Share

Bab 4. Dimarahi Bos

Penulis: Liymochiyo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-11 19:55:02

Pagi itu, kantor dipenuhi suara ketikan keyboard dan nada dering telepon yang bersahut-sahutan. Rania baru saja menyelesaikan laporan mingguan yang harus diserahkan ke Leodric. Ia menarik napas lega setelah begadang semalaman.

“Ran, laporan udah kelar?” tanya Siska, teman satu divisi yang duduk di sebelahnya.

“Udah kok. Tinggal kirim ke emailnya Pak Leo.” Rania tersenyum bangga, meski matanya masih merah karena kurang tidur.

Namun beberapa menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka keras. Semua orang sontak menoleh. Leodric muncul dengan wajah dingin dan sorot mata tajam.

“Rania!” panggilnya singkat.

Jantung Rania langsung berdegup kencang. “I-iya, Pak?” Ia berdiri tergagap.

Leodric melempar berkas laporan ke meja rapat. Suara kertas menampar meja terdengar keras di ruangan yang mendadak sunyi.

“Ini apa?”

Rania melangkah pelan mendekat, tangannya gemetar membuka berkas itu. Matanya membesar—angka di tabel salah total, grafik melenceng, bahkan ada data yang terduplikat.

“Saya… saya—”

“Kesalahan seperti ini bukan level anak magang, apalagi karyawan tetap. Rapat penting nanti sore bisa kacau gara-gara laporan begini!” suara Leodric meninggi. Beberapa rekan kerja terdiam, saling pandang tak enak.

Rania menunduk, wajahnya memerah karena malu. Ia ingin sekali menghilang dari ruangan itu.

Leodric menatap tajam lalu berkata dengan nada sarkastis, menusuk:

“Ini bukan main-main Rania. Kemarin saya ramah ke kamu bukan berarti kamu bisa kerja seenaknya.”

Kata-kata itu menancap seperti duri. Rania menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata.

“Aku… maaf, Pak. Saya akan perbaiki sekarang juga,” suaranya bergetar.

Leodric hanya mendengus. “Saya tunggu hasil revisinya satu jam lagi. Kalau kamu anggap kerjaan ini main-main, lebih baik keluar dari sini.”

Rania menunduk dalam-dalam, lalu bergegas kembali ke meja kerjanya. Hatinya hancur—malu, sedih, dan marah bercampur jadi satu. Bayangan Leodric yang semalam menenangkannya terasa begitu jauh berbeda dengan sosok dingin yang memarahinya sekarang.

‘Kenapa sih… dia harus segitu jahatnya?’ batinnya perih.

Namun di balik tatapannya yang dingin, Leodric sebenarnya menahan diri. Ia sadar ucapannya terlalu keras, tapi gengsinya sebagai bos membuatnya tak bisa menarik kata-kata itu kembali.

___

Rania duduk di pantry kantor, mencoba mengatur napas. Ia meneguk air mineral cepat-cepat, tapi rasa sesak di dadanya tak hilang. Matanya basah, meski ia berusaha keras menahannya.

“Ya ampun, Ran… jangan nangis. Malu ah kalau ada yang lihat,” gumamnya pelan pada diri sendiri.

Langkah sepatu terdengar mendekat. Rania buru-buru mengusap wajah dengan tisu. Saat menoleh, ternyata Leodric.

Ia berdiri di ambang pintu pantry, wajah tetap dingin, tapi tatapannya jelas menyorot mata Rania yang memerah. Sesaat suasana jadi canggung.

Leodric berjalan mendekat, lalu meletakkan kaleng minuman dingin di meja.

“Minum. Biar nggak pusing.” Suaranya datar, tapi ada kelembutan tersembunyi di baliknya.

Rania menatap kaleng itu, lalu menoleh sekilas padanya. Hatinya bergetar, tapi rasa sakit karena ucapannya tadi masih segar.

“Terima kasih, Pak. Tapi saya nggak haus,” jawabnya singkat, lalu mendorong kaleng itu kembali.

Leodric terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatap Rania cukup lama, lalu menghela napas, mengambil kembali minuman itu.

“Kalau begitu, cepat perbaiki laporannya. Jangan buang waktu di sini.”

Ia berbalik pergi, menyembunyikan wajahnya yang sempat melunak.

