ANMELDENViko pergi meninggalkan ruangannya. Ia menuju ke ruangan ayahnya yang saat ini sedang berbicara dengan klien. Viko yang panik, mulai kehilangan akal. Ia masuk tanpa permisi bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Saat Viko datang, semua mata tertuju ke arahnya.
"Viko! Kenapa kau masuk tanpa mengetuk lebih dulu!" Johan yang tak suka dengan sikap anaknya, langsung menegur."Aku butuh uang. Ada hal penting yang harus aku lakukan.""Uang? Untuk apa? Dan berapa banyak? Lagipula kau kan punya rekening sendiri. Kenapa meminta uang padaku?" Johan menggeleng pelan. Ekspresi wajahnya datar, nada suaranya juga datar tapi penuh dengan nada penekanan."Uang di rekeningku habis. Aku tidak punya uang lagi." Viko terpaksa bicara jujur.Johan melihat ke arah langit-langit sambil menarik nafas dalam, ia mengatur emosinya. "Kita bicara ini, nanti setelah aku selesaikan urusanku!"Viko keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia berdiri di depannya. BerjViko pergi meninggalkan ruangannya. Ia menuju ke ruangan ayahnya yang saat ini sedang berbicara dengan klien. Viko yang panik, mulai kehilangan akal. Ia masuk tanpa permisi bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Saat Viko datang, semua mata tertuju ke arahnya. "Viko! Kenapa kau masuk tanpa mengetuk lebih dulu!" Johan yang tak suka dengan sikap anaknya, langsung menegur."Aku butuh uang. Ada hal penting yang harus aku lakukan." "Uang? Untuk apa? Dan berapa banyak? Lagipula kau kan punya rekening sendiri. Kenapa meminta uang padaku?" Johan menggeleng pelan. Ekspresi wajahnya datar, nada suaranya juga datar tapi penuh dengan nada penekanan."Uang di rekeningku habis. Aku tidak punya uang lagi." Viko terpaksa bicara jujur.Johan melihat ke arah langit-langit sambil menarik nafas dalam, ia mengatur emosinya. "Kita bicara ini, nanti setelah aku selesaikan urusanku!" Viko keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia berdiri di depannya. Berj
"Aku bisa jelaskan. Jangan salah paham dulu!" Viko memegang tangan Ana, berusaha untuk memeluknya agar tenang."Lepaskan aku!" seru Ana. Ia menarik tangannya menjauh."Ana, aku tahu kalau kau pasti cemburu. Jangan cemburu, sayang. Dia itu asistenku di kantor. Dia meneleponku untuk memintaku datang lebih cepat." "Kenapa nama kontaknya tokoh pelengkap?" Ana tetap curiga."Ya, karena memang dia tokoh pelengkap. Dia kan asisten di kantor, yang membantu pekerjaanku. Orang yang aku anggap melengkapi atau membantuku mengerjakan tugas kantor. Hanya itu saja." Viko berbohong. Yang sebenarnya menelepon adalah Asih, bukan asistennya di kantor.Ana terdiam untuk untuk beberapa detik. Ia mencoba untuk mempercayai kata-kata suaminya. Ia juga tidak ingin bertengkar dengan suaminya."Aku harus ke kantor. Aku sudah terlambat. Apa aku boleh meminta ponselku?" ucap Viko."Aku harap, apa yang baru saja kau katakan itu benar adanya." Ana mengembalikan ponsel milik Viko."DRrrt!" Ponsel kembali berbunyi.
