Share

Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku
Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku
Penulis: Irma W

Bab 1

Penulis: Irma W
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-09 10:14:22

Terik matahari siang memantul dari kaca jendela, menembus tirai tipis yang menggantung miring. Panas itu seolah merayap masuk hingga ke ruang tamu, membuat udara di dalam terasa lebih sesak, lebih menekan.

Namun, bukan cuaca yang membuat ruangan itu terasa seperti ruangan eksekusi—melainkan tiga pasang mata yang saling menghindar, seakan percaya bahwa dengan tidak saling menatap, masalah akan mengecil dengan sendirinya.

Sabrina Watson, perempuan cantik berkulit putih, memiliki wajah bulat, duduk di kursi kayu tua yang kaki-kakinya sedikit bergoyang. Jemarinya mengetuk meja ritmis—tak sabar, tertekan, marah—namun tak satu pun dari ketiga orang di ruangan itu berani menyahut duluan.

Ibunya—Taylor Rosi—sedang terbaring di rumah sakit. Napasnya lemah, tubuhnya dipenuhi selang-selang yang membuat Sabrina ingin memaki dunia.

Dan kini, perempuan itu sedang sendirian memperjuangkan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan seluruh keluarga.

“Kenapa kalian cuma diam saja?” suaranya pecah. Datar, tapi getir.

Tuan George Watson—ayahnya—menghela napas panjang dari sofa usang yang warnanya mulai pudar. Asap rokok terakhirnya masih menggantung di udara sebelum dia menekan puntung itu kuat-kuat di asbak, seolah kemarahan Sabrina menular pada jarinya.

“Bukan diam, tapi Kita tidak ada uang, Sabrina.” suaranya berat, pasrah. “Biaya operasinya… sangat besar.”

Sabrina mengangkat wajah, menatap ayahnya, lalu menggeser tatapannya pada dua sosok di dekat jendela.

Cloe Watson, kakak perempuannya, bersedekap dengan wajah kesal yang berusaha menutupi rasa bersalah.

Henry Watson, si sulung, berdiri memunggungi ruangan sambil pura-pura sibuk menatap halaman.

Sabrina tersenyum miring—senyum yang lebih mirip luka.

Tentu saja mereka tidak menatap balik.

Tentu saja mereka menghindar.

“Kalau saja sisa harta keluarga kita tidak dipakai untuk investasi bodong,” katanya pelan namun tajam, “kita bisa pakai uang itu buat biaya operasi Mama.”

Cloe langsung menoleh, matanya menyala seperti api kecil yang tersulut ego.

“Kamu menyalahkan kita berdua?” tanya Cloe, nadanya meninggi.

“Kuanggap iya, kalau kalian merasa,” sahut Sabrina tanpa berkedip.

Henry mendengus tajam. “Kita cuma bermaksud membantu. Beberapa kali juga investasi itu menguntungkan.”

Sabrina tertawa pelan—dan tawa itu jelas menyakitkan. “Oh, begitu? Dan sekarang ratusan juta hilang. Menurut kalian… kita harus apa?”

Diam.

Cloe membuang muka.

Henry menggeleng kecil, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan tapi masih mencoba membela diri dalam hati.

Sabrina mengepalkan jemarinya di atas paha.

Tak ada waktu untuk menyalahkan siapa pun.

Yang dia butuhkan sekarang adalah solusi.

“Nggak ada waktu, Pa.” Sabrina menatap ayahnya lurus-lurus. “Operasi harus dilakukan paling lambat besok.”

Keheningan lain jatuh.

Bukan hening yang penuh harapan—tapi hening orang-orang yang sedang diam karena tak punya pilihan.

Lalu…

Dering ponsel memecah udara.

Sabrina terlonjak kecil. Ia melihat layar ponsel, dan alisnya langsung berkerut.

Sebuah notif muncul.

Pengirimnya tidak memakai nomor.

Hanya satu nama.

