MasukLiam menoleh lagi ke arah tiga orang yang tadi terlihat sedang berdebat kecil. Dari sela kerumunan yang bergerak seperti gelombang, pandangannya menangkap sosok Sabrina. Gadis itu tampak terhuyung sedikit saat berjalan menuju lorong belakang kelab—tempat yang lampunya lebih redup, seolah memisahkan diri dari hiruk-pikuk pesta.
Ia tidak mengenakan gaun pesta yang berkilau seperti para undangan lainnya. Tidak ada payet, tidak ada manik, hanya kaos V-neck sederhana yang jatuh pas di tubuh, dipadu rok rempel selutut. Terlihat asing, tetapi justru lebih nyata dibanding busana glamor yang memenuhi ruangan.
“Sejujurnya aku benci tempat seperti ini,” gumam Liam, hampir tanpa suara.
Ia menerobos kerumunan. Beberapa orang menari tanpa peduli dunia, beberapa mengobrol sambil bergelayut, beberapa hanya tertawa keras–tawa yang tenggelam oleh dentuman bass. Aroma alkohol bercampur dengan parfum mahal, lalu digempur oleh embusan mint dari hookah yang berputar di meja-meja VIP. Semua itu berubah menjadi kabut memabukkan yang menyelimuti seluruh ruangan.
“Liam!”
Suara itu menusuk di antara noise kelab.
Ia berhenti, menoleh ke kanan, lalu ke kiri.
“Di sini!”
Saat tubuhnya berputar, ia menemukan sosok tambun berdiri di dekat meja bar. Pria itu melambai dengan semangat berlebihan, seolah Liam adalah selebriti yang baru turun dari panggung konser.
“Hei, Luke, kamu beneran undang Liam?” bisik seorang wanita yang duduk di kursi tinggi, satu siku bertumpu di meja, jemari menyentuh bibir gelas wine-nya.
“Tentu saja. Dia juga teman kita,” jawab Luke santai.
Liam mulai mendekat, dan wanita itu—Vidia—memiringkan tubuhnya sedikit, membisik pada Luke tanpa benar-benar menurunkan suaranya.
“Ada Brisia di sini.”
Ia menoleh sekilas. Di sofa siku di belakang mereka—sofa berlapis kulit hitam yang tampak semakin mewah oleh cahaya neon—Brisia duduk bersandar manja di lengan kekasihnya. Di meja terdapat hidangan ringan yang sangat khas kelab malam: chicken wings dengan saus pedas yang menyengat, kentang goreng tipis berlumur rosemary, platter buah dingin, dan sederet minuman berwarna-warni yang terus berdatangan.
Luke menyeringai. “Apa masalahnya? Dia juga bukan siapa-siapa Liam lagi, Vidia.”
Luke turun dari kursinya lalu menyambut Liam dengan tos dan pelukan singkat—pelukan yang terasa lebih seperti formalitas daripada kehangatan.
“Kukira kamu tidak datang, Liam,” katanya lega.
“Aku sempatkan hadir,” balas Liam dengan senyum tipis.
Beberapa kepala di sofa yang tadinya sibuk dengan obrolan dangkal kini menoleh menatapnya. Tidak hanya menoleh—menilai. Senyum kecil mereka tampak sopan di permukaan, tetapi matanya penuh penghakiman.
“Berantakan sekali kamu, Liam,” ujar seorang pria bertato, cengengesan sambil mengangkat gelasnya. “Masih sama seperti dulu. Belum dapat kerjaan yang sepadan, ya?”
Senyum Liam hanya bergerak setengah inci. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini bahkan sebelum datang tadi.
“Apa kabar kalian? Tampang kalian seperti orang sukses,” katanya santai, satu alis terangkat.
Brisia menurunkan gelasnya. Sekilas saja ia melihat Liam, lalu kembali menyandarkan kepala di bahu kekasih barunya—aksi yang begitu dibuat-buat hingga Liam nyaris tertawa.
Jijik.
Ia ingin muntah melihat adegan itu.
“Memang kita cukup sukses, Liam,” sahut salah satu dari mereka dengan nada pamer yang amat kentara. “Beberapa dari kita bahkan masuk ke perusahaan cabang milik Dawson Family.”
