MasukAyunda duduk termenung menatap kaca. Ia mengingat hari dimana ia dan Dani menikah. Ia juga mengingat saat pertama kali ia mengandung Rayhan, anak pertamanya dengan Dani.
Saat itu, wajah Dani tampak sumringah. Ia melompat kegirangan sambil terus mengucap syukur. Buah hati yang dinantikannya, tumbuh di dalam rahim Ayunda.Perjalanan pernikahan mereka memang tak selalu mulus. Dani pernah berselingkuh dari Ayunda beberapa kali, tapi Ayunda selalu memaafkannya.Kerikil kerikil tajam yang bahkan hampir berhasil mengikis pondasi rumah tangga mereka, berhasil mereka singkirkan."Harusnya kita merayakan hari ulang tahun pernikahan kita yang ke 50 tahun. Tapi tampaknya, kau mungkin benar benar telah bosan padaku. Ya tentu saja kau bosan, aku sudah tua. Banyak kerutan di wajahku." Ayunda bicara pada dirinya sendiri sambil mengamati wajahnya di cermin.Lamunan Ayunda buyar ketika orang suruhan Chandra masuk ke dalam kamar."Nyonya, hadiahSandra mengambil tas kecil miliknya. Ia juga mengambil kunci mobil. "Kau akan pergi kemana sepagi ini?" Arya makin bingung melihat sikap istrinya."Rasanya seperti mengulang kesalahan yang dulu pernah kubuat!" serunya tanpa menoleh ke arah Arya."Ma, ada apa? Kalau Mama ingin pergi ke suatu tempat, aku akan mengantarkan. Mama tidak perlu menyetir sendiri!" Levin khawatir melihat sikap ibunya."Tenanglah dulu. Katakan apa yang terjadi. Supaya kita semua bisa membantumu." Arya juga berusaha untuk memadamkan api yang bergolak li4r di pikiran Sandra."Viko dan Ana tinggal di rumah lain milik keluarga Johan. Dan sekarang, Viko tidak pulang ke rumah. Tak ada kabar, pesan atau apapun. Ana menangis memikirkan suaminya." Sandra menjawab dengan wajah tegang. Tangannya mencengkram tas kecilnya lebih kuat."Aku akan ke sana. Aku akan temani Mama. Daddy pergi ke kantor dan antar Allison ke sekolah." Levin menengahi."Baiklah! Setelah pekerjaa
"Ayo kita pulang!" Suara Viko membuyarkan lamunan Ana. "Lho! Kok pulang? Kamu kan baru masuk ke dalam?" Ana heran melihat Viko yang sudah berdiri di dekatnya. "Saat aku masuk ke dalam, Andrew sedang tidur. Aku tak mungkin membangunkan dia, kan?" Viko berbohong. Yang sebenarnya adalah, ia tak berani bertatap muka langsung dengan Andrew. Ia takut jika kebohongannya akan terbongkar. "Iya, yang penting kita sudah menjenguknya." Ana mengangguk. Keduanya memilih untuk pulang ke rumah. ****"DUaR!" Malam ini, suara petir terdengar seperti b0m yang meled@k di udara. Ana duduk di ruang makan. Ia menunggu Viko pulang. Sesekali matanya melirik ke arah jam yang tergantung tak jauh dari sana. "Sudah jam 9 malam. Viko kenapa belum pulang?" Ana bicara pada dirinya sendiri. Ia menatap piring piring yang berisi makanan. "Aku sangat lapar. Apa lebih baik aku makan lebih dulu?" Ana agak ragu. Tapi sedetik kemudian, ia mengambil pirin
"Kenapa melotot seperti itu? Wajahmu juga terlihat pucat. Ada apa Viko? Kau akan menjenguknya kan?" Ana mengguncang pelan bahu suaminya."Apa?" Viko yang panik, sedang memikirkan cara licik lain untuk mengh4bisi Andrew."Apa kau akan datang menjenguknya? Kalau kau datang, aku ingin ikut." Rupanya Ana masih menyisakan tempat istimewa untuk Andrew di hatinya."Tidak." Viko menggeleng."Apa maksudmu!" Ana mengerutkan kening, heran saat mendengar jawaban Viko."Maksudku, aku akan datang. Tapi untuk apa kau ikut menjenguk? Andrew kan temanku. Bukan temanmu." "Aku.... Aku hanya ingin ikut saja." Ana menundukkan wajahnya. "Baiklah kalau begitu. Cepat ganti bajumu. Kita pergi ke rumah sakit, sekarang." *****"Jadi ini merupakan kasus pembun*han? Siapa orang yang tega menyakiti anakku?" Ibu kandung Andrew kaget mengetahui fakta pahit itu."Iya Bu. Dan untuk pelaku, kami masih menyelidikinya." Polisi