Aurelia dan Johan membantu Viko berjalan masuk ke dalam rumah. Johan mencium aroma @lkoh0l di baju anaknya. "Dia habis min*m rupanya! Kita panik mencarinya ke sana kemari dan dia ternyata hanya pergi ke b4r!" gerutu Johan."Sudahlah, Pa. Bagaimana pun sikap Viko yang sekarang, semuanya itu hasil didikanmu! Kamu yang suka memanjakan Viko sejak kecil!" sahut Aurelia.Mereka membawa Viko ke kamar. Aurelia membantu Viko melepaskan sepatunya. Dan Johan menarik selimut, membuat tub*h anaknya hangat berada di balik selimut."Lihatlah dia! Dia m4buk m@bukan. Dia benar-benar membuat Mama mengingat masa lalu Mama yang suram." Sandra berbisik di telinga Levin."Mungkin dia sedang ada masalah, Ma. Yang penting, dia tidak seperti Papa. Iya kan.""Tapi tetap saja, itu tidak baik!" sahut Sandra."Ehm!" Aurelia berdehem, Levin dan Sandra menoleh. "Lebih baik kalian pulang, maaf aku tidak bermaksud untuk mengu$ir. Tapi sekarang, Viko sudah pulang
Asih menutupi wajahnya, ia berlari masuk ke dalam rumah. Beberapa orang menoleh ke arahnya, menatap penasaran ke arah Asih dan Johan.Sadar, jika banyak mata sedang mengamatinya, Johan memilih masuk ke dalam mobil lalu pergi dari sana. "Omong kosong apa yang dikatakan oleh Asih. Jika itu memang benar, aku tak akan pernah memaafkannya!" Wajah Johan terlihat tegang, garis vertikal di antara kedua alisnya terlihat jelas. Johan pergi ke kantor, ia menanyai security dan beberapa orang kepercayaannya. Tapi tak satupun dari mereka yang melihat Viko di kantor. Hal ini membuat Johan makin murka. "Anak ini benar benar kelewatan! Kemana dia pergi sebenarnya!" Johan bergumam dalam hati.*****Aurelia juga sudah sampai di rumah menantunya. Sebagai bentuk dukungan moral, ia berada di sana menemani Ana. Sandra terus saja menyindir sikap Aurelia yang dianggapnya tak becus mendidik Viko. "Sudahlah Ma, sudah tidak ada gunanya Mama mengomel. Yan
Sandra mengambil tas kecil miliknya. Ia juga mengambil kunci mobil. "Kau akan pergi kemana sepagi ini?" Arya makin bingung melihat sikap istrinya."Rasanya seperti mengulang kesalahan yang dulu pernah kubuat!" serunya tanpa menoleh ke arah Arya."Ma, ada apa? Kalau Mama ingin pergi ke suatu tempat, aku akan mengantarkan. Mama tidak perlu menyetir sendiri!" Levin khawatir melihat sikap ibunya."Tenanglah dulu. Katakan apa yang terjadi. Supaya kita semua bisa membantumu." Arya juga berusaha untuk memadamkan api yang bergolak li4r di pikiran Sandra."Viko dan Ana tinggal di rumah lain milik keluarga Johan. Dan sekarang, Viko tidak pulang ke rumah. Tak ada kabar, pesan atau apapun. Ana menangis memikirkan suaminya." Sandra menjawab dengan wajah tegang. Tangannya mencengkram tas kecilnya lebih kuat."Aku akan ke sana. Aku akan temani Mama. Daddy pergi ke kantor dan antar Allison ke sekolah." Levin menengahi."Baiklah! Setelah pekerjaa
"Ayo kita pulang!" Suara Viko membuyarkan lamunan Ana. "Lho! Kok pulang? Kamu kan baru masuk ke dalam?" Ana heran melihat Viko yang sudah berdiri di dekatnya. "Saat aku masuk ke dalam, Andrew sedang tidur. Aku tak mungkin membangunkan dia, kan?" Viko berbohong. Yang sebenarnya adalah, ia tak berani bertatap muka langsung dengan Andrew. Ia takut jika kebohongannya akan terbongkar. "Iya, yang penting kita sudah menjenguknya." Ana mengangguk. Keduanya memilih untuk pulang ke rumah. ****"DUaR!" Malam ini, suara petir terdengar seperti b0m yang meled@k di udara. Ana duduk di ruang makan. Ia menunggu Viko pulang. Sesekali matanya melirik ke arah jam yang tergantung tak jauh dari sana. "Sudah jam 9 malam. Viko kenapa belum pulang?" Ana bicara pada dirinya sendiri. Ia menatap piring piring yang berisi makanan. "Aku sangat lapar. Apa lebih baik aku makan lebih dulu?" Ana agak ragu. Tapi sedetik kemudian, ia mengambil pirin







