Share

Bab 3

Penulis: Irma W
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 05:49:08

Peluh menetes dari pelipis hingga ke tengkuk Sabrina, menembus kain katun murahan yang sudah lama kehilangan daya serapnya. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak keras seakan ingin menerobos tulang rusuknya.

Sampai di depan unit 540, Sabrina menggedor pintu beberapa kali, berharap sahabatnya muncul sambil memasang wajah tak berdosa. Tapi yang ia temukan hanyalah kesunyian dan ruangan gelap di balik kaca buram yang tertutup rapat.

Tidak ada Amanda.

Tidak ada jawaban.

Dan itu membuat Sabrina makin terbakar.

Ia merogoh tas, mengeluarkan ponselnya, tangan sedikit bergetar karena adrenalin dan panik yang bercampur.

“Dimana kamu, Amanda!” geramnya sambil menekan kontak.

Sabrina melangkah kembali ke tangga, satu tangan memegang ponsel, satu tangan menahan pagar besi. Keringat di telapak tangannya membuat pegangan sedikit licin, tapi ia tak peduli. Ia terus turun, langkahnya cepat, hampir tergelincir beberapa kali.

Nada sambung bersuara.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Hening.

Sabrina menggertakkan gigi. “Brengsek! Awas, Amanda! Aku bunuh kamu beneran nanti!”

Tanpa sadar, ia sudah mencapai lantai dua. Nafasnya semakin berantakan, napas panasnya memukul pipi. Dan seakan dunia ingin mempermainkannya, notifikasi dari aplikasi sialan itu kembali muncul.

PING!

PERINGATAN TERAKHIR. PERTEMUAN WAJIB DILAKSANAKAN.

Notifikasi menyebalkan itu bahkan masuk lagi seperti sebuah alarm yang mengingatkan Sabrina untuk segera bersiap.

“AAARGH!!” Sabrina hampir melempar ponselnya dari tangga.

Ia menekan tombol back.

— Selamat! Anda lolos verifikasi.

— Pasangan Anda siap bertemu.

— Pembatalan akan dikenakan penalti.

— Tidak hadir = pelanggaran kontrak.

— Tuntutan pidana dan pengembalian dana wajib.

Pesan yang awalnya ucapan selamat karena lolos medaftar, lalu berhasil menemukan pria yang siap bertemu hingga berakhir menjadi sebuah peringatan dan ancaman.

Sabrina menutup wajah dengan kedua tangan. “Aplikasi virtual gila! Siapa developernya? Sumpah… sumpah kalau aku tahu, pasti kubunuh!”

Ia keluar dari gedung dengan napas terengah, trotoar panas menyengat telapak kakinya. Lalu lintas kota menderu, aroma knalpot menusuk hidung. Sisa uangnya sudah habis untuk taksi yang membawanya tadi — sekarang ia benar-benar harus berjalan.

Dan ketika Sabrina merasa hari ini tak mungkin lebih menyebalkan, ponselnya berdering.

Nama itu muncul.

Amanda Taylor.

“BRENGSEK KAMU, AMANDA!” Sabrina langsung menjerit setelah tersambung. “Dimana kamu?!”

“Tenang, Sabrina sayang…” suara Amanda terdengar jauh, diganggu dentuman musik berat dan sorakan orang-orang.

“Tenang katamu? TENANG?!” Sabrina menahan ponselnya agar tidak jatuh dari genggamannya. “Di. Mana. Kamu!”

Tidak ada jawaban seketika, hanya gemuruh suara DJ dan teriakan orang mabuk bersahut-sahutan di latar belakang. Sabrina bisa membayangkan lampu neon, bau alkohol, tubuh-tubuh lengket menari.

Dan dia sedang kehabisan waktu, sementara sahabatnya berpesta.

Di sisi lain panggilan, Amanda duduk di pangkuan Jonas — pria bertubuh besar dengan tato di leher. Bibir pria itu tanpa malu mencumbu kulit leher Amanda, sementara Amanda berusaha bicara sambil menahan dengusan tawa.

“Sebentar, sayang…” Amanda menyingkir dan memberi kode pada bartender untuk menuang wine.

“DIMANA KAMU!” Sabrina kembali menggelegar.

Amanda memiringkan kepala, meneguk wine-nya sebelum menjawab santai, “Aku di kelab, sayang… salah satu hotel. Kamu bisa datang ke sini, oke? Hotel Giant. Kita bicara di sini.”

Klik.

Panggilan terputus.

Sabrina menatap layar ponselnya dua detik, lalu langsung berlari. Napasnya memburu, langkahnya panjang, ia menerobos kerumunan, menyeberangi jalan raya tanpa benar-benar memperhatikan lampu merah.

Suara klakson meraung dari berbagai arah, tapi bagi Sabrina semuanya hanya menjadi dengung samar yang melayang di udara panas. Pandangannya kabur oleh emosi, napasnya naik turun cepat, kepala terasa penuh—Amanda, biro jodoh gila itu, ancaman hukum, ibunya di rumah sakit—semuanya menumpuk dan menyeret pikirannya ke jurang yang tak menentu.

Ia menyeberang begitu saja.

