MasukPerbatasan berhasil ditembus musuh. Arsendra, jenderal muda dari Keluarga Radinata, mengucapkan sumpah militer, "Sebelum musuh ditaklukkan, aku tidak akan pulang." Kaisar sangat gembira dan memutuskan untuk menganugerahkan pernikahan kepadanya. Seluruh ibu kota kerajaan tahu bahwa Arsendra dan kakak perempuanku, Kinasih, saling mencintai. Namun, dia malah memilihku. Pada malam pernikahan kami, dia berdiri di depan ranjang dan berkata dengan nada datar, "Perjalanan ke perbatasan kali ini penuh bahaya dan kemungkinan besar aku nggak akan kembali hidup-hidup. Aku nggak ingin Kinasih ikut mengalami malapetaka seperti ini." "Titah Kaisar sulit ditolak. Aku terpaksa memilih seseorang. Maaf sudah membuatmu menanggung semua ini." Aku terdiam sesaat, lalu tidak tahan untuk bertanya balik, "Lalu, aku ini apa?" Dia terkekeh pelan, senyumnya begitu dingin, "Anggap saja aku berutang padamu." Dia mendorong pintu dan pergi. Aku pun mengembuskan napas lega. Arsendra tidak tahu bahwa sedari dulu aku juga sudah memiliki seseorang yang kucintai. Dengan begitu, kami bisa dibilang impas. Selama tujuh tahun menjaga perbatasan, kami berkali-kali lolos dari maut. Aku menemaninya bertaruh nyawa di medan perang. Kami pernah menghadapi pembunuhan, penyergapan, terluka, dan berkali-kali meloloskan diri dari maut .... Aku tidak pernah mengeluh. Sebaliknya, aku mengerahkan segenap tenaga untuk membantunya menstabilkan moral pasukan dan mengurus perbekalan. Bahkan ketika Arsendra terluka parah dan membutuhkan empedu ular berbisa untuk mengeluarkan racun dari tubuhnya, aku mempertaruhkan nyawaku sendiri dengan memasuki Gua Lima Racun demi mendapatkan empedu ular itu. Akhirnya, Arsendra berhasil menaklukkan musuh dan memasukkan wilayah barat kekuasaan kerajaan. Setelah kembali dengan kemenangan, Kaisar menganugerahinya gelar Pangeran meskipun dia bukan berasal dari keluarga kerajaan. Kaisar kemudian bertanya hadiah apa yang dia inginkan. "Hamba memohon agar istri hamba diturunkan kedudukannya menjadi selir dan hamba diizinkan menikahi Putri Kinasih sebagai istri utama." Pada akhirnya, dia tetap ingin menikahi kakakku. Namun untungnya, keinginanku akhirnya juga bisa terwujud. Aku akhirnya bisa pergi.
Lihat lebih banyakBerkat jasa Adikara, aku juga dianugerahi gelar Nyonya Kehormatan oleh kekaisaran.Hari-hari berlalu dengan tenang, waktu pun terus bergulir.Lima tahun kembali berlalu. Putra kami, Prasanta, sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang ceria dan menggemaskan. Adikara masih menjadi perdana menteri yang selalu memikirkan rakyat dan negeri, sedangkan aku tetap menjadi istri yang setia mendampinginya.Hari itu, aku mengajak Prasanta pergi ke pasar untuk membeli kue.Ketika sampai di sudut jalan, seorang pengemis berpakaian compang-camping dengan rambut kusut mengadang kami. Tubuhnya menguarkan bau tidak sedap. Rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian besar wajahnya.Dia mengulurkan tangannya yang kurus kering dan berkata dengan suara serak, "Nyonya, berbaik hatilah. Berikan aku sedikit makanan."Prasanta ketakutan dan langsung bersembunyi di belakangku.Aku sedikit mengernyit, lalu menyuruh pelayan mengeluarkan beberapa keping perak dan menyerahkannya kepadanya. Namun, dia tidak meneriman
"Sedangkan kamu ...." Dia menatap Kinasih dengan mata penuh kebencian dan melanjutkan, "mulai hari ini, hubungan kita berakhir!"Belum selesai ucapannya, dia tiba-tiba mengangkat tangan dan menampar wajah Kinasih dengan keras.Plak!Tamparan nyaring terdengar. Wajah Kinasih terpaling ke samping, darah merembes dari sudut bibirnya. Dia menatap Arsendra dengan tidak percaya. "Kamu berani memukulku?"Arsendra tidak menjawab. Dia hanya menatap Kinasih dengan dingin.Kinasih begitu marah dan membencinya. Dia berbalik dan langsung berlari menuju istana.Peristiwa ini segera sampai ke telinga Kaisar Ranggasena.Sejak awal, Ranggasena memang sudah mewaspadai Arsendra karena jasa dan pengaruh militernya yang terlalu besar. Kini, Arsendra bahkan berani memukul seorang putri dan mengabaikan kehormatan keluarga kerajaan. Ranggasena tidak bisa menoleransinya lagi.Dia segera memerintahkan agar Arsendra dijebloskan ke penjara untuk menunggu hukuman.Kabar bahwa Arsendra dipenjara segera sampai ke pe
"Adikara, aku nggak peduli kamu berubah jadi seperti apa. Mulai sekarang sampai akhir hidupku, aku akan selalu menemanimu."Adikara menatapku dengan mata penuh kelembutan. "Baik."Hari itu, matahari bersinar cerah dan angin sepoi-sepoi berembus lembut. Di kediaman kecil ini, kami memulai kehidupan baru.Tidak ada intrik dan tipu daya istana, tidak ada perebutan kepentingan di Kediaman Pangeran, juga tidak ada pertumpahan darah seperti di medan perbatasan. Hanya ada kehidupan sederhana dengan segala kebutuhan sehari-hari, serta kehangatan karena kami selalu saling mendampingi.Adikara membuka sebuah tempat belajar di kota dan mengajari anak-anak membaca serta menulis. Sementara aku mengurus rumah tangga dan sesekali membantunya menyalin buku.Saat senggang, kami akan berjalan-jalan bersama di tepi sungai, menyaksikan matahari terbit dan terbenam, membicarakan puisi dan sastra, serta membayangkan masa depan bersama.Meski hidup kami sederhana dan serba terbatas, hari-hari kami dipenuhi k
Tidak ada seorang pun yang berani maju untuk membujuknya.Ketika malam semakin larut dan suasana menjadi sunyi, hanya Arsendra seorang yang tersisa di aula duka. Dia mengulurkan tangan dan mengusap peti matiku dengan lembut, seolah sedang membelai sesuatu yang paling berharga baginya."Larasati, maafkan aku ...." Dia bergumam lirih, "Setelah aku menyelesaikan semua urusan di sini, aku akan pergi mencarimu ...."Namun, dia tidak tahu bahwa saat dirinya masih tenggelam dalam penyesalan, orang-orang yang dikirim oleh Permaisuri telah diam-diam menyusup ke pemakaman.Sesuai kesepakatan tujuh tahun lalu, mereka memanfaatkan gelapnya malam untuk menggali kembali makamku dan mengangkatku keluar dari peti mati.Orang yang memimpin mereka adalah pelayan tua bernama Surti, orang kepercayaan Permaisuri.Melihatku "hidup kembali dari kematian", tidak ada sedikit pun perubahan di wajahnya. Dia hanya berkata dengan dingin, "Putri, Permaisuri berpesan bahwa mulai sekarang, kamu bukan lagi seorang put
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.