MasukPeluh menetes dari pelipis hingga ke tengkuk Sabrina, menembus kain katun murahan yang sudah lama kehilangan daya serapnya. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak keras seakan ingin menerobos tulang rusuknya.
Sampai di depan unit 540, Sabrina menggedor pintu beberapa kali, berharap sahabatnya muncul sambil memasang wajah tak berdosa. Tapi yang ia temukan hanyalah kesunyian dan ruangan gelap di balik kaca buram yang tertutup rapat.
Tidak ada Amanda.
Tidak ada jawaban.
Dan itu membuat Sabrina makin terbakar.
Ia merogoh tas, mengeluarkan ponselnya, tangan sedikit bergetar karena adrenalin dan panik yang bercampur.
“Dimana kamu, Amanda!” geramnya sambil menekan kontak.
Sabrina melangkah kembali ke tangga, satu tangan memegang ponsel, satu tangan menahan pagar besi. Keringat di telapak tangannya membuat pegangan sedikit licin, tapi ia tak peduli. Ia terus turun, langkahnya cepat, hampir tergelincir beberapa kali.
Nada sambung bersuara.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Hening.
Sabrina menggertakkan gigi. “Brengsek! Awas, Amanda! Aku bunuh kamu beneran nanti!”
Tanpa sadar, ia sudah mencapai lantai dua. Nafasnya semakin berantakan, napas panasnya memukul pipi. Dan seakan dunia ingin mempermainkannya, notifikasi dari aplikasi sialan itu kembali muncul.
PING!
PERINGATAN TERAKHIR. PERTEMUAN WAJIB DILAKSANAKAN.
Notifikasi menyebalkan itu bahkan masuk lagi seperti sebuah alarm yang mengingatkan Sabrina untuk segera bersiap.
“AAARGH!!” Sabrina hampir melempar ponselnya dari tangga.
Ia menekan tombol back.
— Selamat! Anda lolos verifikasi.
— Pasangan Anda siap bertemu.
— Pembatalan akan dikenakan penalti.
— Tidak hadir = pelanggaran kontrak.
— Tuntutan pidana dan pengembalian dana wajib.
Pesan yang awalnya ucapan selamat karena lolos medaftar, lalu berhasil menemukan pria yang siap bertemu hingga berakhir menjadi sebuah peringatan dan ancaman.
Sabrina menutup wajah dengan kedua tangan. “Aplikasi virtual gila! Siapa developernya? Sumpah… sumpah kalau aku tahu, pasti kubunuh!”
Ia keluar dari gedung dengan napas terengah, trotoar panas menyengat telapak kakinya. Lalu lintas kota menderu, aroma knalpot menusuk hidung. Sisa uangnya sudah habis untuk taksi yang membawanya tadi — sekarang ia benar-benar harus berjalan.
Dan ketika Sabrina merasa hari ini tak mungkin lebih menyebalkan, ponselnya berdering.
Nama itu muncul.
Amanda Taylor.
“BRENGSEK KAMU, AMANDA!” Sabrina langsung menjerit setelah tersambung. “Dimana kamu?!”
“Tenang, Sabrina sayang…” suara Amanda terdengar jauh, diganggu dentuman musik berat dan sorakan orang-orang.
“Tenang katamu? TENANG?!” Sabrina menahan ponselnya agar tidak jatuh dari genggamannya. “Di. Mana. Kamu!”
Tidak ada jawaban seketika, hanya gemuruh suara DJ dan teriakan orang mabuk bersahut-sahutan di latar belakang. Sabrina bisa membayangkan lampu neon, bau alkohol, tubuh-tubuh lengket menari.
Dan dia sedang kehabisan waktu, sementara sahabatnya berpesta.
Di sisi lain panggilan, Amanda duduk di pangkuan Jonas — pria bertubuh besar dengan tato di leher. Bibir pria itu tanpa malu mencumbu kulit leher Amanda, sementara Amanda berusaha bicara sambil menahan dengusan tawa.
“Sebentar, sayang…” Amanda menyingkir dan memberi kode pada bartender untuk menuang wine.
“DIMANA KAMU!” Sabrina kembali menggelegar.
Amanda memiringkan kepala, meneguk wine-nya sebelum menjawab santai, “Aku di kelab, sayang… salah satu hotel. Kamu bisa datang ke sini, oke? Hotel Giant. Kita bicara di sini.”
Klik.
Panggilan terputus.
Sabrina menatap layar ponselnya dua detik, lalu langsung berlari. Napasnya memburu, langkahnya panjang, ia menerobos kerumunan, menyeberangi jalan raya tanpa benar-benar memperhatikan lampu merah.