Begitu pintu pantry menutup, Rania menggenggam tisu erat-erat. Air mata jatuh lagi, bercampur dengan rasa bingung.

‘Kenapa dia harus perhatian setelah nyakitin aku? Kenapa… aku nggak bisa benci sepenuhnya?’

Di ruangannya, Leodric menatap kaleng minuman yang masih utuh di tangannya, lalu bergumam lirih,

“Dasar keras kepala…”

Namun sudut bibirnya terangkat tipis, seolah marah dan cemas berjalan beriringan di hatinya.

___

Siang harinya, seluruh tim dipanggil ke ruang rapat. Rania berjalan pelan, masih menunduk, tak ingin menarik perhatian.

Leodric sudah berdiri di depan, tegap dengan jas hitamnya. Sorot matanya dingin—sosok bos yang tegas.

“Baik. Sebelum kita mulai rapat, saya ingin memperkenalkan anggota baru di tim kita.”

Pintu terbuka. Seorang wanita masuk. Rambut hitamnya tergerai rapi, kulit cerah, senyum hangat memikat. Dengan blouse putih elegan dan rok pensil, ia tampak profesional sekaligus memesona.

“Perkenalkan, ini Clara, karyawan baru di divisi kita. Dia akan banyak terlibat dalam project mendatang,” ujar Leodric mantap.

Clara menunduk sopan. “Halo semuanya, saya senang bisa bergabung. Mohon bimbingannya.”

Beberapa rekan pria tampak terkesima. Bahkan Siska sempat berbisik,

“Ran, cakep banget ya? Kayak artis Korea gitu.”

Rania hanya tersenyum kaku. Hatinya tercekat. Matanya menangkap tatapan Leodric yang sesekali mengarah ke Clara, seolah memastikan ia merasa nyaman.

Dan anehnya, itu membuat perasaan Rania makin perih.

‘Kenapa aku harus peduli? Dia kan cuma bos. Tapi… kenapa rasanya kayak ditusuk lagi?’

Leodric melanjutkan, “Clara, kamu boleh duduk di sebelah Rania. Dia yang akan jadi mentor kamu sementara.”

Rania terperanjat. “Eh? S-saya, Pak?”

Leodric menatapnya sebentar, dingin penuh tekanan. “Ada masalah?”

“Tidak, Pak…” Rania cepat menunduk, wajahnya panas.

Clara pun duduk di sebelahnya, menyapa ramah. “Hai, Rania. Senang banget bisa kenalan langsung sama kamu.”

Rania mencoba tersenyum, tapi senyumnya kaku. Dalam hati, ia merasa seperti berada di persimpangan yang makin rumit: dimarahi bos, ditolak perhatiannya, dan sekarang harus mendampingi seorang wanita cantik yang mungkin saja… akan menarik perhatian pria itu lebih jauh.

Di ujung meja, Leodric memperhatikan sekilas. Ada kilatan aneh di matanya—seperti sengaja menguji, atau mungkin sekadar memastikan timnya berjalan sesuai arahannya.

___

Hari itu berakhir dengan kabar baik. Proyek besar yang selama berminggu-minggu membuat semua orang kewalahan akhirnya berjalan lancar. Tim pun memutuskan mengadakan perayaan kecil di sebuah restoran dekat kantor.

Meja panjang dipenuhi gelas, botol minuman, dan tawa yang memenuhi ruangan. Suasana jauh berbeda dengan tegangnya kantor pagi tadi.

“Ran, ayo minum lagi! Biar lupa sama Pak Leo yang galak itu,” goda Siska sambil menuangkan minuman ke gelas Rania.

Rania tersenyum kaku. “Aku… udah cukup, Sis.”

“Tuh, jangan nanggung. Sekali-sekali aja!” teman lain ikut bersorak.

Akhirnya, Rania menyerah. Ia menenggak minumannya, lalu satu gelas lagi, hingga kepalanya terasa ringan. Tawa yang awalnya tulus perlahan berubah menjadi cekikan kecil tanpa arah.

Di seberang meja, Clara pun sudah mabuk berat. Pipi putihnya memerah, matanya sayu. Ia sempat bersandar ke bahu Siska, lalu terhuyung hampir jatuh.