“Oh.” Liam terkekeh kecil, ringan, hampir terdengar seperti ejekan. “Keren sekali.”
“Sudah, sudah, jangan bahas hal tidak penting.” Luke masuk lagi ke percakapan, meletakkan dua botol bir di meja dan menyerahkan salah satunya pada Liam.
“Nikmati saja pestanya, Liam.”
salah satu pasangan di meja itu bangkit. Kursinya menggeser pelan, meninggalkan bunyi rendah yang hampir tenggelam oleh dentuman musik dari ballroom.
“Ayo dansa,” ajak pria itu pada kekasihnya. “Aku mulai penat duduk.”
Wanita itu segera merangkul lengannya, bibirnya melengkung manis—manis yang terlalu sempurna. Mereka berjalan menuju ballroom, menembus kabut ringan dari mesin asap, lalu hilang ditelan riuh cahaya strobo.
Kepergian mereka justru membuat ruang VIP itu terasa lebih sempit, lebih rapat dengan aroma parfum mahal dan ketidaknyamanan yang menggantung.
Peter—kekasih Brisia yang baru—menyilangkan kaki, memandangi Liam dari ujung kepala hingga sepatu. Tatapannya tidak kasar, hanya… menilai, seperti seorang kolektor menaksir barang antik yang tak lagi berkilau.
“Jadi, kamu kerja di mana, Liam?” tanyanya sambil mengangkat gelas. “Kamu terlihat… sederhana sekali.”
Liam tersenyum tipis. Ia menaruh gelasnya di atas meja kaca yang basah oleh embun botol alkohol. Ia bisa saja menyebut posisinya, nama keluarganya, bahkan kekuasaan yang mengalir begitu alami dalam hidupnya. Tapi kesombongan tak pernah menjadi bagian dari bahasanya.
“Aku lebih suka terlihat sederhana,” jawabnya tenang.
“Hm.” Peter mengangguk perlahan, lalu menatap Brisia sebelum kembali pada Liam. “Kudengar kalian dulu cukup dekat.”
Brisia membuka mulut, namun Liam mendahuluinya.
“Tidak juga,” katanya lembut, nyaris sopan. “Kami hanya teman masa kuliah.”
Kalimat itu membuat Brisia memalingkan wajah, bibirnya mengeras. Vidia—yang duduk di seberang—menangkap semuanya. Tatapan kecil, napas yang terjeda, jari Brisia yang mengetuk gelas seperti sinyal bahaya.
Lima bulan bersama Brisia dulu telah lebih dari cukup bagi Liam untuk memahami satu hal:
Beberapa orang tidak mencintai dirimu. Mereka mencintai apa yang bisa mereka ambil darimu.
“Aku ke toilet sebentar,” ujar Peter sambil bangkit.
“Oke, Sayang,” sahut Brisia, terlalu manis, terlalu dibuat-buat. Tangannya mengusap lengan pria itu seolah sedang memperagakan loyalitas.
Begitu Peter menghilang, Luke mencondongkan tubuh.
“Mau ikut menari?” tawarnya.
Liam menggeleng. Ia merogoh ponselnya dari saku, menunduk. Layar ponsel menyala—ada pesan dari Bill.
Di kursi berkaki tiga, Vidia memutuskan menggeser tempat duduknya dan duduk di samping Brisia. Tatapannya menyapu Liam tajam, seperti sensor yang menangkap perubahan kecil pada ekspresi wajahnya.
“Kuyakin kamu sebenarnya masih terpesona melihat dia, kan?” bisiknya.
Brisia langsung berkedip cepat, memutar tubuh menghadap Vidia.
“Sembarangan!” bisiknya ketus seraya mencubit paha Vidia.
“Jangan kira aku tidak tahu. Kamu curi-curi pandang sejak tadi,” balas Vidia dengan senyum nakal.
Liam tidak menyadari apapun. Fokusnya penuh pada pesan di layar.
Bill :
‘Tuan, pihak wanita sudah setuju. Tidak bisa mundur lagi’
Dua wanita itu menangkap ketegangan samar yang lewat di wajah Liam.
“Lihat itu!” bisik Vidia, matanya melirik ke arah kemeja Liam yang terbuka dua kancing, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. “Kupikir itu sangat menggoda.”
