Share

Bab 3.Pertemuan yang Menyakitkan

Penulis: Liymochiyo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-11 19:54:59

Hari Minggu siang, matahari bersinar hangat di langit kota. Rania bersyukur hari ini ia libur kerja. Setelah seminggu penuh drama—mulai dari ketahuan telat sampai chat absurd di Bubble Gum—akhirnya ia bisa bernapas lega.

“Ran, ayo cepet! Udah ditungguin di café!” seru Siska dari motor matiknya.

Rania tersenyum kecil. “Iya, iya. Santai, Sis. Aku masih manusia, bukan The Flash.”

Mereka berdua meluncur ke sebuah café hits di pusat kota. Begitu sampai, meja sudah dipenuhi oleh beberapa teman. Suasana riuh, penuh tawa, dan musik akustik pelan jadi latar.

Rania ikut tertawa, bercanda, meski sesekali pikirannya melayang ke notifikasi Bubble Gum yang masih ada di ponselnya.

Tapi tawa itu mendadak beku begitu pintu café terbuka. Seorang pria masuk, mengenakan kemeja putih yang rapi, wajahnya begitu familiar.

" Adrian."

Dan di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun sederhana namun elegan. Tangannya menggenggam lengan Adrian erat, senyumnya manis, tapi matanya menyapu ruangan penuh percaya diri.

"Livia."

Dada Rania langsung sesak. Tangannya refleks meremas sendok di atas meja. Teman-temannya ikut menoleh, lalu saling berbisik pelan.

Adrian pun melihat. Sekilas tatapan matanya bertemu dengan Rania—tatapan yang singkat, tapi cukup untuk mengguncang hatinya. Lalu ia segera mengalihkan pandangan, menuntun Livia ke meja seberang.

Rania berusaha tersenyum, pura-pura sibuk menyesap minuman. Tapi senyum itu hambar.

Beberapa menit kemudian, tanpa diduga, Livia menghampiri meja Rania. Dengan langkah anggun, ia berdiri di samping sambil memandang Rania dari atas sampai bawah.

“Oh, kamu Rania, kan?” suaranya terdengar manis, tapi ada sesuatu yang menusuk di dalamnya.

Rania menoleh pelan, tersenyum kaku. “Iya. Halo…”

Livia menyeringai tipis. “Aku sering dengar nama kamu. Teman kantor Adrian, ya?”

“Hmm, iya, kebetulan…” jawab Rania singkat.

Livia mendekat, suaranya direndahkan seolah berbisik, tapi cukup keras untuk didengar.

“Kamu manis, sih. Tapi, maaf ya… ada hal-hal yang nggak bisa kamu punya. Termasuk Adrian.”

Rania membeku. Kata-kata itu seperti tamparan halus tapi menyakitkan.

Livia menambahkan, kali ini dengan senyum dingin.

“Sebentar lagi kami akan menikah. Jadi… jangan pernah berharap lebih, ya. Nggak pantas.”

Hatinya tercekat. Teman-temannya terdiam, suasana meja jadi kikuk.

Rania mencoba menahan senyum, tapi matanya sudah berkaca-kaca. Ia menunduk, lalu berbisik pelan.

“Selamat ya… semoga kalian bahagia.”

Ia segera berdiri, meraih tasnya. “Guys, aku… aku pulang duluan.”

“Ran, kamu kenapa?” Siska mencoba menahan, tapi Rania hanya menggeleng cepat.

Dengan langkah tergesa, ia keluar dari café, menahan napas berat. Begitu sampai di luar, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Air matanya jatuh juga, membasahi pipi.

Di belakangnya, Adrian sempat berdiri dari kursinya, ingin menyusul. Tapi Livia menahan tangannya erat.

“Biarkan saja. Dia hanya teman kantor.”

Adrian terdiam. Tapi matanya masih menatap pintu café, ke arah kepergian Rania.

--

Rania berjalan cepat keluar café, menahan sesak di dada. Ia terus melangkah sampai menemukan sebuah taman kecil di sisi gedung, sepi, hanya ada kursi panjang di bawah pohon rindang.

Di sana, akhirnya ia tak bisa lagi menahan semuanya. Air mata jatuh deras.

“Kenapa harus sesakit ini, sih? Aku tahu dia bukan milikku… aku tahu aku nggak punya hak… tapi kata-kata Livia… sakit banget.”

Rania menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar, tangisnya pecah, terdengar lirih di antara deru lalu lintas yang samar.

Tiba-tiba, sebuah suara dalam namun tenang terdengar dari samping.

“Tumben banget. Biasanya cuma telat doang yang bikin kamu panik. Sekarang ditambah paket nangis gratis?”

Rania tersentak, buru-buru mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Ia menoleh—dan nyaris tersedak napasnya sendiri.

