Share

Bab 5

Penulis: Irma W
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 05:50:47

Liam menoleh lagi ke arah tiga orang yang tadi terlihat sedang berdebat kecil. Dari sela kerumunan yang bergerak seperti gelombang, pandangannya menangkap sosok Sabrina. Gadis itu tampak terhuyung sedikit saat berjalan menuju lorong belakang kelab—tempat yang lampunya lebih redup, seolah memisahkan diri dari hiruk-pikuk pesta.

Ia tidak mengenakan gaun pesta yang berkilau seperti para undangan lainnya. Tidak ada payet, tidak ada manik, hanya kaos V-neck sederhana yang jatuh pas di tubuh, dipadu rok rempel selutut. Terlihat asing, tetapi justru lebih nyata dibanding busana glamor yang memenuhi ruangan.

“Sejujurnya aku benci tempat seperti ini,” gumam Liam, hampir tanpa suara.

Ia menerobos kerumunan. Beberapa orang menari tanpa peduli dunia, beberapa mengobrol sambil bergelayut, beberapa hanya tertawa keras–tawa yang tenggelam oleh dentuman bass. Aroma alkohol bercampur dengan parfum mahal, lalu digempur oleh embusan mint dari hookah yang berputar di meja-meja VIP. Semua itu berubah menjadi kabut memabukkan yang menyelimuti seluruh ruangan.

“Liam!”

Suara itu menusuk di antara noise kelab.

Ia berhenti, menoleh ke kanan, lalu ke kiri.

“Di sini!”

Saat tubuhnya berputar, ia menemukan sosok tambun berdiri di dekat meja bar. Pria itu melambai dengan semangat berlebihan, seolah Liam adalah selebriti yang baru turun dari panggung konser.

“Hei, Luke, kamu beneran undang Liam?” bisik seorang wanita yang duduk di kursi tinggi, satu siku bertumpu di meja, jemari menyentuh bibir gelas wine-nya.

“Tentu saja. Dia juga teman kita,” jawab Luke santai.

Liam mulai mendekat, dan wanita itu—Vidia—memiringkan tubuhnya sedikit, membisik pada Luke tanpa benar-benar menurunkan suaranya.

“Ada Brisia di sini.”

Ia menoleh sekilas. Di sofa siku di belakang mereka—sofa berlapis kulit hitam yang tampak semakin mewah oleh cahaya neon—Brisia duduk bersandar manja di lengan kekasihnya. Di meja terdapat hidangan ringan yang sangat khas kelab malam: chicken wings dengan saus pedas yang menyengat, kentang goreng tipis berlumur rosemary, platter buah dingin, dan sederet minuman berwarna-warni yang terus berdatangan.

Luke menyeringai. “Apa masalahnya? Dia juga bukan siapa-siapa Liam lagi, Vidia.”

Luke turun dari kursinya lalu menyambut Liam dengan tos dan pelukan singkat—pelukan yang terasa lebih seperti formalitas daripada kehangatan.

“Kukira kamu tidak datang, Liam,” katanya lega.

“Aku sempatkan hadir,” balas Liam dengan senyum tipis.

Beberapa kepala di sofa yang tadinya sibuk dengan obrolan dangkal kini menoleh menatapnya. Tidak hanya menoleh—menilai. Senyum kecil mereka tampak sopan di permukaan, tetapi matanya penuh penghakiman.

“Berantakan sekali kamu, Liam,” ujar seorang pria bertato, cengengesan sambil mengangkat gelasnya. “Masih sama seperti dulu. Belum dapat kerjaan yang sepadan, ya?”

Senyum Liam hanya bergerak setengah inci. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini bahkan sebelum datang tadi.

“Apa kabar kalian? Tampang kalian seperti orang sukses,” katanya santai, satu alis terangkat.

Brisia menurunkan gelasnya. Sekilas saja ia melihat Liam, lalu kembali menyandarkan kepala di bahu kekasih barunya—aksi yang begitu dibuat-buat hingga Liam nyaris tertawa.

Jijik.

Ia ingin muntah melihat adegan itu.

“Memang kita cukup sukses, Liam,” sahut salah satu dari mereka dengan nada pamer yang amat kentara. “Beberapa dari kita bahkan masuk ke perusahaan cabang milik Dawson Family.”

“Oh.” Liam terkekeh kecil, ringan, hampir terdengar seperti ejekan. “Keren sekali.”