Terlalu cepat.

Terlalu berani.

Terlalu putus asa.

Ban mobil besar berderit keras menghantam aspal, suara gesekan karet melengking. Beberapa orang berteriak, tapi Sabrina hanya sempat melihat sekilas cahaya refleksi kap mobil sebelum tubuhnya terpental ringan seperti boneka kain.

Ia terhempas ke samping, lutut dan sikunya menghantam aspal panas. Rasa perih langsung menjalar, seperti disayat.

“Keluar! Lihat keadaannya!” suara pria bariton memecah udara—dingin, memerintah, tak terbantahkan.

Liam Dawson.

Bill bergerak cepat, pintu mobil terbanting terbuka. Dengan tubuh besar dan sikap tegas, ia mencegah kerumunan yang mulai terbentuk. Satu ayunan tangannya saja cukup membuat beberapa orang mundur, meski tanpa sentuhan.

“Nona, anda baik-baik saja?” Bill membungkuk, ingin membantu Sabrina berdiri.

Tapi Sabrina menepis udara di depannya, berdiri dengan paksa walau tubuhnya goyah. Napasnya terengah, dada naik turun cepat, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.

“Tidak, saya tidak apa-apa.” Suaranya bergetar, tapi tegas. “Maaf… saya permisi.”

Ia menunduk singkat, lebih sebagai refleks sopan daripada kesadaran, lalu menyeret kakinya menjauh.

Bill hendak menyusul. “Nona, tunggu!”

Tidak ada gunanya.

Sabrina sudah berlari kecil, memeluk tasnya, menahan perih di sikunya yang mengeluarkan darah tipis. Tatapannya fokus lurus ke depan, seperti pelarian adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk tetap bernapas. Dalam hitungan detik, tubuhnya menghilang di antara gedung-gedung dan arus manusia kota.

Bill berhenti mengejar. Menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan—jarang ada perempuan yang baru saja ditabrak tapi kabur seperti itu.

Ia kembali membuka pintu mobil, masuk.

“Orangnya malah kabur,” gumamnya, menoleh pada Liam.

Liam masih duduk bersandar, satu tangan memegang ponsel, jari-jarinya mengetik santai seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Cahaya layar memantul di matanya yang dingin—mata yang tak pernah mau menunjukkan rasa bersalah.

“Baguslah,” jawabnya ringan. “Jadi kita tak perlu repot-repot.”

Nada bicaranya datar, tapi Bill bisa merasakan keengganan tersembunyi—bukan karena Sabrina, melainkan karena insiden kecil itu bisa saja membuang-buang waktunya.

“Lajukan mobilnya.” Liam memasukkan ponselnya ke saku dalam jas. “Semua temanku sudah di sana.”

Mobil itu melaju kembali, meninggalkan bekas rem di aspal, juga satu perempuan yang kini berjalan terseok dengan tangan bergetar—masih mencoba mengatur napas—menuju hotel tempat Amanda menunggunya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 10

    Kesialan seolah mengikuti Sabrina seperti bayangan kelabu yang tak mau pergi sejak semalam. Dan pagi ini—sekitar pukul sembilan—ketika ia akhirnya tiba di halaman rumah, nasib buruk itu seolah menyambutnya dengan tangan terbuka.Napasnya masih terengah akibat berjalan jauh. Udara pagi yang seharusnya menenangkan justru terasa pengap di paru-parunya saat sesuatu di teras rumah menarik perhatiannya.“Ada apa ini…?” bisiknya pelan, suara yang pecah oleh kelelahan dan rasa was-was.Pagar kayu rumahnya berderit saat ia dorong. Pemandangan di depannya membuat langkahnya goyah.Kardus-kardus besar menumpuk sembarangan. Tas jinjing, koper berdebu, dan barang-barang rumah berserakan seolah seseorang sengaja mengobrak-abrik segala yang mereka miliki dan melemparkannya keluar tanpa belas kasihan.Sejurus kemudian, terdengar suara bentakan dari dalam rumah—keras, tajam, menggetarkan. Sabrina sontak berlari, hampir tersandung tumpukan barang. Jantungnya menendang dada, detaknya kacau.“Ada apa… in

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 9

    Matahari telah meninggi, memercikkan cahaya keemasan yang menyeringai melalui dinding kaca kamar hotel mewah itu. Sinarnya menggulung lembut di atas seprai putih, memantul pada lampu-lampu langit-langit yang masih menyala terang—seakan enggan kalah dari cahaya pagi. Dalam pendar itu, sesosok perempuan di atas ranjang mengerjap pelan, seperti baru ditarik kembali dari mimpi yang tak mau ia akui.Sabrina menguap kecil, lalu mengucek kedua matanya yang berat. Saat penglihatannya mulai jelas, ekor matanya bergerak gelisah, menelusuri ruangan yang asing—terlalu luas, terlalu rapi, terlalu mahal untuk menjadi miliknya.Dimana ini? Kamar siapa ini?Pertanyaan itu berbisik seperti angin dingin yang merayap naik di tengkuknya. Tangannya, yang sedikit bergetar, meraih selimut yang menutup hingga dadanya. Ia menunduk, mengintip ke balik kain itu—dan langsung menutupnya kembali dengan gerakan panik.“Ini tidak benar. Tidak, tidak.” Sabrina menggeleng kuat, rambutnya yang kusut bergesekan liar den