Leodric, bosnya yang terkenal dingin tapi suka menyindir dengan gaya santai, berdiri sambil menyilangkan tangan. Tatapan matanya datar, tapi sudut bibirnya jelas terangkat menahan senyum.

“B-Bapak?!” Rania langsung menunduk malu, mencoba menyembunyikan mata merahnya.

Leodric menghela napas dramatis, lalu duduk di kursi seberang.

“Rania, Rania… pegawai teladan macam apa ini? Di kantor telat, di luar kantor… lemah. Harusnya saya kasih sertifikat aja: Karyawan Spesialis Drama Kehidupan.”

Rania makin menunduk, wajahnya memerah.

“Pak, jangan gitu… saya nggak apa-apa kok,” katanya terbata, meski jelas suaranya serak.

Leodric menyipitkan mata. “Nggak apa-apa apanya? Kalau nggak apa-apa, kenapa matanya kayak habis balapan renang?”

Rania reflek menutup wajah dengan kedua tangan lagi. “Ya ampun, malu banget…”

Leodric hanya mengangkat bahu, lalu menepuk-nepuk kursi dengan santai.

“Sudahlah. Mau sampai kapan juga saya nggak ngerti. Tapi ingat, kalau kamu terus begini, jangan salahkan saya kalau nanti saya masukin ke divisi air mata.”

Sindiran itu bukannya bikin Rania marah, justru membuatnya menunduk lebih dalam, menahan senyum malu di balik tangisnya.

“Kenapa sih, Pak, bawaannya suka nyindir aja…” gumamnya lirih.

Leodric tersenyum tipis, kali ini sedikit lebih lembut, meski tetap dengan nada menggoda.

“Karena kalau saya serius, kamu pasti makin nangis. Jadi ya… mending bikin kamu malu aja.”

Rania terdiam, hatinya terasa aneh jadi sedikit lebih ringan.

---

Rania masih menunduk, berusaha menghapus sisa air mata. Tiba-tiba, suara itu kembali terdengar lebih lembut dari biasanya.

“Ran, kamu kenapa nangis sendirian di sini?” tanya Leodric, kali ini tanpa nada menyindir.

Rania menggeleng cepat, meski matanya masih berkaca-kaca. “Nggak apa-apa kok, Pak. Hehe… saya cuma lagi… kepikiran aja.”

Leodric menghela napas panjang, lalu bersandar ke kursi.

“Eh, santai aja kali. Jangan panggil ‘Pak’ terus di luar kantor. Saya berasa tua banget tau nggak? Masih ganteng, bugar gini, dipanggil ‘bapak-bapak’ terus. Males banget dengernya,” ucapnya lirih sambil nyengir kecil.

Rania menoleh sekilas, matanya sedikit melebar. “Terus… harus panggil apa?”

“Leo. Itu aja. Simpel, nggak bikin saya merasa kayak pensiunan,” jawabnya santai.

Rania menutup mulut menahan tawa. “Hahaha… iya deh, Pak—eh maksudnya, Leo.”

Leodric tersenyum tipis, lalu tanpa banyak kata ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—sebuah sapu tangan kecil berwarna navy. Ia menyodorkannya pada Rania.

“Nih. Jangan dipakai buat drama sinetron lagi, ya. Mahal soalnya, kalau penuh air mata nanti saya rugi,” ucapnya, separuh bercanda.

Rania terpaku. Tangannya gemetar saat menerima sapu tangan itu. “Terima kasih…”

Leodric menatapnya sebentar, kali ini tatapannya tidak datar, melainkan teduh. “Kalau capek nangis sendirian, jangan sembunyi. Lebih baik ketahuan, biar ada yang bisa bilangin: kamu kuat, kok.”

Kata-kata itu sederhana, tapi membuat dada Rania hangat. Ia menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang tak bisa ditahan.

Untuk pertama kalinya hari itu, rasa sakit karena perkataan Livia sedikit mereda—berganti dengan perasaan aneh yang membuat pipinya merona.

“Leo…” bisiknya pelan, sambil menggenggam sapu tangan itu erat.

---

PangeranBerkudaPutih: “Rakyatku! Aku baru aja kepikiran… kalau cicak bisa nempel di tembok, kenapa aku nggak bisa nempel di hatimu? ”

Rania terdiam beberapa detik, menatap layar ponselnya dengan mulut terbuka. Lalu, tanpa bisa ditahan, tawa meledak keluar. Ia buru-buru menutup mulut dengan tangan, takut orang sekitar mengira dirinya gila.

“Ya Tuhan… absurd banget sih ini orang,” gumamnya, pipinya memerah karena geli sendiri.

Tapi dalam hati, ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Chat konyol itu entah kenapa terasa seperti energi baru, seolah hidupnya mendadak punya warna lagi.

