Partager

Bab 5

Auteur: Sia
Ketika Yasmin sadar, pandangannya masih kabur.

Dia berkedip beberapa kali. Pandangannya diselimuti kabut tipis berwarna merah darah, seolah terhalang sehelai kain tipis.

Rania bergegas ke sisi ranjang sambil menangis hingga hampir kehabisan napas. "Nona! Akhirnya Anda sadar! Tabib istana berkata ... hanya kurang sedikit, mata Anda akan ...."

Dia tidak melanjutkan, tetapi Yasmin mengerti.

Hanya sedikit lagi, dia akan kehilangan penglihatannya.

Perlahan, Yasmin mengangkat tangan dan menyentuh perban yang melilit matanya dengan ujung jari. Tiba-tiba dia tersenyum. "Rania, jangan menangis lagi."

"Nona, sakit tidak?" Air mata Rania jatuh membasahi punggung tangannya. "Kalau sakit, menangislah. Jangan dipendam."

Yasmin menatap sepasang burung mandarin yang disulam di kelambu, lalu teringat kejadian sebelum dia pingsan.

Galen mengayunkan pedang dan menebas senar kecapi. Serpihan kayu beterbangan dan menancap di matanya, sementara Galen pergi sambil menggendong Naura tanpa menoleh sedikit pun.

Hatinya memang terasa sakit, tetapi air matanya tidak lagi bisa mengalir.

Yasmin berkata pelan, "Menangis pun harus ada yang merasa kasihan."

Kalau tidak ada yang peduli, dia tidak akan menangis lagi.

Tangisan Rania makin keras hingga hampir pingsan karena kehabisan napas.

Saat itu, pintu didorong terbuka dan Galen melangkah masuk dengan cepat.

Rania akhirnya tidak mampu menahan diri lagi.

Dia langsung berlutut di hadapan Galen dan membenturkan dahinya ke lantai dengan keras. "Yang Mulia Putra Mahkota! Hamba mohon, kasihanilah nona sekali ini saja!"

"Dulu, demi menemani Anda dalam pengasingan, dia menerima sembilan puluh sembilan cambukan dari perdana menteri dan nyonya! Setiap cambukan membuat darahnya mengalir!"

"Sampai sekarang, perdana menteri masih tidak mau memaafkannya. Beliau bahkan berkata bahwa sepanjang hidupnya tidak akan pernah bertemu lagi dengan Nona! Nona sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dia hanya memiliki Anda!"

Tubuh Galen menegang.

Dia menatap Yasmin yang terbaring tenang di ranjang. Entah matanya di balik perban sedang terbuka atau tertutup. Warna bibirnya bahkan lebih pucat daripada kertas.

Tiba-tiba Galen pada malam hujan dalam perjalanan menuju tempat pengasingan. Saat itu Yasmin sedang demam tinggi, tetapi justru membalutkan pakaian kering terakhir yang dimilikinya ke tubuhnya.

Saat itu, Galen bertanya mengapa dia ikut bersamanya. Yasmin hanya tersenyum dan berkata, "Karena Yang Mulia ada di sini."

Galen tidak pernah tahu bahwa sebelum ikut menemaninya dalam pengasingan, Yasmin ternyata telah menerima sembilan puluh sembilan cambukan!

Hati Galen bergetar. Dia membungkus tangan Yasmin yang dingin dengan telapak tangannya.

"Yasmin, aku tidak menyangka senar kecapi itu akan melukaimu." Suaranya tercekat. "Saat itu, aku hanya memikirkan anak di dalam kandungannya ...."

Menyadari dirinya telah salah berbicara, Galen buru-buru mengubah ucapannya. "Maksudku, anak itu masih berguna."

Yasmin memandang kegugupan di mata Galen dalam diam. Betapa lucunya. Bahkan kebohongannya pun sudah tidak bisa dia rangkai dengan sempurna.

"Mulai sekarang, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi." Galen mengusap wajah Yasmin dan berjanji. "Beberapa hari ini aku sedang libur. Aku akan menemanimu seorang diri."

Hari-hari berikutnya, Galen seolah ingin menebus semua yang selama ini telah dia lakukan terhadap Yasmin.

Biro Urusan Istana mengirimkan 10 peti mutiara Laut Selatan. Galen memilih satu per satu yang paling berkilau, lalu menjadikannya lampu dan meletakkannya di sisi ranjang Yasmin. "Dengan begini, malam hari tidak akan terlalu gelap."

