Masuk“Tuan…” panggil Bill pelan, nyaris tenggelam dalam riuh klakson Manhattan. Kedua tangannya tetap mantap memegang kemudi, namun pandangannya sesekali melirik spion.
Liam hanya bersuara pendek. “Hmm.”
“Perempuan tadi… yang tidak sengaja tertabrak,” Bill menelan ludah. “Sepertinya saya pernah melihatnya.”
Liam menoleh setengah, malas. “Apa dia orang penting? Tokoh publik? Jurnalis? Influencer?” Nada jengahnya tak bisa disamarkan.
Bill menggeleng kecil. “Sepertinya bukan, Tuan. Hanya saja… wajahnya terasa familiar.”
Liam tidak menanggapi. Ia hanya menghembuskan napas panjang lalu bersandar pada pintu mobil, menatap keluar jendela seakan ingin melarikan diri dari dunia.
“Aku malas pulang, Bill,” desahnya muak. “Rumah itu terlalu ramai. Terlalu… penuh.”
Bill tidak menjawab. Semakin besar keluarga, semakin banyak bayangan yang harus ditanggung seorang pewaris. Melalui pantulan kaca spion, ia menangkap 7wajah Liam—tegang, tidak nyaman, dan sedikit… lelah.
Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Itu adalah istana dengan lima belas kamar, taman belakang seluas lapangan sepak bola, kolam koi yang panjangnya seperti sungai kecil, serta lapangan golf pribadi yang nyaris tak pernah sepi oleh tamu penting keluarga Dawson.
Lorong-lorongnya dipenuhi foto keluarga dari generasi ke generasi, seolah menempelkan beban sejarah di punggung siapa pun yang berjalan di antaranya. Di sayap kiri, ruang keluarga dan ruang makan megah menunggu, penuh protokol tak tertulis.
Dan siang itu — meja makan keluarga Dawson berubah menjadi arena peperangan halus. Para wanita sudah menyingkir, menyisakan 4 orang pria.
“Acara itu akan dihadiri orang penting,” ujar Ralph Dawson dengan suara serak namun berwibawa. Tangannya menggenggam cangkir porselen putih yang tampak rapuh di antara jari keriput namun kokohnya. “Bahkan pejabat pemerintahan. Investor, konglomerat, para pesohor… semua akan ada di sana.”
Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keperakan tajam, membuat ruangan terasa lebih dingin. Para pria dewasa keluarga Dawson duduk berjajar, kecuali Liam—yang justru makan seolah tidak ada yang penting terjadi.
Daging panggang di piringnya tampak jauh lebih menarik daripada topik yang sedang diperdebatkan.
“Datanglah selayaknya orang bermartabat,” lanjut Ralph tanpa melihat Liam, namun jelas ditujukan padanya.
Federic mencondongkan tubuh, nadanya hati-hati namun tegang. “Ayah… peresmian pulau itu tidak bisa main-main. Apalagi letaknya masih berada di area Jacob Turner Family. Ini sangat berisiko.”
Keheningan tajam menyusul. Hanya terdengar denting sendok Liam yang mengenai piring.
Ralph tidak menjawab Federic. Ia menatap lurus pada cucunya itu — tatapan yang mengandung perintah tak terucap.
Liam akhirnya mendongak. Satu alis terangkat, wajahnya datar, hampir menantang.
Apa lagi kali ini?
“Itu tanggung jawab Liam,” ujar Ralph akhirnya, suaranya tak bisa diganggu gugat.
Samuel yang sedari tadi duduk tegak, langsung bergerak hingga kursinya berderit keras. Sorot matanya memanas. Ia, pewaris yang seluruh hidupnya dididik perfeksionis, tiba-tiba tersingkir.
“Apa Kakek yakin?” tanyanya, suaranya mengeras. “Empat puluh persen pulau itu milik Turner. Dan mereka tidak mudah diajak kerja sama. Memberikan proyek sebesar Mega Resort Island ke Liam adalah—”
Ia menahan diri sebentar.
“—langkah berbahaya. Bisa membuat saham kita anjlok.”
Liam meletakkan garpu, menyingkirkan serbet, lalu bangkit. “Aku pergi. Aku sudah kenyang.”
Gerakannya tenang, namun ada bara di baliknya.
Samuel ikut berdiri, kali ini lebih emosional. “Lihat! Kakek lihat sendiri, kan? Dia bahkan tidak peduli. Kakek memberikan proyek ini pada orang yang bahkan tidak bisa duduk lima menit saja!”
