Share

Bab 2

Penulis: Irma W
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 05:48:25

Taksi hitam berhenti perlahan di bawah bayang-bayang gedung hunian vertikal yang menjulang seperti tebing kaca. Sabrina membuka pintu dengan gerakan kaku; udara panas langsung menerpa wajahnya. Ia menaikkan kacamata hitam—menyapukan tatapannya ke arah bangunan yang terasa lebih menyesakkan dibanding terakhir kali ia datang.

Terakhir kali ia berada di sini, hatinya penuh jengkel.

Sekarang—amarahnya meluap jauh lebih liar.

“Amanda… awas kamu,” gumamnya seperti mantra kutukan. Rahangnya mengeras. Ia menutup pintu taksi dengan sedikit terlalu keras, membuat sang sopir menolehkan pandang sekilas sebelum pergi.

Sabrina menarik napas panjang, menaikkan selempang tas ke bahunya. Langkahnya cepat, tegas, seolah setiap hentakan heels-nya adalah letupan emosi yang tak tertahan.

Beberapa orang menoleh saat ia lewat—bukan karena penampilannya, tapi karena aura kesal yang nyaris terasa secara fisik.

Lift di lobi tampak penuh. Terlalu penuh. Sabrina memutar bola mata jengkel.

“Tentu saja,” dengusnya.

Tanpa pikir panjang, ia memilih tangga.

Derit langkahnya menggema, menyatu dengan napasnya yang naik turun—lebih karena emosi ketimbang lelah. Ia hanya ingin cepat sampai. Hanya ingin menyeret Amanda keluar dari persembunyiannya dan membuatnya bicara.

Di sisi lain gedung, dari arah atas tangga, muncul dua siluet pria berpakaian gelap.

Yang satu—berjas hitam rapi—tubuhnya tegap, berkulit hitam, kepala plontos, gerakannya waspada. Sepetinya seorang asisten atau pengawal pribadi.

Yang satunya lagi—pria di depan—berjas navy elegan, cutting tegas yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. Terlihat seperti Tuan majikan yang berkuasa.

Wajah Tuan itu tampak dingin. Garis rahangnya tajam; bibirnya terkatup rapat seolah menahan segala bentuk keterlibatan emosional dari dunia.

Langkahnya panjang dan cepat.

“Kenapa harus lewat tangga, Tuan?” tanya si asisten, suaranya pelan namun cemas.

Tuannya tidak menoleh. “Kamu tahu aku tidak bisa bersentuhan dengan sembarangan orang.”

Asistennya mempercepat langkah. “Tapi saya bisa meminta orang-orang itu untuk menyingkir lebih dulu.”

“Aku tidak mau menarik perhatian.” Suaranya rendah namun tajam. “Dan kamu tahu itu.”

Asisten itu terdiam, namun masih terlihat gelisah.

“Tapi saya hanya tidak mau… Tuan kambuh.”

Rahang Tuannya mengeras sejenak—fleksi otot halus terlihat dari samping, seperti ada sesuatu yang berbahaya di balik kata kambuh.

Sabrina makin cepat naik. Napasnya tersengal, tapi pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Amanda Taylor.

Saat melewati tangga pembatas lantai dua dan tiga, langkahnya melambat sedikit—lebih karena terkejut melihat dua pria asing turun dari atas.

Pria berjas navy itu—entah siapa—bergerak seperti bayangan gelap: elegan, cepat, namun memancarkan bahaya sunyi.

“Oh—maaf,” ujar Sabrina singkat sambil menyingkir sedikit, menoleh sambil sekilas menyibak rambut dari wajahnya sebelum melanjutkan langkah. Sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja bersinggungan dengan seseorang yang bisa meruntuhkan seluruh hidupnya.

Pria dengan tampang penuh kuasa itu berhenti satu detik.

Hanya satu.

Matanya mengikuti punggung Sabrina yang menjauh menaiki tangga.

Ada sesuatu pada gadis itu—bukan kecantikan, bukan penampilan—tapi ketegangan, kegelisahan, keberanian terpendam yang melekat pada tiap langkahnya.

Alisnya terangkat sedikit. Penasaran.

Si asisten mencibir kesal melihat cara Sabrina bergegas tanpa melihat keadaan. “Kurang ajar sekali dia. Biarkan saya—”

Lengan Tuannya terangkat, menghentikannya.

“Tidak perlu.”

“Tapi Tuan—”

“Kita buru-buru.” Suara itu datar, rendah, tapi ada sesuatu yang berubah di dalamnya. Sesuatu yang samar.

Minat?

Gangguan?

Atau… insting berburu?

Asisten menutup mulutnya, lalu mengangguk.

Bill Broklyn, namanya. Pria serba hitam itu menempelkan ponsel ke telinganya, langkahnya tetap mengikuti sang tuan.

“Tuan Ralph Dawson sudah kasih kabar,” ucapnya dengan suara terukur, seolah setiap kalimat harus melewati sensor disiplin.

Tuannya berhenti sekejap, menoleh dengan tatapan yang lebih dingin daripada marmer di dinding lobi gedung.

“Antar saja aku ke sana,” katanya akhirnya, bibirnya melengkung sinis. “Pria tua bangka itu selalu banyak menuntut.”

Bill mengangguk, lalu segera memutar badan. “Baik, Tuan.”

Ia membuka pintu belakang mobil hitam panjang yang lampunya redup, tampak mewah namun tanpa identitas—sebuah kendaraan yang jelas hanya digunakan orang-orang yang ingin tetap tak terlihat, tapi memiliki kekuasaan untuk membuat seluruh kota bertekuk lutut.

“Kita berangkat sekarang,” katanya sambil membungkuk sedikit.