Pasangan Hati

Sabrina meringis kecil. Biro jodoh itu—yang seminggu lalu didaftarkan oleh Amanda tanpa sepengetahuan Sabrina—kini menampakkan diri tepat di tengah kekacauan hidupnya.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.

Sabrina beranjak. Ia berlari cepat menaiki tangga kayu rumahnya menuju kamar. Tiga orang di ruang tamu saling pandang tanpa suara—entah merasa bersalah, atau pura-pura tidak peduli.

Setibanya di kamar, Sabrina menutup pintu dengan telapak tangan gemetar. Ponsel itu masih bergetar pelan, seolah memanggil-manggilnya untuk kembali melihat pesan yang ia buka tadi.

Kening Sabrina berkerut, alisnya saling bertautan. Perlahan ia mundur, pantatnya mendarat di tepi ranjang. Ia membuka ulang pesan itu, memastikan ia tidak salah membaca.

PASANGAN HATI – PEMBERITAHUAN RESMI

Dengan ini kami memberitahukan bahwa peserta atas nama: SABRINA WATSON telah memasuki tahap kecocokan virtual dan dijadwalkan untuk pertemuan perdana.

Waktu pertemuan: Minggu 24 Agustus 2025, pukul 21:00

Lokasi: Suite 1903, Hotel Margain

Di bawahnya, paragraf lain tampil seperti ancaman halus:

Perlu diingat bahwa seluruh peserta wajib mengikuti seluruh rangkaian pertemuan setelah menerima biaya awal fasilitas pencocokan. Pembatalan sepihak akan dikenakan konsekuensi berupa:

1. Pengembalian penuh biaya fasilitas senilai 45.000 USD, dibayarkan dalam 48 jam.

2. Sanksi administratif dan tuntutan pidana berdasarkan perjanjian privasi dan kontrak layanan bab 4, pasal 17.

3. Pembekuan akses layanan kesehatan premium yang telah diberikan selama masa keanggotaan awal.”

Sabrina membaca kalimat itu tiga kali. Dan tetap saja, jantungnya serasa berhenti.

45.000 USD?

Dia bahkan tidak pernah memegang uang sebanyak itu dalam hidupnya.

Dan ini semua ulah Amanda.

"Astaga! Aturan gila dari mana ini!" decaknya frustrasi, suara pecah oleh kemarahan yang menumpuk sejak pagi.

Dia menggigit bibir, lalu merengek sambil menjatuhkan diri di ranjang. Kedua kakinya menendang-nendang tak karuan seperti balita minta gendong, rambutnya berantakan di atas bantal.

"Amanda… apa yang sudah kamu lakukan padaku?" geramnya lirih, giginya mengerat kuat sampai rahangnya sakit.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 101

    Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku    Bab 100

    Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 99

    Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 98

    Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 97

    Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 96

    Bab 96Sabrina meninggalkan hotel itu sekitar pukul sembilan pagi.Udara masih sejuk, matahari belum sepenuhnya naik, tapi langkahnya terasa berat. Untuk kesekian kalinya, ia terbangun di kamar asing—ranjang rapi, bantal tersusun, aroma sabun hotel yang netral—tanpa sosok pria yang semalam membawanya ke sana.Tidak ada catatan di meja.Tidak ada pesan di ponselnya.Tidak ada panggilan tak terjawab.Sabrina sempat berdiri lama di tengah kamar, menatap layar ponselnya yang gelap. Ia tidak menghubungi Liam lebih dulu. Entah karena gengsi, atau karena nalurinya mengatakan pria itu pasti akan menghubunginya sendiri.Namun, sampai ia menutup pintu kamar hotel itu, tak ada apa-apa.“Pasti dia pergi pagi-pagi lagi,” gumam Sabrina pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Dia selalu dikejar waktu.”Ia menyeberang jalan, melewati deretan pertokoan yang mulai buka. Beberapa etalase masih setengah tertutup, beberapa pedagang sibuk menyusun barang. Dunia berjalan normal, sementara kepalanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status