Pria berbaju kuning hendak kembali ke tenda, untuk mengambil sekop dan alat lain yang dapat membantu mereka untuk menggali tanah."Tolon-g...." Suara Andrew terdengar samar di telinga mereka."Suara siapa itu?" ucap si pria berbaju biru, kaget. Andrew menggerakkan tangannya, berusaha memberi tanda, jika ia masih hidup. "Tolong aku." "Dia masih hidup!" seru pria berbaju kuning.Mereka bertiga pun membawa Andrew ke rumah sakit. Mereka juga melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib.****Keesokan harinya, Viko mengajak Ana untuk pindah ke rumah miliknya yang lain. Rumah yang sudah kosong sejak 2 tahun terakhir itu, sudah dibersihkan secara menyeluruh. Atap rumah juga sudah diperiksa, untuk memastikan tak ada kebocoran saat hujan mengguyur."Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukai rumah ini?" Viko memegang tangan Ana dengan lembut sambil mengajak istrinya melihat lebih dalam."Bagus. Rumahnya bagus. Aku m
Sapta menghubungi Viko, sesaat setelah ia sampai di rumahnya. "Tugasku sudah selesai. Dia sudah m4ti. Polisi pasti akan menemukan j4s@dnya, dalam beberapa hari.""Apa kau serius?" Viko menjadi bersemangat, mendengar kabar tersebut."Tentu saja! Aku sudah membuangnya ke jur4ng, berikut dengan sepeda motor miliknya! Hahaha!""Hahahahaha! Bagus sekali Sapta!" Viko melompat kegirangan."Sekarang, berikan sisa uangku! Aku mau semua uangku dibayar lunas, malam ini!" "Tentu saja! Aku akan mentransfer uangnya ke rekeningmu, sekarang. Kau tunggu sebentar ya!" Viko mematikan sambungan teleponnya. Ia membuka aplikasi mobile banking, menulis jumlah uang yang cukup banyak dan mengirimnya ke rekening milik Sapta."Sudah selesai! Akhirnya masalahku sudah selesai. Sekarang, tidak akan ada yang tahu soal hubunganku dengan Asih. Aku bisa menjalani hidupku dengan damai." Viko bicara pada dirinya sendiri.Saat ini, Viko masih berada di kan
Langit makin gelap, suara gemuruh petir juga terdengar. Di kanan dan kiri jalan hanya ada pepohonan yang tumbuh lebat. Jalanan beraspal terlihat makin sempit dan menanjak. Sepeda motor milik Andrew masih melaju kencang di jalanan. Hingga akhirnya, jalanan beraspal berganti dengan tanah basah. Mereka sudah melewati jalanan beraspal, menjauh sekitar beberapa kilo meter.Suara deru mesin sepeda motor berhenti. Kawan sejawat Sapta, memarkirkan sepeda motor milik Andrew di bawah pohon trembesi di dekat jembatan gantung tua yang sudah lama tidak pernah mendapatkan jatah pemugaran dari pemerintah kota setempat.Sapta juga mematikan mesin sepeda motor. "Terima kasih karena mau mengantarkan aku sampai di sini." Andrew turun dari motor. Matanya menatap nanar ke arah kawan sejawat Sapta. "Kau mau ini?" ucap pria berbadan cungkring dengan senyum mengejek."Kembalikan sepeda motorku!" teriak Andrew."Tentu saja! Ayo ambil saja sepeda motormu!"