Leodric yang sejak tadi hanya duduk dengan segelas air mineral memperhatikan semuanya dengan wajah datar. Ia memang tidak menyentuh alkohol sama sekali. Tatapannya singkat berhenti pada Clara yang tampak benar-benar kehilangan kesadaran.

Seorang staf berbisik, “Pak, mungkin Clara perlu diantar pulang…”

Leodric hendak berdiri, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok lain.

Rania.

Gadis itu berjalan sempoyongan keluar restoran, memegang dinding agar tak jatuh. Rambutnya berantakan, matanya setengah terpejam. Tak ada seorang pun yang menyertainya karena hampir semua temannya sudah sama-sama mabuk.

Alis Leodric mengernyit. Dadanya seperti ditarik kuat melihat kondisi itu.

Ia melirik sekali lagi pada Clara, lalu kembali menatap Rania yang hampir tersandung. Rahangnya menegang.

“Clara bisa saya titipkan ke tim lain,” gumamnya pelan. “Tapi kalau Rania… siapa yang akan menjaganya?”

Tanpa pikir panjang, ia segera berdiri, melangkah cepat ke arah pintu, menyusul Rania yang sudah hampir kehilangan keseimbangan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 24.Sisa Malam yang Terbawa Pagi

    Senin datang tanpa basa-basi.Gedung kantor kembali dipenuhi ritme yang sama, bunyi kartu akses, langkah cepat, suara lift yang naik turun. Namun ada sesuatu yang terasa… salah. Seolah sisa malam di resort belum sepenuhnya tertinggal di sana.Leodric tiba lebih pagi dari biasanya.Wajahnya datar. Rahangnya mengeras. Jasnya rapi, tapi auranya tidak. Ia melangkah melewati lobi tanpa menoleh pada siapa pun, tanpa sapaan singkat yang biasanya masih ia berikan.Dan semua orang merasakannya.Satu per satu karyawan yang berpapasan refleks menunduk. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada yang mendadak mengingat sesuatu lalu berbelok arah.Tidak ada yang menyapa.Tidak ada yang berani.Pintu ruangannya tertutup dengan bunyi yang tidak keras, namun cukup tegas untuk menjadi peringatan.Di dalam, Leodric meletakkan tasnya, membuka laptop, lalu menatap layar tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih berisik. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.Bad mood itu belum pergi.Dan ia tid

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 23. Di antara api unggun dan bayangan

    Di Tempat yang Seharusnya Jauh Akhir tahun datang dengan keputusan mendadak dari manajemen. Liburan bersama tim inti. Alasannya sederhana: evaluasi santai, bonding, sekaligus “penyegaran” setelah tekanan panjang. Tidak ada yang bisa menolak tanpa alasan kuat. Termasuk Rania. Termasuk juga Leodric. Resor itu terletak di pinggir kota,tenang, jauh dari gedung kaca dan rutinitas kantor. Udara lebih dingin, langit lebih lapang. Namun jarak yang mereka bawa… tetap ikut. Rania datang bersama beberapa rekan kerja. Ia mengenakan sweater sederhana, rambut terikat rapi. Senyumnya sopan, profesional, sama seperti di kantor. Leodric tiba tak lama kemudian. Tatapannya sempat mencari satu wajah tertentu, lalu berhenti seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka saling melihat. Saling menatap walaupun Sebentar. Lalu berpaling. Suasana siang hari ramai. Beberapa karyawan tertawa, mengambil foto, bercanda,tertawa lepas, seakan melepas semua penat yang terjadi di kantor. Davin ikut di

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 22.Di Antara Profesionalisme

    Pagi datang tanpa kejutan.Kantor kembali berjalan seperti biasa terlalu biasa, bahkan. Rania duduk di mejanya, rapi, fokus, dan tenang. Leodric keluar dari ruangannya dengan langkah terukur, wajah datar, aura atasan yang tak memberi celah untuk ditebak.Tak ada sapaan pribadi.Tak ada tatapan terlalu lama.Namun jarak itu… nyata. Meeting pagi dimulai tepat waktu.Rania mempresentasikan laporan dengan suara stabil. Slide berganti rapi, data tersusun jelas. Leodric mendengarkan sambil sesekali memberi catatan singkat.“Di bagian ini, tolong perjelas asumsi angkanya,” ucap Leodric, profesional.“Baik, Pak. Akan saya revisi,” jawab Rania tanpa ragu.Mereka bekerja seperti dua profesional yang sempurna.Tidak dingin.Tidak hangat.Netral.Namun bagi mata yang jeli, ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi senyum kecil, tidak ada lagi bahasa tubuh yang lunak. Semua tertata, semua dibatasi.Clara memperhatikan dari sudut ruangan.Ia tersenyum tipis.Setelah meeting usai, Rania membereskan

