分享

Bab 4

作者: Sia
Yasmin berendam di danau es hingga dua jam penuh. Ketika akhirnya ditarik keluar, dia sudah hampir tidak sadarkan diri.

Dia demam tinggi selama tiga hari, tetapi semua tabib Istana Timur dikerahkan untuk merawat Naura yang mengalami gangguan pada kandungan.

Yasmin bertahan melewati masa itu dengan susah payah. Begitu sadar, hal pertama yang dilakukannya adalah melanjutkan menyulam pakaian pengantin yang belum selesai.

Ketika Galen mendorong pintu dan masuk, dia melihat Yasmin sedang menundukkan kepala, memasukkan benang ke dalam jarum. Cahaya lilin menerangi wajah sampingnya yang pucat.

Ekspresi Galen sedikit melunak. Dia berjalan ke sisinya. "Untuk pakaian pengantin, biar orang istana yang mengurusnya. Mengapa kamu menyulamnya sendiri?"

Yasmin bahkan tidak mengangkat kepala. "Pakaian pengantin yang disulam sendiri akan membuat pernikahan lebih bertahan lama."

Hati Galen melunak. Dia menarik Yasmin ke dalam pelukannya. "Apa kamu masih menyimpan dendam karena hukuman yang kuberikan waktu itu?"

"Sekarang Naura sedang mengandung. Karena aku membencinya, aku juga ingin membalas dendam kepadanya dan anaknya. Karena itu, anak itu harus lahir dan tidak boleh terjadi kesalahan apa pun. Setelah anak itu lahir, aku akan membuat hidupnya lebih menyakitkan daripada kematian. Jangan cemburu, ya?"

Yasmin memejamkan mata. Dadanya terasa sakit hingga tubuhnya gemetar.

Kebohongannya benar-benar begitu lancar.

Padahal semua orang bisa melihat bahwa dia mencintai Naura sampai ke tulang.

Galen mengecup kening Yasmin dan berkata lembut, "Anak baik, hari ini Festival Lampion. Aku mengadakan jamuan di Istana Timur. Bukankah kamu paling suka suasana ramai?"

Galen menepuk tangan. Seorang pelayan istana masuk sambil membawa pakaian mewah. "Ini pakaian untuk menghadiri jamuan. Kalau sudah berganti pakaian, datanglah."

Malam pun tiba. Istana Timur dihiasi lampion dan dipenuhi kemeriahan.

Naura duduk di sisi Galen, sementara Yasmin sang calon putri mahkota justru ditempatkan di posisi kedua.

Para tamu berbisik-bisik, "Bukankah Nona Naura hanya seorang selir sanding? Bagaimana bisa dia berani duduk satu meja dengan putra mahkota?"

Seorang pengawal buru-buru datang menjelaskan, "Yang mulia putra mahkota berkata bahwa Nona Yasmin tidak menyukai kemeriahan, sehingga beliau tidak nyaman duduk bersama."

Yasmin tidak mengatakan apa-apa dan duduk dengan tenang.

Di jamuan itu, dia melihat dengan mata kepala sendiri Galen mengupaskan anggur dan menuangkan arak untuk Naura. Bahkan saat Naura bermanja, Galen sampai memasukkan ujung jari Naura ke mulut dan mengisapnya pelan di depan semua orang.

Ketika seorang penyanyi yang sedang mempersembahkan pertunjukan mendapat tatapan Galen, Naura langsung mengerucutkan bibir.

Galen melirik Yasmin dengan hati-hati. Setelah melihat Yasmin menundukkan kepala dan menyantap hidangan, barulah dia menarik tangan Naura dan menggenggamnya erat.

"Hanya kamu yang mampu menggerakkan hatiku." Galen merendahkan suara untuk membujuknya. "Penyanyi itu ... hanya karena sorot mata dan alisnya mirip denganmu, jadi aku melihatnya sedikit lebih lama."

Galen mengira tidak ada seorang pun yang melihat, tetapi dia tidak tahu bahwa dari sudut matanya, Yasmin menyaksikan semuanya.

Mungkin karena sudah tidak mencintainya, jadi Yasmin bahkan tidak merasa sakit lagi.

Di tengah jamuan, Naura tiba-tiba bersuara.