Senyum lebar mengembang di wajah Rania. Untuk pertama kalinya hari itu, ia berjalan pulang dengan hati yang lebih ringan, sambil menggenggam ponsel erat-erat seakan tak ingin melewatkan satu pun pesan dari si Pangeran konyol itu.

---

Rania mengetik balasannya sambil meringis sendiri. Pipinya memanas, tapi jemarinya lancar menekan tombol kirim.

MartabakManis_ExtraKeju: “Cicak aja bisa betah nempel di tembok… apalagi kamu kalau udah nempel di aku, jangan-jangan malah ogah lepas. ”

Begitu pesan itu terkirim, Rania langsung menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya ampun, Ran! Apa-apaan sih ini… bisa bikin malu sendiri gini.” Tapi diam-diam senyumnya nggak bisa hilang.

Di sisi lain layar, Leodric atau yang dikenal Rania sebagai PangeranBerkudaPutih membaca pesan itu dengan tatapan heran, lalu meledak tertawa keras.

“Hahahaha! Astaga, ini orang bener-bener…” Leo sampai menepuk meja, menahan sakit perut karena kebanyakan ketawa. Tapi setelah tawa mereda, ia justru merasa panas di telinga sendiri. Kata-kata Rania seolah nyangkut, membuatnya tanpa sadar menggigit bibir sambil bergumam lirih,

“Ogah lepas, ya? Hmm… jangan-jangan aku beneran betah.”

Ia mengacak rambutnya sendiri, separuh kesal, separuh malu. “Gila, masa chat begini bisa bikin gue senyum-senyum bego.”

Rania di sisi lain layar juga tak kalah heboh. Ia gelisah, bolak-balik guling, takut balasan dari si Pangeran konyol itu malah makin membuatnya malu. Tapi jujur saja, hatinya berdebar menunggu.

Dan tepat saat Rania hendak memejamkan mata, notifikasi ponselnya berbunyi lagi. Nama si PangeranBerkudaPutih muncul.

PangeranBerkudaPutih: “Tahu nggak? Aku lagi mikir keras sekarang… cicak sih bisa kabur kalau diganggu. Tapi kalau aku udah nempel di kamu, kayaknya aku nggak bakal punya alasan buat pergi.”

Rania membeku, matanya membesar. Jantungnya berdetak makin kencang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 24.Sisa Malam yang Terbawa Pagi

    Senin datang tanpa basa-basi.Gedung kantor kembali dipenuhi ritme yang sama, bunyi kartu akses, langkah cepat, suara lift yang naik turun. Namun ada sesuatu yang terasa… salah. Seolah sisa malam di resort belum sepenuhnya tertinggal di sana.Leodric tiba lebih pagi dari biasanya.Wajahnya datar. Rahangnya mengeras. Jasnya rapi, tapi auranya tidak. Ia melangkah melewati lobi tanpa menoleh pada siapa pun, tanpa sapaan singkat yang biasanya masih ia berikan.Dan semua orang merasakannya.Satu per satu karyawan yang berpapasan refleks menunduk. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada yang mendadak mengingat sesuatu lalu berbelok arah.Tidak ada yang menyapa.Tidak ada yang berani.Pintu ruangannya tertutup dengan bunyi yang tidak keras, namun cukup tegas untuk menjadi peringatan.Di dalam, Leodric meletakkan tasnya, membuka laptop, lalu menatap layar tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih berisik. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.Bad mood itu belum pergi.Dan ia tid

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 23. Di antara api unggun dan bayangan

    Di Tempat yang Seharusnya Jauh Akhir tahun datang dengan keputusan mendadak dari manajemen. Liburan bersama tim inti. Alasannya sederhana: evaluasi santai, bonding, sekaligus “penyegaran” setelah tekanan panjang. Tidak ada yang bisa menolak tanpa alasan kuat. Termasuk Rania. Termasuk juga Leodric. Resor itu terletak di pinggir kota,tenang, jauh dari gedung kaca dan rutinitas kantor. Udara lebih dingin, langit lebih lapang. Namun jarak yang mereka bawa… tetap ikut. Rania datang bersama beberapa rekan kerja. Ia mengenakan sweater sederhana, rambut terikat rapi. Senyumnya sopan, profesional, sama seperti di kantor. Leodric tiba tak lama kemudian. Tatapannya sempat mencari satu wajah tertentu, lalu berhenti seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka saling melihat. Saling menatap walaupun Sebentar. Lalu berpaling. Suasana siang hari ramai. Beberapa karyawan tertawa, mengambil foto, bercanda,tertawa lepas, seakan melepas semua penat yang terjadi di kantor. Davin ikut di

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 22.Di Antara Profesionalisme