Ralph perlahan bangkit dengan bantuan tongkat kayunya, gerakannya lambat tapi penuh wibawa yang langsung membungkam ruangan.
Lalu, suaranya terdengar—pelan tapi menghantam keras.
“Beri aku seorang keturunan laki-laki…”
Ia berhenti di sana, menatap satu per satu dengan sorot mata tajam seorang raja tua.
“…maka delapan puluh persen harta dan tanahku akan menjadi milik kalian.”
Bagai ledakan senyap, kata-kata itu menggema di seluruh ruangan.
Federic menegang. Samuel mengembuskan napas tak percaya. Liam membeku sepersekian detik—sesuatu di dalam dirinya bergetar, entah itu emosi, luka lama, atau hanya kejengkelan yang semakin dalam.
Kembali di dalam mobil, Liam meraup wajahnya kasar.
Obrolan siang itu menempel seperti duri di tenggorokannya.
Jabatan, proyek, pulau, saham—semuanya dilemparkan padanya tanpa permisi.
Dan syarat absurd itu…
“Dasar keluarga gila,” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Bill melirik sebentar, tapi tidak berkomentar. Dalam hati ia tahu: Keluarga Dawson tak lagi menghasilkan keturunan laki-laki. Yang terakhir, anak dari Bibi Gritte lahir anak perempuan. Itu sebabnya Ralph Dawson menuntut Liam dan Samuel untuk segera melangsungkan pernikahan.
Mobil melaju di antara lampu kota, membawa Liam kabur dari rumah, Membawanya ke sebuah tempat.
Liam turun lebih dulu, menarik napas dingin malam sebelum melepas jasnya. Ia mengetuk kaca mobil. Bill buru-buru menurunkan jendela.
“Tunggu saja di sini. Aku tidak mau terlihat mencolok,” ujar Liam sambil menyodorkan jas hitam mahal itu, membuat Bill refleks menerimanya seperti benda sakral. “Atau kamu bisa pergi pesankan kamar untukku. Nanti beri kabar.”
“Tuan yakin?” Bill bertanya, ragu. Tatapannya bergerak cepat—dari wajah Liam yang tenang, ke pintu hotel yang gemerlap. Lalu, “Saya akan langsung pesankan sekarang.”
Liam tak menjawab segera. Pandangan matanya menerawang ke arah gedung, lalu kembali ke Bill.
“Ini cuma pertemuan biasa. Tidak perlu mengawasiku.” Liam melangkah ke belakang sambil merapikan kerah kemeja putihnya yang sederhana dan sudah sedikit terbuka di bagian atas—tampilan busana yang jauh dari citra pewaris megakonglomerat dan justru terkesan rakyat biasa.
Bill mengerutkan kening heran. Tuannya itu…
Biasanya tak pernah tampil tanpa jas mewah, sepatu kulit mengilap, dan aroma parfum yang menunjukkan status. Tapi malam ini, Liam terlihat seperti pria kota biasa yang sedang datang ke kelab untuk melepas penat.
“Aku benci acara reuni,” gumam Liam sambil memutar cincin peraknya. “Tapi… aku cukup penasaran dengan sikap mereka.”
Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.
Senyum yang bagi Bill menandakan satu hal — Liam siap mengacaukan suasana.
Liam pun melangkah mantap masuk ke hotel.
Langkahnya semakin dekat dengan lokasi yang sudah dijanjikan. Musik DJ yang awalnya hanya getaran samar kini berubah menjadi dentuman penuh bass yang mengguncang lantai. Cahaya neon ungu dan merah menyapu wajah Liam, membuat siluetnya tampak seperti tokoh misterius dalam film noir.
Begitu pintu kelab terbuka lebar, gelombang aroma alkohol, parfum mahal, dan keringat langsung menerpa wajahnya. Bar penuh sesak oleh tamu undangan—para mantan teman kuliah, teman kerja, dan wajah-wajah yang dulu pernah ada dalam hidupnya.
Liam berjalan santai, menyelip di antara orang-orang yang menari di lantai dansa. Beberapa mengenalinya, beberapa menatap lama, namun Liam tak menghiraukan mereka.
Hingga saat hampir mencapai bar, pandangannya menoleh sekilas ke sisi kanan.
Sebuah meja persegi dengan sofa melengkung tampak penuh ketegangan. Dua wanita dan satu pria — dan salah satunya terlihat… sangat marah.