Pria penuh kuasa itu masuk tanpa menatapnya lagi.

Perjalanan lima belas menit terasa seperti memasuki dunia lain. Kota perlahan hilang di balik kaca mobil, digantikan oleh hamparan hutan pinus yang seolah membungkam suara. Jalan beraspal privat itu begitu halus dan panjang, dikelilingi pepohonan menjulang yang menutup langit, membuat cahaya surya tampak seperti bayangan bergerigi yang bergerak mengikuti mobil.

Ketika mobil akhirnya berhenti, gerbang raksasa setinggi tiga meter berdiri angkuh di depan mereka. Besi-besi berlapis emas itu mulai bergerak—perlahan, seakan diawasi oleh mata tak terlihat yang menentukan siapa yang boleh masuk… dan siapa yang seharusnya terkubur di luar.

Roda mobil melewati pintu gerbang, dan tampaklah hunian mewah megah yang tersembunyi di balik hutan: bangunan batu putih dengan pilar-pilar tinggi, halaman luas, dan belasan pria berjas hitam yang berdiri berjajar seperti patung penjaga.

Semua membungkuk saat mobil itu melewati mereka.

Begitu mobil berhenti, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun mendekat. Wajahnya tampan—tampan dengan cara yang licin dan menghina. Senyum miringnya tampak seperti luka kecil yang disengaja untuk mengusik.

“Liam Clieff Dawson,” sapanya, suaranya seperti dagangan licik.

“Lama tak muncul.”

Liam turun dari mobil, merapikan jas navy-nya tanpa tergesa.

Tatapannya menusuk Samuel seperti angin dingin yang menyibak kabut.

Baginya, sambutan Samuel itu sama sekali tidak berarti.

“Aku pikir kamu tidak datang,” Samuel menambahkan sambil menyeringai.

“Minggir, Sam.” Liam tidak berhenti berjalan. “Aku sedang tidak mood.”

Samuel mendengus sambil menyusul dari belakang. “Kenapa, Liam? Tidak membawa siapa-siapa lagi? Di mana gandenganmu? Kakek pasti tidak suka kalau kamu datang sendirian.”

Nada mengejek itu menusuk, tapi Liam tetap melangkah lurus, tegap, seolah komentar itu hanya hembusan asap di telinganya.

Para penjaga yang berbaris di sepanjang lorong langsung membungkuk dalam-dalam begitu Liam lewat—respek yang tidak pernah diberikan pada Samuel.

Bill segera menghentikan langkah Samuel dengan tubuhnya yang besar.

“Tuan Samuel,” katanya datar, “sebaiknya Anda tidak mengganggu Tuan Liam.”

Samuel mengangkat kedua tangan seolah menyerah, tapi senyum merendahnya tak sepenuhnya hilang. Ia mundur beberapa langkah—bagaimanapun, meski ia punya kuasa, tak ada yang cukup bodoh memusuhi Bill Brocklyn seorang diri.

Begitu melewati pintu ganda berornamen emas, Liam memasuki ruang utama yang luas.

Meja makan sepanjang sepuluh meter mengisi ruangan seperti kapal perang, dikelilingi kursi-kursi kokoh berukiran nama-nama nenek moyang Dawson. Semua anggota keluarga besar itu sudah hampir memenuhi tempat duduk—pria-pria berjas mahal, wanita elegan dengan perhiasan yang terlalu besar untuk busana mereka.

Liam menghela napas panjang.

Ia membuang pandangan jengah ke arah kerumunan itu.

Terlalu banyak keturunan kakeknya.

Terlalu banyak wajah yang tidak diinginkannya untuk ditemui.

Dan silsilah keluarga Dawson… kadang terlalu rumit untuk dimengerti oleh manusia biasa.

“Selamat sore, Kakek,” ucap Liam ketika ia mendekat ke kursi utama.

Tuan Ralph Dawson—pria tua dengan rambut sepenuhnya putih, wajah keras, dan punggung yang masih tegak seperti tombak—hanya mengangguk.

Tak ada senyum, tak ada sapaan hangat.

Hanya tatapan menilai yang terasa lebih tajam daripada pisau.

Dari kursi urutan kelima, terdengar suara sinis yang memotong udara:

“Seperti biasa. Datang tanpa membawa gandengan.”

Liam menoleh sedikit.

Pria paruh baya itu adalah Federic Timberlake—ayah dari Samuel.

Mulut paling nyinyir dalam keluarga besar ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 101

    Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku    Bab 100

    Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 99

    Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 98

    Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 97

    Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 96

    Bab 96Sabrina meninggalkan hotel itu sekitar pukul sembilan pagi.Udara masih sejuk, matahari belum sepenuhnya naik, tapi langkahnya terasa berat. Untuk kesekian kalinya, ia terbangun di kamar asing—ranjang rapi, bantal tersusun, aroma sabun hotel yang netral—tanpa sosok pria yang semalam membawanya ke sana.Tidak ada catatan di meja.Tidak ada pesan di ponselnya.Tidak ada panggilan tak terjawab.Sabrina sempat berdiri lama di tengah kamar, menatap layar ponselnya yang gelap. Ia tidak menghubungi Liam lebih dulu. Entah karena gengsi, atau karena nalurinya mengatakan pria itu pasti akan menghubunginya sendiri.Namun, sampai ia menutup pintu kamar hotel itu, tak ada apa-apa.“Pasti dia pergi pagi-pagi lagi,” gumam Sabrina pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Dia selalu dikejar waktu.”Ia menyeberang jalan, melewati deretan pertokoan yang mulai buka. Beberapa etalase masih setengah tertutup, beberapa pedagang sibuk menyusun barang. Dunia berjalan normal, sementara kepalanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status