“Sudah, sudah, jangan bahas hal tidak penting.” Luke masuk lagi ke percakapan, meletakkan dua botol bir di meja dan menyerahkan salah satunya pada Liam.

“Nikmati saja pestanya, Liam.”

salah satu pasangan di meja itu bangkit. Kursinya menggeser pelan, meninggalkan bunyi rendah yang hampir tenggelam oleh dentuman musik dari ballroom.

“Ayo dansa,” ajak pria itu pada kekasihnya. “Aku mulai penat duduk.”

Wanita itu segera merangkul lengannya, bibirnya melengkung manis—manis yang terlalu sempurna. Mereka berjalan menuju ballroom, menembus kabut ringan dari mesin asap, lalu hilang ditelan riuh cahaya strobo.

Kepergian mereka justru membuat ruang VIP itu terasa lebih sempit, lebih rapat dengan aroma parfum mahal dan ketidaknyamanan yang menggantung.

Peter—kekasih Brisia yang baru—menyilangkan kaki, memandangi Liam dari ujung kepala hingga sepatu. Tatapannya tidak kasar, hanya… menilai, seperti seorang kolektor menaksir barang antik yang tak lagi berkilau.

“Jadi, kamu kerja di mana, Liam?” tanyanya sambil mengangkat gelas. “Kamu terlihat… sederhana sekali.”

Liam tersenyum tipis. Ia menaruh gelasnya di atas meja kaca yang basah oleh embun botol alkohol. Ia bisa saja menyebut posisinya, nama keluarganya, bahkan kekuasaan yang mengalir begitu alami dalam hidupnya. Tapi kesombongan tak pernah menjadi bagian dari bahasanya.

“Aku lebih suka terlihat sederhana,” jawabnya tenang.

“Hm.” Peter mengangguk perlahan, lalu menatap Brisia sebelum kembali pada Liam. “Kudengar kalian dulu cukup dekat.”

Brisia membuka mulut, namun Liam mendahuluinya.

“Tidak juga,” katanya lembut, nyaris sopan. “Kami hanya teman masa kuliah.”

Kalimat itu membuat Brisia memalingkan wajah, bibirnya mengeras. Vidia—yang duduk di seberang—menangkap semuanya. Tatapan kecil, napas yang terjeda, jari Brisia yang mengetuk gelas seperti sinyal bahaya.

Lima bulan bersama Brisia dulu telah lebih dari cukup bagi Liam untuk memahami satu hal:

Beberapa orang tidak mencintai dirimu. Mereka mencintai apa yang bisa mereka ambil darimu.

“Aku ke toilet sebentar,” ujar Peter sambil bangkit.

“Oke, Sayang,” sahut Brisia, terlalu manis, terlalu dibuat-buat. Tangannya mengusap lengan pria itu seolah sedang memperagakan loyalitas.

Begitu Peter menghilang, Luke mencondongkan tubuh.

“Mau ikut menari?” tawarnya.

Liam menggeleng. Ia merogoh ponselnya dari saku, menunduk. Layar ponsel menyala—ada pesan dari Bill.

Di kursi berkaki tiga, Vidia memutuskan menggeser tempat duduknya dan duduk di samping Brisia. Tatapannya menyapu Liam tajam, seperti sensor yang menangkap perubahan kecil pada ekspresi wajahnya.

“Kuyakin kamu sebenarnya masih terpesona melihat dia, kan?” bisiknya.

Brisia langsung berkedip cepat, memutar tubuh menghadap Vidia.

“Sembarangan!” bisiknya ketus seraya mencubit paha Vidia.

“Jangan kira aku tidak tahu. Kamu curi-curi pandang sejak tadi,” balas Vidia dengan senyum nakal.

Liam tidak menyadari apapun. Fokusnya penuh pada pesan di layar.

Bill :

‘Tuan, pihak wanita sudah setuju. Tidak bisa mundur lagi’

Dua wanita itu menangkap ketegangan samar yang lewat di wajah Liam.

“Lihat itu!” bisik Vidia, matanya melirik ke arah kemeja Liam yang terbuka dua kancing, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. “Kupikir itu sangat menggoda.”

“Sialan!” geram Brisia, buru-buru menangkup mulut Vidia dengan telapak tangan.

Liam masih tenggelam dalam pikirannya. Ponsel tetap menempel di tangannya. Beberapa detik kemudian, ia menghubungi Bill dan menaruh ponsel di telinganya.