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 8

    Pintu itu berderit perlahan, membuka celah sempit sebelum akhirnya menyerah sepenuhnya. Bill yang gelisah dan baru saja dikejutkan dengan suatu hal, terkesiap untuk menyambut siapa yang keluar dari pintu itu.Liam Dawson.Sosok itu muncul dengan wajah tegas yang begitu Bill kenal—datar, tenang, namun dibayangi lelah. Tetapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Tidak sama dengan saat-saat terakhir Bill menemani tuannya berkencan; malam-malam yang selalu berakhir dengan tubuh Liam menegang, menggigil, bahkan hampir tak mampu bernapas setiap kali kedekatan seorang wanita memicu traumanya, hingga berakhir di rumah sakit."Tuan baik-baik saja?" Bill memberanikan diri, meski suaranya bergetar. "Maaf, saya… saya tidak bisa berpikir jernih, jadi langsung keluar."Liam menutup pintu di belakangnya dengan satu hentakan ringan. Tatapannya yang jengah membuat Bill menunduk spontan."Perempuan itu melepas bajunya, Tuan," lanjut Bill gugup, berusaha membela diri. "Mana mungkin saya tetap di dalam."

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 7

    Sunyi menyelimuti lorong lantai lima. Hanya suara langkah mereka bertiga yang menggema — berat, tegang, dan tergesa seolah setiap detik adalah ancaman baru.Bill mengikuti di belakang, wajahnya kaku sementara pandangannya terus awas mengamati setiap sudut.Di depan, Liam berusaha keras menahan tubuh Sabrina yang berkali-kali meliuk tak terkendali. Perempuan itu seperti aliran api yang tak mau dipadamkan. Setiap sentuhan kecil, setiap helaan napas, membuat tubuhnya goyah lagi.“Tuan yakin akan membawanya masuk?” tanya Bill dengan suara parau. “Dia… ini bukan mabuk biasa.”Liam mengembus napas kasar, kedua tangannya bekerja menahan Sabrina yang terus merengsek.“Bukan mabuk.” Suaranya datar namun penuh tekanan. “Ini efek obat perangsang.”Bill menelan ludah, menatap majikannya penuh penilaian dan rasa tak menyangka.Bill menegang. “Tuan… eumm—”“Jangan pikir yang aneh!” bentak Liam. “Buka pintunya!”Begitu kunci diputar dan daun pintu terbuka, Liam hampir mendorong Sabrina masuk saking

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 6

    Semua isi perut Sabrina bergejolak seperti badai yang kehilangan batas. Ia berjongkok di depan kloset, tubuhnya melipat, lalu cairan pahit itu kembali memaksa keluar dan membakar kerongkongan.Menjijikkan.Ia terengah, menarik napas panjang yang kacau, lalu meluruskan punggungnya dengan susah payah. Empat gelas—hanya empat gelas—tapi cukup untuk membuat dunia di sekelilingnya berputar seperti karusel rusak yang tak mengenal belas kasihan.Gelombang mual kedua menerjang sebelum ia siap. Ia menunduk cepat, muntah lagi; asin, pahit, dan getir bercampur jadi satu di lidahnya.“Aku haus,” gumamnya.Dengan meraba dinding, ia memaksa dirinya berdiri. Cermin memantulkan wajah pucatnya—mata setengah merah, rambut sedikit berantakan. Ia membuka keran, membasuh wajahnya dengan air dingin yang tak banyak membantu.“Sialan…” desisnya, memijat pelipis. Kepalanya berdetak seperti ada palu kecil memukul dari dalam.Ia keluar dari toilet wanita, langkahnya sedikit goyah. Lorong berpendar cahaya neon,

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 5

    Liam menoleh lagi ke arah tiga orang yang tadi terlihat sedang berdebat kecil. Dari sela kerumunan yang bergerak seperti gelombang, pandangannya menangkap sosok Sabrina. Gadis itu tampak terhuyung sedikit saat berjalan menuju lorong belakang kelab—tempat yang lampunya lebih redup, seolah memisahkan diri dari hiruk-pikuk pesta.Ia tidak mengenakan gaun pesta yang berkilau seperti para undangan lainnya. Tidak ada payet, tidak ada manik, hanya kaos V-neck sederhana yang jatuh pas di tubuh, dipadu rok rempel selutut. Terlihat asing, tetapi justru lebih nyata dibanding busana glamor yang memenuhi ruangan.“Sejujurnya aku benci tempat seperti ini,” gumam Liam, hampir tanpa suara.Ia menerobos kerumunan. Beberapa orang menari tanpa peduli dunia, beberapa mengobrol sambil bergelayut, beberapa hanya tertawa keras–tawa yang tenggelam oleh dentuman bass. Aroma alkohol bercampur dengan parfum mahal, lalu digempur oleh embusan mint dari hookah yang berputar di meja-meja VIP. Semua itu berubah menj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status