Yasmin takut rasa pahit saat minum obat, jadi Galen menyuruh orang membungkus pil obat dengan manisan buah. Dia menyuapi Yasmin seperti membujuk seorang anak kecil. "Ini yang terakhir. Patuh ya."

Pelayan Naura datang memanggilnya sampai tiga kali, tetapi Galen tidak menemuinya satu kali pun. Bahkan, Galen membawa dokumen-dokumen kerajaan ke kediaman Yasmin untuk diselesaikan di sana.

Namun, hati Yasmin sudah seperti hamparan salju yang sunyi. Tidak ada lagi sedikit pun kehangatan yang bisa tumbuh di dalamnya.

Dia hanya diam menyulam pakaian pengantin, satu tusukan demi satu tusukan, seolah ingin menjahit seluruh rasa sakitnya ke dalam kain itu.

Galen memeluknya dari belakang, mengecup daun telinganya, lalu terkekeh pelan. "Kamu terus menyulam pakaian pengantin. Apa kamu begitu tidak sabar untuk menikah denganku?"

Ujung jari Yasmin terhenti sejenak. Dia berkata pelan, "Memang sangat tidak sabar."

Namun, bukan untuk menikah denganmu.

Saat pakaian pengantin ini selesai disulam, itulah hari ketika dia akan benar-benar meninggalkannya.

Saat makan malam, Galen tampak jelas tidak berkonsentrasi.

Pelayan Naura datang lagi dan menangis tersedu-sedu di luar ruangan.

Yasmin meletakkan alat makan gioknya. "Yang Mulia, pergilah."

"Tidak." Galen mengambil sepotong udang dan meletakkannya ke dalam mangkuk Yasmin. "Terakhir kali aku mengabaikanmu. Aku hanya ingin membalas dendam kepadanya. Aku hanya membutuhkan anak di dalam kandungannya. Selebihnya, tentu saja aku harus tetap berada di sisimu."

Yasmin menundukkan pandangan dan menatap udang di dalam mangkuknya.

Katanya ingin tetap berada di sisinya, tetapi Galen bahkan tidak ingat bahwa setiap kali Yasmin makan udang, seluruh tubuhnya akan dipenuhi ruam.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 25

    Ketika padang rumput Beida menyambut salju musim semi yang kesepuluh, Yasmin melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan di dalam tenda berlapis emas.Barra menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir, matanya justru lebih merah daripada saat dia terluka di medan perang dulu.Barra memotong tali pusar bayi itu dengan tangannya sendiri, lalu menggendongnya yang dibungkus kulit cerpelai ke hadapan Yasmin. "Lihatlah putri kita. Dia sangat mirip denganmu."Mata Yasmin memancarkan kelembutan. "Kamu ini, baru melihatnya saja sudah pilih kasih kepada anak perempuan.""Siapa suruh putri kita lebih mirip denganmu!"Yasmin tertawa geli, tetapi tawanya membuat lukanya tertarik hingga dia mendesis pelan.Barra segera membungkuk dengan cemas. "Sakit? Tabib!""Barra, aku tidak apa-apa."Yasmin menggenggam tangan Barra, ujung jarinya mengusap kapalan di telapak tangannya. "Bagaimana dengan Nandu ... belakangan ini ada kabar?"Wajah Barra menggel

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 24

    Barra terkekeh pelan, jakunnya bergesekan dengan tulang selangka Yasmin."Tentu saja. Ini mata air spiritual. Katanya, air ini paling ampuh untuk meredakan pegal-pegal di pinggang."Tangannya bergeser ke pinggang belakang Yasmin, lalu memijatnya dengan lembut."Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu berguling-guling di tengah malam. Apa kamu terlalu lelah?"Di tengah kabut yang mengepul, daun telinga Yasmin perlahan memerah.Dia menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Barra dan berkata dengan suara teredam, "Bukankah itu gara-gara seseorang yang bersikeras harus memelukku saat tidur?""Kalau tidak memelukmu, bagaimana aku tahu kamu menendang selimut atau tidak?" Barra memegang wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu jari. "Waktu itu, kamu sampai masuk angin dan batuk. Aku benar-benar ketakutan."Ketika ciumannya jatuh, kehangatan pemandian air panas masih terasa. Di antara ciuman yang lembut dan penuh kasih, Yasmin mendengar detak jantung Barra yang bergemuruh di dalam dadanya.Tiba-tib