Liam mendengus pelan. Drama manusia bukan urusannya. Ia pun berjalan melewatinya, tanpa tahu mungkin waktu akan mendekatkan pada sosok itu.
“Aku tak mau main-main, Amanda!” suara Sabrina mengeras, ditelan dentuman musik tetapi tetap penuh tekanan.
Tenggorokannya pedih. Suaranya nyaris pecah. Namun ia tetap memaksa agar terdengar di tengah riuh kelab.
“Kamu benar-benar menjualku,” tuding Sabrina. Matanya memerah bukan karena minuman — tetapi karena emosi yang ditahan terlalu lama.
Amanda menggeleng sambil tersenyum datar. “Ayolah, Sabrina. Jangan dibuat rumit. Ini solusi paling cepat. Dan paling bersih.”
Sabrina melipat kedua tangan sambil mendengus, bahunya tegang. “Solusi? Ini jebakan.”
“Cukup temui pasangan virtualmu itu,” Jonas tiba-tiba menyahut setelah mengembuskan asap rokok ke udara. “Ikuti instruksinya. Dapatkan uangnya. Sederhana.”
Asap rokoknya melayang tepat ke wajah Sabrina. Gadis itu refleks mengibaskannya dengan gerakan kasar.
“Aku tidak bodoh, Jonas.” Tatapannya menusuk. “Tidak ada uang 45 ribu dolar yang digunakan semudah itu. Itu bahkan hanya untuk permulaan. Siapa yang percaya?”
Jonas hanya mengangkat bahu, menyesap lagi rokoknya. “Sayangnya…” katanya tenang, santai seperti biasa, “kamu tidak bisa mundur. Sistem kontraknya ketat. Kalau kamu tidak hadir di pertemuan itu… tuntutannya berat.”
Berat.
Kata itu jatuh seperti palu di kepala Sabrina. Sabrina sudah tahu itu dari pesan beruntun yang dikirim dari acara biro jodoh gila itu.
Ia meraih segelas wine, menenggaknya tanpa jeda.
“Kalian berdua benar-benar brengsek,” katanya, suaranya bergetar tapi penuh kemarahan yang tertahan.
Amanda memiringkan kepala, wajahnya lembut namun kata-katanya menusuk. “Pikirkan lagi, Sabrina. Ibumu butuh pertolongan.”
Lalu ia mencondongkan tubuh, membisikkan kalimat yang menampar batin Sabrina:
“Hidup tidak selalu menyediakan pilihan.”
Emosi Sabrina meledak. Ia menuang wine lagi, kali ini hampir tumpah karena tangannya bergetar. Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut.
Gambar wajah ibunya muncul begitu jelas — terbaring lemah di ranjang rumah sakit, selang infus menusuk kulit rapuh itu.
Ia menenggak gelas ketiga.
Lalu keempat.
Kehangatan alkohol merayap naik ke wajahnya. Pandangannya sedikit kabur.
“Aku… ke toilet,” gumamnya lirih, lalu bangkit dengan langkah goyah. "Oh iya, uang muka itu milikku. Berikan padaku nanti."
Amanda mendecak melihatnya melangkah pergi seperti orang kehilangan arah.
“Tck! Sudah tidak bisa dicegah,” komentar Amanda sambil meraih minumannya. “Dia bahkan tidak pernah minum lebih dari satu gelas.”
Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu
Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a
Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me
Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany
Bab 96Sabrina meninggalkan hotel itu sekitar pukul sembilan pagi.Udara masih sejuk, matahari belum sepenuhnya naik, tapi langkahnya terasa berat. Untuk kesekian kalinya, ia terbangun di kamar asing—ranjang rapi, bantal tersusun, aroma sabun hotel yang netral—tanpa sosok pria yang semalam membawanya ke sana.Tidak ada catatan di meja.Tidak ada pesan di ponselnya.Tidak ada panggilan tak terjawab.Sabrina sempat berdiri lama di tengah kamar, menatap layar ponselnya yang gelap. Ia tidak menghubungi Liam lebih dulu. Entah karena gengsi, atau karena nalurinya mengatakan pria itu pasti akan menghubunginya sendiri.Namun, sampai ia menutup pintu kamar hotel itu, tak ada apa-apa.“Pasti dia pergi pagi-pagi lagi,” gumam Sabrina pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Dia selalu dikejar waktu.”Ia menyeberang jalan, melewati deretan pertokoan yang mulai buka. Beberapa etalase masih setengah tertutup, beberapa pedagang sibuk menyusun barang. Dunia berjalan normal, sementara kepalanya