“Sialan!” geram Brisia, buru-buru menangkup mulut Vidia dengan telapak tangan.
Liam masih tenggelam dalam pikirannya. Ponsel tetap menempel di tangannya. Beberapa detik kemudian, ia menghubungi Bill dan menaruh ponsel di telinganya.
“Sudah pesan kamar? Aku bermalam di sini,” katanya datar.
“Carikan saja di lantai lima.”
Vidia langsung menyeringai, alisnya turun naik memberi sinyal pada Brisia—sebuah sinyal yang artinya terlalu jelas. Tetapi Brisia menepis cepat, pipinya memanas.
Liam memasukkan kembali ponselnya ke saku dan berdiri.
“Mau ke mana?” tanya Vidia dengan pose genit dan nada menggoda. “Acara kita belum selesai, Liam.”
“Ke toilet,” jawabnya singkat.
Begitu punggung Liam menghilang melewati kerumunan, Vidia langsung mengguncang bahu Brisia dengan antusias yang tak sopan.
“Cari kamarnya, Brisia!”
“Gila!” sembur Brisia. “Aku datang bersama Peter. Kami sudah pesan kamar, Vidia. Dan lagi… aku tidak mau lagi menyentuh tubuhnya. Dia pria miskin.”
“Bodoh!” Vidia menoyor kepalanya. “Hanya tidur, Brisia. Bercinta. Rasakan tubuhnya tanpa status. Sayang kalau dilewatkan.”
Brisia terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada dentuman bass dari DJ. Ia menatap gelasnya, meraihnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu menenggak habis isinya.
Bab 101“Apa-apaan kalian?” suara Liam meledak, berat dan bergetar, memenuhi ruangan itu seperti dentuman. Matanya menyala tajam, rahangnya mengeras, napasnya memburu seolah dadanya tak lagi mampu menampung amarah yang menumpuk terlalu lama.Maria refleks melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gerakan gugup. “Li—Liam, dia—ka-kamu tenang dulu, Nak…,” pintanya dengan suara bergetar, nyaris memohon.Namun Liam justru menepis tangan itu dengan keras, gerakannya kasar dan tanpa ragu.“Bertahun-tahun aku patuh,” katanya, melangkah perlahan menjauh, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Setiap langkahnya terukur, tapi sorot matanya tak pernah lepas dari wajah Maria dan Ralph. “Aku turuti setiap aturan di rumah ini, sampai aku lupa siapa diriku sendiri.”Ia berhenti. Bahunya naik turun, menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar amarah.“Aku ketakutan. Aku trauma. Aku hampir mati,” lanjutnya, suaranya kini serak, penuh tekanan. “Dan tetap saja kalian menganggap semu
Bab 100Liam dan Bill telah menempuh hampir seperempat perjalanan menuju panti yang menjadi tempat tinggal Bibi Ellen. Mobil hitam itu melaju stabil di jalur antarkota, meninggalkan deretan gedung tinggi dan hiruk pikuk pusat bisnis. Udara terasa lebih lembap, langit mendung menggantung rendah seolah menyimpan firasat yang tak nyaman.Namun, sebelum benar-benar keluar dari batas kota, barikade polisi lalu lintas menghentikan laju mereka.Beberapa mobil di depan bahkan terlihat memutar balik, klakson bersahutan, suasana mendadak kacau.“Ada apa ini, Bill?” tanya Liam, tubuhnya condong ke depan, dahi berkerut.“Saya kurang tahu, Tuan,” jawab Bill singkat, matanya waspada menatap ke depan.Seorang polisi menghampiri. Bill segera menurunkan kaca mobil dan sedikit menyembulkan tubuhnya keluar. Polisi itu memberi hormat singkat sebelum berbicara.“Mohon maaf, Tuan. Perjalanan Anda terganggu,” ucapnya sopan. “Beberapa pohon tumbang akibat hujan semalam. Jalan utama tidak bisa dilalui. Kami a