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 23

    "Kalau begitu, biarkan negeri ini berganti penguasa." Suaranya begitu pelan, tetapi setiap katanya sedingin ujung es.Kenangan tiba-tiba membanjiri benaknya.Saat dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, Yasmin pernah menggendongnya menyeberangi sungai yang membeku. Sol sepatu kain kasarnya bergesekan dengan lapisan es, menimbulkan bunyi "krek-krek".Punggungnya yang kurus tertekan hingga melengkung seperti busur, tetapi masih terdengar napasnya yang terengah-engah disertai tawa."Asalkan Yang Mulia baik-baik saja."Kaisar terhuyung dan berpegangan pada sandaran takhta. Rasa amis darah membanjiri tenggorokannya, lalu dia memuntahkan seteguk darah ke lantai ubin batu giok hijau."Anak durhaka .... Kamu anak durhaka ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh kaisar sudah terkulai lemas di atas takhta.Para kasim yang berjaga di luar pintu berbondong-bondong masuk. Galen menyaksikan para tabib istana dengan panik mengangkat tandu kekaisaran.Dia perlahan berdiri, ujung jubah h

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 22

    Selama masa pemulihan Barra, Galen berkali-kali meminta untuk bertemu dengan Yasmin, tetapi selalu ditolak.Baru sebulan kemudian, Yasmin bersedia menemuinya.Galen tampak jauh lebih kurus dan lesu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.Ketika melihat Yasmin bergandengan tangan dengan Barra yang telah pulih, secercah keputusasaan melintas di matanya."Bukan aku yang mengirim pembunuh itu," katanya dengan suara serak, "itu orang-orang dari Keluarga Rahardjo. Mereka membencimu. Tapi, ini juga salahku.""Aku tahu," Yasmin berkata dengan tenang, "Barra sudah menyelidikinya hingga tuntas. Naura sudah meninggal, jadi wajar mereka menyimpan dendam."Galen melangkah maju. "Yasmin, ikutlah denganku. Nandu membutuhkanmu, aku ... lebih membutuhkanmu."Barra mengernyitkan kening dan hendak berbicara, tetapi Yasmin mencubit lembut tangannya. "Biar aku yang mengurusnya."Dia berjalan ke hadapan Galen dengan ekspresi setenang air. "Yang Mulia Putra Mahkota, hubungan kita sudah lama berakhir.

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 21

    Yasmin mengeluarkan jarum perak, lalu kembali melakukan akupunktur untuk mengeluarkan racun dari tubuh Barra.Ini adalah metode yang dia kembangkan dengan menggabungkan ilmu pengobatan Nandu dan ilmu sihir Beida. Meski berbahaya, inilah satu-satunya harapan.Saat jarum perak menusuk titik akupunktur, tubuh Barra seketika bergetar hebat dan urat-urat di tubuhnya menegang.Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan terus menusukkan jarum, hingga tubuh Barra perlahan kembali tenang."Racun di dalam tubuh baginda raja sudah terlalu parah," ujar tabib sambil menghela napas, "kalaupun baginda raja sadar, takutnya juga ....""Diam!" bentak Yasmin dengan suara tegas, "dia pasti akan sembuh!"Saat malam makin larut dan suasana menjadi sunyi, Yasmin yang kelelahan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk beristirahat sejenak.Tiba-tiba, dia merasakan jarinya disentuh lembut."Barra?" Dia segera mengangkat kepala dan berhadapan dengan sepasang mata berwarna amber yang begitu dikenalnya.Bar

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 20

    Keesokan paginya, perundingan perdagangan digelar di padang rumput di luar tenda raja.Yasmin mengenakan pakaian kebesaran Ratu Beida. Hiasan kepala emasnya berkilauan diterpa sinar matahari.Dia menggandeng lengan Barra dan berjalan perlahan menuju tenda tempat perundingan.Galen sudah menunggu di sana. Jubah brokat hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin kurus.Ketika melihat Yasmin dan Barra yang tampak begitu mesra, secercah kepedihan melintas di mata Galen, tetapi dia segera kembali tenang."Raja Beida." Dia mengangguk tipis, tetapi tatapannya justru tertuju kepada Yasmin. "Yasmin ... Ratu."Wajah Yasmin tetap tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah menempuh perjalanan jauh, pasti sangat lelah."Perundingan berlangsung sangat lancar. Galen hampir selalu menyetujui semua persyaratan yang diajukan Barra.Saat tengah hari, mereka semua berpindah ke tempat jamuan di padang rumput untuk makan."Maukah Ratu berbicara denganku sebentar?" Galen tiba-tiba berbicara, matanya d

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status