    Pagi datang tanpa kejutan.Kantor kembali berjalan seperti biasa terlalu biasa, bahkan. Rania duduk di mejanya, rapi, fokus, dan tenang. Leodric keluar dari ruangannya dengan langkah terukur, wajah datar, aura atasan yang tak memberi celah untuk ditebak.Tak ada sapaan pribadi.Tak ada tatapan terlalu lama.Namun jarak itu… nyata. Meeting pagi dimulai tepat waktu.Rania mempresentasikan laporan dengan suara stabil. Slide berganti rapi, data tersusun jelas. Leodric mendengarkan sambil sesekali memberi catatan singkat.“Di bagian ini, tolong perjelas asumsi angkanya,” ucap Leodric, profesional.“Baik, Pak. Akan saya revisi,” jawab Rania tanpa ragu.Mereka bekerja seperti dua profesional yang sempurna.Tidak dingin.Tidak hangat.Netral.Namun bagi mata yang jeli, ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi senyum kecil, tidak ada lagi bahasa tubuh yang lunak. Semua tertata, semua dibatasi.Clara memperhatikan dari sudut ruangan.Ia tersenyum tipis.Setelah meeting usai, Rania membereskan

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 21. Yang Tersembunyi

    Hari itu kantor kembali dipenuhi ritme biasa suara keyboard, telepon yang berbunyi, dan langkah-langkah orang yang lalu lalang. Namun bagi Rania, semuanya terasa lebih… penuh.Pekerjaan menumpuk. Laporan bulanan, revisi legal, meeting dadakan,semuanya datang bersamaan seperti gelombang. Tapi ia fokus. Terlalu fokus.Lebih dari biasanya.Rania menunduk pada layar, jarinya bergerak cepat, menghitung, menulis, mengetik, memeriksa ulang tanpa jeda. Pandangannya tajam, ekspresinya serius. Ia tidak sedang menghindari siapa pun.Ia hanya… mencoba hidup normal lagi.Atau setidaknya berpura-pura.---Di sisi lain ruang kerja…Leodric sedang membaca laporan klien, namun matanya tidak benar-benar mengikuti kalimat di hadapannya. Ia mengetuk meja dengan ujung pena kebiasaan yang hanya muncul ketika pikirannya kacau.Ia mencoba terlihat fokus.Coba tetap jadi atasan yang profesional.Namun setiap kali ia mengalihkan pandangan, matanya selalu… selalu kembali ke arah meja tertentu.Meja yang hari it

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 20. Jarak yang Sengaja Diciptakan

    Sehari setelah kejadian itu, kantor terasa berbeda.Bukan karena banyak pekerjaan…Bukan karena suasana lebih sunyi…Tapi karena Rania dan Leodric berjalan melewati satu sama lain tanpa sedikit pun kontak.Rania datang lebih pagi dari biasanya. Ia meletakkan tasnya, menyalakan komputer, dan langsung bekerja tanpa mengangkat kepala. Senyum sopan yang biasanya muncul setiap kali ia melihat orang lewat, hari itu hilang.Ia menjaga wajahnya tetap datar.Tidak menunjukkan ekspresi kecewa, marah, apalagi sakit hati.Rania resmi membangun tembok.---“Ran, ini dokumen buat divisi legal,” kata Siska sambil menaruh setumpuk berkas di meja Rania. “Kamu yang revisi ya.” Ucap Siska lagi, sebelum ia menanyakan dengan sikap Rania yang menurutnya aneh.“Siap,” jawab Rania cepat, nada suaranya datar, tanpa ekspresi.Siska mengerutkan dahi. “Kamu nggak apa-apa? Kok kayak… ga bersemangat gitu.”Rania memaksakan senyum, tipis, hambar.“Aku cuma capek.” Jawab Rania dengan datar.Siska menatapnya sejenak,

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 19. Perang Dingin

    Pagi itu datang terlalu cepat.Rania mengerjapkan mata pelan. Punggungnya terasa hangat… anehnya. Saat ia mengangkat kepala dari lengannya, selimut tipis itu melorot perlahan dari pundaknya.Rania membeku.Selimut?Ia bahkan tidak mengambil selimut semalam.Jantungnya berdetak panik ketika ia melihat layar monitor yang masih menyala. Jam kecil di pojok kanan menunjukkan 05:42.“Ya Tuhan…” bisiknya. “Aku ketiduran?”Ia buru-buru merapikan kertas yang berserakan. Tangannya baru menyentuh stabilo saat sesuatu di samping keyboard membuatnya terdiam.Segelas kopi dingin dalam kaleng... masih meninggalkan embun samar.Rania mengerutkan kening.Itu bukan punyaku…Sebelum pikirannya melayang lebih jauh, terdengar suara pintu dari arah ruang kerja Leodric.Rania langsung menegang.Perlahan seperti adegan yang muncul di kepalanya, yang justru ingin ia hindari, pintu itu pun terbuka. Leodric keluar sambil merapikan kemejanya. Rambutnya sedikit kusut, ekspresi lelah, namun ada sesuatu yang tersis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status