"Yang Mulia, pertunjukan nyanyian dan tarian ini sungguh membosankan. Bagaimana kalau Kak Yasmin memainkan satu lagu untuk memeriahkan suasana? Kecapi Aruna miliknya sangat terkenal di seluruh ibu kota!"

Tatapan semua orang seketika tertuju kepada Yasmin.

Yasmin tidak ingin bermain kecapi. Dia baru hendak menolak dengan halus, tetapi Galen sudah menoleh kepadanya dan berkata lembut, "Yasmin, kalau begitu, mainkanlah satu lagu untuk memeriahkan suasana."

Yasmin tidak dapat menolaknya.

Dia berjalan dalam diam menuju meja kecapi dan mengusap perlahan Kecapi Aruna warisan keluarganya dengan ujung jarinya.

Alunan kecapi pun terdengar, pilu dan menyayat hati.

Di tengah sorak-sorai seluruh ruangan, tiba-tiba Naura memegangi perutnya dan menjerit sambil menangis. "Ah ... sakit sekali ...."

"Yang Mulia ... alunan kecapi ini ... mengganggu kandungan!"

Wajah Galen berubah drastis. Dia tiba-tiba mencabut pedangnya dan menebas senar kecapi!

Ctar!

Kecapi Aruna yang telah diwariskan turun-temurun itu seketika patah. Serpihan kayu beterbangan seperti anak panah dan menancap tepat di mata kanan Yasmin.

Yasmin menutupi matanya. Dengan seluruh pandangannya dipenuhi darah, dia jatuh di atas badan kecapi, menahan rasa sakit yang seolah membelah kepalanya.

Di antara pandangan yang samar oleh darah, hal terakhir yang dilihatnya adalah Galen yang menggendong Naura dan berlari pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 25

    Ketika padang rumput Beida menyambut salju musim semi yang kesepuluh, Yasmin melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan di dalam tenda berlapis emas.Barra menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir, matanya justru lebih merah daripada saat dia terluka di medan perang dulu.Barra memotong tali pusar bayi itu dengan tangannya sendiri, lalu menggendongnya yang dibungkus kulit cerpelai ke hadapan Yasmin. "Lihatlah putri kita. Dia sangat mirip denganmu."Mata Yasmin memancarkan kelembutan. "Kamu ini, baru melihatnya saja sudah pilih kasih kepada anak perempuan.""Siapa suruh putri kita lebih mirip denganmu!"Yasmin tertawa geli, tetapi tawanya membuat lukanya tertarik hingga dia mendesis pelan.Barra segera membungkuk dengan cemas. "Sakit? Tabib!""Barra, aku tidak apa-apa."Yasmin menggenggam tangan Barra, ujung jarinya mengusap kapalan di telapak tangannya. "Bagaimana dengan Nandu ... belakangan ini ada kabar?"Wajah Barra menggel

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 24

    Barra terkekeh pelan, jakunnya bergesekan dengan tulang selangka Yasmin."Tentu saja. Ini mata air spiritual. Katanya, air ini paling ampuh untuk meredakan pegal-pegal di pinggang."Tangannya bergeser ke pinggang belakang Yasmin, lalu memijatnya dengan lembut."Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu berguling-guling di tengah malam. Apa kamu terlalu lelah?"Di tengah kabut yang mengepul, daun telinga Yasmin perlahan memerah.Dia menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Barra dan berkata dengan suara teredam, "Bukankah itu gara-gara seseorang yang bersikeras harus memelukku saat tidur?""Kalau tidak memelukmu, bagaimana aku tahu kamu menendang selimut atau tidak?" Barra memegang wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu jari. "Waktu itu, kamu sampai masuk angin dan batuk. Aku benar-benar ketakutan."Ketika ciumannya jatuh, kehangatan pemandian air panas masih terasa. Di antara ciuman yang lembut dan penuh kasih, Yasmin mendengar detak jantung Barra yang bergemuruh di dalam dadanya.Tiba-tib