Suara klakson meraung dari berbagai arah, tapi bagi Sabrina semuanya hanya menjadi dengung samar yang melayang di udara panas. Pandangannya kabur oleh emosi, napasnya naik turun cepat, kepala terasa penuh—Amanda, biro jodoh gila itu, ancaman hukum, ibunya di rumah sakit—semuanya menumpuk dan menyeret pikirannya ke jurang yang tak menentu.
Ia menyeberang begitu saja.
Terlalu cepat.
Terlalu berani.
Terlalu putus asa.
Ban mobil besar berderit keras menghantam aspal, suara gesekan karet melengking. Beberapa orang berteriak, tapi Sabrina hanya sempat melihat sekilas cahaya refleksi kap mobil sebelum tubuhnya terpental ringan seperti boneka kain.
Ia terhempas ke samping, lutut dan sikunya menghantam aspal panas. Rasa perih langsung menjalar, seperti disayat.
“Keluar! Lihat keadaannya!” suara pria bariton memecah udara—dingin, memerintah, tak terbantahkan.
Liam Dawson.
Bill bergerak cepat, pintu mobil terbanting terbuka. Dengan tubuh besar dan sikap tegas, ia mencegah kerumunan yang mulai terbentuk. Satu ayunan tangannya saja cukup membuat beberapa orang mundur, meski tanpa sentuhan.
“Nona, anda baik-baik saja?” Bill membungkuk, ingin membantu Sabrina berdiri.
Tapi Sabrina menepis udara di depannya, berdiri dengan paksa walau tubuhnya goyah. Napasnya terengah, dada naik turun cepat, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.
“Tidak, saya tidak apa-apa.” Suaranya bergetar, tapi tegas. “Maaf… saya permisi.”
Ia menunduk singkat, lebih sebagai refleks sopan daripada kesadaran, lalu menyeret kakinya menjauh.
Bill hendak menyusul. “Nona, tunggu!”
Tidak ada gunanya.
Sabrina sudah berlari kecil, memeluk tasnya, menahan perih di sikunya yang mengeluarkan darah tipis. Tatapannya fokus lurus ke depan, seperti pelarian adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk tetap bernapas. Dalam hitungan detik, tubuhnya menghilang di antara gedung-gedung dan arus manusia kota.
Bill berhenti mengejar. Menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan—jarang ada perempuan yang baru saja ditabrak tapi kabur seperti itu.
Ia kembali membuka pintu mobil, masuk.
“Orangnya malah kabur,” gumamnya, menoleh pada Liam.
Liam masih duduk bersandar, satu tangan memegang ponsel, jari-jarinya mengetik santai seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Cahaya layar memantul di matanya yang dingin—mata yang tak pernah mau menunjukkan rasa bersalah.
“Baguslah,” jawabnya ringan. “Jadi kita tak perlu repot-repot.”
Nada bicaranya datar, tapi Bill bisa merasakan keengganan tersembunyi—bukan karena Sabrina, melainkan karena insiden kecil itu bisa saja membuang-buang waktunya.
“Lajukan mobilnya.” Liam memasukkan ponselnya ke saku dalam jas. “Semua temanku sudah di sana.”
Mobil itu melaju kembali, meninggalkan bekas rem di aspal, juga satu perempuan yang kini berjalan terseok dengan tangan bergetar—masih mencoba mengatur napas—menuju hotel tempat Amanda menunggunya.
Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu
Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a
Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me
Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany
Bab 96Sabrina meninggalkan hotel itu sekitar pukul sembilan pagi.Udara masih sejuk, matahari belum sepenuhnya naik, tapi langkahnya terasa berat. Untuk kesekian kalinya, ia terbangun di kamar asing—ranjang rapi, bantal tersusun, aroma sabun hotel yang netral—tanpa sosok pria yang semalam membawanya ke sana.Tidak ada catatan di meja.Tidak ada pesan di ponselnya.Tidak ada panggilan tak terjawab.Sabrina sempat berdiri lama di tengah kamar, menatap layar ponselnya yang gelap. Ia tidak menghubungi Liam lebih dulu. Entah karena gengsi, atau karena nalurinya mengatakan pria itu pasti akan menghubunginya sendiri.Namun, sampai ia menutup pintu kamar hotel itu, tak ada apa-apa.“Pasti dia pergi pagi-pagi lagi,” gumam Sabrina pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Dia selalu dikejar waktu.”Ia menyeberang jalan, melewati deretan pertokoan yang mulai buka. Beberapa etalase masih setengah tertutup, beberapa pedagang sibuk menyusun barang. Dunia berjalan normal, sementara kepalanya