“Sudah pesan kamar? Aku bermalam di sini,” katanya datar.

“Carikan saja di lantai lima.”

Vidia langsung menyeringai, alisnya turun naik memberi sinyal pada Brisia—sebuah sinyal yang artinya terlalu jelas. Tetapi Brisia menepis cepat, pipinya memanas.

Liam memasukkan kembali ponselnya ke saku dan berdiri.

“Mau ke mana?” tanya Vidia dengan pose genit dan nada menggoda. “Acara kita belum selesai, Liam.”

“Ke toilet,” jawabnya singkat.

Begitu punggung Liam menghilang melewati kerumunan, Vidia langsung mengguncang bahu Brisia dengan antusias yang tak sopan.

“Cari kamarnya, Brisia!”

“Gila!” sembur Brisia. “Aku datang bersama Peter. Kami sudah pesan kamar, Vidia. Dan lagi… aku tidak mau lagi menyentuh tubuhnya. Dia pria miskin.”

“Bodoh!” Vidia menoyor kepalanya. “Hanya tidur, Brisia. Bercinta. Rasakan tubuhnya tanpa status. Sayang kalau dilewatkan.”

Brisia terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada dentuman bass dari DJ. Ia menatap gelasnya, meraihnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu menenggak habis isinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 10

    Kesialan seolah mengikuti Sabrina seperti bayangan kelabu yang tak mau pergi sejak semalam. Dan pagi ini—sekitar pukul sembilan—ketika ia akhirnya tiba di halaman rumah, nasib buruk itu seolah menyambutnya dengan tangan terbuka.Napasnya masih terengah akibat berjalan jauh. Udara pagi yang seharusnya menenangkan justru terasa pengap di paru-parunya saat sesuatu di teras rumah menarik perhatiannya.“Ada apa ini…?” bisiknya pelan, suara yang pecah oleh kelelahan dan rasa was-was.Pagar kayu rumahnya berderit saat ia dorong. Pemandangan di depannya membuat langkahnya goyah.Kardus-kardus besar menumpuk sembarangan. Tas jinjing, koper berdebu, dan barang-barang rumah berserakan seolah seseorang sengaja mengobrak-abrik segala yang mereka miliki dan melemparkannya keluar tanpa belas kasihan.Sejurus kemudian, terdengar suara bentakan dari dalam rumah—keras, tajam, menggetarkan. Sabrina sontak berlari, hampir tersandung tumpukan barang. Jantungnya menendang dada, detaknya kacau.“Ada apa… in

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 9

    Matahari telah meninggi, memercikkan cahaya keemasan yang menyeringai melalui dinding kaca kamar hotel mewah itu. Sinarnya menggulung lembut di atas seprai putih, memantul pada lampu-lampu langit-langit yang masih menyala terang—seakan enggan kalah dari cahaya pagi. Dalam pendar itu, sesosok perempuan di atas ranjang mengerjap pelan, seperti baru ditarik kembali dari mimpi yang tak mau ia akui.Sabrina menguap kecil, lalu mengucek kedua matanya yang berat. Saat penglihatannya mulai jelas, ekor matanya bergerak gelisah, menelusuri ruangan yang asing—terlalu luas, terlalu rapi, terlalu mahal untuk menjadi miliknya.Dimana ini? Kamar siapa ini?Pertanyaan itu berbisik seperti angin dingin yang merayap naik di tengkuknya. Tangannya, yang sedikit bergetar, meraih selimut yang menutup hingga dadanya. Ia menunduk, mengintip ke balik kain itu—dan langsung menutupnya kembali dengan gerakan panik.“Ini tidak benar. Tidak, tidak.” Sabrina menggeleng kuat, rambutnya yang kusut bergesekan liar den

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 8

    Pintu itu berderit perlahan, membuka celah sempit sebelum akhirnya menyerah sepenuhnya. Bill yang gelisah dan baru saja dikejutkan dengan suatu hal, terkesiap untuk menyambut siapa yang keluar dari pintu itu.Liam Dawson.Sosok itu muncul dengan wajah tegas yang begitu Bill kenal—datar, tenang, namun dibayangi lelah. Tetapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Tidak sama dengan saat-saat terakhir Bill menemani tuannya berkencan; malam-malam yang selalu berakhir dengan tubuh Liam menegang, menggigil, bahkan hampir tak mampu bernapas setiap kali kedekatan seorang wanita memicu traumanya, hingga berakhir di rumah sakit."Tuan baik-baik saja?" Bill memberanikan diri, meski suaranya bergetar. "Maaf, saya… saya tidak bisa berpikir jernih, jadi langsung keluar."Liam menutup pintu di belakangnya dengan satu hentakan ringan. Tatapannya yang jengah membuat Bill menunduk spontan."Perempuan itu melepas bajunya, Tuan," lanjut Bill gugup, berusaha membela diri. "Mana mungkin saya tetap di dalam."