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 23

    "Kalau begitu, biarkan negeri ini berganti penguasa." Suaranya begitu pelan, tetapi setiap katanya sedingin ujung es.Kenangan tiba-tiba membanjiri benaknya.Saat dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, Yasmin pernah menggendongnya menyeberangi sungai yang membeku. Sol sepatu kain kasarnya bergesekan dengan lapisan es, menimbulkan bunyi "krek-krek".Punggungnya yang kurus tertekan hingga melengkung seperti busur, tetapi masih terdengar napasnya yang terengah-engah disertai tawa."Asalkan Yang Mulia baik-baik saja."Kaisar terhuyung dan berpegangan pada sandaran takhta. Rasa amis darah membanjiri tenggorokannya, lalu dia memuntahkan seteguk darah ke lantai ubin batu giok hijau."Anak durhaka .... Kamu anak durhaka ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh kaisar sudah terkulai lemas di atas takhta.Para kasim yang berjaga di luar pintu berbondong-bondong masuk. Galen menyaksikan para tabib istana dengan panik mengangkat tandu kekaisaran.Dia perlahan berdiri, ujung jubah h

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 22

    Selama masa pemulihan Barra, Galen berkali-kali meminta untuk bertemu dengan Yasmin, tetapi selalu ditolak.Baru sebulan kemudian, Yasmin bersedia menemuinya.Galen tampak jauh lebih kurus dan lesu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.Ketika melihat Yasmin bergandengan tangan dengan Barra yang telah pulih, secercah keputusasaan melintas di matanya."Bukan aku yang mengirim pembunuh itu," katanya dengan suara serak, "itu orang-orang dari Keluarga Rahardjo. Mereka membencimu. Tapi, ini juga salahku.""Aku tahu," Yasmin berkata dengan tenang, "Barra sudah menyelidikinya hingga tuntas. Naura sudah meninggal, jadi wajar mereka menyimpan dendam."Galen melangkah maju. "Yasmin, ikutlah denganku. Nandu membutuhkanmu, aku ... lebih membutuhkanmu."Barra mengernyitkan kening dan hendak berbicara, tetapi Yasmin mencubit lembut tangannya. "Biar aku yang mengurusnya."Dia berjalan ke hadapan Galen dengan ekspresi setenang air. "Yang Mulia Putra Mahkota, hubungan kita sudah lama berakhir.

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 21

    Yasmin mengeluarkan jarum perak, lalu kembali melakukan akupunktur untuk mengeluarkan racun dari tubuh Barra.Ini adalah metode yang dia kembangkan dengan menggabungkan ilmu pengobatan Nandu dan ilmu sihir Beida. Meski berbahaya, inilah satu-satunya harapan.Saat jarum perak menusuk titik akupunktur, tubuh Barra seketika bergetar hebat dan urat-urat di tubuhnya menegang.Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan terus menusukkan jarum, hingga tubuh Barra perlahan kembali tenang."Racun di dalam tubuh baginda raja sudah terlalu parah," ujar tabib sambil menghela napas, "kalaupun baginda raja sadar, takutnya juga ....""Diam!" bentak Yasmin dengan suara tegas, "dia pasti akan sembuh!"Saat malam makin larut dan suasana menjadi sunyi, Yasmin yang kelelahan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk beristirahat sejenak.Tiba-tiba, dia merasakan jarinya disentuh lembut."Barra?" Dia segera mengangkat kepala dan berhadapan dengan sepasang mata berwarna amber yang begitu dikenalnya.Bar

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 20

    Keesokan paginya, perundingan perdagangan digelar di padang rumput di luar tenda raja.Yasmin mengenakan pakaian kebesaran Ratu Beida. Hiasan kepala emasnya berkilauan diterpa sinar matahari.Dia menggandeng lengan Barra dan berjalan perlahan menuju tenda tempat perundingan.Galen sudah menunggu di sana. Jubah brokat hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin kurus.Ketika melihat Yasmin dan Barra yang tampak begitu mesra, secercah kepedihan melintas di mata Galen, tetapi dia segera kembali tenang."Raja Beida." Dia mengangguk tipis, tetapi tatapannya justru tertuju kepada Yasmin. "Yasmin ... Ratu."Wajah Yasmin tetap tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah menempuh perjalanan jauh, pasti sangat lelah."Perundingan berlangsung sangat lancar. Galen hampir selalu menyetujui semua persyaratan yang diajukan Barra.Saat tengah hari, mereka semua berpindah ke tempat jamuan di padang rumput untuk makan."Maukah Ratu berbicara denganku sebentar?" Galen tiba-tiba berbicara, matanya d

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status