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 21. Yang Tersembunyi

    Hari itu kantor kembali dipenuhi ritme biasa suara keyboard, telepon yang berbunyi, dan langkah-langkah orang yang lalu lalang. Namun bagi Rania, semuanya terasa lebih… penuh.Pekerjaan menumpuk. Laporan bulanan, revisi legal, meeting dadakan,semuanya datang bersamaan seperti gelombang. Tapi ia fokus. Terlalu fokus.Lebih dari biasanya.Rania menunduk pada layar, jarinya bergerak cepat, menghitung, menulis, mengetik, memeriksa ulang tanpa jeda. Pandangannya tajam, ekspresinya serius. Ia tidak sedang menghindari siapa pun.Ia hanya… mencoba hidup normal lagi.Atau setidaknya berpura-pura.---Di sisi lain ruang kerja…Leodric sedang membaca laporan klien, namun matanya tidak benar-benar mengikuti kalimat di hadapannya. Ia mengetuk meja dengan ujung pena kebiasaan yang hanya muncul ketika pikirannya kacau.Ia mencoba terlihat fokus.Coba tetap jadi atasan yang profesional.Namun setiap kali ia mengalihkan pandangan, matanya selalu… selalu kembali ke arah meja tertentu.Meja yang hari it

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 20. Jarak yang Sengaja Diciptakan

    Sehari setelah kejadian itu, kantor terasa berbeda.Bukan karena banyak pekerjaan…Bukan karena suasana lebih sunyi…Tapi karena Rania dan Leodric berjalan melewati satu sama lain tanpa sedikit pun kontak.Rania datang lebih pagi dari biasanya. Ia meletakkan tasnya, menyalakan komputer, dan langsung bekerja tanpa mengangkat kepala. Senyum sopan yang biasanya muncul setiap kali ia melihat orang lewat, hari itu hilang.Ia menjaga wajahnya tetap datar.Tidak menunjukkan ekspresi kecewa, marah, apalagi sakit hati.Rania resmi membangun tembok.---“Ran, ini dokumen buat divisi legal,” kata Siska sambil menaruh setumpuk berkas di meja Rania. “Kamu yang revisi ya.” Ucap Siska lagi, sebelum ia menanyakan dengan sikap Rania yang menurutnya aneh.“Siap,” jawab Rania cepat, nada suaranya datar, tanpa ekspresi.Siska mengerutkan dahi. “Kamu nggak apa-apa? Kok kayak… ga bersemangat gitu.”Rania memaksakan senyum, tipis, hambar.“Aku cuma capek.” Jawab Rania dengan datar.Siska menatapnya sejenak,

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 19. Perang Dingin

    Pagi itu datang terlalu cepat.Rania mengerjapkan mata pelan. Punggungnya terasa hangat… anehnya. Saat ia mengangkat kepala dari lengannya, selimut tipis itu melorot perlahan dari pundaknya.Rania membeku.Selimut?Ia bahkan tidak mengambil selimut semalam.Jantungnya berdetak panik ketika ia melihat layar monitor yang masih menyala. Jam kecil di pojok kanan menunjukkan 05:42.“Ya Tuhan…” bisiknya. “Aku ketiduran?”Ia buru-buru merapikan kertas yang berserakan. Tangannya baru menyentuh stabilo saat sesuatu di samping keyboard membuatnya terdiam.Segelas kopi dingin dalam kaleng... masih meninggalkan embun samar.Rania mengerutkan kening.Itu bukan punyaku…Sebelum pikirannya melayang lebih jauh, terdengar suara pintu dari arah ruang kerja Leodric.Rania langsung menegang.Perlahan seperti adegan yang muncul di kepalanya, yang justru ingin ia hindari, pintu itu pun terbuka. Leodric keluar sambil merapikan kemejanya. Rambutnya sedikit kusut, ekspresi lelah, namun ada sesuatu yang tersis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status