Bab 99Sabrina menggenggam kunci apartemen itu agak terlalu erat. Apartemen milik Amanda—tempat yang dulu dihuni sahabatnya sebelum pindah ke rumah Jonas—kini menjadi pelabuhan sementaranya. Satu ruang singgah bagi hidup yang mendadak tercerabut dari akarnya.Amanda dan Jonas masih bertunangan. Secara logika, seharusnya mereka belum tinggal seatap. Namun keluarga mereka tampaknya memilih menutup mata. Mungkin karena persiapan pernikahan yang kian dekat, mungkin pula karena kelelahan menghadapi aturan yang terlalu banyak. Sabrina tak pernah benar-benar tahu—dan saat ini, ia juga tak cukup peduli untuk bertanya.Pikirannya sudah terlalu penuh.Sejak meninggalkan restoran tadi, bayangan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Di meja makan yang tidak pernah hangat sejsk awal, Sabrina hanya membicarakan satu hal: bagaimana ia “dibebaskan” dari rumah yang selama ini ia sebut rumah.Amanda terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya lebih tenang, lebih terukur—seakan sebagian dirinya me
Bab 98Sabrina meringis getir sambil menyeret koper besarnya menjauh dari rumah itu. Roda koper berdecit lirih di atas aspal kompleks, bunyinya terdengar menyakitkan—seolah ikut memprotes nasibnya. Ia berhenti sejenak di ujung gerbang, menoleh ke belakang.Bangunan berlantai dua itu berdiri tenang, terlalu tenang. Rumah yang biaya sewanya dilunasi Liam. Rumah yang sempat memberinya ilusi tentang “pulang”.Dan kini, rumah itu pula yang menutup pintunya.Lucu.Atau mungkin menyedihkan.“Kenapa mereka mendadak mengusirku?” gumam Sabrina pelan.Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang menyapu pepohonan di sepanjang jalan, membuat dedaunan kering berjatuhan di kakinya. Sabrina menunduk, kembali melangkah, bahunya sedikit membungkuk menahan berat koper—dan berat di dadanya.“Mereka melupakan jasaku begitu saja,” desisnya. Nada suaranya mengeras, getir. “Menyebalkan sekali.”Tangannya mengepal di gagang koper. Rahangnya mengencang.“Lihat saja,” lanjutnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Bab 97Ruangan itu dijaga pada suhu sedang, namun ketegangan membuat udara terasa menekan, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Karpet tebal meredam langkah, tirai berat menutup cahaya siang, dan meja kerja besar di tengah ruangan menjadi satu-satunya batas tak kasatmata antara dua generasi yang kini saling berhadapan.Jacob duduk dengan punggung tegak, kedua tangan bertaut di atas lutut. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang seharusnya tidak ada di jadwalnya hari ini. Liam duduk berseberangan, sikapnya santai di permukaan, namun bahunya sedikit menegang, rahang mengeras setiap kali Jacob menggeser posisi duduk.Seharusnya Jacob sudah kembali ke ruang rapat, menemui klien yang ia tinggalkan. Namun kehadiran Liam memaksanya menunda segalanya.“Sepertinya ada hal penting,” ucap Jacob akhirnya, suaranya rendah dan terukur.Liam berdehem. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan bertumpu pada sandaran, seolah ingin terlihat santai—padahal matany
Bab 96Sabrina meninggalkan hotel itu sekitar pukul sembilan pagi.Udara masih sejuk, matahari belum sepenuhnya naik, tapi langkahnya terasa berat. Untuk kesekian kalinya, ia terbangun di kamar asing—ranjang rapi, bantal tersusun, aroma sabun hotel yang netral—tanpa sosok pria yang semalam membawanya ke sana.Tidak ada catatan di meja.Tidak ada pesan di ponselnya.Tidak ada panggilan tak terjawab.Sabrina sempat berdiri lama di tengah kamar, menatap layar ponselnya yang gelap. Ia tidak menghubungi Liam lebih dulu. Entah karena gengsi, atau karena nalurinya mengatakan pria itu pasti akan menghubunginya sendiri.Namun, sampai ia menutup pintu kamar hotel itu, tak ada apa-apa.“Pasti dia pergi pagi-pagi lagi,” gumam Sabrina pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri. “Dia selalu dikejar waktu.”Ia menyeberang jalan, melewati deretan pertokoan yang mulai buka. Beberapa etalase masih setengah tertutup, beberapa pedagang sibuk menyusun barang. Dunia berjalan normal, sementara kepalanya