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 7

    Sunyi menyelimuti lorong lantai lima. Hanya suara langkah mereka bertiga yang menggema — berat, tegang, dan tergesa seolah setiap detik adalah ancaman baru.Bill mengikuti di belakang, wajahnya kaku sementara pandangannya terus awas mengamati setiap sudut.Di depan, Liam berusaha keras menahan tubuh Sabrina yang berkali-kali meliuk tak terkendali. Perempuan itu seperti aliran api yang tak mau dipadamkan. Setiap sentuhan kecil, setiap helaan napas, membuat tubuhnya goyah lagi.“Tuan yakin akan membawanya masuk?” tanya Bill dengan suara parau. “Dia… ini bukan mabuk biasa.”Liam mengembus napas kasar, kedua tangannya bekerja menahan Sabrina yang terus merengsek.“Bukan mabuk.” Suaranya datar namun penuh tekanan. “Ini efek obat perangsang.”Bill menelan ludah, menatap majikannya penuh penilaian dan rasa tak menyangka.Bill menegang. “Tuan… eumm—”“Jangan pikir yang aneh!” bentak Liam. “Buka pintunya!”Begitu kunci diputar dan daun pintu terbuka, Liam hampir mendorong Sabrina masuk saking

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 6

    Semua isi perut Sabrina bergejolak seperti badai yang kehilangan batas. Ia berjongkok di depan kloset, tubuhnya melipat, lalu cairan pahit itu kembali memaksa keluar dan membakar kerongkongan.Menjijikkan.Ia terengah, menarik napas panjang yang kacau, lalu meluruskan punggungnya dengan susah payah. Empat gelas—hanya empat gelas—tapi cukup untuk membuat dunia di sekelilingnya berputar seperti karusel rusak yang tak mengenal belas kasihan.Gelombang mual kedua menerjang sebelum ia siap. Ia menunduk cepat, muntah lagi; asin, pahit, dan getir bercampur jadi satu di lidahnya.“Aku haus,” gumamnya.Dengan meraba dinding, ia memaksa dirinya berdiri. Cermin memantulkan wajah pucatnya—mata setengah merah, rambut sedikit berantakan. Ia membuka keran, membasuh wajahnya dengan air dingin yang tak banyak membantu.“Sialan…” desisnya, memijat pelipis. Kepalanya berdetak seperti ada palu kecil memukul dari dalam.Ia keluar dari toilet wanita, langkahnya sedikit goyah. Lorong berpendar cahaya neon,

  • Gara-Gara Biro Jodoh: Tuan Dingin Tunduk Padaku   Bab 5

    Liam menoleh lagi ke arah tiga orang yang tadi terlihat sedang berdebat kecil. Dari sela kerumunan yang bergerak seperti gelombang, pandangannya menangkap sosok Sabrina. Gadis itu tampak terhuyung sedikit saat berjalan menuju lorong belakang kelab—tempat yang lampunya lebih redup, seolah memisahkan diri dari hiruk-pikuk pesta.Ia tidak mengenakan gaun pesta yang berkilau seperti para undangan lainnya. Tidak ada payet, tidak ada manik, hanya kaos V-neck sederhana yang jatuh pas di tubuh, dipadu rok rempel selutut. Terlihat asing, tetapi justru lebih nyata dibanding busana glamor yang memenuhi ruangan.“Sejujurnya aku benci tempat seperti ini,” gumam Liam, hampir tanpa suara.Ia menerobos kerumunan. Beberapa orang menari tanpa peduli dunia, beberapa mengobrol sambil bergelayut, beberapa hanya tertawa keras–tawa yang tenggelam oleh dentuman bass. Aroma alkohol bercampur dengan parfum mahal, lalu digempur oleh embusan mint dari hookah yang berputar di meja-meja VIP. Semua itu berubah menj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status