
"Aku bisa jelaskan. Jangan salah paham dulu!" Viko memegang tangan Ana, berusaha untuk memeluknya agar tenang."Lepaskan aku!" seru Ana. Ia menarik tangannya menjauh."Ana, aku tahu kalau kau pasti cemburu. Jangan cemburu, sayang. Dia itu asistenku di kantor. Dia meneleponku untuk memintaku datang lebih cepat." "Kenapa nama kontaknya tokoh pelengkap?" Ana tetap curiga."Ya, karena memang dia tokoh pelengkap. Dia kan asisten di kantor, yang membantu pekerjaanku. Orang yang aku anggap melengkapi atau membantuku mengerjakan tugas kantor. Hanya itu saja." Viko berbohong. Yang sebenarnya menelepon adalah Asih, bukan asistennya di kantor.Ana terdiam untuk untuk beberapa detik. Ia mencoba untuk mempercayai kata-kata suaminya. Ia juga tidak ingin bertengkar dengan suaminya."Aku harus ke kantor. Aku sudah terlambat. Apa aku boleh meminta ponselku?" ucap Viko."Aku harap, apa yang baru saja kau katakan itu benar adanya." Ana mengembalikan ponsel milik Viko."DRrrt!" Ponsel kembali berbunyi.
Aurelia dan Johan membantu Viko berjalan masuk ke dalam rumah. Johan mencium aroma @lkoh0l di baju anaknya. "Dia habis min*m rupanya! Kita panik mencarinya ke sana kemari dan dia ternyata hanya pergi ke b4r!" gerutu Johan."Sudahlah, Pa. Bagaimana pun sikap Viko yang sekarang, semuanya itu hasil didikanmu! Kamu yang suka memanjakan Viko sejak kecil!" sahut Aurelia.Mereka membawa Viko ke kamar. Aurelia membantu Viko melepaskan sepatunya. Dan Johan menarik selimut, membuat tub*h anaknya hangat berada di balik selimut."Lihatlah dia! Dia m4buk m@bukan. Dia benar-benar membuat Mama mengingat masa lalu Mama yang suram." Sandra berbisik di telinga Levin."Mungkin dia sedang ada masalah, Ma. Yang penting, dia tidak seperti Papa. Iya kan.""Tapi tetap saja, itu tidak baik!" sahut Sandra."Ehm!" Aurelia berdehem, Levin dan Sandra menoleh. "Lebih baik kalian pulang, maaf aku tidak bermaksud untuk mengu$ir. Tapi sekarang, Viko sudah pulang
Asih menutupi wajahnya, ia berlari masuk ke dalam rumah. Beberapa orang menoleh ke arahnya, menatap penasaran ke arah Asih dan Johan.Sadar, jika banyak mata sedang mengamatinya, Johan memilih masuk ke dalam mobil lalu pergi dari sana. "Omong kosong apa yang dikatakan oleh Asih. Jika itu memang benar, aku tak akan pernah memaafkannya!" Wajah Johan terlihat tegang, garis vertikal di antara kedua alisnya terlihat jelas. Johan pergi ke kantor, ia menanyai security dan beberapa orang kepercayaannya. Tapi tak satupun dari mereka yang melihat Viko di kantor. Hal ini membuat Johan makin murka. "Anak ini benar benar kelewatan! Kemana dia pergi sebenarnya!" Johan bergumam dalam hati.*****Aurelia juga sudah sampai di rumah menantunya. Sebagai bentuk dukungan moral, ia berada di sana menemani Ana. Sandra terus saja menyindir sikap Aurelia yang dianggapnya tak becus mendidik Viko. "Sudahlah Ma, sudah tidak ada gunanya Mama mengomel. Yan







